Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
"Apa sebaiknya kita keluar?" tanya Naya berdiri tak jauh darinya.
"Disini ya disini! Ikuti saja ucapan ku!" tegasnya. Ia melewati Naya dan duduk di atas ranjang lalu mulai menikmati sarapan paginya. Naya yang berjongkok lalu duduk hanya terdiam diatas lantai. Ia sama-sekali tak mempedulikan Naya.
"Beres kan ini!" perintahnya setelah mengelap mulutnya menggunakan serbet. Ia berlalu dari kamar itu.
Naya mengangkat bekas makanannya dan membawanya keluar menuju dapur. Ia makan seorang diri di tempat itu. Para pembantu hanya melihat dirinya sekilas dengan rasa kasihan. Mereka tahu pasti Naya akan mengalami hal ini.
......................
Kantin kampus:
"Aku dengar ada yang menikah kemarin," sindir Faisal sembari menyedot air kelapa nya dengan seluas senyuman nakal.
Rangga tak menanggapinya dan terus membaca buku yang tadi ia pinjam di perpustakaan. Entah siapa yang menyebarkan berita memalukan itu.
"Gimana malam pertama mu?" bisik Toni di telinganya.
Rangga risih bukan main dan telinganya terasa gatal. Ia mengusap telinganya dengan kasar seraya menutup bukunya dan memasukkannya kedalam tas, "Bro, kalau kalian ingin aku tetap berada di tempat ini jangan bahas masalah itu lagi."
"Memangnya kenapa? Bukankah itu berita bahagia?" sergah Faisal menggoda
"Aku dinikahkan paksa!" balas Rangga ketus.
"Tapi dia menarik kan? Itu bonus untukmu!" Timpal Tina yang membuat Rangga tersenyum kecut.
Teman-temannya berharap luka di hatinya dapat terobati segera.
Ngomong-ngomong apa kamu akan mendapatkan salah satu hotel milik papa mu setelah lulus nanti?" tanya Tina lagi serius.
"Nggak, aku nggak menginginkannya. Kalau pun ditawari aku akan tetap menolak. Kalian tahu kan? Kejamnya bagaimana papa ku?"
Tina langsung terdiam. Ia menyayangkan nasib buruk yang dialami Rangga di dalam keluarganya.
"Habis ini kita ke pantai yuk!" ajak Max yang sedari tadi hanya diam membolak-balik bukunya sembari mencomot keripik singkong diatas sebuah piring.
"Seru tuh, sekalian kita camping," sambung Rangga antusias.
"Ustri mu gimana? Ikut juga?" tanya Faisal becanda.
Sontak Rangga tertawa renyah, " Ngapain! Jangan pikirin dia. Biasa aja kali!"
Faisal dan yang lainnya saling memandang dan berpikir jika ia sungguh tega terhadap istri yang baru dinikahinya.
Sedikit bercerita tentang kisah cinta Rangga sebelumnya:
2 tahun yang lalu Rangga pernah berpacaran dengan seorang gadis bernama Intan, wanita yang dikenalkan oleh sahabat baiknya yang bernama Doni yang kini sudah meninggal dunia.
Intan adalah cinta pertama Rangga. Perasaan Rangga hancur akibat perselingkuhan Intan dengan Doni yang tak lain adalah sahabat baiknya yang ia temukan disebuah club malam tengah bermesraan dalam kondisi mabuk berat. Intan dan Doni meracau jika permainan licik mereka untuk menguras harta Rangga berjalan dengan mulus. Rangga mendengar semua itu dengan jelas di sela kerumunan pengunjung tepat tak jauh dari belakang mereka. Rangga sekuat hati menahan emosinya dan mengikuti keduanya hingga dalam perjalanan ke hotel. Tetapi naas menimpa keduanya, mobil mereka yang dikemudikan Doni ugal-ugalan mengalami kecelakaan beruntun dengan mobil-mobil disamping dan depannya hingga keduanya tewas di tempat. Rangga hancur dan semenjak saat itu hatinya tertutup untuk wanita lain.
Rangga berusaha menepis ingatan buruk itu yang sekali waktu datang dan membuatnya frustasi. Ditambah dengan sikap keluarganya yang sama-sekali tak pernah memperhatikan dirinya semenjak dirinya hancur karena kejadian buruk itu. Hanya sang mama yang selalu ada akan tetapi hanya sebatas memberikan materi yang tak bisa sedikitpun mengobati luka di hatinya.
......................
Naya menunggu Rangga dengan sabar di muka pintu berharap suaminya itu segera pulang. "Ini sudah jam 1 Mas, kamu dimana?" tanyanya khawatir. Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang. Naya mondar-mandir seraya berdoa. Andai ia tahu nomor telepon suaminya itu, ia pasti akan segera menghubunginya dan tak akan menanti dengan penantiannya yang tak pasti.
Di depan api unggun Rangga pun memikirkan Naya yang ia tinggalkan. Ada sejumput rasa bersalah di hatinya hingga membuatnya tak dapat menejamkan mata. Kini ia seorang diri karena teman-temannya sudah tertidur didalam tenda.
Rangga bangkit dan berjalan mendekati laut. Dahulu ia hampir gila karena patah hati. Namun kini ia malah membuat istrinya sendiri merasakan itu semua.
Setelah cukup lama Naya pun akhirnya menyerah. Ia kembali kedalam kamarnya dan mencoba tertidur di tempatnya, di atas lantai yang telah ia tutupi dengan selimut tebal. Perasaannya sedih bercampur bingung. Dadanya terasa tersayat belati dan berdarah.
...................
Rangga tiba dengan tubuh yang terasa pegal dan sedikit meriang. Semalam ia tidak tidur. Orang rumah masih bersiap-siap di dalam kamar dan tak seorangpun mengetahui kepulangannya kecuali para pembantu yang berlalu lalang. Ia mengetuk pintu dan Naya segera berlari membukakan nya, "Mas," sapa Naya mencoba tersenyum. Tetapi Rangga tak menatap wajahnya dan masuk lalu melepaskan jaket dan menaruh nya di atas ranjang.
"Sarapan mu sudah siap," gumam Naya mempersilahkannya.
Rangga lantas duduk diatas ranjang dan menikmati hidangan itu. Setelah itu ia pun mandi.
10 menit kemudian....
"Aug!" ringis nya ketika memakai handuk, pinggangnya terasa encok. Perlahan ia keluar dan menatap Naya yang tengah mengoleskan lipstik di bibirnya. Ia menatap bibir merah Naya lekat, perlahan nafsu menyelinap di raga nya. Ia berusaha menahan diri dengan memejamkan matanya kuat. Tetapi itu tak mempan dan pertahanannya kini roboh, ia sudah tak tahan dan segera berjalan dengan cepat kearah Naya. Ia menarik tangan Naya kasar kedalam pelukan nya dan menciumi bibir Naya dengan penuh nafsu. Dadanya bergemuruh dan tangannya meraba punggung Naya merasakan tubuh isterinya yang seharusnya semalam ia nikmati.
Naya berusaha melepaskan bibirnya akan tetapi dengan cepat Rangga menciumnya kembali hingga ia menghisap lidah Naya, "Mas!" desah Naya tak kuat, Rangga kian menggila dan menghisap semua bagian lehernya. Tiba-tiba Rangga melepaskan tubuh Naya dan berbalik lalu menutupi wajahnya dan mengerang, "Keluar!" perintahnya kasar sambil menunjuk pintu. Naya terkejut dan seketika terisak, ia keluar dari kamar itu dan menangis disamping pintu.
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti dengan sikap Rangga.
Rendra menghentikan langkahnya yang hampir tiba diatas, "Masalah apa lagi?" bisiknya memikirkan kelakuan adiknya yang ia yakini telah bertindak buruk kepada gadis itu.
Rendra mendekatinya. Naya terkejut dan seketika ia menghapus air matanya, "Ada apa? tanya Rendra, "Apa dia menyakitimu?"
Naya menggeleng, "Ti.... Tidak, Kak. Tak ada apa-apa.
Rendra merasa tak enak hati untuk ikut campur. Ia pun memberi nasihat kepada Naya, "Bersabarlah dalam menghadapinya. Sebaiknya kamu masuk kembali. Rumah bisa ribut jika ada yang melaporkan ini kepada Papa."
Naya mengangguk. Dengan perasaan takut ia memutar gagang pintu.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya