Seorang wanita jenius dari masa depan secara tak terduga mengalami reinkarnasi ke dalam tubuh seorang putri kerajaan. Dengan rasa penasaran yang membara, ia terobsesi mengungkap kebenaran di balik rumor gelap tentang "Istana Kematian"—sebuah istana yang disebut terkutuk dalam legenda dan buku-buku tua.
Alih-alih merasa menyesal, ia justru melihat ini sebagai awal baru. Dengan kecerdasannya, ia bertekad menaklukkan dunia, menggenggam kekuasaan di kedua tangannya, dan mengubah takdir kelam Istana Kematian. Ia bersumpah, tragedi yang pernah menghantui istana ini akan ia ubah menjadi kisah kejayaan. Suatu hari, istana ini tak lagi disebut "Istana Kematian" melainkan "Istana Emas."
Namun, apa ia mampu melakukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwika Suci Tifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 ( 6)
" Yaudah putri, sekarang putri mandi nya " ajak Naya dengan girang.
Aku hanya mengangguk, ia akan menikmati hidup menjadi seorang bayi, yang semuanya di lakukan orang lain, ia hanya perlu berbaring santai, dan kerjaannya cuma makan, tidur doang.
Naya membawa jean ke kamar mandi lalu ia membuka baju Jean dengan perlahan, agar tidak merusak kulit bayi, karena kulit bayi sangat sensitif.
' Anjir... malu jir..., baru pertama kali di mandiin orang, umur 1 tahun aja dulu udah mandi sendiri, udah lama tuh... ini di otak dan pemikiran dewasa dan jiwa orang dewasa beda Sama jiwa bayi ' batin frustasi ku yang bisa terlihat wajah memerah ku walaupun sekilas, ia langsung menormalkan kembali ekspresinya.
" Putri pasti kaget, sama air soalnya ini baru pertama kali putri mandi dalam ke adaan sadar, kemarin putri sudah tidur jadi putri nggak berasa, tapi kini putri sadar jadi tahannya " ucap Naya, yang sudah melepaskan semua pakaian yang di kenakan Jean.
' Tenang aja bro, aku nih orang dewasa nggak bakal kaget kok sama air biasa giniin, dulu aja aku pernah berada di kutub utara selama 2 hari, tahan tuh ' ucap batin ku, dengan memberikan isyarat dengan senyumnya paling manisnya pada Naya.
" Aduh...putri imut deh.. " Naya mencubit pipi jean pelan, agar tidak melukai pipi jean.
' Yai yalah semua bayi imut '
" Yaudah putri kita mulai mandinya" ucap Naya kembali, dengan senyumnya lalu membawa tubuh Jean masuk ke dalam bak mandi yang sudah berisi air.
" haua" reflek aku berteriak, Karena Naya tidak memberikan aba - aba langsung aja memasuki seluruh tubuhnya dalam air, yang hanya menyisakan ke palanya doang.
" Jangan takut putri, aman kok putri" Naya menenangkan Jean yang sedikit kaget, wajar baginya jika bayi nangis jika sedang mandi, tapi ia salut sama putri yang hanya kaget doang saat masuk kedalam air, dulu ia punya adik yang ia rawat dan memandikannya, tapi adiknya itu terus menangis saat mandi, jadi itu sedikit merepotkan, tapi ia juga senang, karena kali pertamanya ia bisa memandikan adiknya sebelum ia pergi bekerja di istana ini.
Setelah 1 jam pun akhirnya selesai ritual mandinya, yang bagi jean sangat melelahkan, masa mandi lama sekali, sampai begitu lama, pakai acara berendam mawar lagi, kanya lagi melakukan ritual aja. Kalau ia tidak menangis mungkin mandinya bisa berlanjut selama dua jam.
Aku melihat jari tangannya yang sudah mekar semua karena kelamaan mandi di kamar mandi, bahkan sikat gigi pun tidak ada hanya mengunakan daun apa itu, nggak taulah namanya, yang di gosokkan ke giginya.
" Akhirnya putri udah wangi deh dan cantik, lihat kaca nih,, imut kan" Naya menghadapkan Jean ke cermin yang masih dalam gendongan Naya.
Aku melihat pantulan wajahnya sendiri, aku sontak mengagumi ke imut bayi ini, aku ingin sekali mencubitnya dan menciumnya beberapa kali , karena aku paling lemah kalau soal melihat bayi, untung dulu, aku bisa menahannya saat melihat bayi imut dan manis, bahkan aku banyak menyimpan foto bayi dalam galeri hpku. Tapi kalau bayi di depanku ini aku nggak tahan, tapi bayi itu adalah aku, mana bisa aku mencubiti dan mencium diriku sendiri, bisa - bisa di anggap gila nanti sama orang.