Anindita mengklaim dirinya seorang yatim piatu,dia di letakan oleh ibunya di sebuah panti asuhan karena ibunya melahirkan nya tanpa seorang ayah,beruntung setelah tamat pesantren gadis ini bekerja di sebuah perusahaan besar menjadi OB,gaji dari hasilnya bekerja dikumpul nya untuk kuliah...
Dita adalah panggilan akrab Anindita saat dia kuliah berkenalan dengan lelaki bernama Gilang wicaksana dan mereka menjalin hubungan selama dua tahun lalu memutuskan untuk menikah
tetapi pernikahan mereka tidak di setujui oleh ibu Gilang
akan kah pernikahan mereka bahagia?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian hafiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memutuskan pindah
malam ini menjadi malam panjang bagi kedua insan yang saling jatuh cinta ini,saling berpagutan menumpahkan rasa cinta mereka selama ini..
Anindita masih malu,dia hanya pasrah menerima apa yang di lakukan oleh suaminya,dia juga tidak mengerti karena selama ini baru Gilang pacar pertama nya,dan mereka tidak pernah melakukan yang melebihi batas,selain Anindita tidak ingin di sentuh Gilang juga sangat menghormatinya..
Pertempuran panas itu berakhir hingga jam 2 pagi,di saat Anindita mengatakan kalau dia sudah tidak kuat lagi,dan Gilang mengakhirinya..
*
*
*
" Mas bangun....subuh dulu" bisik Anindita mesra
" hmmm....masih mengantuk sayang" gumam Gilang
" nanti di lanjut lagi tidurnya mas,ayo kita sholat berjamaah" ajak Anindita lembut sambil mengusap rambut Gilang
mata Gilang mengerjap menetralkan penglihatannya karena pantulan cahaya lampu
" ayo...mandi bareng" ajak Gilang
" mas....biar aku mandi sendiri saja,ini ku masih sakit" ucap Anindita tertunduk malu
tanpa aba-aba Gilang langsung mengangkat Anindita menuju kamar mandi dan menurunkannya di bawah shower,di putarnya kran shower ke arah suhu yang lebih hangat
mereka mandi dengan saling menggosok sesekali Gilang mengecup tengkuk Anindita
" Mas,sudah siang nanti subuh nya lewat lo mas kalau kelamaan mandi,ayo ambil wudhu dulu" ingat Anindita
setelah sholat subuh Gilang kembali tidur matanya sangat mengantuk akibat pergulatan malam tadi
Jam sudah menunjukan pukul Sembilan pagi,perut Anindita sudah berbunyi menandakan minta di isi
Gilang terbangun melihat istrinya tidur dengan gelisah di sebelahnya
" kenapa sayang" tanya nya sambil memeluk Anindita dari belakang
" mas...aku-aku lapar" ucap nya terbata karena malu
" hahaha" tawa Gilang pecah seketika
" kalau lapar bilang padaku sayang,jangan takut atau pun malu,aku jadi merasa tidak berguna sebagai seorang suami membiarkan istri kelaparan" ucap Gilang
" Ayo bersiap kita cari makan lalu kerumah mama" ajak nya
*
*
*
Hari ini Gilang memutuskan untuk mengajak Anindita pindah keapartemen nya,mereka pulang ke rumah Gilang untuk mengambil pakaian
" tidak....mama tidak setuju kamu pindah,siapa nanti yang akan menemani mama,Fina sebentar lagi satu tahun lagi tamat sekolah dan akan kuliah keluar Negri" ucap Sarah marah mendengar keputusan Gilang
" biar kan saja ma, sekarang Gilang sudah menikah biarkan dia menentukan hidupnya" Harun buka suara untuk membela putra nya ini
" tidak pa,mama tidak setuju..tolong mengerti mama,dulu mama mentang pernikahan kamu tapi sedikitpun kamu tidak menggubris mama, sekarang mama minta kamu tinggal disini..!! tekan Sarah tanpa bisa dibantah
" mas,,,,aku tidak masalah tinggal disini,dimana pun aku tinggal asal selalu dengan mu" ucap Anindita lembut menggenggam tangan suaminya memberikan ketenangan
tanpa Anindita ketahui keputusan nya ini lah yang akan membawa petaka pada rumah tangganya,saat ini lah penderitaan Anindita dimulai..
" terimakasih sayang,bila kamu tidak keberatan dengan keputusan mama aku akan menyetujui nya" balas Gilang tak kalah lembut dengan memberikan tatapan cintanya
"ck....awas saja kamu perempuan miskin,aku tidak akan membiarkan kamu hidup enak disini,kamu tidak pantas menjadi ratu di istana anak ku"gumam Sarah lalu berlalu pergi masuk kedalam kamar karena muak dengan adegan mesra anak dan menantunya ini
Harun tak habis pikir dengan apa yang dilakukan istrinya selalu saja egois dan memperkeruh keadaan...
*
*
*
" gimana Jeng,berhasil?"tanya orang di sebrang sana
" iya,Perempuan bodoh itu mau tinggal disini.." jawab Sarah pada Mia yang sedang menghubunginya
" bagus...mulai sekarang siksa dia agar perlahan-lahan dia menyerah sendiri dan meninggalkan Gilang
" ok Jeng,saya tutup dulu,suami saya datang Jeng" ucap Sarah buru-buru menutup ponselnya
"ma...apa lagi rencana mu?" tanya Harun
" rencana apa?papa jangan menuduh mama sembarangan ya,tidak baik su'uzon pada orang ,dosa....bukan nya papa sering mendengar ceramah,tetapi masih juga menuduh mama sembarangan" sindir Sarah ketus lalu keluar dari kamarnya
Harus hanya menghela nafas panjang...
*
*
*
saat makan malam semua berkumpul Dita berdiri dan mengambilkan nasi untuk Gilang lalu Harun dan Sarah
saat mengambilkan nasi untuk Fina,Fina menolak nya
" nggak usah kak,Fina bisa ambil sendiri..!!tolak nya halus
" biarkan dia melayani kita fin, itu sudah jadi tugas nya,jangan hanya bisa menerima uang mas mu saja,tanpa ada kerja,enak sekali...!" sindir Sarah
" ma....sudah ini waktunya makan" tegur Harun
anindita hanya diam,bukannya dia tidak mengetahui kalau mertuanya ini tidak menyukainya,dari pertama bertemu Sarah sudah menampakkan kalau dia mengibarkan bendera perang pada Anindita hanya Anindita tidak ingin di cap sebagai menantu durhaka jadi dia tidak pernah menanggapi perkataan Sarah
setelah makan malam Anindita membersihkan meja dan ingin mencuci piring
" jangan Non...biar bibi saja" tolak bik Surti
" nggak papa bik,saya sudah terbiasa mengerjakan semua nya di panti" jawab Anindita
" jadi Non anak panti?" tanya bik Surti
" iya bik,dari bayi saya di titipkan di panti,setelah lulus pesantren baru saya keluar untuk bekerja" jelas Anindita
" pantas saja gerakan non sangat luwes tidak seperti perempuan zaman sekarang masak air saja hangus" ujar Bik Surti cekikikan
" bibi bisa saja....ini sudah selesai saya kedepan dulu ya bik" pamit Anindita
Anindita membuatkan teh hijau untuk suami dan mertuanya yang sedang asik mengobrol di depan TV
" mas,pa diminum dulu" tawar nya pada suami dan mertuanya ini
" terimakasih sayang,kalau kamu sudah mengantuk tidur lah dulu sebentar lagi aku menyusul" ucap Gilang sambil mencium tangan Anindita
wajah Anindita seketika merona mendapatkan perlakuan manis di depan papa mertuanya,dia sangat malu
" iya mas,aku duluan...pa aku permisi keatas dulu" pamit nya pada Harun
Harun hanya menjawab dengan anggukan
Anindita segera naik ke lantai atas dimana kamar Gilang terletak di lantai atas bersebelahan dengan kamar Fina sedangkan kamar orang tuanya di lantai bawah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
skrg kan dita bahagia
kasian