Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR MANDIRI
Yosep dengan sigap, menghampiri dan mengangkat Leon yang telah pingsan dan membawanya ke dalam mobil.
"Apa ini yang kalian inginkan!, hah, jawab aku!" Virza mencoba bangun dengan dengan tongkat bahunya.
"Maafkan kami Virza, tapi ini adalah jalan yang terbaik untuknya." Johan tertunduk penuh penyesalan.
"Apa, terbaik katamu. Apa kau pernah berpikir, bagaimana nanti, kalau Leon mengalami trauma berat." Virza kembali menarik kerah Johan.
"Sudah!, hentikan pertikaian ini!" Yosep datang dan melerai mereka berdua.
"Tak ada gunanya kalian bertikai seperti ini, lebih baik sekarang kita bawa Leon pulang dan menunggu sampai ia sadar." Yosep memapah Virza untuk kembali ke mobil.
Di dalam mobil tak terjadi percakapan apa pun antara Virza dan Yosep. hingga membuat suasana benar benar hening dan sepi.
Johan yang mengikuti Yosep dari belakang dengan motornya, terlihat murung dan tidak fokus dalam berkendara.
Maafkan aku Virza, aku tak bermaksud membuat keadaan ini menjadi lebih buruk, yang aku inginkan hanyalah kebaikan untukmu.
Sesampai di kediaman Di rumah Leon.
"Johan tolong bantu aku." pinta Yosep yang mengangkat Leon dan membawanya.
Johan membantu memapah Virza yang baru saja keluar dari mobilnya, dan menyusul Yosep yang telah menunggunya di depan pintu rumah.
"Ini kuncinya." Virza memberikan kunci rumah pada Johan, dan Johan langsung membuka pintu rumahnya.
Pintu terbuka dan Yosep segera masuk ke dalam rumah.
"Virza, dimana kamar Leon?" Yosep bertanya sambil mengangkat Leon.
"Di ujung Pak," jawabnya.
Yosep lalu masuk ke dalam kamar Leon dan menidurkan Leon di kasurnya.
Maafkan aku nak, bersabarlah, aku akan ada disisimu.
Yosep mencium kening Leon dan mengusapnya.
Yosep keluar dari kamar Leon, dan menuju ruang tamu di mana Virza Johan berada.
"Johan, maafkan aku atas kejadian tadi." ucap Virza penuh dengan penyesalan.
"I ya, aku mengerti kawan." Johan menepuk pundak Virza.
Yosep datang dan duduk di sebelah Johan.
"Ku ucapkan terima kasih banyak sekali, pada kalian berdua. kalau kalian tak membantuku, entah...." Virza menundukan kepalanya.
"Sudahlah, sebagai manusia. sudah seharusnya saling membantu, bukan begitu Johan?" Yosep melirik Johan.
"Betul, dengan apa yang di katakan Pak Yosep." Johan menimpalinya.
"Virza, hubungi aku kalau terjadi apa apa." Yosep bangun dari duduknya dan pamit pada Virza.
Beberapa hari berlalu, setelah kejadian dimana Leon pingsan di atas makam orang tuanya.
Virza terlihat sibuk dengan kegiatan sehari harinya. Kini dia menjadi seorang Om sekaligus orang tua dan ayah untuk Leon.
Dengan keadaan kakinya yang lumpuh, tak membuat jadi alasan utama dia bermalas-malasan.
Di mulai dari pagi, ia selalu menyiapkan sarapan untuk Leon, sebelum Leon berangkat ke sekolah TKnya.
Selesai dengan sarapannya, Virza bersiap siap untuk mengantar Leon ke sekolah TK nya.
Sambil menunggu Leon pulang, ia selalu duduk di gazebo di taman yang jaraknya tidak begitu jauh dengan sekolah TK nya Leon.
"Sial, kenapa susah sekali cari kerja." Virza berkutat dengan ponselnya, browsing mencari info lowongan kerja.
Tabunganku semakin menipis, aku tidak boleh berdiam diri terus seperti ini. Tapi kemana aku harus mencari pekerjaan Tuhan.
"Hi, masih pagi kenapa melamun?" sapa seseorang yang baru saja datang dan duduk di sebelah Virza.
Virza terkesiap dan sedikit merasa kaget setelah mengetahui siapa wanita cantik yang menegurnya.
"Ouwh kamu Ray, kenapa tak kuliah hari ini?" tanya Virza padanya.
"Kebetulan Vir, hari ini Jam kuliahku agak siangan." Raylene tersenyum menatap Virza dan membuat Virza makin merasa malu di buatnya.
"Ouwh gitu ya." jawab Virza sambil meletakkan ponsel di meja gazebo.
Dengan kepo, Raylene mengambil ponsel yang belum sempat Virza keluarkan dari menu browsingnya.
"Kamu cari kerja Vir?" tanya Ray pada Virza.
"I ya, Ray." Virza mengangguk.
"Terus kuliahmu, bagaimana?" tanya lagi sambil meletakkan kembali ponsel Virza pada letak semula.
"Entahlah Ray, aku sendiri tidak tahu." Virza menunduk pasrah melihat keadaanya.
Ray memegang tangan Virza, dan mengusapnya.
"Sabar ya Vir." Ray mencoba menenangkan Virza.
"Dengan keadaanku yang tak seperti dulu lagi, apakah akan ada orang yang menerimaku bekerja?" Virza merutuki dirinya yang tak berdaya dan membuat Ray menitiskan air matanya.
Ray bangun dari bangku tempat ia duduk dan memeluk Virza.
"Vir, jangan pernah merasa sendirian. Aku mencintaimu, aku akan ada dan membantumu." Raylene mengeratkan pelukannya hingga kepala Virza secara tidak sadar menempel di dada Raylene yang lumayan terbilang besar.
Virza yang merasa tak nyaman dengan posisinya, segera mengendurkan pelukan Raylene.
Melihat wajah Virza yang memerah, akhirnya Raylene menyadari dan malu sendiri.
"Maafkan aku Vir, aku hanya terbawa suasana." ucap Raylene yang merasa tidak enak hati.
"I ya, Ray. aku juga minta maaf." ucap Virza mencoba biasa saja di depan Ray.
Bel sekolah TK terdengar di telinga mereka berdua.
"Maaf Ray, aku harus menjemput Leon. Aku tak mau dia menungguku lama." Virza bangun dari tempat duduknya.
Melihat Virza yang tegar membuat Ray makin salut dan jatuh hati padanya.
Inilah saatnya aku membalas semua kebaikanmu Vir.
Ray bangun dari tempat duduk dan mengambil tasnya.
"Hati hati Vir, pelan sedikit Napa." Ray membantu memapah Virza.
Di depan gerbang sekolah TK, ternyata Leon sudah menunggunya.
"Sudah lama menunggu sayang?" tanya Virza yang baru saja sampai.
Seperti biasa, setiap pertanyaan atau pembicaraan Virza padanya, hanya mendapat balasan diam.
"Kenapa dia Vir?" tanya Ray padan Virza.
"Nanti akan aku jelaskan padamu setelah sampai di rumah." jawabnya yang di balas anggukan oleh Ray.
Kebetulan Ray membawa mobil, dan membuat perjalanan pulang mereka menuju rumah, jadi tak memakan waktu yang lama.
Sesampai di dalam rumah, Leon langsung memasuki kamar dan menguncinya dari dalam.
Ia menyimpan tas dan mengambil figura foto kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. aku merindukan kalian. bisakah kau hadir dalam mimpiku." Leon menangis dan menangis, hingga tak terasa rasa lelah tangisannya membuat ia tertidur.
Sementara di ruang tamu, terlihat Virza sedang menceritakan penyebab, kenapa bisa Leon seorang anak yang riang, kini berubah menjadi seorang anak yang pendiam pada Raylene.
"Ouwh, jadi itulah penyebabnya." Raylene mengangguk setelah mengerti dan memahami semua yang di ceritakan Virza.
Raylene bangun dan berpindah tempat duduk, yang tadinya berhadap hadapan kini duduk di sebelah Virza.
"Kamu yang sabar ya Vir, kamu harus tabah menjalani semua ini. Aku percaya dan yakin kamu bisa melewati semua ini." Ray mencoba menyemangati Virza.
Ray menyibak rambut Virza dan mencium keningnya lumayan cukup lama.
Virza hanya diam dan tertegun dengan Raylene yang kini lebih agresif kepadanya.
Virza berperang melawan pikirannya, dia mencari alasan apa yang tepat untuknya, agar bisa terhindar dari ke agresifan Raylene yang begitu mencintainya.
"Hemm...kamu mau minum?, kamu pasti haus .." ucapan Virza kembali terpotong karena Raylene menutup mulut Virza dengan jari telunjuknya.
"Sutttt..." Raylene melepas jari telunjuknya dan seketika mendaratkan bibirnya pada bibir Virza.
Tak ada yang bisa di lakukan Virza, selain pasrah dan menikmati alur permainan Raylene.
Saking asiknya bercumbu, mereka lupa dengan suasana alam sekitar, yang bisa saja membuat mereka kaget atau mati kutu.
Mereka tak menyadari, bahwa telah ada sepasang mata yang telah asik menonton adegan Hot layaknya drama Korea yang sering tampil di layar kaca.