anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.
dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya
lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
Entah karena Tuhan tak mengizinkan atau ia yang terlampau mengandalkan orang, Anindira tidak mendapatkan tiket kereta, ia benar-benar binggung mengapa tiket kereta begitu cepat habis bahkan Hasan juga menanyak pada temannya yang kenal dengan Calo namun mereka mengatakan tiket sudah habis terjual.
Anin kebinggungan, ia sudah memesan tiket Bus namun Bus mereka juga sudah penuh dan jika ada untuk besok sore, sudah pasti Anindira tidak bisa menunggu besok karena kakaknya sedang kritis dan memelurkan dirinya. Anin sudah tak punya pilihan lagi, ia tidak tahu harus pergi ke Bandung bagaimana, semua perlengkapan sudah ia siapkan Anindira juga sudah mengepak beberapa barang-barang yang ia beli ke koper karena ia tak yakin akan pulang ke Jogja dalam waktu dekat.
Bude juga membantu Anindira mengemas semua pakaian dan barang-barang lainnya, ia meminta Anindira benar-benar menikmati kehidupannya di Bandung lagipula ia sudah memutuskan berhenti bekerja jadi tak ada alasan lagi untuk menetap di Jogja karena semuanya sudah selesai, Bude juga memberi petuah agar Anindira kembali menghangat dengan keluarganya karena sudah empat tahun ini Anindira benar-benar hidup seorang diri.
*tok-tok*
Suara ketukan pintu kamar Anindira berbunyi, Anindira sibuk merapihkan barang-barangnya, ia pikir itu adalah Bude dan ia menyuruhnya masuk karena ia begitu sibuk.
"Assalammualaikum." ucap seseorang membuka pintu.
"Waalaikumsallam." jawab Anindira yang terkejut langsung melihat kearah pintu.
"a'gilang?" tanya Anindira tak percaya Gilang datang.
"Iya, Anin kata Dimas kamu di suruh pulang ke Bandung?" tanyanya maish berdiri di pintu.
"Iya a, teteh kritis udah ngelahirin," ucap Anin masih sibuk dengan barang-barangnya.
"Iya kemarin malem Dimas telepon katanya Kirana masuk ke rumah sakit, terus kebetulan tadi lihat status Whatsapp kamu cari tiket kereta sama Bus juga, apa udah dapet?" tanyanya.
Anin teringat ia tadi sempat menulis status di Whatsapp agar orang-orang membantunya mendapatkan tiket, namun kebanyakan dari mereka menawarkan tumpangan mobil ke Bandung, Dan Anindira menolaknya karena ia tak mungkin mengajak temannya ke Bandung dengan waktu yang belum pasti kapan ia akan kembali ke Jogja.
"Belum a, tadi ada beberapa temen yang nawarin antar ke Bandung, cuman Anin tolak, soalnya Anin juga gak tahu sampai kapan di Bandungnya," ucap ia menatap Gilang kemudian kembali menutup kopernya yang sudah penuh.
"Ya sudah saya antar aja, saya mau balik juga ke Bandung," ucapnya
"Eh iya a'gilang dari kapan di sini? Kok gak kasih kabar?"
"Baru dua hari, ada acara juga sih di sini terus baru libur hari ini tadinya mau ngajak kamu eh kamunya mau balik ke Bandung yaudah sekalian," Ucap Gilang.
"Eh enggak a'gilang kalau mau di Jogja gapapa, Anin nunggu kabar dari temen-temen juga siapa tahu ada yang dapetin tiket," ucap Anin tersenyum pada Gilang.
"Saya pulang sekarang Nin, udah hayu kamu siap-siap dulu, kita harus cepet-cepet pulang Dimas udah nanyain," ucap Gilang langsung mengambil koper Anindira.
Anin ingin menolaknya, namun ia tidak punya waktu banyak karena ia harus segera pulang ke Bandung dan Hasan juga sudah memberitahunya tidak mendapatkan tiket, ia langsung menelepon Hasan bahwa ia akan pulang bersama Gilang.
*-*-*-*-*
Anin merasakan kesedihan terlebih ia harus berpisah pada Bude dengan waktu yang tidak diketahui kapan ia akan kembali ke Jogja, semuanya begitu cepat, semuanya di luar dugaanya, mungkin Tuhan sudah merencanakannya. ia harus pulang ke Bandung dengan cara seperti ini, mungkin Tuhan menengurnya karena ia tidak mempedulikan keluarganya.
Selama perjalanan berlangsung Anindira dan Gilang saling berbincang, Anin juga meminta Gilang untuk menghidupkan lagu One Direction agar ia tidak jenuh selama perjalanan. Gilang mengajak Anindira berbincang namun Anindira lebih tidak terlalu menanggapi mungkin karena ia sedang bersedih mendapat kabar tentang kakaknya.
Keesokan pagi mereka sampai di Bandung, Gilang mengantar Anindira ke rumah sakit, disana sudah banyak keluarga yang berkumpul dengan wajah tertunduk lesu, Anindira berlarian bertemu orang tuanya yang duduk di luar ruangan.
"Gimana keadaan teh Kirana?" tanya Anindira.
"Kamu, kenapa kamu gak bisa lebih cepat datang ke sini, apa kamu sudah tidak peduli dengan keluarga?" tanya Mamah yang langsung memarahinya.
Semua yang berada di sana, orang tua Dimas, Dina juga sudah menunggu di sana, tiba-tiba Papah Anin menarik tangannya dan mengajaknya berbicara berdua, Anin hanya menengok ke arah Mamah yang masih kesal pada Anindira, sedangkan Dimas tampaknya baru datang dan terkejut saat Anindira di bawa Papah.
"Anin, papah tidak tahu harus bagaimana," ucap Papah tiba-tiba.
"Bagaimana gimana?" tanya binggung.
"Kakak kamu, Kirana dia kritis dokter bilang dia mengalami pendarahan hebat, waktunya tak banyak nak, dan dia ingin bertemu kamu," ucap Papah.
"Lalu kenapa Papah bawa Anindira ke sini? Harusnya papah bawa Anin ketemu sama teteh," ucap Anin kesal.
"Ada hal yang harus Papah sampaikan sama kamu, kamu harus janji sama kita apapun yang Kirana katakan kamu jangan menolaknya karena mungkin itu permintaan terakhirnya," ucap Papah.
Anin hanya menatap Papahnya binggung, mengapa Papahnya mengatakan hal demikian, tanpa berpikir panjang Anin meninggalkan Papahnya dan pergi keruangan Kirana. Dimas mengantar Anindira masuk kedalam, dan menunggu di dalam.
"Teh Kiran" ucap Anindira menangis melihat kakaknya yang sudah memakai segala peralatan di badannya.
Kirana mencoba membuka matanya perlahan, ia menatap Anindira dan Dimas yang berada di belakang Anindira.
"Teteh jangan dulu bicara," ucap Anin menggengam tangan Kirana.
"Anin, teteh titip anak teteh sama kamu," ucapnya terdengar seperti merintih.
"Teteh jangan bilang gitu, teteh harus sembuh,"
"Teteh mau kamu gantiin teteh jadi Ibu dari anak teteh, kamu mau nikah sama Dimas?" ucapnya begitu tiba-tiba.
"Teteh jangan bilang gitu, Mas Dimas panggil Dokter periksa teteh," ucap Anin beralih pada Dimas yang sudah menangis dibelakangnya.
"Teteh gak punya banyak waktu Anin, kamu mau kan? Teteh percayain anak teteh sama Dimas sama kamu, teteh gak kuat lagi." ucapnya menangis dengan rintihan kesakitan.
"Anin, Kirana udah gak punya banyak waktu, Kirana mengalami pendarahan hebat," ucap Dimas dengan mata memerah.
"Teteh tolong bertahan buat anak teteh, teteh harus berdoa Anin yakin teteh bakal sembuh," ucapnya Anin.
"Anin, tolong kamu bilang setuju," ucapnya dengan nafas terengah-engah.
Anin menggeleng menyakinkan Kirana bahwa ia bisa kembali sehat, ia tidak mau kehilangan Kirana selamanya.
"Tolong Anin teteh ingin mendengar jawaban iya," ucapnya.
"Mas tolong jaga anak kita, aku yakin Anindira bisa jadi Istri dan Ibu yang baik untuk kamu," ucapnya kemudian mengambil tangan Dimas yang berada di belakang Anin dan menaruhnya di tangan Anin.
"Kalian bisa jadi keluarga bahagia, dengan itu aku juga bahagia, Anin sama Mas Dimas kalian bisakan?" tanyanya.
"Teteh tolong jangan bilang gitu," ucapnya sudah menangis.
Nafas Kirana sudah terengah-terengah, ia sulit untuk berbicara lagi, Anin dan Dimas tidak dapat berbuat apa-apa mereka bertatap sebentar dan Dimas menganggukan kepalanya meyakinkan Anin untuk setuju atas permintaan terakhir Kirana.
"Iya teteh, Anin bakal jagain anak teteh bakal jadi ibu dan istri buat Mas Dimas," ucapnya menangis.
"Mas Dimas, tolong jaga Anindira untuk Kirana," ucapnya.
"Mas bakal jaga Anindira dan anak kita, Mas janji." ucapnya.
"Mas, tolong bantu Kirana baca syahad," ucapnya Kirana.
Dimas mendekatkan dirinya pada Kirana, ia juga membantu membisikan kalimat syahadat, Dimas mengiringi Kirana mengucapkan kalimat meskipun terbata-bata dengan nafas tersengal hingga kalimat terakhir ia selesai ucapkan dan langsung menutup matanya.
"Teh Kirana," teriak Anindira histeris dan menggoyangkan badan Kirana agar tersadar.
Dimas juga menangis begitu kehilangan istri yang ia sayangi, hingga teriakan histeris Kirana menbuat yang lain masuk ke dalam ruangan dan melihat Dimas dan Anindira yang sudah menangis, mereka sudah tahu Kirana tidak bisa bertahan, Dina yang melihat kakak iparnya sudah tiada menangis memeluk Ibu sedangkan Mamah Kirana menangis memeluk Papah yang juga merasa kehilangan.
"Anin tolong ikhlas," ucap Bapak Dimas.
Dimas yang tahu betapa Anin begitu kehilangan Kirana langsung menahan bahu Anindira menenangkannya, satu hal yang Dimas tahu di dunia ini tidak ada yang abadi, ia memang mencintai Kirana namun Tuhan lebih mencintainya, hingga dokter datang langsung menutup Kirana dengan kain putih, Anindira yang histeris tak bisa menahan dirinya, ia langsung pingsan dan beruntungnya Dimas langsung menahan Anindira dan membawanya ke ruangan.
*-*-*-*-*
Anindira tersadar dari pingsannya, di sampingnya Gilang sedang tertidur bersandar di kursi, sepertinya ia menunggu dirinya dari tadi, Anin masih merasakan pusing di kepalanya namun ia teringat Kirana sudah tiada dan ia sudah menaruh janji pada Kirana bahwa ia akan menggantikan posisi Kirana menjadi ibu dan istri untuk Dimas, Anindira kembali menangis tersedu-sedu hingga Gilangpun terbangun mendengar suara tangis Anindira.
"Teh Kirana." ucapnya.
"Kirana sudah di pulangkan, beliau akan di makamkan siang ini," ucap Gilang.
"Aku mau pulang, aku mau kemakan teteh," ucapnya.
"Mamah sama Papah minta kamu jangan ke makamnya, takut kamu gak kuat kamu lebih baik di sini istirahat dulu karena kondisi kamu juga kurang stabil," cegah Gilang.
Anindira yang masih cemaspun hanya terdiam, sepertinya benar ia tidak mungkin pergi ke pemakaman Kirana karena hanya membuatnya bertambah sedih dan membuat orang-orang bertambah khawatir pada Anindira, ia memilih beristirahat.
Satu jam Anindira beristirahat, namun ia hanya menangis sepanjang waktu, ia benar-benar kehilangan Kirana, tiba-tiba momen mereka dari kecil terbayang di ingatan Anindira, bagaimana kakaknya selalu membela Anin, menjaganya Kirana tak pernah marah kepadanya meskipun Anin sering membuat masalah padanya Anin benar-benar merasa kerinduan pada Kakaknya itu mengapa Tuhan mengambilnya begitu cepat? Mengapa Tuhan tega membiarkan Anindira sendirian?
Tidak ada yang tahu apa yang Tuhan rencanakan, tidak ada yang Tahu apa yang Tuhan takdirkan, Anindira percaya Kirana berada di surga karena ia orang baik bahkan sangat baik ia percaya Kirana sudah bahagia di sana.