NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 06

Keesokan paginya, nama Kirana hampir tidak terlihat lagi di akun gosip.

Hampir.

Beberapa tangkapan layar masih beredar di grup WhatsApp keluarga Hendra, di antara tante-tante yang merasa paling suci dan sepupu jauh yang tiba-tiba rajin memberi nasihat. Namun unggahan besar sudah hilang. Video dari kamar hotel tidak lagi muncul di pencarian. Bahkan komentar-komentar paling kejam seperti disapu semalam.

Kirana mengetahui itu dari Lala, staf pastry yang duduk di sebelahnya saat makan siang staf.

"Mbak, kamu kenal orang kuat, ya?" Lala berbisik sambil menunduk di atas nasi kotaknya.

Kirana sedang menyuap tumis kacang panjang. Ia berhenti. "Kenapa?"

"Kemarin aku masih lihat video itu. Pagi ini sudah hilang semua. Akun yang paling galak malah bikin story minta maaf karena menerima informasi tidak utuh."

Kirana menatap ponsel Lala. Ada story hitam dengan tulisan putih.

Kami meminta maaf atas unggahan terkait seorang perempuan berinisial K. Konten telah dihapus karena berpotensi mencemarkan nama baik.

Kirana membaca dua kali.

"Mungkin pihak hotel yang urus," katanya.

"Pihak hotel mana mau repot untuk staf baru?" Lala mendekat. "Atau Mas Raka itu bukan orang biasa?"

Kirana langsung mengalihkan pandangan. "Dia orang biasa. Bahkan terlalu biasa."

"Terlalu ganteng untuk biasa."

Kirana tersedak.

Lala menepuk punggungnya sambil tertawa kecil. "Maaf, Mbak."

Dari ujung kantin staf, Bowo melihat mereka. Wajahnya masih keruh sejak kemarin. Setelah nasi goreng lobster itu, beberapa staf mulai menyapa Kirana dengan lebih ramah. Hal kecil seperti itu rupanya cukup membuat Bowo tersinggung.

Ia menghampiri meja Kirana.

"Kamu sudah selesai makan?"

Kirana melihat kotaknya yang masih separuh. "Belum."

"Ada bahan datang dari supplier. Bantu cek."

Lala berkata pelan, "Shift Mbak Kirana masih istirahat, Mas."

Bowo menatap Lala. "Kamu mau menggantikan?"

Lala langsung diam.

Kirana menutup kotak makannya. "Aku ikut."

Di lorong belakang hotel, tumpukan bahan baru datang. Bowo menyuruhnya mengecek sayur, daging, seafood, seolah ia pegawai gudang. Kirana tidak keberatan bekerja, tapi ia tahu Bowo sengaja memberi pekerjaan kasar agar ia tidak terlalu dekat dengan line utama.

"Kalau mau bertahan di hotel, jangan merasa hebat karena satu piring nasi goreng," kata Bowo sambil memeriksa invoice.

Kirana mengangkat kotak brokoli. "Aku tidak merasa hebat."

"Bagus. Karena orang seperti kita harus tahu diri."

"Orang seperti kita?"

Bowo menatapnya. "Orang yang hidup dari belas kasih keluarga besar."

Kirana meletakkan kotak itu perlahan.

"Pak Bowo," katanya, tidak lagi memakai panggilan ayah asuh. "Aku kerja di sini pakai tanganku. Kalau Bapak masih merasa aku hidup dari belas kasih, mungkin karena Bapak terbiasa hidup begitu."

Wajah Bowo menegang.

"Mulutmu makin berani."

"Aku belajar dari orang yang sering menyuruhku diam."

Bowo hampir membalas, tapi seorang staf purchasing masuk. Percakapan terputus.

Di sisi lain Jakarta, Raka duduk di sebuah ruang rapat kecil milik Mahendra Group cabang lama. Bukan kantor pusat yang megah, melainkan kantor operasional yang jarang didatangi pemilik. Ia memakai kemeja sederhana, sementara Bima duduk di depannya dengan laptop terbuka.

"Semua unggahan utama sudah turun," kata Bima. "Tapi Bu Ratna pasti sadar ada yang bergerak."

"Biarkan."

"Kalau mereka menelusuri?"

"Mereka akan menemukan kamu."

Bima terdiam.

Raka menatapnya. "Itu masalah?"

"Tidak, Pak. Saya hanya merasa Bu Kirana akan curiga jika nama saya terlalu sering muncul."

"Dia sudah curiga."

"Lalu?"

"Belum waktunya."

Bima menutup satu file, membuka file lain. "Lilis mengaku menerima uang lima belas juta dari orang suruhan Bu Ratna. Ia juga mengantar Bu Kirana ke kamar Anda sesuai instruksi. CCTV koridor sempat dimatikan tujuh menit."

Mata Raka mengeras. "Simpan rekaman pengakuannya."

"Sudah."

"Jangan serahkan ke polisi dulu."

Bima menatapnya. "Anda ingin menunggu?"

"Aku ingin tahu siapa saja yang ikut."

Bima mengangguk.

Ponsel Raka bergetar. Pesan dari Kirana.

Kamu sudah makan? Jangan beli nasi padang lagi.

Raka membaca pesan itu lama.

Bima pura-pura tidak melihat senyum kecil di wajah bosnya.

Raka membalas: Sudah. Nasi uduk.

Kirana: Berapa?

Raka: 12 ribu.

Kirana: Bagus. Kamu bisa dididik.

Bima menunduk, batuk kecil.

Raka menatapnya. "Lucu?"

"Tidak, Pak."

"Lanjutkan."

Bima cepat-cepat kembali ke laporan. "Pak Hendra meminta jadwal bertemu dengan saya lagi. Proyek properti mereka macet karena keputusan Anda menunda kerja sama."

"Tunda terus."

"Alasannya?"

"Integritas keluarga."

Bima mengerti. Kalimat itu akan menusuk Pak Hendra karena keluarga itu selalu menjual nama baik dan janji.

Sore hari, Kirana kembali ke dapur utama. Executive chef memanggilnya ke ruang kecil dekat pantry. Namanya Chef Arman, pria berusia lima puluhan dengan wajah tegas.

"Saya dengar kamu yang masak lobster kemarin."

"Iya, Chef."

"Saya sudah cicipi sisa bumbunya. Teknikmu tidak seperti anak baru."

Kirana diam.

"Belajar di mana?"

"Bandung, Chef. Sambil kerja."

"Kerja di mana?"

Kirana menyebut beberapa restoran kecil dan satu rumah makan milik pensiunan koki yang pernah mengajarinya diam-diam. Ia tidak menyebut nama orang-orang lain yang jauh lebih besar. Tidak sekarang.

Chef Arman menatapnya lama.

"Mulai besok kamu ikut prep untuk menu private dining. Masih probation, tapi saya mau lihat kemampuanmu."

Kirana menahan napas. "Terima kasih, Chef."

"Jangan senang dulu. Di dapur ini banyak yang lebih suka menjatuhkan orang daripada mengasah pisau. Kalau kamu tidak kuat, kamu akan habis."

"Saya kuat."

"Semua orang bilang begitu sampai kena panasnya."

"Saya sudah sering kena panas, Chef."

Chef Arman tersenyum tipis. "Bagus. Keluar."

Kirana keluar dengan langkah lebih ringan.

Namun rasa ringan itu tidak bertahan lama.

Di area loker, ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari nomor tidak dikenal.

Sebuah foto masuk.

Foto Raka keluar dari mobil hitam di dekat sebuah gedung kantor.

Pesan berikutnya menyusul.

Laki-laki miskinmu ternyata sering naik mobil mahal. Yakin dia tidak sedang dipelihara perempuan lain?

Kirana menatap layar.

Dadanya terasa aneh.

Ia memperbesar foto itu. Wajah Raka terlihat jelas. Mobilnya jelas. Gedung di belakangnya juga jelas, walau Kirana tidak mengenali tempat itu.

Pesan ketiga masuk.

Kasihan kamu. Baru sehari jadi istri buangan, sudah dibohongi.

Kirana tahu ini pekerjaan Nadira.

Tapi tahu tidak membuat rasa sesak itu hilang.

Malamnya, ketika Raka pulang, Kirana sedang duduk di ruang depan tanpa menyalakan televisi kecil yang baru mereka pinjam dari tetangga. Lampu neon membuat wajahnya terlihat lebih pucat.

Raka masuk membawa kantong plastik.

"Aku beli martabak telur. Yang kecil."

Kirana menatapnya. "Pakai uang siapa?"

"Uang saya."

"Dari kerja?"

"Dari teman."

"Teman bernama Bima?"

Raka berhenti melepas sandal.

Kirana meletakkan ponsel di meja. Foto itu terbuka di layar.

"Kamu mau jelaskan?"

Raka mengambil ponsel dan melihat foto itu. Ekspresinya tidak berubah, tapi matanya mendingin.

"Siapa yang kirim?"

"Bukan itu yang kutanya."

"Itu mobil teman saya."

"Temanmu sering membiarkanmu naik mobil mahal?"

"Kadang."

"Dan kamu bekerja sebagai apa? Sopir? Asisten? Teman kantor? Orang kantor? Jawabanmu berubah-ubah."

Raka menatap Kirana.

Ia bisa mengatakan kebenaran sekarang. Bahwa mobil itu miliknya. Bahwa gedung itu bagian dari jaringannya. Bahwa Bima bukan sekadar teman, melainkan orang kepercayaannya. Bahwa skandalnya sudah ia tekan sejak malam pertama.

Tapi jika ia mengatakan itu sekarang, Kirana akan melihat semua bantuan itu sebagai kebohongan lain. Ia baru saja keluar dari keluarga yang seumur hidup memanipulasinya. Kebenaran yang datang terlalu cepat bisa terasa seperti perangkap.

"Saya membantu Bima," kata Raka akhirnya. "Dia memberi saya pekerjaan tidak tetap. Kadang mengantar dokumen, kadang ikut ke kantor."

Kirana mencari kebohongan di wajahnya.

"Kenapa tidak bilang dari awal?"

"Karena kamu akan mengira saya membual."

"Mungkin karena kamu memang terdengar seperti sedang membual."

"Saya tahu."

Kirana menutup ponsel. "Nadira mengirim foto itu supaya aku curiga."

"Dan kamu curiga?"

Kirana diam.

Raka duduk di depannya. "Kirana."

"Aku tidak suka dibohongi."

"Saya tahu."

"Kalau kamu punya perempuan lain, bilang."

Raka nyaris tersedak udara. "Apa?"

"Aku tidak peduli hubungan kita belum jelas. Tapi jangan buat aku terlihat bodoh."

"Tidak ada perempuan lain."

"Yakin?"

"Yakin."

"Nadira?"

Wajah Raka langsung datar. "Jangan menghina saya."

Jawaban itu terlalu cepat.

Kirana menatapnya, lalu perlahan rasa sesak di dadanya mencair menjadi sesuatu yang hampir lucu.

"Kamu sesinis itu pada dia?"

"Kurang lebih."

Kirana mengalihkan pandangan. "Baik. Aku percaya untuk sekarang."

"Untuk sekarang?"

"Kepercayaan itu dicicil. Seperti biaya hidup."

Raka tersenyum kecil. "Berapa cicilan pertama?"

"Martabak."

Ia menunjuk kantong plastik.

Raka membuka martabak dan menaruhnya di piring plastik. Mereka makan di lantai, berhadapan, dengan kipas angin kecil yang berputar pelan.

Di rumah Hendra, Nadira menunggu balasan dari Kirana yang tidak pernah datang. Ia menggenggam ponsel dengan kesal.

"Tidak marah? Tidak bertengkar?"

Bu Ratna duduk di sampingnya. "Sabar. Kalau Raka memang punya rahasia, kita akan temukan."

Nadira menatap foto Raka lagi.

Untuk pertama kalinya, mobil di belakang Raka lebih mengganggunya daripada wajah Kirana.

Kalau Raka benar-benar bukan laki-laki miskin...

Maka ia baru saja memberikan sesuatu yang mahal kepada perempuan yang paling ia benci.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!