Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Panggung yang Lebih Besar
Pertanyaan Teran Honigan menggantung di udara. Pria tinggi tegap itu menatap lurus ke dalam mata Hira. Tidak ada keraguan sedikit pun pada raut wajah sang CEO pusat tersebut.
Hira membalas tatapan itu tanpa berkedip. Jari-jari lentiknya mengetuk pelan permukaan meja kayu oval di depannya.
{Panggung eksekusi yang lebih besar?}
Di dalam kepalanya, jiwa Hira yang asli terdiam. Segala beban masa lalu, pengkhianatan Reza, dan penindasan Anita sudah tuntas dibayar lunas hari ini. Tidak ada lagi dendam tersisa di cabang kecil ini.
Namun, sang alter ego tersenyum lebar. Rasa haus akan dominasi dan kendali yang baru saja ia cicipi ternyata belum sepenuhnya terpuaskan.
{Tikus-tikus kecil sudah habis. Pria ini sekarang menawarkan kita ladang perburuan yang berisi monster sungguhan.}
Hira menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memberikan gestur santai namun penuh pertahanan.
"Panggung yang lebih besar," Hira mengulang kalimat Teran dengan nada datar. "Anda bicara tentang kantor pusat."
Teran mengangguk pelan. Pria itu menarik kursi di dekatnya dan duduk menyamping, menghadap langsung ke arah Hira.
"Anita hanyalah ranting kecil dari pohon parasit yang tumbuh di perusahaan saya," ucap Teran tegas.
Mata hitam pria itu menatap tajam ke arah pintu kayu yang baru saja dilewati oleh petugas keamanan tadi.
"Uang miliaran yang dia curi tidak mungkin bisa lolos dari pantauan sistem selama tiga tahun tanpa ada persetujuan dari orang dalam di pusat," lanjut Teran.
Hira memiringkan kepalanya. "Ada dewan komisaris atau direktur utama lain yang melindunginya dari atas."
"Tepat," jawab Teran singkat.
Pria itu merogoh saku dalam jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna hitam pekat, lalu meletakkannya di atas meja. Kartu itu sama sekali tidak memiliki nama atau logo perusahaan. Hanya ada satu garis emas tipis di bagian pinggirnya.
Hira menundukkan pandangannya, menatap kartu hitam tersebut.
"Saya memiliki kekuasaan absolut sebagai CEO," ucap Teran. "Tapi saya terlalu diawasi. Setiap langkah saya, setiap perintah audit yang saya keluarkan, selalu dipantau oleh para parasit tua di dewan direksi."
Teran mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saya butuh mata pisau yang tidak terdeteksi radar mereka. Seseorang yang sama sekali tidak memiliki ikatan sejarah dengan para elit pusat."
"Dan Anda memilih saya," potong Hira santai. "Seorang staf pemasaran yang kebetulan baru saja menghancurkan karir suaminya sendiri."
"Saya memilih wanita yang tidak memiliki rasa kasihan," ralat Teran dengan suara rendah. "Istri normal akan menangis melihat suaminya diseret paksa. Kamu justru tersenyum. Sifat mematikan seperti itu sangat langka, Hira Lione."
Hira tertawa kecil. Tawa yang sangat renyah dan elegan.
Ia menjulurkan tangannya, mengambil kartu hitam itu dari atas meja. Permukaan kartu itu terasa sangat halus dan dingin di telapak tangannya.
"Saya memegang kendali penuh di cabang ini sekarang," ucap Hira pelan. Ia memutar-mutar kartu hitam itu di sela-sela jarinya. "Mengapa saya harus melepaskan singgasana yang baru saja saya rebut, hanya untuk menjadi anjing pelacak Anda di pusat?"
Teran tidak terlihat tersinggung dengan pilihan kata Hira. Pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi puas.
"Karena cabang ini terlalu membosankan untukmu," jawab Teran mutlak.
Mata elang pria itu seolah bisa membedah isi pikiran Hira.
"Kamu sudah merasakan bagaimana rasanya menghancurkan orang yang merendahkanmu. Bertahan di gedung ini hanya akan membuat insting membunuhmu tumpul. Tidak ada lagi yang berani melawanimu di sini."
Hira terdiam sejenak. Sang alter ego di dalam sana sepenuhnya setuju dengan perkataan pria ini.
{Dia benar. Memerintah staf penakut seperti Bagas setiap hari hanya akan membuang waktu kita.}
Hira menegakkan punggungnya. Ia menatap lurus tepat di manik mata Teran.
"Jika saya menerima tawaran ini," Hira memberikan jeda sejenak, suaranya terdengar sangat tajam. "Saya tidak mau menjadi bawahan yang menunggu perintah. Saya ingin otoritas independen. Saya bergerak dengan cara saya sendiri, dan Anda hanya menerima hasil akhirnya."
"Kesepakatan diterima," jawab Teran tanpa ragu sedikit pun. Pria itu berdiri dari kursinya.
Teran merapikan kancing jasnya dengan satu tangan.
"Mulai besok, kamu tidak perlu menginjakkan kaki di gedung cabang ini lagi. Leo akan mengurus pemindahan seluruh barang pribadimu."
Teran membalikkan badan dan melangkah menuju pintu. Pria itu berhenti sejenak, menoleh dari balik bahunya.
"Gunakan kartu hitam itu di lift khusus lobi utama kantor pusat besok pagi. Jangan sampai terlambat, Eksekutif Hira."
Teran melangkah keluar dari ruang rapat eksekutif, membiarkan pintu kayu itu terbuka lebar.
Hira tetap duduk di tempatnya. Ia menatap kartu hitam di tangannya. Sebuah senyum miring yang sangat dingin perlahan terukir di wajahnya.
Ia berdiri, merapikan pakaiannya, dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Lorong lantai dua belas terasa sangat sunyi. Hira berjalan menuju lift dengan langkah santai. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai dengan irama konstan.
Begitu pintu lift terbuka, Hira melangkah masuk. Ia menekan tombol menuju lantai lobi.
Lift bergerak turun dengan cepat. Hira menatap pantulan dirinya di pintu baja lift. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, lebih hidup, dan sangat mematikan.
Pintu lift berdenting pelan saat tiba di lantai dasar.
Hira melangkah keluar. Area lobi saat itu dipenuhi oleh beberapa karyawan divisi lain yang sedang berlalu-lalang.
Begitu mereka melihat Hira melangkah keluar dari lift khusus eksekutif, gerakan mereka serentak terhenti. Berita tentang pemecatan paksa Anita dan Reza rupanya sudah menyebar ke seluruh penjuru gedung dalam hitungan menit.
Bagas, yang kebetulan sedang berdiri di dekat meja resepsionis, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pria itu bahkan menyingkir ke pinggir, memberikan jalan yang sangat lebar untuk Hira.
Beberapa karyawan lain ikut menundukkan kepala. Tidak ada satu pun yang berani menatap mata Hira.
Hira berjalan membelah lobi tersebut tanpa melirik mereka sedikit pun. Dagu wanita itu terangkat sempurna.
Tepat sebelum Hira mencapai pintu kaca putar di pintu keluar utama, Leo melangkah mendekatinya dari arah samping.
Asisten berkacamata itu menundukkan badannya dengan sangat hormat. Jauh lebih hormat daripada cara ia menyapa Anita sebelumnya.
"Bu Hira," panggil Leo sopan.
Hira menghentikan langkahnya. "Ya, Leo?"
Leo menyodorkan sebuah tablet digital tipis. Layarnya menyala terang.
"Pak Teran meminta saya untuk menyerahkan ini kepada Anda," ucap Leo. "Ini adalah profil target pertama Anda di dewan direksi pusat. Anda bisa mempelajarinya malam ini."
Hira menerima tablet tersebut. Ia menatap layar yang menampilkan sebuah foto pria paruh baya dengan deretan penghargaan bisnis yang sangat panjang.
[Profil Target: Direktur Operasional Pusat - Penguasa Distribusi Logistik]
"Terima kasih, Leo," jawab Hira pelan.
Hira kembali melangkah menuju pintu putar. Ia mendorong kaca itu dan melangkah keluar menuju jalanan kota.
Angin menyapu rambut panjangnya yang terikat rapi. Hira menatap layar tablet di tangan kirinya, lalu menatap kartu hitam di tangan kanannya.
{Selamat tinggal, masa lalu yang menyedihkan.}
Sang alter ego tertawa pelan di dalam pikirannya.
{Panggung baru sudah memanggil. Mari kita lihat, berapa banyak direktur yang bisa kita buat menangis besok pagi.}
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪