Arsyila, putri manja yang harus merasakan rasa lelah dengan 'cinta'.
Saat ia memberi hati dan kepercayaan, yang ia dapatkan hanya sebuah luka dan kecewa.
Saat ia meyakini jika ia sudah merasa pas dan nyaman, ternyata itu milik orang.
Hati menjadi gersang hingga mungkin mati dengan sendirinya.
Bagaimana setelah kepergian semua cintanya, mampukah ia mengganti cintanya kembali ?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chengil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet Adji
Usai sudah kencan kita malam ini. Kencan model apa ya.. yang prianya keren sekeren artis band papan atas. Wanitanya lusuh seperti ibu rumah tangga yang tak pernah selesai dengan tugasnya. Lucu mengingatnya kembali.
Aku sudah diantar pulang. Adjipun langsung pulang. Tepat di rumah pukul 10 malam.
Kucek ponselku yang sejak tadi dalam metode silent. Mataku membola banyak panggilan tak terjawab semua itu dari Dika. Lalu beberapa pesan chat. Yang isinya terkesan marah karena panggilannya terabaikan dan chatnya tidak dibalas.
Tak berniat meladeninya aku non aktifkan ponselku.
Aku tidur dengan mood yang luar biasa bahagianya. Ahh besok weekend. Ada kejutan apa lagi ya. Terawangku tak sabar hari esok.
Pagi menyambut
Mentari hangat membiaskan cahayanya
Memberi janji akan sebuah kehidupan
Dedaunan dan bunga-bunganya terlihat lebih indah hari ini
Irama kicauan burung seperti simphony dalam awal kehidupan
"Sayuuurrrr.... sayuurrrr.... sayuuurrr..." Oh Tuhan.. Demi ayam yang berkokok pagi buta. Kesal sama suara tukang sayur. Merusak kepuitisan yang sedang tercipta pada moodku pagi ini. Kapan lagi aku bisa merasa seperti Tere Liye dengan segala kata-kata cinta yang puitis itu. Yang membuat para pembacanya meleleh seketika.
Kugeleng-gelengkan kepalaku. Aku terlalu berhalu dengan cerita romantis. Yang terkadang membuatku menjadi aneh sendiri.
Senyumku masih mengembang mengingat perlakuan Adji semalam. Manis.. tapi bukan gula. Hihihi
Bergegas aku ke kamar mandi. Setelah selesai dengan ritualku sudah mengenakan baju santaiku. Memakai celana kolor panjang dengan kaos yang kedodoran. Ya itu pakaian favoriteku di rumah.
"Ibuu.." Sambil kupeluk dari belakang. Ibu yang terkejut membuatku terkekeh. Beliau menatapku horor. Pasalnya Ibu sedang menggoreng ikan kalau-kalau ikannya yang sedang dibaliknya tadi loncat ke kepalaku bagaimana.
"Hihihi.. ampun Ibu Boss.. " Sambil kucomot gorengan tempe disampingnya. Ibu menggelengkan kepalanya.
Aku anak tunggal. Putri kesayangan Ayah. Aku dari dulu selalu dimanjakan oleh Ayahku. Ini itu tidak boleh aku kerjakan khawatir anak gadisnya ini nanti lecet atau kelelahan.
Namun setelah duduk dibangku kelas 9, aku mencoba mandiri. Apa-apa sendiri. Seperti mengurus keperluanku sendiri. Sedikit membantu Ayah berkebun. Dan sedikit membantu Ibu di dapur.
Walaupun tak sepandai Ibu tapi aku mulai menyukai aktifitas di dapur.
Kurasakan ponselku bergetar ada panggilan masuk. Dika.
Agak menjauh lalu kuangkat telfonnya.
"Hallo"
"Hallo". Terdengar suaranya yang dingin.
"Iya Ka ada apa ?" Tanyaku.
"Semalam kemana ?"
Huh pagi-pagi sudah mau cek cok. Macam rumahtangga yang yang sedang dilanda dengan pengkhianatan
saja. Membuatku bungkam sedikit berfikir mau beralasan apa ya ?
"Syila..!?"
Ehhh kok jadi mencekam begini sih udaranya.
"Ehemm.." Kuatur nafasku. Kubuat serileks mungkin.
"Iya semalam keluar ponselnya disilent." Jujur ini.
"Kenapa dibaca tanpa membalas ?". Duhh harus dijawab ya. Nanti kalau dijawab jujur aku sedang berkencan lalu malas meladeni pria lain takut langsung masuk ke IGD karena serangan jantung. Hahaha
"Kupikir sudah terlalu larut Ka, kau juga seharusnya sudah istirahat. Takut mengganggu dan kurasa juga kurang etis mengganggu orang yang sedang beristirahat." Kucari kata-kata sebijak Mario Teguh.
Terdengar helaan nafas lelah.
"Aku menunggu kabarmu sampai aku tidak bisa tidur baru setelah subuh tadi aku tidur. Namun baru sebentar aku tertidur aku langsung teringatmu Syila."
Siapa yang menyuruhmu aku bahkan tidak mempunyai pemikiran sejauh itu. Berharap ada pria yang menanti kabarku sampai sejauh itu. Bahkan tidak pula untuk Adji.
Tapi hatiku bergetar pula mendengar penuturan Dika. Pantas suaranya terdengar lelah sekali. Aku merasa sedikit bersalah.
"Maaf ". Sudah itu saja yang keluar sebagai jawaban dari penyataan yang panjang tadi.
Kurasa itu sudah mewakili dari semua yang harus dijawab.
Tut..
Tut..
Haah... Aku tercengang. Terputus tiba-tiba. "Heii aku baru saja meminta maaf. Mungkin setelah ini kau yang harus meminta maaf padaku." Kesalku pada ponselku yang tak mengerti dimana salahnya.
Ini sudah siang sudah melebihi jam makan siang. Tapi kabar dari Adji pun tak kunjung datang. Pesanku tiada balasan. Panggilanku tiada jawaban.
"Syila..". Suara Ibu Boss dengan mengetuk pintu kamarku. Membuyarkan lamunanku.
"Iya Bu.. Ada apa ?" Setelah kubuka pintunya. Kulihat Ibu sudah membawa tas kebesarannya. Pasti mau mengajakku berpetualangan deh. Terkikik aku dengan bayangan dimana akan berbaur dengan para Ibu-Ibu dengan segala kerempongannya. Bernegosiasi membandingkan harga 2 ribu rupiah sampai urat dilehernya terpampang jelas. Sedangkan wajah si penjual sudah gemas bercampur lelah oleh tawaran si manusia maha benar itu. Hihihi tak sadar diri aku juga termasuk kaum maha benar itu.
"Ke pasar yuk temani Ibu". Senyum sumringah terpancar. Wahh Ayah memberi jatah bulanan lebih sepertinya.
"Siap Ibu Boss !" Langsung kutegapkan tubuhku. Kubusungkan dadaku. Seperti ajudan yang siap menerima tugas dari komandannya. Ibu tambah sumringah melihat tingkahku.
Ketika mobil angkot sudah berhenti di depan pasar. Aku seperti melihat siluet bayangan Adji masuk ke gang kecil tak jauh dari pasar. Mengapa perasaanku tiba-tiba resah.
Enyahlah pemikiran tak berfaedah..!!
Ibu sibuk dengan barang-barang yang mau dibeli. Aku hanya mengekori Ibu tanpa minat berkomentar ini itu. Hanya membawakan tas Ibu yang mulai terisi dengan bahan lauk pauk untuk stok di kulkas nanti.
Fikiranku tertuju pada siluet Adji tadi. Pesanku belum juga dibalasnya. Ada apa ini ??
Kenapa rasanya sesak di dada. Padahal belum tentu yang kulihat tadi benar Adji.
Ibu selesai dengan kegiatannya dan kami berencana untuk kembali pulang.
"Syila.. tunggu sebentar ya Ibu lupa bumbu dapur habis juga." Aku hanya menganggukkan kepala.
Lalu hatiku seolah menuntunku untuk masuk ke gang sempit tadi dimana aku seperti melihat bayangan Adji. Kuberharap aku tidak menemukan Adji di tempat seperti ini. Tempat seperti rumah para wanita pekerja malam. Itu yang aku tahu dari informasi tukang ojeg tadi.
Di sana tidak terlalu banyak pemukiman warga. Kuedarkan penglihatanku. Sebelumnya aku sudah mengirimi pesan kepada Ibu aku mencari toilet alasanku. Khawatir Ibu mencariku nanti.
Deg..
Aku melihatnya. Dia benar Adji. Kenapa dia di sini ? Lalu tak memberiku kabar sama sekali ? Siapa wanita itu ? Kenapa mereka dekat sekali ?
Panas dadaku semakin panas melihat pemandangan Adji sedang merangkul pinggul wanita yang terlihat seumuran dengannya.
Aku memilih pergi dengan berbagai rasa tak menentu. Kecewa, sedih, marah, juga gelisah.
Tak terasa pula air mataku sudah membasahi pipi.
Apa maksudnya ini semalam dia menjelma bak pangeran. Kini dia menjelma seperti bajingan ??!!
Ahhhh.. gemas sendiri. Gemas dengan diriku yang terlalu percaya dan bodoh ini.
Kuhapus air mataku. Aku harus terlihat baik-baik saja di depan Ibu.
Oke aku akan mencari tahu kebenarannya nanti.
Aku harus menata hatiku untuk kemungkinan-kemungkinan yang sudah terangkai dalam bayanganku.
Aku sudah sampai di rumah. Tepatnya di dapur bersama Ibu. Membantunya menata belanjaan tadi.
semangat terus Kak 💪
bolehlah ya kita saling mendukung.. hehehe 😊
kalau suka novel bergenre misteri atau thriller, jika berkenan mampir juga ya di karya aku.
judulnya: malam tadi.
sukses
semangat
mksh
Daerahku gak tersedia utk app nya