Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tamparan Sang Ibu Mertua
Penahanan Rendy di kantor polisi ternyata tidak berlangsung lama. Tanpa sepengetahuan keluarga Rosma, ada tangan-tangan tak terlihat di balik layar yang bekerja dalam hitungan jam. Asisten pribadi Pradipta Group yang melacak pergerakan sang Presdir segera menekan pimpinan kepolisian setempat. Akibat kekurangan bukti otentik selain kesaksian sepihak dan tidak adanya proses identifikasi sidik jari pada jam tangan tersebut, Rendy dibebaskan malam itu juga dengan tuduhan tak bersasar.
Namun, kepulangannya ke rumah kontrakan pada pukul sembilan malam justru menyulut api kemurkaan yang jauh lebih besar.
Ketika pintu depan terbuka, Ibu Rosma sudah berdiri di tengah ruang tamu bersama Dion dan Hendra. Wajah Rosma tidak menyembunyikan kekecewaan mendalam karena melihat Rendy kembali berjalan bebas tanpa seragam tahanan.
"Kenapa kamu bisa pulang?!" pekik Rosma dengan nada melengking yang menusuk telinga. "Pasti kamu menyogok atau kabur dari kantor polisi! Dasar kriminal tidak tahu malu!"
"Saya dibebaskan karena memang tidak bersalah, Bu," jawab Rendy datar. Bajunya tampak sedikit kusut, namun langkah kakinya tetap tegap dan memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.
"Tidak bersalah kamu bilang?!" Rosma melangkah maju dengan napas memburu, matanya membelalak lebar oleh emosi yang meluap-luap. "Gara-gara kamu, nama baik keluarga ini hancur di mata tetangga! Semua orang di kompleks ini sekarang membicarakan rumah ini sebagai sarang pencuri!"
Clarissa yang mendengar keributan itu segera berlari keluar dari kamar. Wajahnya yang pucat seketika berbinar begitu melihat sosok suaminya berdiri di ruang tamu. "Mas Rendy! Kamu kembali..."
"Clarissa, masuk ke kamarmu!" bentak Rosma tanpa menoleh pada putrinya. Sorot matanya tertuju lurus pada Rendy dengan kebencian yang makin membara.
"Ibu tidak mau lagi melihat muka sampah ini di rumah ini!" teriak Rosma seraya menunjuk lurus ke hidung Rendy. "Malam ini juga, kamu harus angkat kaki dari sini! Jangan pernah injakkan kaki kotormu di rumahku lagi!"
"Bu, tolong..." tangis Clarissa pecah. Ia berlari menghampiri suaminya dan memeluk lengan Rendy erat-erat. "Jangan usir Mas Rendy. Polisi saja sudah membebaskannya, artinya Mas Rendy memang tidak bersalah!"
"Kamu yang diam, anak tidak tahu diri!" potong Rosma kasar. Ia merogoh tas tangannya yang berada di atas meja, lalu menarik keluar selembar kertas putih dan sebuah pulpen. Dengan gerakan kasar, Rosma melempar kertas itu tepat ke dada Rendy hingga terjatuh ke lantai.
"Ini surat pernyataan cerai!" seru Rosma tanpa belas kasihan. "Tanda tangani surat ini sekarang juga! Ceraikan Clarissa malam ini juga! Ibu tidak akan sudi punya menantu pencuri dan pembawa sial seperti kamu!"
"Aku tidak mau cerai, Bu!" jerit Clarissa histeris. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Aku mencintai Mas Rendy! Aku tidak akan pernah mau berpisah darinya!"
Dion maju untuk menarik tangan Clarissa, namun sebelum jemarinya menyentuh pakaian kakaknya, Rendy melangkah pasang badan. Sorot mata Rendy membeku, memancarkan kilatan ancaman dingin yang membuat Dion terhenti seketika dengan tenggorokan terasa kering.
Tanpa mengindahkan gertakan mertuanya atau lembaran kertas di lantai, Rendy menggenggam pergelangan tangan Clarissa. Dengan satu gerakan cepat, Rendy menarik istrinya masuk ke dalam kamar mereka, lalu membanting pintu kayu tebal itu hingga tertutup rapat.
Sreeek! BRAK!
Rendy memutar kunci grendel dua kali dan menggeser lemari kayu kecil di samping pintu untuk menguncinya dari dalam.
"Rendy! Buka pintunya!" teriakan Rosma bergema kasar dari balik pintu, diiringi gedoran keras Dion yang mencoba mendobrak. "Kamu tidak bisa bersembunyi di dalam sana! Tanda tangani surat cerai itu atau kami hancurkan pintu ini!"
Di dalam kamar yang temaram, suara gedoran di luar serasa menguap begitu saja. Clarissa berdiri gemetaran hebat, seluruh tubuhnya terguncang oleh histeria dan ketakutan mendalam akan perpisahan. Air matanya tak berhenti menetes, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah.
"Mas... mereka mau memisahkan kita..." bisik Clarissa dengan suara serak yang memilukan. "Aku tidak mau kehilanganmu, Mas... Aku sangat takut..."
Rendy mendekati istrinya, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Clarissa, lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangatnya. "Mas di sini, Sa. Mas tidak akan ke mana-mana."
Namun histeria Clarissa telah mencapai puncaknya. Rasa takut akan kehilangan sang suami memicu naluri terdalamnya untuk mempertahankan cinta mereka melalui satu-satunya cara yang ia miliki: penyatuan tanpa jarak.
Dengan jemari yang gemetaran dan liar, Clarissa mencengkeram kerah baju Rendy, menarik kepala suaminya ke bawah.
Bibir Clarissa mendarat secara nekat dan penuh keputusasaan di atas bibir Rendy.
Ciuman itu begitu intens, dipenuhi rasa lapar akan kepastian dan kehangatan. Clarissa melumat bibir Rendy dengan gairah yang membara, seolah-olah malam ini adalah malam terakhir mereka di dunia. Tangannya menyusup ke balik kaos Rendy, mengusap kulit dada dan punggung tegap suaminya dengan kepasrahan penuh.
Rendy terkesiap oleh gairah liar istrinya, namun dalam hitungan detik, pertahanan dirinya runtuh sepenuhnya. Merasakan betapa besarnya cinta dan ketakutan Clarissa, Rendy membalas ciuman itu dengan kelembutan yang mendalam dan protektif. Ia mengangkat tubuh Clarissa, membawanya menuju tempat tidur, dan merebahkannya perlahan di atas kasur busa mereka.
Di bawah naungan temaram lampu kamar, Clarissa melepaskan pakaian bagian atasnya sendiri dengan tergesa-gesa, membiarkan keindahan tubuh bagian atasnya terpapar hangat di depan mata Rendy. Wajah cantiknya memerah padat oleh campuran air mata dan gairah yang meluap.
"Jadikan aku milikmu sepenuhnya malam ini, Mas..." bisik Clarissa serak di celah napasnya yang memburu. "Buktikan kalau kamu tidak akan pernah melepaskanku..."
Rendy menatap manik mata istrinya yang berkaca-kaca. Tanpa ragu lagi, Rendy merapatkan tubuhnya di atas Clarissa. Gesekan langsung antara kulit dada bidang Rendy yang hangat dengan kelembutan dada Clarissa menciptakan sengatan panas yang membakar seluruh persendian mereka.
Ciuman Rendy berpindah menelusuri rahang Clarissa, menyusuri leher mulusnya, hingga turun menyesap area sensitif di atas dadanya. Desahan halus dan pasrah lolos dari tenggorokan Clarissa, dadanya terangkat naik saat jemari kuat Rendy merengkuh pinggulnya, menyatukan ritme tubuh mereka dalam kehangatan gairah yang begitu intim dan emosional.
Di atas kasur yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka, kedua insan itu menyatu dalam kehangatan cinta yang membara. Sentuhan fisik yang mereka bagikan bukan lagi sekadar pemuas gairah, melainkan benteng pertahanan terakhir untuk mengikat jiwa mereka agar tidak terpisahkan oleh kekejaman orang-orang di luar sana. Napas mereka menyatu rapat, berat dan berirama di tengah kehangatan yang memanjakan seluruh indra.
Namun, di puncak keheningan dan kehangatan penyatuan cinta mereka—
DUAMMM!
Sebuah benturan yang sangat dahsyat menghantam pintu kamar dari luar. Kayu pintu yang lapuk itu meretak hebat, dan engsel bagian atasnya terlepas dengan suara jeritan besi yang memekakkan telinga!
Clarissa menjerit kaget, mendekap dada Rendy erat-erat dalam kepungan rasa takut yang mendadak menyerang kembali.
"Dobrak terus! Bawa linggis dari dapur!" suara Dion berteriak kencang dari balik celah pintu yang mulai terbuka lebar, memperlihatkan bayangan beberapa orang anggota keluarga besar yang berkumpul di luar siap menerobos masuk secara paksa.