NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.

"Ya ampun Olivia, lo kenapa?"

"Lo sakit? Wajah lo pucet banget"

"Ayok, kita anter ke kamar lo" 

Di tengah keriuhan, seorang gadis tanpa canggung meringkuk diatas kursinya. Rintihan kecil tercipta. Pada sebuah meja, diantara tawa temannya.

"Aku nggak apa-apa kok teman-teman. Cuma sakit perut biasa" sanggahnya kecil. Tapi mimik wajah tak bisa berdusta.

"Kenapa bisa sakit, lo salah makan?" Lena menggamit lengannya, memasang ekspresi kekhawatiran.

"I-iyah deh kayaknya. Aku permisi dulu yah teman-teman" ia menepis halus sepasang lengan yang menggamitnya. Lantas berlari kencang.

Baru saja ia kembali dari toilet, rasa itu lagi-lagi hadir dan memaksanya untuk kembali ke toilet.

Ketiga temannya berjalan santai, mengekor dari belakang. Sesekali mereka tertawa, seperti sebelumnya tidak terjadi apa-apa.

"Jadi, kita tunggu dia disini?" Ucap Angela.

"Hmm"

Senyum miring terlukis pada pantulan kaca toilet. Sesekali menahan tawa saat terdengar suara familiar dari salah satu bilik. Dan ketika daun pintu terbuka, mereka kembali memasang kepalsuan yang nyata.

*****

"Momon, ngapain buru-buru sih? Tungguin gue!" Pekik Naysilla dengan langkah cepat yang tersendat-sendat.

"Nasa, mana kuncinya? Cepat buka pintunya Na!" pinta Mohan dengan dahi berkerut kencang.

"Lho, mau ngapain? Itu kan kamar gue"

"Cerewet, udah cepetan buka pintunya" ia meringkuk dibawah, dengan rintihan kesakitan.

Naysilla yang tak tega, buru-buru membuka pintu. Secepat kilat cowok itu menerobos masuk menuju arah toilet.

"Lah, kebelet dia. Hahahaha..."

"Lucu banget sih, Momon... Momon..."

Ia teringat sesuatu. Lantas mengambil sebuah  barang yang masih terbungkus rapih, dari dalam koper. Sebuah paket yang diberikan sang Mamih, tapi belum sempat ia buka.

"Ternyata isinya dress, iiiiiiih... lucu bingiiit...."

"Cobain dulu kali yah"

Secepat kilat ia bertukar pakaian. Sebuah overall dress berwarna putih kombinasi baby blue, melekat sempurna di tubuh rampingnya. 

Senyumnya merekah. Ia berpose bahkan berputar didepan cermin dengan sangat bahagia. Hingga komentar pedas seketika menghancurkan semuanya.

"Jelek, centil" celetuk Mohan dari belakang. 

Ia memutar tubuhnya. Matanya menyorot tajam cowok yang tengah rebahan miring diatas kasur empuk miliknya.

"Apa lo bilang? Turun lo dari kasur gue!" Berang nya.

Ia melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya. Bibirnya mengerucut kedepan disertai ocehan tak jelas. 

Bagaimana dengan reaksi cowok itu? Ia dengan santainya menyanggah kepala dengan sebelah lengannya. Senyumnya semakin lebar tatkala menyaksikan gadis itu marah-marah tanpa alasan.

"Lucu banget kalo lagi marah-marah" batin Mohan, gemas. Di tambah dengan dress lucu yang gadis itu kenakan. Ingin memujinya cantik, tapi gengsi. 

Terlalu fokus dengan pesonanya, ia sampai tak Siap pada serangan pertamanya .

"Rasain nih...!"

Pluk pluk pluk

Tiga pukulan kencang mendarat sempurna dikepala. Tapi tak terasa karena bantal empuk yang mengenainya.

Tak puas dengan itu, tangannya terulur kedepan, berniat menggapai rambut klimis nya. Tapi cowok itu mampu menghindar disertai senyum menyebalkan. 

"Iiiih... Dasar cowok nyebeliiiin...!" pekiknya, lantas merampas kacamata tebal yang membingkai sepasang manik hitam. Tak hanya itu, ia kembali mengacak-acak rambut klimis nya.

"Diam...!" Bisik Mohan lirih. Ia menahan kedua lengan kecil gadis itu.

Seperti adegan slow motion, hening seketika. Dua remaja saling tatap, dalam diam saling memberi pujian . 

"Gilaaaa, cakep banget Momon kalo kayak gini. Kok bisa jadi secakep ini sih? Aaaaaahh..... Kok gue jadi deg-degan yah"

Hatinya bergetar, tatkala sepasang manik hitam menatapnya tajam. Kedua belah bibir sensual, terbuka perlahan. Tercium samar aroma mint segar.

Jantungnya semakin berdegup kencang. Ketika hembusan nafas hangat menyapu permukaan wajahnya. Sungguh, ia terlena. Ia bahkan tak sadar jika posisi mereka begitu intim saat ini. Hingga sebuah jari telunjuk mendorong dahinya pelan.

"Udah puas liatin gue?" ucapnya narsis. Ia menarik turunkan sebelah alisnya, disertai senyuman miring.

"Apaan sih lo" sanggahnya dengan wajah memerah. Ia menjatuhkan dirinya di samping Mohan, lantas menutupi wajah salting nya dengan selimut.

"Ssstttt... Na, malahan tidur" belum puas disitu, Mohan masih saja menggodanya. Ia colek pelan tubuh yang terbalut selimut itu.

"Apaan sih momon, awas ih...!"

"Awas apa? Gue dari tadi diem" jawabnya dengan senyum tak tertahan.

"Minggiiiir ih, Sana deh, lo pulang ajah gue mau tidur"

"Yakin nih mau tidur ?"

"Iyaaaah...!"

"Lo ngga laper? Tadi kita belum sempat makan malam padahal"

"Engga gue mau tidur"

Kruyuk-kruyuk

"Ah perut sialan, ngga tau kondisi. Bikin malu ajah" batinnya kesal.

"Bunyi apaan tuh?"

"Ngga tau"

"Yaudah, gue tinggal yah? Niatnya sih gue mau makan mie ayam"

"Hah, mie ayam? Gue ikut!"  Ucapannya bersemangat. Ia menyibakkan selimut, membuang begitu saja ke lantai. Lantas bercermin sebentar.

"Gue udah siap, ayo!" Digandengnya lengan cowok itu, lantas menuntunnya keluar. Sesampainya di depan.

"Lho, emangnya kita boleh keluar asrama malam-malam gini? Bukannya asrama disini ketat?"

"Hmmm" gumamnya lirih. Lantas melanjutkan langkah yang sempat tertunda.

Dalam hening, dua remaja berjalan beriringan. Kedua tangan  bertautan, saling menuntun dibawah langit malam.

Naysilla memegangi dadanya yang kembali berdebar. Bukan karena terpesona atau jatuh cinta. Lampu-lampu mulai meredup, dengan kegelapan yang lebih mendominasi. Membangunkan trauma masa kecil. 

Mohan melirik sejenak gadis dalam genggamannya. Ia pererat, dengan tubuh sedikit merapat.

"Momon, kita mau kemana ? Ini kita dimana? Ini bukan jalan ke depan"

"Udah sampe" 

"Hah, mana? Gelap gini kok"

"Lewat sini"

Sebuah pintu rahasia berukuran kecil yang terhubung langsung pada area dapur. Yah, dapur kantin belakang. Ada beberapa titik kantin diarea sekolah. Semua dibedakan dalam tiap golongan.

Mohan membawa gadis itu ke area depan. Ternyata disini juga lumayan rame, cuma tempat ini terlihat lebih sederhana tak seperti kantin utama. 

"Lo duduk disini dulu, biar gue yang ambil makanan"

"Ngga mau prasmanan, gue mau mie ayam"

"Lo dari pagi belum makan nasi"

"Tadi lo ngajak nya mau makan mie ayam"

Mohan menghela napas panjang. Lantas berjalan ke arah satu-satunya stand mie ayam disana.

"Oke"

"Momon, aku mau mie ayam bakso ceker"

"Yah"

Tak ada pilihan lain selain memenuhi keinginan si gadis bawel itu. Mohan berjalan dengan gagahnya ditengah kerumunan.

Rambutnya yang acak-acakan dengan tanpa kacamata, menampakkan ketampanan yang sebelumnya tersembunyi. 

Sekumpulan gadis menjerit histeris, saat ia berbalik membawa nampan dengan satu tangan. Wajahnya yang kelewat tampan, dengan cepat menjadi pusat perhatian.

Naysilla yang menyadari keributan itu, tak tinggal diam, ia seketika berdiri menyambut nya. Bukan, ia hanya mengambil alih makanannya.

"Makasih sayang" ucapnya cukup lantang. Membuat gadis-gadis yang sebelumnya menggila, kembali mereda.

Mohan yang mendapat panggilan tak biasa seketika menegang, dengan mata melotot sempurna. Sampai sepasang Tangan lentik menyeretnya duduk berdampingan.

"Lo ngomong apa tadi?"  Bisik Mohan disamping telinga. Orang-orang yang menyaksikan mereka, terlihat seperti adegan romantis, karena duduknya sengaja memunggungi yang lain.

"Ngga ada, ayo makan" ucapnya acuh.

Ia mulai sibuk dengan makanannya. Hingga mulai merasakan kejanggalan. Mangkok mie ayam disebelahnya masih utuh tak tersentuh. 

Ia pandangi semangkok mie ayam yang mulai mendingin. Lantas berpaling pada cowok yang tak kalah dingin, duduk tegak tanpa ekspresi.

"Eh, lo kenapa lagi Momon? Sakit perut lagi?"

"Hooh"

Tak tahan lagi. Sungguh rasanya seperti diujung tanduk. Mohan membuang topeng cowok cool nya.

Dahinya mengerut dalam. Dengan remasan kuat di area perut. Hingga serangan beracun mengudara. Melepaskan aroma Kematian ditengah keriuhan. Tak ada yang menyadari, kecuali gadis berambut panjang yang tengah menikmati makanan.

"Yaudah Sana! Cepet cepet cepet...!" pintanya dengan tangan yang sibuk menutup hidung.

Tak sempat lagi untuk ke toilet siswa. Mohan berlari kearah stand mie ayam, yang sebelumnya ia lihat ada toilet kecil disana. 

Ia periksa sekitar, semua terlihat sepi tak berpenghuni. Tanpa meminta izin, ia gegas menuju pintu toilet yang sedikit terbuka. Tapi tiba-tiba...

Aaaaaaaa...

Hap

Sstttttt...!

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!