Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Giwang masih belum percaya dengan semuanya. "Gi ayo kita pulang," ajak Siti.
Siti mengantarkan Giwang terlebih dahulu kemudian kembali menjemput suaminya. Di dalam perjalanan Giwang masih melamun.
"Gi jangan melamun," ujar Siti sembari membonceng temannya.
"Siti, aku harus menyusul Mas Agung," ujar Giwang.
"Kita bicarakan di rumah kamu," sahut Siti. Ketika sampai di rumah, Siti kembali menanyakan hal itu ke temannya.
"Apa kamu yakin mau menyusul Mas Agung?" tanya temannya.
"Iya aku yakin, Mas Agung tidak bisa pulang karena kesibukannya, dan aku akan memberikan kabar baik ini untuknya," jelas Giwang senang.
Siti sedikitnya sudah mendengar tentang perilaku Agung yang berubah ke suaminya, dan dia tidak ingin kepergian Giwang ke kota sia-sia.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Giwang ke temannya.
"Hemm aku tidak tau," sahutnya pelan.
"Tentu kamu tidak tau, aku hanya ingin kamu mendukungku," ujar Giwang lagi sembari mengelus perutnya.
"Siti, besok aku akan ke rumah kamu untuk mengambil sepeda, dan sekalian menanyakan alamat kantor Mas Agung," ujarnya.
Siti menganggukkan kepalanya dan pamit menjemput suaminya di puskesmas.
Di dalam perjalanan dengan suaminya Siti mengatakan tentang keinginan Giwang menyusul suaminya ke kota.
"Bagaimana Mas?" tanyanya.
"Ada baiknya juga Giwang ke sana," sahut Paijo sembari mengendarai motornya.
"Tapi Mas bilang sikap Agung banyak berubah," ujar istrinya bingung.
"Iya memang dia berubah, tapi mana tau ketika bertemu dengan istrinya dan mengetahui kalau istrinya sedang mengandung anaknya, dia sadar," jelas suaminya.
"Semoga ya Mas," sahutnya.
***
Giwang menyusun pakaiannya dalam tas. "Menurutku cukup," gumamnya senang.
"Mas, aku akan datang dan akan memberikan kado yang sangat berharga untuk kamu," gumamnya senang.
Pagi harinya
Giwang tidak berjualan seperti biasanya. Dia berniat akan pergi ke kota menyusul suaminya. Berjalan kaki menuju rumah temannya, dan tentu saja ketika melewati kerumunan Ibu-ibu semuanya langsung membicarakan dirinya.
"Duh yang di tinggal suaminya," sindir seorang wanita paruh baya.
Giwang berusaha sabar menghadapi semuanya, dia ingin membawa suaminya kembali untuk meluruskan semua gosip tetang dirinya.
Dia melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, menghindari mulut Ibu-ibu dan ada sebuah motor berhenti tepat di depannya.
"Dodit," gumamnya pelan.
"Aku dengar kamu di tinggal Agung?" tanya sepupunya.
"Bukan di tinggal, Mas Agung mencari pekerjaan di kota," jelasnya.
"Apa kamu yakin?" tanya sepupunya lagi.
"Maksud kamu apa?" tanya Giwang bingung.
"Berbulan-bulan suami tidak pulang, apa tidak patut di curigai," ujar Dodit tersenyum. "Kamu itu jangan terlalu lugu, suami kamu itu bukan pria baik, pasti dia sudah mempunyai wanita lain," ujar sepupunya lagi.
"Jangan menuduh Mas Agung, dia lebih baik dari kamu," sahutnya membela.
Dodit menggelengkan kepalanya. "Aku memang tidak baik, seluruh kampung tau kalau Dodit anak dari Bapak Adi dan Ibu Nanik berandal tengik yang suka mabuk," jelasnya. "Tapi kenakalanku nampak di depan mata sedangkan Agung?"
Ucapan Dodit membuat Giwang diam.
Apa aku terlalu mencintainya sampai tidak mengetahui dirinya sebenarnya.
"Makasih atas semuanya, tapi Mas Agung pria baik-baik," Giwang segera pergi meninggalkan sepupunya yang ada di atas motor.
"Hei Giwang!" teriak Dodit. Giwang membalikkan badannya melihat kembali sepupunya.
"Pria yang kelihatan pendiam belum tentu baik, dia bisa menjadi liar ketika di lepas!" teriak sepupunya dan segera menyalakan mesin motornya.
"Apa maksud perkataannya," gumam Giwang.
"Tidak Giwang, Dodit dan Bude Nanik sama, mereka tidak menyukaiku," gumamnya membuang pikiran jelek tentang suaminya.
Giwang sampai di rumah temanya. Siti menyambutnya senang. Keduanya duduk di beranda.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Siti.
"Alhamdulillah baik," sahutnya.
"Rasa pusing dan mual bagaimana?" tanya Siti penasaran. Dia merasa sangat iri karena Giwang dengan cepat di beri keturunan sedangkan dia belum di kasih keturunan.
"Ada tapi tidak terlalu, aku bisa mengatasinya dengan ini," Giwang menunjukkan permen asam jawa ke temannya.
"Syukurlah aku senang, kalau keadaan kamu jauh membaik," Siti terlihat murung.
"Kamu kenapa?" tanya Giwang yang memperhatikan raut wajah temannya.
"Aku tidak ingin kamu pergi," sahutnya pelan. "Aku ingin melihat kamu melahirkan," ujar Siti lagi.
"Siti, kepergian ku ke kota untuk mengabari Mas Agung dan membawanya ke sini, aku yakin dia akan pulang ketika mendengar kabar baik ini," jelas temannya lagi
"Oh syukur kalau begitu, aku pikir tidak akan pernah melihat kamu lagi di sini," ujar Siti.
"Aku ingin semua orang tau kalau aku punya suami dan kepergian Mas Agung bukan karena aku tidak perawan tapi karena bekerja," jelas Giwang menatap jauh.
"Iya aku tau," sahut Siti. Giwang menoleh ke dalam rumah temannya.
"Mas Paijo mana?" tanyanya.
"Ada di dalam," Siti masuk ke dalam rumahnya. Dan tidak berapa lama dia kembali menemui temannya.
"Yuk masuk," ajak Siti. Giwang masuk ke rumah temannya. Di dalam ruang tamu sudah ada suami temannya Mas Paijo.
"Duduk Giwang," ujar Paijo.
Giwang duduk di depan pasangan suami istri itu. Pasangan itu menatapnya. "Apa ada yang salah denganku?" tanya Giwang.
"Tidak ada yang salah," sahut Paijo melirik istrinya dan kembali menatap Giwang. "Apa kamu yakin pergi ke kota?" tanya Paijo.
"Yakin Mas," sahutnya. Terdengar suara helaan nafas Paijo, dan Giwang tidak tau apa artinya.
"Kamu hamil Giwang, kota itu besar dan saya tidak bisa mengantarkan kamu ke sana, tapi kalau kamu mau dua minggu lagi saya bisa mengantarkan kamu," ujar Paijo.
"Kandunganku baik-baik saja, aku bisa jaga diri di sana. Mas Paijo tidak perlu mengantarku, Mas di sini saja, habiskan waktu liburan dengan Siti, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua," ujarnya.
"Maaf ya Gi, Mas Paijo tidak bisa mengantarkan kamu," ujar Siti lagi.
"Iya enggak apa-apa," sahutnya. "Mas, bisa aku minta alamat perusahaan tempat kalian bekerja?" tanyanya.
Paijo menuliskan di atas kertas, alamat perusahaan tempat dia dan Agung bekerja.
"Tapi, saya tidak tau Agung tinggal di mana sekarang," ujar Paijo.
"Enggak apa-apa Mas, aku hanya akan menemuinya di kantor," sahutnya. Paijo memberikan kertas yang berisikan alamat ke Giwang tapi Siti mengambil kertas itu dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
"Itu ada nomor ponselku dan Mas Paijo, jika ada apa-apa kabari kami ya," ujar Siti.
"Iya Siti,"
"Tapi bagaimana kamu mengabari kami, kamu tidak punya ponsel," ujar Siti khawatir.
"Nanti aku pikirkan yang terpenting alamat dan nomor ponsel kalian aku simpan," Giwang menyimpan kertas itu di dalam dompetnya.
"Kamu nanti tinggal di mana?" tanya Siti lagi.
"Aku akan tinggal bersama Mas Agung," sahutnya.
"Oh," Siti mengerutkan dahinya. Dia kurang yakin temannya dapat menemukan alamat yang di tuliskan suaminya.
"Nanti dari terminal naik ojek ke kantor, kamu sebutkan saja alamatnya, semua ojek tau," jelas Paijo.
"Baik Mas,"
"Hemm, ada baiknya kamu berangkat nanti malam agar sampai sana sudah pagi dan bisa langsung bertemu Agung, kalau berangkat sekarang keburu kantor tutup dan kamu tidak bertemu Agung," jelas Paijo lagi.
"Baik Mas," sahut Giwang lagi.
Siti masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa sesuatu.
"Bawalah uang ini," ujar Siti sembari menyerahkan uang dua juta ke temannya.
"Untuk apa ini?" tanya Giwang bingung.
"Untuk biaya makan kamu di sana, aku tau uang kamu tidak banyak jadi pakailah uangku," jelas Siti.
"Enggak Siti, aku akan makan dari uang Mas Agung, simpan saja uang kamu," Giwang menolak.
"Ambillah aku tidak tenang jika kamu tidak membawa uang lebih," ujar Siti memaksa.
Giwang diam sejenak, uangnya memang tidak banyak dan dengan membawa uang lebih setidaknya dia bisa merasa tenang di sana.
"Aku akan membalikkan uang kamu setelah balik dari kota," sahut Giwang.
"Terserah," dan kedua sahabat itu saling berpelukan. Giwang pamit pulang menyiapkan segala keperluan untuk di bawanya ke kota nanti malam.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Ig anita_rachman83
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014