Erina harus menerima ketidak adilan saat dirinya menjadi tertuduh telah menghabisi nyawa Ameera, sahabat karibnya sendiri.
Sebab saat ditemukan Erina lah satu-satunya orang yang ada di tempat kejadian perkara. Kebodohan besar yang Erina lakukan adalah, dia berusaha melepaskan pisau yang menancap di perut Ameera.
Dugaan diperkuat sebab Erina menyukai Devan, kekasih Ameera.
Di tengah usahanya untuk membela diri, Erina menemukan fakta jika saat Ameera meregang nyawa, ternyata sahabatnya itu sedang berbadan dua. Kecurigaan Erina seketika tertuju pada Devan. Namun Devan menyangkal telah menghamili Ameera.
Lantas, mampukah Erina membuktikan jika dirinya tidak bersalah dan menemukan siapa orang yang sebenarnya telah membunuh Ameera?
Albi, pengagum setia Erina berdiri di barisan paling depan saat perempuan itu dikucilkan.
Di tengah pencarian itu, benih cinta mulai tumbuh di hati Devan untuk Erina. Sedangkan hati Erina semakin terpikat lebih jauh oleh sosok Albi, laki-laki menyebalkan yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengamen?
Dinner romantis antara Devan dan Ameera pun berakhir saat makanan yang mereka pesan sudah berpindah tempat ke dalam perut mereka. Masih dengan elegannya Ameera menyusut bibirnya menggunakan tisu. Memang harus begitu kan gaya seorang perempuan yang sedang PDKT, harus benar-benar menjaga sikap agar Devan tidak merasa ilfil.
Sedangkan Devan, dadanya sedang mengadakan konser musik dadakan. Jantungnya bergemuruh dan berdebar-debar tak karuan mengingat jika ini sudah saatnya.
"Meer." Tiba-tiba saja Devan berseru. Membuat Ameera mengalihkan perhatiannya pada Devan.
"Ya Dev?" Ameera menjawab.
"Aku nggak akan berbasa-basi Meer. Karena jujur aku bukan tipe laki-laki yang pinter ngerayu atau ngegombal apalagi bikin kata-kata yang puitis buat nyatain perasaan." Devan menghela nafas, selangkah lagi. Fikirnya, Ameera akan menjadi miliknya.
Ameera sudah menduga, jika Devan akan menyatakan cintanya malam ini. Diapun bahkan sudah mempersiapkan diri dan memantapkan hati untuk menerima Devan. Mungkin dengan Devan menjadi kekasihnya, akan mampu mengalihkan pikirannya dari laki-laki kaku yang pernah menjadi kekasihnya namun tak pernah menganggap dirinya ada.
"Aku cuma mau kamu tau Meer. Kalau selama ini aku suka kamu. Dan perasaan suka itu sekarang sudah bertumbuh besar dan merambah jadi perasaan cinta." Tuntas sudah, Devan benar-benar telah mengutarakan seluruh perasaannya.
Entah apa yang Ameera rasakan saat Devan mengatakan isi hatinya, padahal Ameera sendiri sudah mengerti tanpa laki-laki itu mengatakannya. Dari sikapnya, dari tatapan matanya. Namun entah sebuah kebetulan atau apa, Iqbal ada disana juga. Seperti mendapatkan angin segar, dia merasa perlu untuk memanas-manasi laki-laki kaku itu. Sekalian untuk memberinya pelajaran karena telah berani-beraninya menyakiti hati Ameera.
Ameera harus membuktikan pada Iqbal jika dirinya bisa move on. Meskipun sesungguhnya dia sama sekali belum bisa melupakan laki-laki sialan itu.
Ameera melirik ke arah Iqbal yang hanya berjarak dua meja dari mejanya. Tanpa diduga, ternyata Iqbal juga sedang memperhatikan ke arah mereka. Ahh, ini timing yang sangat tepat. Pasti dia akan terbakar sekarang. Begitu dengan percaya dirinya Ameera berpikir. Karena Ameera bisa lihat dari sorot matanya itu jika Iqbal pun masih memiliki perasaan yang sama dengannya. Tatapan matanya itu sama persisi saat Devan menatapnya selama ini.
Devan meraih kedua tangan Ameera, menggenggamnya dengan lembut.
"Dan atas semua perasaan yang aku rasakan ke kamu ini, aku mau kamu Meer Aku mau kamu jadi milik aku. Aku mau kita memiliki status yang jelas. Apa kamu mau terima aku sebagai pacar kamu?"
Byarr!
Bagaikan dilemparkan dari atas tebing tinggi Iqbal mendengar penuturan Devan. Dia tau, ini semua pasti akan terjadi. Tapi kenapa harus di depan mata kepalanya sendiri? Wajah datar Iqbal nampak pucat. Kenapa? Kenapa dirinya harus berada disana? Menyaksikan penyatuan cinta antara mereka secara langsung? Sedangkan telinga Iqbal tak dapat menghindar untuk tak mendengarnya.
Ameera bisa melihat wajah pias Iqbal saat sesekali mencuri pandang ke arahnya, sebelum Ameera menjawab permintaan dari Devan. Dia memantapkan hatinya sekali lagi.
Membuat hati Iqbal patah adalah sebuah penghargaan bagi harga dirinya. Akhirnya Ameera bisa membalaskan rasa sakit hatinya.
"Iya Dev. Aku mau jadi pacar kamu. Aku juga sebenarnya suka sama kamu selama ini." Jawab Ameera dengan wajah yang berseri-seri. Sengaja dia menaikan intonasi suaranya agar yang di meja sebelah bisa mendengar dengan jelas. Padahal tanpa Ameera bicara dengan nada seperti itupun Iqbal bisa mendengarnya dengan jelas.
"Jadi, mulai sekarang kita resmi pacaran Meer?" Tanya Devan memastikan. Ameera mengangguk mantap sambil tersenyum.
"Makasih Meer. Aku janji aku akan selalu jaga kamu mulai sekarang." Devan mengecup tangan Ameera yang sedari tadi ia genggam. Namun netra Ameera masih saja jelalatan ke arah Iqbal. Bahkan Ameera bisa melihat jika Iqbal kini sudah beranjak dari duduknya dan berlalu pergi begitu saja.
Seringai jahat kemudian muncul di bibir Ameera. Namun tak bisa di pungkiri, hati kecilnya menjerit. Andai saja Iqbal mau sedikit merubah sikap kakunya itu dan mengakui jika dirinya adalah seorang kekasih, pasti Ameera akan tetap bertahan di samping laki-laki itu karena sesungguhnya Ameera masih mencintai Iqbal.
***
Malam minggu ini Erina habiskan hanya dengan bermalas-malasan di kamarnya. Lantunan lagu-lagu selow yang ia putar melalui headsetnya ikut serta memeriahkan acara galau-galauannya kali ini.
Sedangkan Via tadi memberi kabar jika dirinya sekarang sedang malam mingguan dengan gebetan barunya. Ameera? Jangan ditanya. Dia pasti sedang kencan dengan Devan karena sedari siang dia sudah berkoar-koar akan jalan dengan laki-laki itu.
Tinggallah Erina seorang diri. Hiks. Begini amat nasib jomblo.
Brak!
Pintu kamar Erina di buka dengan kasar oleh Baim. "Kak, di depan ada pengamen tuh!" Baim memberikan informasi pada kakaknya itu. Erina bergeming, tak mendengar bahkan tak menyadari keberadaan adiknya itu. Dia menenggelamkan wajahnya, sedangkan telinganya dia sumpali dengan headset. Sengaja ia memutar lagu dengan volume yang cukup kencang agar lebih menjiwai kegalauannya.
"Baim kok punya kakak budeg begini ya?" Baim kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, tepat mengenai tubuh Erina yang sedang tengkurap.
"Awwww. Baim, kamu ngapain sih? Badan kakak sakit semua ini " Erina meringis kesakitan, sambil berusaha menyingkirkan tubuh adiknya itu dari punggungnya.
Setelah mendapat respon dari sang kakak, Baim turun. Lumayan sakit juga sih sebenarnya tubuh Baim, akibat tulangnya berbenturan dengan tulang Erina.
"Habisnya kakak di panggilin nggak nyahut-nyahut." Baim mencebikkan pipinya. Membuat pipinya itu semakin megembang seperti balon udara.
Sedangkan Erina berusaha untuk bangkit, sambil memegangi pinggangnya yang ngilu. Dia melepaskan paksa headset dari telinganya, agak sulit karena kabel headset itu malah bersangkutan dengan rambut Erina yang tergerai, membuatnya sedikit uring-uringan. Drama sekali! Umpat Erina.
"Emangnya kenapa? Kamu mau minta kakak buat ngerjain PR?" Tanya Erina kemudian.
"Nggaklah, Baim kan anak pinter. Jadi kalau ada PR Baim kerjain sendiri. Dan Baim selalu dapat nilai 100 di kelas." Jawab Baim pongah. Jiaah, kepala anak kecil itu mendadak jadi besar. Erina terkekeh kecil saat melihat adiknya itu mengusap hidungnya sendiri dengan penuh kebanggaan. Menggemaskan sekali bocah itu.
"Ya udah. Kakak percaya deh sama Baim. Terus kenapa tadi Baim sampe gangguin kakaknya yang lagi galau ini?" Malah curhat pada bocah yang tak tau apa-apa.
"Oh iya, itu ada abang-abang pengamen yang nyariin kakak di depan." Ucap Baim.
"Hah? Pengamen? Malem-malem gini? Nyariin kakak?" Tanya Erina bingung.
Baim mengangguk samar.
***
Erina dan Baim berjalan beriringan menuju teras rumah. Erina ingin membuktikan sendiri perkataan adiknya itu. Apa iya malam-malam seperti ini ada pengamen yang mencari dirinya?
"Awas ya kamu kalau sampai ketauan ngerjain kakak." Ucap Erina di sela langkah mereka.
"Beneran kak, Baim nggak boong." Baim berusaha menyamai langkah kakaknya yang berjalan cepat.
Krek!
Erina membuka pintu rumahnya tanpa ragu.
Tiba-tiba...
"Hai Erina." Sebuah senyuman langsung menyambut Erina sesaat setelah pintu terbuka.
Astaga!
Erina bahkan sampai terlonjak saking kagetnya mendapat sapaan mendadak itu. Terlihat si Albi yang memegang gitar di tangannya dan menebar senyum ke arah Erina.
Pantas saja si Baim mengiranya pengamen. Tapi, mukanya memang sudah mirip seperti pengamen sih. Begitu Erina berpikir.
"Ngapain loe malem-malem di rumah gue? Kalau mau ngamen besok lagi. Ini udah waktunya buat tidur tau." Sewot Erina. Sudah tak tau lagi dengan jalan fikiran laki-laki itu. Ulahnya itu tidak pernah ada habisnya, selalu saja ada ide gila untuk mengusik ketenangan Erina.
"Loe kok malah marah-marah sih Er? Gue cuma mau ngajak loe mojok di depan sana. Sambil menatap bintang-bintang di langit." Meskipun nampak kecewa, namun Albi berusaha untuk menunjukkan bersikap menyebalkannya.
Huek!
Erina bahkan ingin muntah saat Albi dengan lebaynya bicara seperti itu. Ini salah satu sifat Albi yang tidak Erina sukai. Menyebalkan dan terlalu percaya diri. Albi ini bukan laki-laki tipe Erina. Namun, Erinapun terkadang merasa kasihan karena sikap Albi yang tak pernah menyerah untuk mendekati dirinya.
Entahlah. Untuk saat ini Erina belum bisa membuka hatinya untuk Albi meskipun laki-laki itu sudah terang-terangan menyatakan cintanya.
_______________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
q mampir kak mau baca kisah bang Albi 😁
semangat terus berkarya 👍👍
dan jempolnya lekas sehat🤲🤲🤲