NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 - Peluk? Cium?

Oke, ini masalah! Langit tidak tahu harus membawa Adista kemana, pikirannya tadi hanyalah membawa Adista pergi dari sana dan tidak bertemu dengan Della—Adik kelas yang menyukainya. Langit bahkan tidak tahu alasannya pergi mengajak Adista.

“Kamu mau ngajak aku kemana?” tanya Adista membuat Langit diam.

Langit tetap diam, kemudian dia melihat sebuah kafe kecil di pinggir jalan dan dengan segera Langit membelokkan motornya dan berhenti di kafe itu.

“Kita ngapain kesini?”

Langit mengangkat bahunya dan segera masuk ke dalam kafe diikuti oleh Adista di belakang Langit.

Kafe itu bernuansa vintage, dan di bagian kanan terdapat sebuah tenda dengan rumput buatan, dan juga terdapat lampu taman di sekitarnya yang membuat kafe itu terlihat unik dan cantik.

Adista masih terus mengikuti Langit hingga dia masuk ke dalam tenda itu. Di dalam tenda itu terdapat satu buah meja yang lumayan panjang dan karpet sederhana yang membuat suasana di dalam tenda itu terlihat lebih nyaman lagi.

“Kamu udah pernah kesini, Ric?” tanya Adista sambil membuka menu karena Langit menyuruhnya tadi.

“Belum. Aku baru kesini, sama kamu.”

Adista terdiam, tapi tidak bisa dipungkiri dia senang dengan kenyataannya. Tapi sedetik kemudian Adista terdiam,

seandainya saja yang berada di hadapannya ini adalah Harris, yang mengajaknya pergi saat ini adalah Harris. Mungkin saja Adista sudah tersenyum lebar saat ini.

Tapi kenyataannya tidak pernah baik, ini bukan Harris dan ini bukan keinginannya.

“Ayo latihan,” ucap Langit tiba-tiba.

“Apa?” tanya Adista bingung.

“Latihan drama, kita pemeran utamanya, kan?”

Adista menatap Langit tak percaya. Ada apa dengan cowok di hadapan Adista saat ini? biasanya juga Langit sangat susah kalau urusan seperti ini.

“Gak bawa naskah.”

Langit mengecek ponselnya dan mengirimkannya kepada Adista. Adista langsung membuka ponselnya dan melirik

Langit.

“Udah, kan? Sekarang kita bisa latihan.”

Adista hanya diam membaca dialog miliknya sebentar, dan Langit yang juga aneh itu terlihat fokus membaca dialog miliknya.

“Ini pegangan tangan doang?” tanya Langit saat mereka mempraktekkan sedikit adegan yang sesuai dengan naskah mereka.

Adista berdecak. “Jelas lah, anak SMA cuman bisa pegangan tangan.”

“Gak ada acara peluk atau cium, gitu?” protes Langit menatap Adista lama membuat Adista langsung mengalihkan

pandangannya.

“Gak! Ada!”

* * *

“Kak ...,” Della memanggil Mikko dan Dinda membuat Dinda menoleh ke belakang dan Mikko melihat Della dari kaca tengah. “Itu yang namanya Adista ya? Yang Kak Langit sukai?”

“Iya. Udah deh Del, lupain aja tuh Langit. Lo gak lihat apa cowok ganteng di depan lo?” Mikko membanggakan dirinya membuat Dinda menepuk bahunya dan Della hanya terkekeh.

“Seadainya aja aku bisa milih Kak Mikko daripada Kak Langit,” gumam Della sambil menatap jendela di sampingnya.

Dinda hanya menghela napasnya saat melihat Adik kelasnya ini yang sangat suka dengan Langit. Dinda tahu mengapa Della bisa suka dengan Langit.

Dinda tidak tahu ini salah Langit atau bukan, atau Della yang terlalu baperan dengan Langit, Dinda tidak tahu. Langit hanya memberikan sebuah tisu dan mengatakan agar Della bisa melupakan cowok itu dan segera mencari cowok lain.

Della menangis saat dia putus dengan cowoknya dan Della berlari ke belakang sekolah dimana disana tempat Langit biasa berdiam diri, katanya meditasi agar bisa belajar Matematika, Fisikia, dan Kimia.

“Thanks Kak udah nganterin aku,” Della tersenyum.

“Iya Del, kalau butuh apa-apa telepon Dinda aja,” ucap Mikko yang mendapatkan tatapan tajam Dinda, sedangkan Della hanya terkekeh melihat kedua Kakak kelasnya itu.

“Aku masuk dulu ya, Kak.”

Mikko memberikan ibu jarinya dan segera melesat pergi dari rumah Della.

“Mau pergi kemana lagi nih, Din?” tanya Mikko.

“Pulang lah, Mik,” ketus Dinda.

“Yaelah Din, udah mau pulang aja. Berduaan sama gue aja belum, nanti aja ya,” seru Mikko sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dinda melotot melihat Mikko. “Eh dugong, mata lo kenapa? Geli gue ngeliatnya. Pulang!”

Mikko terkekeh dan mengacak pelan rambut Dinda membuat Dinda diam bergeming.

“Jangan baper sama apa yang gue lakuin, Din,” uca Mikko membuat Dinda kembali tersadar dan menatap Mikko. “Lo tahu gue. Gue gak bisa hidup dengan satu cewek.”

Intinya Mikko itu playboy.

Jangan baper. Tapi cowok itu sendiri membuat Dinda tidak bisa mengelak bahwa dia baper dengan apa yang dilakukan oleh Mikko.

Ini bukan salah Dinda, tapi Mikko. Untuk apa Mikko melakukan hal-hal lembut kalau akhirnya cowok itu mengatakan jangan baper.

Dinda juga cewek, dan cewek itu mudah baper.

* * *

“Ric, udah jam sembilan,” kata Adista sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. “Nanti Ayah aku marah.”

Adista hampir saja ingin muntah makanan yang dia makan barusan saat mengatakan kalau Evan akan marah kepada Adista. Pria yang disebut Ayah itu tidak pernah mengkhawatirkan sebagaimana mestinya

seorang anak perempuan yang pulang hampir larut malam. Ayahnya tidak pernah melakukan itu.

Langit mengangguk dan segera bangkit dari duduknya. “Kita pulang sekarang.”

Adista terdiam menerawang, rambutnya berterbangan akibat angin karena dia tidak memakai helm. Seandainya saja Evan meneleponnya berkali-kali karena mengkhawatirkan Adista, mengirimkannya pesan dan menyuruh Adista pulang. Hidup Adista sudah banyak seandainya, dan Adista tidak tahu harus bagaimana lagi dengan

kehidupannya.

Di satu sisi dia bahagia, dia pintar, dia memiliki teman seperti Dinda dan Mikko yang baik kepadanya. Dan di satu sisi lainnya, Adista ingin memiliki keluarga utuh, diakui di kelasnya. Tapi Adista yakin, semua keinginannya itu tidak akan pernah terwujud.

“Dis, kita udah sampai,” suara Langit membuyarkan lamunan Adista, setelah melihat sekelilingnya Adista segera turun dan berdiri di samping Langit. “Aku pulang dulu.”

“Terima kasih buat tebengan sama traktirannya,” ucap Adista memberikan garis tipis di bibirnya.

“Kalo mau senyum, senyum aja Dis. Gak baik senyum setengah-setengah,” semprot Langit membuat Adista menatapnya dengan kesal.

Senyum Adista itu hanya berlaku untuk empat orang, yaitu: Anita, Oppa, Harris, dan kedua temannya. Tidak untuk Langit.

Adista masuk setelah mengatakan selamat malam dengan nada ketusnya dan pergi meninggalkan Langit yang masih saja berada di sana menunggu sampai Adista benar-benar masuk ke dalam rumahnya.

“Selamat malam juga, Adista,” ucap Langit setelah itu dia pergi melesat meninggalkan rumah Adista. Disana, Adista

memperhatikan Langit dari jendela yang pergi meninggalkan rumahnya.

* * *

Langit memarkirakan motor kesayangannya yang diberi nama Libert karena katanya motornya itu berjenis perempuan yang suka ngambekkan, dengan hati-hati agar Libert tidak marah akibat lecet di bodynya.

Melepaskan helmnya, Langit melihat sudah ada mobil Mikko yang bertengger manis di samping mobil Vivin.

“Kenapa lo ke rumah gue?” tanya Langit tanpa basa-basi saat melihat Mikko yang berada di kamarnya yang sedang bermain PS milik Langit. “Itu mobil lo jangan terlalu mepet sama Vivian, entar lecet. Nyokap gue marah-marah lagi.”

Mikko berdecak, menghentikan permainannya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik Langit. “Gue udah nungguin lo dari tadi sore,” Mikko menatap langit-langit kamar Langit. “Gue udah berusaha buat gak deket-deket Vivian, salah Vivian sendiri yang suka sama Mail gue.”

Vivian, mobil kesayangan Vivin yang dibelinya baru-baru ini. Entah melihat dari mana, yang jelas kata Vivin, Vivian itu terlihat cantik. Mobil perempuan yang cocok untuk Vivin. Sedangkan Mail, mobil Mikko yang ingin dia bentuk sesuai dengan karakter Mail. Tapi belum terlaksana karena Nyokap Mikko yang marah kalau sampai Mikko melakukan itu.

“Gue tanya sekali lagi. Kenapa lo ke rumah gue?” tanya Langit ketus. Meskipun Mikko ini sahabatnya jangan sekali-kali memberi hati kepada cowo itu. Hasilnya berbahaya kalau sampai di beri hati!

“Galak amat deh, Lang,” cibir Mikko sambil terkekeh. “Gue mikirin Dinda.”

“Dinda kenapa?” tanya Langit sambil mengernyit bingung.

“Gue kenapa, Lang.”

“Apanya? Gak usah sok ribet deh lo, Mik.”

“Gue gak mungkin suka Dinda kan, Lang?” tanya Mikko lebih bertanya kepada dirinya sendiri. “Gue ... gak mungkin, kan?”

“Memang kenapa kalo lo suka sama Dinda?”

“Bahaya, Lang! Itu artinya gue jadi pembantu dia selama sebulan,” erang Mikko sambil menghela napasnya. “Pokoknya jangan sampai Dinda tahu, Lang. Gue mohon sama lo.”

Langit mengangkat kedua bahunya. “Tergantung sih ... sama kelakuan lo sama gue.”

“Dasar monyet sialan!”

* * *

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!