" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Tak mengetuk pintu lagi, pangeran Rafael memilih langsung masuk setelah menekan handle pintu dan mendorong nya perlahan,dapat ia lihat punggung Meera yang berbaring menghadap jendela, membelakangi pintu,mata Rafael fokus menatap punggung itu, tatapannya sulit untuk di artikan.
" Ma, Meera ngantuk,jangan paksa Meera" ucap Meera pelan,nadanya terdengar begitu lelah, suaranya bahkan terdengar begitu lirih,ia mengira sang mama yang datang.
Meera bahkan menggeleng cepat saat indra penciuman nya merasa menghirup aroma seseorang yang familiar, aroma maskulin khas sang pria pujaan nya,Meera menyangka itu hanyalah halusinasinya, mungkin itu karena rasa rindunya pada pria itu, akhir-akhir ini mereka memang semakin sangat jarang berinteraksi, semuanya bermula sejak dua tahun belakangan,sejak Rafael mulai ikut terlibat dalam bisnis perusahaan milik istana, walaupun dari kecil Rafael memang sering menunjukkan wajah sebal padanya namun mereka masih sering berinteraksi,tak seperti sekarang, Meera semakin merasa mereka asing.
Tanpa terasa matanya berkaca-kaca dan beberapa titik air nya jatuh membasahi bantal,namun dengan cepat Meera mengusapnya.
Merasakan ada yang memasuki kamarnya, Meera mengira sang mama yang masih akan berusaha membujuknya, membuat nya langsung berbalik badan menatap pintu.
" Kakak....a-apa yang kakak lakukan di sini?" mata Meera terbuka lebar dengan bibir sedikit terbuka dan tangan yang memegang bagian dadanya.
" Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, tentang ..." belum selesai Rafael menjelaskan tujuan nya, Meera sudah lebih dulu menggeleng seraya menutup kedua telinganya.
" Stop..kak,Aku ngantuk, tolong kakak tinggalkan kamar ini,aku mau tidur" dengan cepat Meera menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi seluruh tubuhnya dan berbalik kembali menghadap jendela membelakangi pintu tepat di mana posisi Rafael berada.
Tak memaksa atau berdebat,Rafael menarik nafas panjang dan melangkah menuju sebuah sofa panjang yang terdapat di kamar Meera,ia mendudukkan dirinya di sofa tersebut seraya menatap punggung Meera yang masih tertutup selimut.
Mata Rafael memindai menatap sekeliling kamar,sudah tiga tahun,sejak Meera masuk sekolah menengah pertama dan ia masuk sekolah menengah atas,ia tak lagi pernah memasuki kamar gadis itu,atau lebih tepatnya sejak keluarga mereka mengatakan bahwa mereka akan di jodohkan,sejak saat itu antara mereka seperti ada rasa canggung, walaupun tak banyak berubah dari Meera,namun ia lah yang merasakan semua itu.
" Aku sangat menyayangimu Ra,tak bisakah kita cukup menjadi kakak adik? aku akan menjaga, menyayangi dan melindungi mu dengan nyawaku, seumur hidupku" tiba-tiba Rafael berkata.
Deg..
Jantung Meera berdetak kencang dan terasa begitu nyeri saat mendengar apa yang sebenarnya Rafael inginkan tentang hubungan mereka,'Adik? tapi aku yakin aku mencintai kakak sebagaimana seorang wanita mencintai laki-laki nya, bagaimana aku bisa menjadi adik mu kak?' batin Meera menjerit,namun Meera tak ingin menjawab.
" Ra..." Rafael memanggil lagi,namun tak ada jawaban dari Meera,gadis itu benar-benar tak ingin bicara atau merespon ucapan nya.
Tak mendapatkan jawaban dari Meera,Rafael yang keras kepala memilih tak akan meninggalkan kamar itu,ia justru merebahkan diri nya di sofa tempat ia duduk, mengambil ponselnya dan fokus pada layar benda pipih canggih tersebut.
Hingga beberapa menit kemudian,Rafael mengangkat pandangan nya yang semula terfokus pada ponsel,kini menatap ranjang.
Matanya terpaku pada sosok yang benar-benar sudah tertidur, terlihat dari selimut yang tak lagi menutupi seluruh tubuhnya,hanya sebagian kakinya yang tertutup,bahkan kini Rafael bisa dengan jelas melihat seluruh tubuh Meera yang hanya terbungkus gaun tidur berwarna merah muda, terlihat begitu seksi, kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
" Shit...." umpat Rafael saat ia menyadari pikiran nya justru traveling ke mana-mana, kepalanya menggeleng hingga beberapa kali seraya mengusap kasar wajahnya.
' Lo gila El,dia bahkan masih bocah' bisik Rafael geram, mengumpat sendiri pikirannya yang tiba-tiba saja menjadi begitu liar saat melihat pemandangan di hadapannya.
Namun matanya seakan tak ingin berpaling dari menatap ranjang Meera,bermacam pikiran aneh muncul dari dalam benak nya, bagaimana jika Meera berpakaian se seksi itu di hadapan pria lain? bagaimana jika Meera..., bagaimana jika Meera, pertanyaan bagaimana itu terus berkelebat dalam benak nya.
Hingga akhirnya Rafael memutuskan untuk meninggalkan kamar itu, meninggalkan Meera yang memang benar-benar sudah tertidur,Rafael menggeleng saat merapikan selimut Meera yang tak lagi menutupi tubuhnya.
' bagaimana cara nya kamu bisa tertidur begitu pulas saat ada laki-laki yang bukan keluarga mu di dalam kamar mu? kau begitu ceroboh bocah' omel Rafael seraya merapikan selimut Meera.
Setelah menutup rapat pintu kamar Meera, Rafael melangkah menuju tangga,masih terlihat nyonya Vanessa yang duduk seorang diri di sofa tak jauh dari ujung tangga.
" Bagaimana? apakah pangeran sudah bicara dengan Meera?" nyonya Vanessa langsung bertanya .
Rafael mengangguk pelan,ia memilih berbohong daripada mengatakan yang sebenarnya bahwa Meera benar-benar tak ingin bicara dengan nya.
" Sudah Tan, terimakasih atas izinnya,dan maaf merepotkan Tante malam-malam begini,saya izin kembali ke istana" Rafael meminta maaf dan izin untuk pulang,ia sedikit merasa tak enak pada wanita paruh baya itu karena memang waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Dengan cepat nyonya Vanessa menggeleng mendengar peryataan maaf dari pangeran Rafael.
" Oh itu tak perlu di pikirkan, yang terpenting di antara pangeran dan Meera tak terjadi kesalahpahaman, apalagi kalau sampai berlarut-larut,harap berhati-hati saat dalam perjalanan pulang" nyonya Vanessa memang benar-benar tulus menyayangi pangeran Rafael,putra dari sahabat suaminya.
" Terimakasih Tan,saya permisi" pamit Rafael untuk kedua kalinya sebelum pria muda itu benar-benar melangkah keluar meninggalkan kediaman keluarga Lennox,dengan di antar langsung oleh sang nyonya rumah.
Nyonya Vanessa mengembuskan lega nafas nya,beliau merasakan sedikit kelegaan yang sebenarnya sejak siang tadi menghimpit hampir seluruh rongga dadanya.
" Apakah pangeran Rafael sudah pulang?" tuan Amran Lennox bertanya saat sang istri memasuki kamar mereka,pria paruh baya itu terlihat belum tidur, laptop masih menyala di atas pangkuan nya,pertanda bahwa pria paruh baya itu masih bekerja.
Nyonya Vanessa mengangguk mengiyakan " Sudah,baru saja, seperti nya pembicaraan mereka tidak lancar, terlihat wajah pangeran sedikit murung, mungkin Meera berulah" jawab nyonya Vanessa terus terang,namun walau begitu beliau tetap merasa lega, setidaknya Rafael masih peduli pada Meera.
Sebenarnya keluarga Lennox tak terlalu besar berharap tentang perjodohan itu,bahkan tuan Amran Lennox menyetujui nya hanya karena beliau melihat sang putri yang begitu tergila-gila pada pangeran Rafael,maka itu demi kebahagiaan sang putri beliau menyetujuinya.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂