Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Kini gatra pulang ke rumah sekitar pukul tujuh malam. ia turun sambil membawa tas nya karena sejak pulang kuliah ia belum pulang ke rumah.
"Parkirin" ucap gatra sambil memberikan kunci pada seorang satpam yang sudah menunggu perintah gatra
"Baik den" ucapnya
Gatra melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, ia lalu menghentikan langkahnya sambil menatap kesal meja makan.
Dimana kedua orangtuanya tengah duduk dan makan bersama bu tania, wanita yang dijodohkan dengannya.
"Gatra dari mana aja kamu nak?" tanya bu prita sambil melangkahkan kakinya mendekati gatra
"Gatra mau ke kamar" jawab gatra sambil berjalan pergi
"Duduk gatra" ucap pak dario dengan suara beratnya, mau tidak mau gatra membalikkan badannya dan ikut duduk dimeja makan
"Dari mana? jam kuliah katanya udah kelar dari siang tadi" tanya pak dario saat gatra menjatuhkan bokongnya ke kursi
"Makan" jawab gatra sambil mendengus kesal menatap bu tania
"Makan dari siang sampe malem?" tanya pak dario dengan ketus
"Gatra setuju menikah sama bu tania" ucap gatra dengan suara tegasnya
"Serius?" tanya bu prita sambil memegang bahu putranya itu
Tania melebarkan senyum manis nya sambil menatap wajah gatra yang juga menatapnya sambil tersenyum penuh arti
"Gatra" panggil pak dario, gatra menoleh sambil mengangguk kan kepalanya "gatra mau pah, tapi sebaiknya gatra dan bu tania menikah secara sederhana saja. bagaimana?" tanya gatra menatap bu tania
"Tania ikut saja" jawab bu tania sambil tersenyum lebar
"Kalo kalian berdua setuju, sebaiknya kita rencanakan secepat mungkin" ucap pak dario dengan senyum lebarnya "papah bangga sama kamu" sambungnya menatap gatra
"Gatra mau mandi dulu" ucap gatra sambil bangun dari duduknya "gerah" sambungnya dan pergi
"Papah ke kamar dulu ya mau istirahat" ucap pak dario menatap tania dan bu prita
"Sini sayang" bu prita menarik lembut lengan bu tania dan diajaknya duduk di sofa ruangan keluarga
"Kamu seneng kan, gatra mau menerima perjodohan ini?" tanya bu prita sambil mengelus lembut kepala tania
"Seneng mah, semoga aja rumah tangga tania dan gatra nantinya bisa awet kaya rumah tangga mamah dan papah" jawab tania sambil mempererat pelukannya
"Kalau menurut kamu, lebih baik menikahnya kapan?" tanya bu prita
"Tania ikut aja mah, gimana baiknya" jawab tania
"Kalau nanti kamu sudah jadi istrinya kamu harus nurut ya, karena surganya istri itu ada disuami" nasihat bu prita
"Iya mah" jawab tania sambil tersenyum lebar , ia tak bisa membayangkan akhirnya ucapan setuju keluar dari mulut gatra
"Sekarang, kamu bawa makanan sana ke atas. kasih ke gatra" suruh bu prita sambil melepaskan pelukannya
"Tania?" tanya tania menunjuk dadanya
"Ia kamu, sana" jawab bu prita sambil tersenyum lebar
Tania pun dengan senyuman tipis membawa makanan ke kamar gatra, ia mengetuk pintu sambil merapihkan baju dan celana panjangnya
"Tok...tok"
"Kenapa bi?" teriak gatra yang mengira ketukan pintu itu datang dari bibi
"Ini saya" jawab bu tania sambil sedikit teriak
"Bu tania?" ucap gatra pelan sambil memakai celana pendek nya karena ia baru selesai mandi "ngapain dia?" pikir gatra sambil berjalan membukakan pintu
Tania memasang senyum paling lebarnya sambil menatap ramah gatra, sedangkan gatra memasang wajah datarnya "ada apa?" tanya gatra sambil melihat nampan yang bu tania bawa
"Kamu suruh makan sama mamah" tania menyodorkan nampan yang ia pegang
"Gak usah sok perhatian, aku masih punya kaki sama tangan" ketus gatra sambil berjalan turun meninggalkan bu tania
Tania merasakan amat sakit di dadanya ini untuk pertama kalinya dirinya dibentak oleh seorang lelaki "apa ini awal dimana aku tau bahwa pernikahanku nantinya tak akan berjalan dengan baik?" gumam bu tania sambil ikut turun
Gatra duduk dan meneguk segelas air putih "loh kan tadi tania bawa makanan, kok gak dimakan?" tanya bu prita bingung pada gatra
"Kata gatra makan di bawah aja" jawab bu tania sambil meletakkan piring yang sudah berisi makanan yang ia siapkan
Gatra tersenyum sinis "dasar cewek matre, bukannya tau diri malah nahan diri demi harta" makinya pelan
Bu tania yang mendengar ocehan gatra hanya terdiam menahan sakit di dadanya.
"Tania pulang dulu ya mah, udah malem" ucap bu tania sambil menarik tasnya yang tergeletak di meja
"Tunggu dulu, nanti dianterin gatra" suruh mamah sambil menghampiri tania "oh iya mamah punya beberapa kue, mamah ambil dulu ya tunggu" sambung mamah sambil pergi
Gatra membalikkan badannya sambil meneguk air putih dihadapan-nya "bawa motor kan? alesan dong. masa iya gak punya ide buat nolak dianterin"
"Atau gak ada uang buat beli bensin?" tanya lagi gatra sambil menaikan kedua alisnya
"Maksud kamu apa yah? aku kan gak minta itu suruh mamah" jawab tania dengan nada tingginya
"Ehh selow dong" kata gatra sambil tersenyum sinis "aku kan cuma nanya" sambungnya
"Ini, bawa pulang buat ngemil" datang bu prita sambil menyerahkan kantor plastik
"Makasih mah" jawan tania menerima dengan baik "tania pulang sekarang ya mah, tania kan bawa motor"
"Jangan, udah malem. perempuan bahaya bawa motor sendirian, di anterin gatra aja" suruh mamah sambil menghampiri gatra yang tengah duduk memainkan handphonenya
"Gatra cepat antarkan tania" suruh mamah dengan nada tingginya
"Tapi mah gatra mau belajar, mau nulis poin-poin penting di skripsi disuruh sama dosen pembimbing" jawab gatra dengan mata melirik bu tania dengan tajam
"Iya bener mah, gatra harus belajar. tania pulang sendiri aja" ucap tania langsung mencium tangan bu prita dan pergi
"Apa gatra benar-benar setuju menikah denganku?" pikir tania saat ia mengendarai motornya
Tak lama sebuah mobil dari arah belakang terlihat mengikutinya, tania menghentikan motornya dan mengetuk pintu kaca mobil yang ikut berhenti dibelakangnya
"Turun" teriak bu tania
Seorang lelaki berjas yang sudah berumur turun sambil menundukkan kepalanya "maaf non, ada apa?" tanyanya sopan
Tania menongolkan kepalanya melihat isi didalam mobil, terlihat ada tiga orang dengan pakaian rapih nya sambil tersenyum mengangguk.
"Pak rusdi!!! ngapain?" tanya tania dengan geram
"Saya hanya menjaga agar non aman sampai rumah" jawabnya sopan
"Bapak itu benar-benar terlalu mengkhawatirkan saya deh, saya itu bakal baik saja pak" perjelas bu tania
"Saya harus menjalankan perintah almarhum tuan, untuk terus menjaga dan mengawasi non" sautnya dengan santai
Tania menghamburkan nafasnya "yaudah deh"
Ia kembali mengendarai motornya diikuti dengan mobil yang dibawa pak rusdi. sejak kecil tania selalu di awasi oleh pak rusdi.
Apalagi setelah kedua orangtuanya meninggal tania sering pergi keluar kota, untuk melihat bisnis peninggalan orangtuanya dan juga untuk sekedar mencari pengalaman. jadi pak rusdi benar-benar harus memastikan tania baik-baik saja.
Walaupun begitu, pak rusdi tidak pernah ikut campur tentang urusan pribadi nona mudanya. makanya ia tak bisa membuat tania menikah diusia yang biasanya perempuan lain menikah.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek