Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Marsya
Kita bakal saling melengkapi, saling jaga, dan saling ngertiin satu sama lain. Dengan gitu persahabatan yang kita jalin ini nggak akan pernah terputus oleh apapun itu. ~Marsya.
___________________
"Hay guys!"
"MARSYA!!"
"BU BOSS!"
"Lo beruntung banget Sya, pagi ini semua kelas lagi jam kosong, para guru lagi adain rapat sama pak kepala sekolah. Jadi guru nggak tau deh kalo lo itu telat masuk kelasnya," kata Fina.
"Eh syukur deh, jadi gue nggak perlu di hukum berdiri depan pintu, kek penjaga," kata Marsya.
"MURID THANOS GUE SELAMAT YA ALLOH!" teriak Kiran sambil berlari memeluk Marsya temannya.
Teman-teman Marsya bersorak ketika Marsya sudah masuk ke dalam ruang kelas XI IPS'2.
"LOH KOK LO MASIH HIDUP SYA!" teriak Qinan asal ceplos dan langsung mendapat tonyoran kepala dari Kiran.
"Bukannya seneng temen balik dalam keadaan sehat, eh lo malah tanya masih hidup apa kagak Qi, Qi. Dasar pinter lo!" kata Kiran.
Qinan nyengir tanpa dosa. "Hee gue terkejut aja, tiba-tiba Marsya balik ke kelas dan nyapa kita semua. Lo pada liatkan tadi sewaktu si Angkasa bawa pergi Marsya kek karung beras dipanggul gitu dan bikin kita semua yang ngeliat jadi ternganga."
"Iya juga sih." Tapi lo gak diapa-apain kan Sya, sama tuh bocah?" tanya Fina.
"Gue gak apa-apa kok. Mana ada yang berani macem-macemin muridnya Thanos. No! Nggak ada seorang pun yang berani, terutama tuh si curut, Angkasa," kata Marsya meyakinkan teman-temannya.
"Lo baru selamat dari setan neraka aja masih sempet-sempetnya ngelawak bos!" kata Kiran.
"Eh seriusan, gue lagi kagak ngelawak. Tadi gue udah saling adu sama tuh cowok. Sampe tuh cowok diem seribu bahasa tau gak!" kata Marsya membuat teman-temannya terbengong takjub.
"Wiih hebat banget nih bos gue!" puji Qinan.
"Emang lo sama si Angkasa saling adu apa sampe Angkasa bungkam?" tanya Fina. Lalu ia menutup mulutnya dengan tangannya. "Jangan bilang lo adu jotos sama Angkasa, Sya?!""
Marsya menepuk dahinya. "Fina, Fina. Gue tau kalo gue itu bisa taekwondo. Tapi nggak sampe adu jotos juga lah gue sama Angkasa."
"Lah terus kalo bukan adu jotos, adu apaan coba?"
Marsya tersenyum. "Kalian tau kan kalo mulut gue ini setajam apa kalo ngomong?!"
"Mulut lo itu setajem pedang, Sya. Baru satu kalimat aja udah nusuk ke hati. Apalagi kalo satu paragraf, udah pasti nyenggol jantung nyerempet ginjal cuyy." kata Qinan.
"Hahaha bener omongan lo Qi. Tadi ya gue udah ngeluarin semua unek-unek yang ada di pikiran sama hati gue ke Angkasa. Gue udah omongin semua tentang kelakuan anak buahnya. si Jaka, Munggar, Ajis sama si tukang pantun, Mas Dul. Dan ya abis gitu Angkasa diem aja nggak jawab apa-apa. Terus gue tinggal balik ke kelas deh!" jelas Marsya.
Ketiga temannya Qinan, Kiran, dan Fina lantas tertawa terbahak-bahak. Menyisakan Laras yang dari tadi hanya mendengarkan.
"Are you okay?" tanya Marsya pada Laras.
Marsya yang diberikan pertanyaan itu oleh Laras hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum sebagai jawaban. Setelah kejadian tadi pagi, Laras menjadi tidak banyak bicara, dan menjadi sosok yang pendiam tidak seperti biasa.
Marsya menghampiri Laras. "Lo kenapa Ras? Cerita sama gue, apa si Munggar ngomong macem-macem sama lo? Bilang ke gue Ras! Kalo perlu gue hajar tuh bocah sampe babak belur!"
Laras menggeleng-gelengkan kepalanya. "Munggar nggak ngomong apa-apa ke gue Sya."
"Lah terus lo kenapa jadi diem gini? Biasanya aja tuh mulut udah kaya radio rusak aja yang dipaksa di setel."
Kini Laras memeluk Marsya erat sambil terisak. Marsya terkejut sedangkan Qinan, Kiran, dan Fina segera menghampiri mereka.
"Ras lo kenapa? Lo nggak kesambet setannya Munggar kan?" tanya Marsya.
"Sya, makasih ya. Sampe segitunya lo belain gue. Gara-gara ngebela gue, lo sampe nekat ngelawan Angkasa, hiks, hiks," kata Laras sambil terisak.
"Apapun yang terjadi, gue akan selalu bela lo Ras. Bukan cuman bela lo aja, gue bakal bela kalian semua. Karna gue bukan hanya nganggep kalian sahabat semata, tapi gue udah nganggap kalian itu saudara gue. Kita bakal saling melengkapi, saling jaga, dan saling ngertiin satu sama lain. Dengan gitu persahabatan yang kita jalin ini nggak akan pernah terputus oleh apapun itu," kata Marsya.
"So Sweet," keempat temannya terharu dan saling berpelukan.
"Tapi gue tau siapa Angkasa Sya, dia nggak akan bisa dengan mudahnya ngelepasin orang yang udah berani-beraninya ngelawan dia. Gue takut, gue takut lo diapa-apain sama si Angkasa, Sya. Gue takut."
Marsya mengelus-elus punggung Laras untuk menenangkannya. "Angkasa gak bakalan apa-apain gue, Ras. Lo tenang aja, jangan khawatirin gue."
"Tapi Sya..."
"Gue udah bilang sama lo, kalo Angkasa gak bakalan apa-apain gue. Ras," kata Marsya meyakinkan Laras.
"Kenapa lo bisa seyakin itu?"
Marsya menghela napasnya. "Karna gue udah ngucapin sesuatu yang bakalan dia renungin. Kalo dia pinter, tuh orang pasti bakalan paham apa yang barusan gue bilang ke dia."
"Emang lo bilang apa ke Angkasa, Sya?"
"Kalian nggak perlu tau, cukup tenang aja. Nggak usah khawatir tentang apapun, okey?"
Keempat temannya pun tersenyum dan mereka pun saling berpelukan kembali seperti teletubis.
*****
"Woyy pak boss!"
Angkasa yang duduk di pojok belakang dengan bersender punggung pada dinding masih termenung yang membuat Munggar mengerutkan keningnya. Sementara Maura yang duduk tak jauh dari keduanya sejak tadi curi-curi pandang pada Angkasa yang tampak sibuk dengan pikirannya. Tampaknya cowok itu tengah melamunkan suatu hal. Sejak kembali dari belakang sekolah tadi hingga hampir mendekati jam istirahat, Angkasa masih saja seperti itu.
"Angkasa," panggil Munggar namun Angkasa masih malah menatap ke luar jendela kelasnya. Cowok itu sedang memikirkan kejadian tadi. Bukan karna merasa bersalah karna cewek itu, melainkan karna ucapan Marsya tadi yang berhasil memenuhi kepalanya. Sekarang saja, Angkasa sangat susah untuk fokus.
"Woy bos!" Dul dan Ajis memukul meja Angkasa, keduanya membuat Angkasa terlonjak kaget. Ia mengumpat keduanya ketika Dul dan Ajis duduk di samping kanan dan kirinya. "Ngelamun aja lo. Lo kesambet beneran? Setan mana yang berani ngerasukin lo dah? Biar gue siksa ntar kalo pulang ke neraka."
"Setan nyiksa setan lo Dul," kata Ajis.
"Apaan sih lo berdua!" kata Angkasa mendorong kedua bahu Ajis dan Dul.
"Ya kali kemasukan setan sekolah," kata Maul mengangkat kursi panjang dan melembawanya mendekat pada Angkasa. Firda, Oji, Asep, dan Ojan pun ikutan duduk di sebelah Maul. Sedangkan Nauval mengambil kursi lain dan membawanya mendekat pada teman-temannya.
"Eh lo awas lo kalo manggil-manggil setan sekolah. Ntar lo yang di cari baru tau rasa lo!" ucap Asep.
"Nyumpahin gue, lo sep!" kata Ajis. "Mending beliin gue minum gih. Kering banget nih tenggorokan," katanya.
"Situ siapa, huh? Main nyuruh-nyuruh aja. Emang gue asisten rumah tangga lo?!" kata Asep.
"Kalo lo berminat jadi ART gue, gue terima dah. Gaji tiap bulan bisa gue potongin terus," kata Ajis.
"Ogah amat gue jadi ART lo. Majikan nggak punya hati lo, mana ada yang mau ngelamar kerja sama lo!"
"Ya jelas gue kagak punya hati, karna hati gue itu cuman buat neng Maura seorang," kata Ajis sambil melirik ke arah Maura yang menatapnya sinis.
"Sep beliin gue minuman sono! Kayaknya gue dehidrasi nih," kata Ajis.
"Asal ada fulus, gue langsung cuss!" kata Asep. "Jalan dari kelas ke kantin itu butuh tenaga, bukan cuma suruhan semata,"
"Ah kelamaan lo mah Sep. Udah lo aja deh Dul," ucap Ajis.
"Males gue mah. Udah dalam mode nyaman nih badan, lagian tuh kaki lo ngapa nggak dipake buat jalan ke kantin. Apa kaki lo cuman tempelan aja kek hiasan mading?!" kata Dul membuat tawa setan teman-temannya menggema di dalam kelas.
"Hahaha kaki tempelan kek hiasan mading," ucap Maul dengan gelegar tawanya.
"Yang penting gue punya mulut buat ngomong, dari pada Munggar, ngomong sama ceweknya aja gengsinya ketinggian," celetuk Ajis membuat teman-temannya kembali tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Munggar berdecak kesal dan menatap Ajis dengan tatapan membunuh.
Menertawakan orang emang mereka jagonya. Rajanya bully di kelas. Kalau sudah melihat teman sekelasnya dilanda penderitaan, maka merekalah yang akan paling terhibur dan malah meledek. Apalagj kalau guru yang berbuat kesalahan, mereka tidak segan-segan untuk mengejek dan menertawakannya. Yah walaupun itu hanya candaan semata. Yah kalian tentu tau, kalau mereka itu nakal-nakal berotak pintar dan banyak akal.
"Sialan emang lo semua," kata Munggar. "Kalo udah urusan ledek meledek aja lo semua nomer satu."
"Mending temen yang keliatan asli baik buruknya dari pada bermuka dua kan?" tanya Angkasa langsung mendapat anggukan kepala dari teman-temannya.
"Yoi lah bro."
"Dari pada diluar MasyaAlloh, eh di dalem Astaghfirulloh," sahut Maul.
"Munggar, Ajis, Dul. Sini lo berdua!" suruh Angkasa.
Ketiganya yang dipanggil pun mendekatkan duduknya pada Angkasa. "Ada apaan bos?" tanya Dul.
"Gue mau bilang sesuatu ke kalian bertiga, eh maksud gue kalian semua. Tapi khusus buat kalian bertiga gue spesialin," kata Angkasa membuat teman-temannya penasaran.
"Kayak martabak aja, dispesialin. Awas tuh bos, si Dul ntar baper trus minta pertanggungjawaban lo buat pacarin dia," kata Oji berkelakar.
"Enak aja. Gue masih normal Ji, gue masih doyan sama cewek!" protes Dul tak terima.
"Gue lagi serius, kalian berdua jangan becandaan dulu. Bisa nggak?" kata Angkasa sefikit meninggikan intonasi suaranya.
"Lanjut Ka, lo mau ngomong apaan?" tanya noval dengan santainya.
"Gue mau ngomong sesuatu, ke lo pada. Tapi jangan pada tersinggung sama omongan gue nanti. Kalo ada yang tersinggung sama omongan gue, langsung to the point aja ke gue," kata Angkasa semakin membuat teman-temannya penasaran.
"Lo mau ngomong apaan bos, ngomong aja. Sok manga."
"Jadi, khusus buat lo bertiga gue minta kalian berubah," kata Angkasa membuat Munggar, Ajis dan Dul saling berpandangan, juga teman-teman Angkasa yang lain juga di buat bingung dengan ucapan Angkasa yang terkesan ambigu.
"Maksud lo, kita harus berubah kaya gimana? Jadi Superman kah? Atau lo mau kita berubah jadi Batman?" tanya Dul dengan polosnya.
"Bukan gitu maksud gue pinter!" Angkasa menghela napasnya. "Jadi gue minta kalian rubah sikap kalian ke cewek. Ya gimana ya gue jelasinnya ke kalian, gue juga bingung sendiri. Pokoknya gue berharap sama kalian bertiga buat jaga perasaan cewek. Buat lo Munggar, sorry banget gue ikut-ikutan masalah pribadi lo. Tapi gue saranin ke lo, coba deh lo sedikit ngehargain perasaan pacar lo si Laras. Ya gue akuin sifat playboy lo itu emang udah mendarah daging, bahkan udah nempel ke tulang-tulang lo. Tapikan lo bisa coba buat ngga deket-deketin cewek lain dan sedikit kasih perhatian lo buat cewek lo. Mungkin itu bisa sedikit buat nyenengin hati cewek lo itu," kata Angkasa dengan penuh hati-hati agar tidak menyinggung hati temannya itu.
Munggar mengangguk paham arah perkataan Angkasa barusan. "Yah gue sih maunya kayak gitu Ka, tapi lo tau sendirikan gengsi gue itu kegedean. Dan ya mata gue kalo udah ngeliat yang bening-bening jadi nggak bisa berpaling," kata Munggar jujur.
"Yah maka dari itu, lo harus kurangin sedikit demi sedikit rasa gengsi lo itu Gar! Satu lagi tuh mata coba lo kondisi in biar ngga jelalatan kalo ngeliat yang bening-bening," kata Angkasa menasehati.
"Kalo perlu pakein kacamata kuda tuh mata, Gar!" celetuk Oji.
"Brisik lo Ji!" teriak Munggar pada Oji, sedangkan yang diteriaki malah nyengir tanpa dosa. "Oke Ka, gue bakal usahain buat berubah sedikit demi sedikit dan ya thanks buat nasehatnya," katanya.
"Yah Sama-sama bro. Gue juga maunya yang terbaik buat lo."
"Bos nasehat buat kita apaan nih?" tanya Ajis diiringi anggukan kepala dari Dul.
"Buat kalian stop deh baperin sama kasih PHP ke cewek!" kata Angkasa membuat Ajis dan Dul saling bertatapan.
"Hee kok lo tau sih bos kalo kita berdua suka baperin sama PHP in cewek. Kita itu cuman iseng aja kok bos ngga ada niatan lain, suwer dah," kata Dul pada Angkasa.
"Ya dari itu gue bilangin ke lo berdua dan kalian semua disini supaya jangan baperin dan kasih harapan palsu buat para cewek. Coba deh kalian pikir, rasanya gimana kalo di PHP in sama orang?" tanya Angkasa.
"Sakit hati lah bos!" ucap Maul spontan mendapat anggukan kepala dari teman-temannya.
"Nah itu lo tau. Jadi sebelum kita iseng baperin atau kasih harapan sama orang itu. Kita coba tempatin dulu diri kita sendiri di posisi itu. Gimana rasanya kita di baperin, di kasih harapan dan habis itu di tinggalin gitu aja. Sakit kan? Nah gitu perasaan yang dirasain orang yang di kasih harapan tapi cuman dapet kepalsuan," kata Angkasa membuat teman-temannya tersentuh dengan kalimat paragraf yang dilontarkan bos mereka. Bahkan Maura yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka di buat terpukau dengan ucapan Angkasa barusan.
"Iya bos, kita ngaku salah. Gak seharusnya kita berbuat kaya gitu tanpa mikirin perasaan orang yang kita bikin sakit hati," kata Dul.
"Iya bener kata lo Ka, harusnya kita pikirin perasaan orang dulu sebelum ngelakuin sesuatu," kata Ajis dengan rasa penyesalannya.
"Yah gue ngarepnya sih lo berdua stop kayak gituan lagi. Keisengan yang nggak sengaja buat orang sakit hati. Kalo orang yang lo isengin tadi ngucapin sumpah serapah sama ngasih kutukan ke lo berdua kan nggak lucu, ya kan?!" kata Angkasa memberikan sarannya.
"Betul tuh apa kata Angkasa, kalo lo berdua dikutuk jadi batu kan bisa berabe urusannya ntar," ucap Munggar.
"Ya elah lu Nggar. Lo juga gak bisa jaga perasaan cewek, main ngomongin kita segala lo!" kata Ajis ketus.
"Udah yang udah berlalu, biarin aja berlalu gak usah diungkit-ungkit lagi. Mending kalian rubah sikap kalian masing-masing, buat kebaikan kalian sendiri kan?" kata Noval ikutan menasehati.
"Iya kita betiga bakal coba buat berubah," ucap Munggar, Ajis, dan Dul kompak tanpa aba-aba.
"Ka, BTW lo dapet kata-kata barusan dari siapa?" tanya Maul penasaran.
"Dari bidadari tak bersayap tadi," kata Angkasa asal.
"Gue serius nanyanya pak bos!"
"Marsya!" kata Noval.
"Hah? Marsya? Tau dari mana lo? Lo cenayang yah Val?" Firda yang dari tadi diam kini menyerbu Noval dengan beberapa pertanyaan.
"Gampang aja jawabnya, sejak Angkasa balik setelah bawa Marsya pergi tadi. Tuh bocah diem aja dari tadi kek mikirin sesuatu. Ya udah gue simpulin yang ngucapin kata-kata tadi ke Angkasa itu si Marsya," jelas Noval.
"Beneran si Marsya yang bilang kaya gitu ke elo bos?" tanya Oji memastikan.
"Iya, tuh cewek yang ngomong perkataan yang gue sampein barusan ke kalian. Awalnya gue juga kaget waktu dia bilang kek gitu ke gue. Tapi sejak gue renungin tadi, perkataan tuh cewek ada benernya juga sih!" kata Angkasa.
"Tapi gue masih sedikit nggak percaya kalo yang ngucapin kata-kata tadi ke elo itu si Marsya. Dia kan cewek yang suka ngajakin anak-anak Orion ribut?!"
"Dia tadi sempet cerita juga ke gue alasan dia ngajakin ribut anak-anak Orion. Ternyata anak-anak Orion suka baperin sama PHPin teman-temannya. Bikin sakit hati dan ninggalin gitu aja setelah ngasih harapan palsu. Jadi motif dia ngajakin anak Orion ribut itu buat balas dendam gitu keknya," jelas Angkasa.
"Maybe," kata Noval. "Makanya sekarang jangan suka permainin perasaan orang, bilangin sama anak-anak Orion yang lain. Kita sebagai cowok sejati harus bisa jagain perasaan cewek bukan malah nyakitin hatinya."
"Tapi asal rayu gombal masih bisa dapet ijinkan?" tanya Dul dengan polosharusnya.
"Asal jangan kebablasan bikin baper anak orang!" jawab Oji.
"Asiap!"
"Cuss tancap gas!"
"Okey Bosque!"
Dan setelah hari itulah sikap para anak-anak Orion berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelum-sebelumnya. Para cowok pemberi harapan palsu dari kalangan anak Orion sudah di basmi. Sikap Munggar pada Laras pun kini semakin baik dan ini semua berkat Marsya dengan perantaranya yaitu Angkasa.
Dan mulai saat itulah bayang-bayang tentang Marsya memenuhi pikiran Angkasa. Apakah Marsya pun merasakan hal yang sama seperti Angkasa? Author pun tidak tahu jawabannya. Author juga belom mikirin sampe kesana. Kalian tungguin aja episode selanjutnya. Bye bye!
...√...
Bersambung...
Wajib kasih vote, like, dan komen ya!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2