Suatu hari nanti, anganmu akan menjadi nyata, mimpimu akan terwujud, dan do’amu akan terkabul.
Liliana Pramesti, seorang gadis yatim piatu yang hidup dalam sebuah kemiskinan, menjadi tulang punggung bagi adik semata wayangnya yang menderita penyakit down syndrom, tentu saja adalah hal sulit baginya.
Namun, kerasnya hidup, tidak lantas menyurutkan keyakinan dan perjuangannya untuk tetap bertahan.
Hingga ... suatu hari, dia terpaksa harus menikah dengan cinta pertamanya sedari kecil, semenjak itu, dunianya berubah, jungkir balik, kedamaiannya terenggut begitu saja.
“Bang Ilham itu, seperti batu, dan aku seperti air, batu dan air bisa hidup berdampingan, meski batu memang memiliki karakter yang keras, dan air memiliki karakter yang lembut, namun tidak tersentuh. Tapi suatu hari nanti ... air mampu menghancurkan batu”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Neng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka
Tttteeeeetttt ... tttteeeeetttt ... tttteeeetttt ... ( Suara bel sekolah )
Jam pelajaran sudah empat kali berganti, waktu menunjukkan pukul dua belas pas. Itu artinya jam pelajaran sudah berakhir. Semua siswa berdiri, membereskan buku-buku pelajaran, lalu bersiap pulang. Namun, tak sedikit diantara mereka yang memilih untuk melakukan aktifitas lainnya di sepulang sekolah.
Sementara aku hanya tertunduk lesu, menunggu semua teman-temanku pulang duluan, baru aku akan beranjak pulang. Kenapa?? Karena aku malu berjalan dengan sepatu jebolku.
Aku berjalan melewati koridor sekolah, hingga parkiran dengan mengendap-endap. Takut, jika tiba-tiba anak-anak jahil melihat sepatuku, lalu mereka menertawakan aku. Karena bukan hanya sepatuku yang bermasalah, seragam usang yang kugunakan ‘pun, sangat memalukan. Sudah dekil dan terdapat warna kuning di bagian tertentu, maklum semenjak sekolah aku tidak pernah di belikan seragam baru oleh Ibu, bahkan baju inipun adalah pemberian Bu Fatimah untukku. Tas sekolah yang sudah turun temurun dari zaman kak Maman hingga sekarang di gunakan olehku. Ini sungguh memalukan. Tapi, aku harus tetap semangat agar aku bisa meraih mimpiku.
Samar dari atas tangga aku melihat Sisil sedang menaiki motor Bang Ilham. Aku cemburu melihat kebersamaan mereka, tapi hanya rasa itu yang kumiliki, aku tak bisa melakukan apapun, sadar aku hanya seorang perempuan miskin. Yang mustahil bisa di lirik Bang Ilham.
“Lia!!” teriak Sisil dari bawah melambaikan tangannya padaku. Aku mengerjap kaget.
“Ah, iya“ jawabku, balas melambaikan tanganku.
“Ayo pulang bareng lagi!” teriaknya.
“Duluan saja, aku ada urusan dulu“ jawabku.
“Urusan apa??” tanyanya.
“Aku mau ketemuan sama Kak Maman“ jawabku bohong. Aku hanya tak ingin mengganggu kebersamaan mereka, selalu terlihat raut wajah Bang Ilham yang tidak menyukaiku. Aku akan mengalah. Kubiarkan cintaku tumbuh di dalam hati, tanpa ada seorangpun yang tahu.
“Ya udah, kita duluan ya!!” teriak Sisil lagi, tanpa menolehku, Bang Ilham mengendarai motornya, dengan Sisil yang memeluk pinggangnya.
‘Huh ... Pangeranku sekalipun tak pernah melihatku‘ Aku menunduk lesu, sekolah sudah sunyi, aku berjalan seorang diri. Kembali berjalan menapaki jalan setapak yang tadi aku lewati ketika berangkat sekolah.
“Man! Tolong angkatin gabah yang ini!” samar terdengar seorang pria berteriak, aku mendekati sumber suara.
Terlihat seorang pria paruh baya, juragan gabah di kampung kami, tengah memberi perintah kepada para pegawainya.
“Yang itu juga!!” teriaknya, sambil membentikkan telunjuknya.
Pria muda itu menuruti setiap perintah sang juragan, tanpa membantah, terlihat peluh bercucuran di dahinya.
Aku tertegun, menatapnya dari kejauhan. Pria yang tengah di perintah itu adalah kakakku, Kak Maman.
Jadi, seperti itulah ketika Kak Maman bekerja, lelah itu sudah pasti, Kak Maman tidak memiliki pendidikan yang mumpuni, bahkan untuk sekedar bekerja di pabrik sekalipun. Kak Maman tidak bersekolah karena aku yang melanjutkan sekolah. Keluargaku percaya, jika aku bisa di andalkan dalam urusan akademik.
Kak Maman bekerja, dari pagi hingga sore, hanya untuk menafkahi aku dan Irfan. Kasihan Kak Maman.
“Hey!!! Hati-hati!!” hardik juragan lagi.
“I iya juragan“ Kak Maman terbata,
Tak terasa air mataku luruh di pipi. “Kakak, aku janji, aku akan membalas semua budi baik Kakak, setelah aku sukses nanti, Kakak akan aku bahagiakan.“ Gumamku dalam hati.
Aku kembali berjalan menuju rumah, meninggalkan Kak Maman yang tengah di perintah.
Sepanjang jalan, aku menekan kakiku yang terasa sakit, karena hampir setengah nyeker. Setelah tiba dirumah, aku memeriksa kakiku, ternyata tumitnya berdarah.
“Ugh ...” Aku meringis menahan sakit dan perih.
Segera masuk kedalam rumah, tak ingin ada tetangga yang bertanya.
“Lia!” seru seorang perempuan dari luar rumah.
“Iya,“ jawabku dengan tertatih, menghampiri perempuan yang memanggilku.
“Lia! Lihatlah, Irfan sudah mengacak-acak warungku! Dia mengambil beberapa makanan dan menghancurkannya“ jelas bu Tuti, pemilik warung kecil di ujung gang.
“Loh?? Irfan? Kamu kenapa nakal?“ tanyaku berjongkok, mengelus pipi Irfan yang tengah tersenyum nyengir, dengan dua buah permen lolipop di tangannya.
“Berapa yang harus saya ganti bu??” tanyaku akhirnya, tak ingin lebih banyak lagi masalah.
“Lima puluh ribu Lia“ jawabnya ketus, mungkin masih kesal dengan tingkah Irfan.
“Lima puluh ribu??” Aku menganga, tapi segera aku mengingat uang yang sempat di berikan Ibu Fatimah padaku, aku bergegas masuk kedalam kamar, mengambil uang yang kusimpan di bawah kasur, sengaja tak kupakai, takut ada apa-apa. Dan benar hal ini terjadi.
“Ini bu“ Aku menyodorkan uang itu kepada Bu Tuti, beliau menerimanya, lalu segera bergegas pulang.
“huuuhhh ... “ Aku menarik napas panjang.
“Irfan?? Irfan suka permennya??” tanyaku tersenyum lembut padanya. Dia jadi amat terlantar sekarang, tak ada teman seusianya yang mau menemaninya. Karena dia memang terlahir berbeda.
Irfan memanggutkan kepalanya. “Ya sudah, sekarang masuk kerumah ya, Kakak masakin Irfan“ Aku menuntun Irfan masuk kedalam rumah, mendudukkannya di atas kursi bangku dekat dapur. Sementara aku bergegas memasak alakadarnya. Untuk makan siang kami, sepertinya Kak Maman sebentar lagi akan pulang.
Praaannnggg ... !!!!
“Astagfirullah ... “ Aku mengerjap kaget.
“Irfan!!!” Aku berdiri dan memburu Irfan, terlihat Irfan memecahkan gelas, dan dia mencoba meraih pecahan gelasnya.
“Jangan Dek, ini tidak boleh di pegang!!” Aku memperingatkan.
“Huh!! Huh!! Huh!!” teriaknya sambil berusaha mengambil pecahan gelasnya.
“Jangan!!” teriakku mulai frustasi. Tingkah Irfan sungguh membuatku jengkel hari ini. Belum lagi masakan yang gosong, karena aku tidak fokus, keburu menghentikan kegiatan Irfan.
“Irfan jangan sentuh belingnya!!!” Aku kembali berteriak kala melihat Irfan terus meronta.
“Hiks ... “ Aku menangis karena jengkel akan tingkah Irfan.
“Huuuaaaa ... “ Irfan menangis sangat keras.
“Ya udah, maafin Kakak ya“ Aku mengelus kepala Irfan lembut.
“Huaaaa!!!” Irfan memukul dadaku kuat, dan menjambak rambutku.
“Irfan kenapa?? Jangan begini, Kakak sakit!!” teriakku kaget.
“Huh!! Huh!! Huh!!” Irfan meninju dadaku kuat.
“Irfan!!!” Aku membentaknya, sambil memundurkan langkahku.
“Aaaawww ... “ tak sengaja aku menginjak pecahan belingnya. Kakiku berlumuran darah.
“Awww ... hiks ... hiks ... hiks ... “ Aku menangis sejadi-jadinya.
“Huh!!!” Irfan membelakangiku, kemudian mengoceh sendiri.
“Kamu kenapa memukul Kakak!!” teriakku.
Tapi Irfan masih tetap dengan posisinya, aku berdiri kemudian duduk di atas kursi, melepaskan pecahan beling yang menancap di kakiku.
Bersambung ....... .......
Next??
jujur saya lbh suka cerita yg real life drpd yg haluu....
semua cerita teteh bagus2 kok. semangat terus ya teh....🥰🥰🥰🥰
Sehat terus tetehku, terus lah berkarya. Love you 🤗🤗🤗
semangat berkarya Teteh, ttp sehat & bahagia, maafin para readers yg suka komplen ky netizen😌
tapi percayalah, aku menikmati cerita Lia yg bnyk bgt beri pelajaran bt kita. makasih Teteh🤗
...