Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Kesabaran
Pintu utama rumah dinas tertutup dengan dentuman berat, mengunci rapat malam pangkalan yang dingin di luar.
Ayyana melepaskan heels-nya di ambang pintu tanpa sedikit pun berbalik. Ia berjalan santai menuju tengah ruang tamu yang temaram, membiarkan gaun sutra navy blue-nya melambai anggun menyapu karpet.
Chester melangkah lebar menyusulnya. Rahangnya mengetat kaku, bahunya menegang keras dalam seragam PDU resminya. Emosi yang selama ini ia tekan di balik aturan militer mendadak pecah di tengah ruangan itu.
"Kamu sengaja menantang batas kesabaran saya malam ini, Ayyana," ujar Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku, matanya mengunci pergerakan istrinya. "Menepis tangan saya di mobil, mengabaikan protokol, dan berlagak seolah saya tidak ada di sampingmu."
Ayyana memutar tubuhnya perlahan. Ia menyilangkan kedua tangannya di bawah dada, menatap Chester dengan binar mata cokelat yang berkilat dingin dan tenang.
"Sengaja?" Ayyana tertawa kecil—sebuah kekehan halus yang sarat akan sindiran berkelas. "Aku hanya berhenti membuang waktu untuk pria yang tidak pernah jujur pada perasaannya sendiri, Kapten."
"Jujur tentang apa?!" sergah Chester, suaranya meninggi satu nada, memotong keheningan ruang tamu. "Saya memikul tanggung jawab atas kamu di hadapan Jenderal, di depan Harris, dan di hadapan seluruh perwira pangkalan malam ini! Saya berdiri di sana menjaga kamu!"
"Kamu tidak sedang menjagaku, Chester! Kamu sedang memagari wilayahmu!" potong Ayyana cepat, melangkah dua tapak memangkas jarak di antara mereka. Binar matanya menembus langsung perisai kaku sang Kapten. "Kamu bertindak posesif saat Kendall menyentuh bahumu, kamu mendidih saat Jenderal Jacob berdansa denganku, tapi begitu kita hanya berdua... kamu bersembunyi di balik kata 'tentara' dan 'tugas'!"
Chester membeku.
Kepalan tangannya di samping tubuh gemetar tipis menahan badai rasa rendah diri dan cemburu yang berkecamuk hebat.
"Karena saya tidak punya hak atas kamu!" bentak Chester serak, sebuah pengakuan kaku yang akhirnya meluncur bebas dari bibirnya. "Saya bukan Haikal! Saya cuma pria yang dipaksa berdiri di altar untuk memungut kekacauan yang ditinggalkan kakak saya! Kamu pikir mudah berdiri di samping wanita yang sejak awal ditakdirkan untuk pria lain?!"
Suasana ruang tamu seketika dihantam keheningan yang mencekam.
Dadanya naik turun memburu, terengah oleh emosi jujur yang selama ini menyiksanya di balik seragam militer.
Ayyana menatap pria di hadapannya tanpa sedikit pun rasa gentar. Bukannya marah, senyum tipis yang sarat akan dominasi dan rasa iba berkelas justru terukir di bibirnya.
"Jadi itu ketakutan terbesar seorang Kapten Komandan Team Eclipse?" bisik Ayyana halus, melangkah maju hingga ujung gaunnya menyentuh sepatu pantofel Chester.
Ayyana meraih kerah seragam PDU Chester, menariknya perlahan agar pria tegap itu menunduk menatapnya dari jarak beberapa inci.
"Dengar baik-baik, Chester Sinclair," tegas Ayyana dengan intonasi rendah yang menusuk lurus ke manik mata abu-dark milik suaminya. "Haikal tidak pernah ada di sini. Pria yang mengikat janji di altar, yang memelukku di mobil, dan yang membakar dadanya oleh cemburu malam ini... adalah kamu. Berhenti menjadikan bayangan Haikal sebagai alasan untuk melarikan diri dariku."
Kata-kata Ayyana yang menelanjangi rasa minder dan pertahanan diri Chester menggantung tajam di udara ruang tamu.
Sebelum Chester sempat menyusun pertahanan taktis baru atau membalas ucapan yang baru saja menghantam dadanya, Ayyana melepaskan cengkeramannya dari kerah seragam PDU sang Kapten dengan gerakan memutus yang dingin.
Tanpa memberi jeda sedikit pun untuk negosiasi, Ayyana membalikkan badan.
Gaun sutra navy blue-nya mengayun anggun saat ia melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, menaiki tangga dengan ritme ketukan langkah yang cepat namun tetap memancarkan dominasi berkelas.
Chester mematung sejenak, dadanya naik turun memburu. Binar mata abu gelapnya memburu bayangan punggung istrinya yang melintasi koridor lantai dua.
Refleks kepemilikannya seketika membakar habis sisa-sisa kelumpuhan logikanya.
"Ayyana!" panggil Chester dengan suara bas yang berat, melangkah lebar menyusul ke atas tangga.
BAM!
Suara pintu kamar utama berdentum hebat, dibanting rapat-rapat hingga menggelegar menembus kesunyian rumah dinas.
Bunyi pengunci pintu yang diputar dari dalam terdengar menyulut kesabaran sang Kapten hingga ke titik nol.
Chester menghentikan langkah tepat di depan pintu jati yang tertutup rapat.
Kepalan tangannya terangkat kaku di udara, rahangnya mengetat keras sampai otot-otot lehernya menegang penuh rasa gusar.
"Ayyana, buka pintunya," tegur Chester kaku, suara rendahnya sarat akan perintah mutlak seorang suami yang kini benar-benar kehilangan kendali di depan pintu kerajaannya sendiri.
Dari balik pintu yang terkunci rapat, suara Ayyana terdengar begitu tenang, dingin, dan tak membutuhkan bantahan sedikit pun.
"Pergilah ke barak!"
Kalimat singkat itu mengudara seperti sabetan pedang, memotong habis perintah komando Chester di depan pintu kamar utama.
Chester mematung di tempat.
Kepalan tangannya yang terangkat kaku di udara perlahan membeku.
Chaster menatap lurus kayu jati di hadapannya, tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Seorang Komandan Team Eclipse—pria yang disegani seluruh markas dan ditakuti faksi lawan—baru saja diusir dari kamar rumah dinasnya sendiri oleh istrinya.
"Ayyana," panggil Chester lagi, suara basnya turun begitu rendah, sarat akan ketegangan kaku yang menahan rasa gusar dan cemburu yang masih membakar dadanya. "Ini rumah dinas saya."
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian dingin yang mengisyaratkan bahwa Nyonya Sinclair sama sekali tidak berniat melunak.
Rahang Chester mengetat keras hingga giginya berkerat. Ia menghembuskan napas berat yang terengah melalui hidung, menahan dorongan posesif untuk mendobrak pintu tersebut.
Seluruh disiplin militer dan aturan taktisnya mendadak tidak berguna menghadapi dominasi dingin wanita di balik pintu itu.
Dengan gusar, Chester menurunkan tangannya. Ia mencopot dasi kupu-kupu resminya dengan satu tarikan kasar, membuka kancing teratas kemeja seragam PDU-nya, lalu berbalik dengan langkah lebar dan kasar menuruni tangga.
Ia mendorong pintu depan rumah dinas, melangkah keluar menembus dinginnya angin malam pangkalan menuju mobil SUV hitamnya—membiarkan emosi dan rasa frustrasinya membakar sepanjang jalan menuju markas barak pasukan.
Lampu temaram ruang komando Team Eclipse menyinari barak yang biasanya sunyi di jam larut malam.
Dentuman pintu besi yang didorong kasar mengejutkan empat perwira khusus yang sedang menyelesaikan laporan operasional Sektor Bravo.
Chester melangkah masuk dengan aura dingin yang sanggup membekukan ruangan. Mantel seragam PDU-nya sudah terlepas, menyisakan kemeja putih resmi yang kancing teratasnya terbuka dan lengan kemeja yang digulung sembarangan hingga siku.
Dasi kupu-kupu yang tadinya melekat kaku kini terkepal erat di jemari kanannya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, sang Kapten membuang dasi itu ke atas meja kerja kaca hingga menimbulkan bunyi tuck yang tajam. Ia menghempaskan tubuh tegapnya ke kursi komando, memejamkan mata sejenak, dan memijat pangkal hidungnya dengan rahang yang masih mengetat keras.
Flyn, yang sedang bersandar di sudut meja dengan segelas kopi hitam, langsung menghentikan gerakannya. Ia melirik Zack yang berdiri kaku di dekat rak amunisi, lalu melemparkan tatapan jenaka pada Ocla dan Rowan.
"Bagus," gumam Flyn santai, menyunggingkan senyum miringnya yang khas. "Bukan serangan faksi-faksi, bukan juga gertakan Laksamana. Bos kita baru saja kalah telak dalam pertempuran domestik."
Chester membuka matanya, melemparkan tatapan tajam berbinar abu gelap yang sanggup membuat prajurit biasa gemetar. "Flyn. Tutup mulut lo."
"Saya cuma membaca situasi taktis, Kapten," balas Flyn tanpa rasa takut, melangkah mendekat seraya meletakkan cangkirnya. "Jam satu malam, seragam PDU setengah berantakan, dan Kapten Komandan memosisikan diri di markas bukannya di rumah dinas yang hangat. Tidak perlu analisis intelijen tingkat tinggi untuk tahu kalau Nyonya Sinclair baru saja mengambil alih kekuasaan."
Ocla memutar kursinya, menatap komandannya dengan raut wajah serius tapi menyimpan binar humor. "ada perang di rumah dinas, Bos?"
Chester berdeham keras, mencoba menegakkan posturnya kembali ke mode perwira. Namun, rasa gusar, cemburu yang masih membakar, dan frustrasi kaku di dadanya tidak bisa lagi ditutupi di depan empat anggota tim paling dipercayanya.
"Dia..." Chester menghentikan kalimatnya, menahan napas dalam-dalam seraya mengetatkan rahang. Suara basnya terdengar amat serak dan kaku. "Dia bahas soal gala. teru menepis tangan gue di mobil... dan mengunci pintu kamar utama."
Rowan yang sedang mengelap komponen senjata berhenti mendadak, menaikkan sebelah alisnya. "Hanya karena itu Bos langsung angkat kaki ke barak?"
"Dia yang menyuruh gue pergi ke barak!" potong Chester cepat dengan intonasi meninggi, pertahanan kaku sang perwira runtuh seketika di hadapan para bawahannya. "Dia bilang, 'Pergilah ke barak!' gue cuma menjalankan perintah itu."
Flyn langsung menepuk jidatnya sendiri, disusul tawa kecil yang lolos dari bibir Ocla dan gelengan kepala Rowan.
Zack bahkan harus membuang muka ke arah dinding untuk menyembunyikan senyum tipis yang amat langka di wajah kaku perwira intelijen itu.
Suasana ruang komando Team Eclipse di barak pasukan mendadak hening.
Chester duduk bersandar kaku di kursi kerjanya, masih mengenakan celana PDU dan kemeja putih yang lengannya sudah dilipat sebatas siku.
Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan rahangnya yang tetap mengetat keras.
Setelah mendengar cerita singkat—dan sangat irit kata—dari sang Kapten tentang perdebatan di rumah dinas, Flyn langsung menyunggingkan senyum lebar.
"Bisa-bisanya Bos benar-benar tidur di barak cuma gara-gara disuruh?" goda Flyn, menyandarkan punggungnya di tepi meja kerja Chester sambil memutar-mutar kunci kendaraan. "Sebagai pria yang paham seni menghadapi wanita, saya kasih tahu satu rahasia, Kapten: kalau wanita bilang 'pergi ke barak', artinya dia minta dikunci di kamar dan dipeluk sampai luluh, bukan malah Bos penurut jalan ke barak beneran!"
"Flyn benar, Chest," timpal Ocla dari balik komputer taktisnya tanpa menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. "Dalam protokol hubungan, perintah wanita saat emosi itu seratus persen jebakan taktis. Lo baru saja masuk ke perangkap rasa gengsi sendiri."
Rowan, yang sedang membersihkan pelumas senjata, membuang napas pelan. "Wanita merajuk itu murni minta perhatian ekstra, Kapten. Bukan minta ruang. Kalau ditinggal pergi, level bahayanya naik dari Siaga Dua ke Siaga Satu."
Zack yang berdiri kaku di dekat pintu menaikkan alisnya, menyilangkan tangan di dada. "Sederhananya, Kapten kalah telak malam ini."
Chester berdeham keras, hendak menyemprot keempat bawahannya itu dengan teguran disiplin militer. Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari bibirnya, ponsel taktis di atas meja kaca bergetar nyaring.
Nama Ayyana terpampang di layar.
Keempat anggota Team Eclipse seketika menahan napas, saling sikut dan memasang telinga lebar-lebar.
Ruangan yang tadinya penuh gurauan mendadak hening total.
Chester menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ayyana—"
speaker telepon yang cukup keras—ditambah keheningan ruangan—membuat suara dingin dan tajam di seberang sana terdengar jelas oleh Flyn, Zack, Ocla, dan Rowan.
"Kamu benar-benar pergi ke barak, meninggalkan istri yang sedang merajuk?!"
Flyn langsung menutupi mulutnya menahan tawa yang hampir meledak, Ocla mengalihkan pandangan sambil berpura-pura batuk, sementara Chester membeku seketika dengan rahang mengetat kaku dan rona merah yang mulai menjalar ke belakang lehernya.