Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 1 menit 50 Prajurit Mati
[Ding! Misi]
[{}]^^^^^^^^^^[{}]
[Misi: Bunuh 50 prajurit ras Etherion]
[Hadiah: Artefak Amuk Marugul]
[Hukuman: Jantung Inang meledak]
[Batas Waktu: Satu jam]
[{}]^^^^^^^^^^[{}]
Arjuna langsung menciptakan domain pertamanya setelah menjentikkan jari. Domain radius 20 meter membentuk ruang yang tak terlihat mengelilingi prajurit-prajurit Etherion dengan sempurna.
Mereka tidak bisa melihat batasnya, hanya merasakan kehadiran sesuatu yang ganjil, dan menekan tengkuk mereka dengan tekanan yang menakutkan.
"Apa ini?" teriak salah satu prajurit, energi biru mereka berkobar dengan ketakutan. "Ada apa dengan udara di sini?"
Arjuna bergerak dengan Abyssal Fang di tangan. Kecepatan 10 kali lipat di dalam domain membuatnya seperti bayangan merah yang mengerikan.
Petir merah berkilau di sekitar bilah pedangnya, menciptakan efek petir yang membakar udara dengan deru mengguncang.
"Kemana dia?" teriak prajurit lain, mata membulat dengan panik.
"Waspada!" balas komandan regu, energi biru memancar ke segala arah.
"Itu hanya trik. Kita pasti bisa membunuhnya!" ucap prajurit lain, tapi suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Arjuna muncul dari bayangan, pedang bergerak dengan presisi mengerikan.
Prajurit pertama tidak bisa menghindari tebasan vertikal Arjuna. Tubuhnya yang terbalut Blue Light Cyborg Armor terpotong dengan presisi, dan darah memancar seperti air terjun merah.
"Tidak! Aaargh!" jerit prajurit itu, tubuhnya jatuh bergelimpangan.
Ledakan api merah gelap meledak dari titik potong, menciptakan gelombang panas yang membuat prajurit lain mundur dengan teriakan. Mata mereka semua membulat dengan raut wajah pucat pasi.
"Kalian semua hanya sampah," ucap Arjuna, suaranya bergema dingin dan menghina. "Tiga tahun kalian menghinaku, sekarang lihat apa yang aku perbuat terhadap kalian semua."
Tawa licik keluar dari bibirnya, menciptakan suasana yang lebih menakutkan bagi prajurit yang mendengarnya.
"Tenang dan fokus!" titah Komandan Wiryo untuk menenangkan moral prajuritnya, tapi suara komandan sendiri terdengar khawatir.
Arjuna melanjutkan dengan gerakan pedangnya menciptakan efek angin kuat, dan hembusan menerbangkan batu-batu besar seperti pasir halus.
"Charge!" seru semua prajurit Etherion serentak, aura biru mendesis melindungi tubuh mereka dengan energi yang mencoba mengalahkan ketakutan.
Prajurit kedua dan ketiga terjatuh, tubuh mereka lintang pukang dengan luka parah tidak teratur dengan darah membanjiri setiap celah.
"Kalian lebih lemah dari yang aku bayangkan," hardik Arjuna sambil melompat ke prajurit berikutnya. "Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan kekuatan penuh untuk mengalahkan sampah seperti kalian."
Kegelapan mengelilingi Arjuna, bayangan naga berputar-putar di sekitar tubuhnya, dan menciptakan visual yang menakutkan bagi mata prajurit Ethereal.
Komandan Wiryo matanya terus bergerak cepat sambil bergumam, "Kenapa sampah ini sangat cepat?!"
Setiap tebasan pedang menciptakan gelombang cahaya terang menyilaukan, kombinasi sempurna antara cahaya, dan kegelapan yang brutal.
Tanah di bawah mereka bergetar, batu-batu kecil mengapung. Karena energi terlalu besar, menciptakan efek bumi berguncang hebat yang membuat prajurit kehilangan keseimbangan.
"Prajurit elite ras Etherion hanya sampah, dan limbah busuk hahaha," hina Arjuna bergema di seluruh gua, suaranya menggabungkan tawa manusia, dan naga dalam satu tarikan nafas yang mengerikan.
Arjuna terus berpindah, lalu melompat dari satu prajurit ke prajurit lain untuk menekan mental, dan moral mereka.
Air mulai terbentuk dari udara lembab, menciptakan bayangan ombak bergerak di sekitar Arjuna, dan menambah efek visual yang menakutkan, serta memukau.
Satu per satu prajurit Etherion tumbang di bawah dominasi Arjuna, lalu berteriak dalam penderitaan, dan keputusasaan tanpa batas.
Arjuna tidak menghentikan serangan, pedang bergerak seperti bayangan merah yang tidak bisa dihindari, dan setiap tebasan menghasilkan teriakan kematian.
"Kalian pantas menerima ini semua," ucap Arjuna dengan senyuman licik, "Setiap teriakan kalian adalah musik indah bagi telingaku."
Prajurit keempat mencoba melawan dengan energi biru yang membara, tapi kecepatan Arjuna di dalam domain terlalu cepat, dan pedangnya menembus pertahanan dengan mudah.
"Tidak bisa ... aku tidak bisa... bergerak …," desah prajurit itu sebelum jatuh.
Tubuh prajurit itu roboh, meridian terbakar dari dalam oleh perpaduan energi merah, Venom Poison Fang, dan petir yang menyebar dari Abyssal Fang.
Prajurit kelima, dan keenam mencoba melarikan diri. Berlari ke arah yang mereka pikir aman, tapi Arjuna menggunakan lompatan instan, dan muncul di depan mereka dengan pedang yang sudah siap membantai
"Kemana kalian mau lari?" bisik Arjuna tepat sebelum pedangnya menembus tubuh keduanya.
Tubuh mereka jatuh sebelum sempat berteriak.
Panel hologram muncul setelah 25 prajurit Prefektur Ethereal terbunuh. Terdengar suara ledakan teredam yang hanya bisa didengar oleh Arjuna, Wiryo, dan Wirantaka.
[Kemajuan Misi: 25/50 prajurit Etherion terbunuh]
[Kemajuan Kultivasi: Mortal Frame Realm, Lapisan 4: Crimson Star — 0% menuju 5%]
“Oh begitu rupanya?” Wirantaka membatin tersenyum licik, “Dia memilih jalan kultivasi Demon Path. Jalan meningkatkan ranah Kultivasi dengan membunuh sama seperti ras Demonia.”
Arjuna merasakan perubahan tubuhnya. Energi merah berkilau lebih terang, lebih kuat, lebih brutal dan mengerikan.
Pembantaian dilanjutkan dengan intensitas lebih tinggi. Arjuna tidak lagi hanya membunuh, tapi menghancurkan setiap prajurit yang berani masuk ke dalam batas domainnya.
Prajurit-prajurit Ethereal mencoba saling membantu, tapi domain tak terlihat Arjuna memisahkan mereka dengan sempurna, dan terukur.
Tukar posisi yang dilakukan Arjuna membuat formasi mereka kacau total, dan tidak ada koordinasi. Hanya kepanikan, dan kematian yang menghampiri mereka.
Lompatan instan Arjuna yang tiba-tiba muncul di belakang prajurit membuat mereka tidak bisa mengantisipasi serangan berikutnya dengan apapun.
“Aaargh! Kenapa kami tidak bisa melawan!” Para prajurit menjerit kesakitan. “Komandan Wiryo tolong kami!”
Ledakan demi ledakan terjadi, kombinasi api, petir, angin, tanah, air, cahaya, dan kegelapan menciptakan pertempuran seperti kiamat.
Arjuna melompat ke tengah-tengah formasi prajurit Ethereal. Lalu Abyssal Fang berputar menciptakan pusaran merah yang menghancurkan segalanya.
Energi petir memancar dari pedang, menyengat prajurit terdekat, membuat tubuh mereka kejang, dan terbakar dari dalam dengan jeritan mengerikan.
Api menyembur, menghanguskan Blue Light Cyborg Armor mereka, dan menciptakan teriakan yang memilukan di seluruh gua yang bergema.
"Aaaargh! Armor kami terbakar!" jerit prajurit Ethereal, berusaha melepas Blue Light Cyborg Armor yang sudah menyatu dengan kulit mereka.
"Ini gila! Dia terlalu kuat!" teriak prajurit lain, panik mulai menguasai pikiran mereka.
"Mundur! Mundur sekarang!" komando beberapa prajurit, tapi mereka terjebak di dalam domain tak terlihat Arjuna.
"Tidak ada tempat untuk lari," bisik Arjuna dengan senyuman kejam.
Angin yang dihasilkan dari gerakan Arjuna menciptakan badai mini, menerbangkan tubuh-tubuh prajurit seperti boneka yang robek.
Tanah bergetar dengan setiap langkah Arjuna, dan menciptakan retakan yang menelan beberapa prajurit Etherion yang terjatuh.
Air dari udara membentuk ombak tak terlihat yang memukul prajurit dari berbagai arah, hingga membuat mereka bingung, dan kehilangan orientasi.
Cahaya terang menyilaukan dari setiap serangan Abyssal Fang, dan menciptakan kilatan yang membuat mata prajurit terbakar lalu buta.
Kegelapan mengikuti cahaya itu, bayangan naga melilit tubuh-tubuh prajurit, dan menarik mereka ke dalam kegelapan tanpa henti.
25 prajurit berikutnya tumbang dengan cepat. Tubuh mereka tersebar di dalam domain dengan luka-luka mengerikan tak teratur.
Panel hologram muncul lagi.
[Kemajuan Misi: 50/50 prajurit Etherion terbunuh]
[Misi Berhasil]
[Reward: Artefak Amuk Marugul]
[Kemajuan Kultivasi: Mortal Frame Realm, Lapisan 5: Violet Star — 0% menuju 5%]
[Artefak Amuk Marugul sudah ditransfer ke inventaris sistem]
Arjuna menutup domain dengan tenang, energi merahnya mereda sedikit, tapi tetap berbahaya, dan menakutkan untuk dilihat.
Wirantaka dan Wiryo yang menyaksikan dari kejauhan saling bertukar pandang dengan ekspresi serius dan penuh perhitungan mendalam.
"Itu penciptaan domain," ucap Wirantaka, matanya menyipit dengan analisis veteran perang. "Radius 20 meter, batas tak terlihat, amplifikasi kecepatan 10 kali lipat di dalamnya, dan tukar posisi dengan lompat instan jarak pendek."
Wiryo mengangguk pelan, aura biru miliknya bersinar dengan perhitungan menakutkan yang dalam.
"Dia sudah mencapai Lapisan 5," lanjut Wiryo, suaranya tenang tapi penuh ancaman tersembunyi. "Kecepatan dan kekuatannya melampaui prajurit biasa. Kita harus bertindak sekarang."
Wiryo meluncur maju dengan kecepatan mengerikan, cahaya biru membentuk pola serangan kompleks dan presisi.
Wirantaka mencoba melindungi Arjuna, tapi terlambat. Tangan Wiryo menembus pertahanan, dan menciptakan luka dalam di dada Wirantaka.
Darah merah gelap memancar, tubuh Wirantaka jatuh dengan keras, dan nafasnya terputus.
Wiryo menatap Wirantaka dengan tajam seperti pedang yang siap menembus, mata biru penuh kemarahan murni dan perhitungan menakutkan.