NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

BAB 6: TANDA TANGAN YANG BERBEDA

"Kebohongan itu seperti tulisan tangan—tak bisa disamarkan selamanya. Selalu ada lekukan yang berbeda, selalu ada jejak that tertinggal."

Pagi itu, cahaya matahari masuk lebih cerah dari biasanya, namun di ruang kerja Arka, suasana terasa redup dan pengap. Ia duduk membungkuk di atas meja, di depannya terhampar beberapa lembar kertas yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Di tangannya, kaca pembesar yang ia beli secara diam-diam kemarin sore terasa berat, seolah menjadi beban seluruh kebenaran yang sedang berusaha ia ungkap.

Di hadapannya ada dua contoh tanda tangan.

Yang pertama, diambil dari buku nikah mereka, dari berkas asuransi, dari cek gaji yang selalu Elena tanda tangani setiap bulan. Tulisan tangan Elena Wijaya yang ia hafal luar kepala: lekukan huruf 'E' yang melengkung anggun, huruf 'l' yang menjulang lurus seperti tiang, dan huruf 'a' di akhir yang selalu ditutup dengan ujung melengkung ke atas, ringan dan berakhir dengan goresan halus ke kanan. Itu tanda tangan Elena yang ia kenal selama dua tahun ini.

Yang kedua, potongan kecil dari surat perjanjian yang ia temukan di laci meja kerja Elena kemarin. Tanda tangan atas nama C.N., atau yang tertulis lengkap sebagai Elena Wijaya di bagian penjelasan isi surat.

Dari jauh, kedua tanda tangan itu terlihat sama persis. Sama-sama indah, sama-sama mengalir, sulit dibedakan oleh mata biasa. Tapi saat diperhatikan dengan teliti, disorot cahaya lampu meja dan dilihat lewat kaca pembesar... perbedaannya terlihat jelas, dan perbedaan itu membuat tenggorokan Arka terasa kering.

Huruf 'a' di akhir tanda tangan itu melengkung ke bawah. Tajam. Tertekan. Seolah orang yang menulisnya sedang menahan amarah, atau keterpaksaan. Tidak ada goresan ringan ke kanan, melainkan berakhir dengan tarikan tegas ke kiri bawah.

Bukan gaya tulisan Elena. Bukan kebiasaan Elena.

"Piye..." gumam Arka pelan, kepalanya terasa berdenyut sakit. "Dua orang berbeda? Atau... satu orang dengan dua kepribadian?"

Ia teringat ucapan Adrian dalam pesan-pesan lama yang sempat ia baca di ponsel tersembunyi itu: "Jangan sampai dia muncul lagi. Bahaya kalau dia yang pegang kendali."

Dulu Arka pikir itu hanya kode-kode aneh orang yang berselingkuh. Tapi sekarang, kalimat itu bergema kembali di kepalanya dengan makna yang jauh lebih mengerikan.

Apakah Elena... berubah?

Apakah wanita yang lembut, penyayang, dan penuh senyum yang menikah dengannya adalah satu sisi, dan ada sisi lain—sisi yang dingin, keras, penuh rahasia, dan bernama Claire—yang mengendalikan tubuh yang sama saat malam tiba?

Pintu ruang kerja terdorong terbuka pelan.

Arka tersentak kaget. Dengan gerakan cepat namun tetap terkontrol, ia menyembunyikan kertas-kertas itu ke bawah buku catatan tebal, lalu meletakkan kaca pembesar ke laci samping dan menutupnya perlahan. Jantungnya berdegup kencang, nyeri, seolah hendak melompat keluar dari rongga dada.

Elena berdiri di ambang pintu, memegang nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring kue kering. Wajahnya seindah biasa, rambutnya terurai rapi, senyumnya terpasang manis di bibir. Tapi bagi Arka yang kini sudah tahu banyak hal, senyum itu terlihat kaku, terlalu sempurna untuk menjadi tulus.

"Mas kok kaget banget?" tanyanya lembut, berjalan mendekat dan meletakkan nampan di sudut meja, jauh dari tumpukan kertas yang disembunyikan Arka. "Ada apa sih? Sejak kemarin kayaknya Mas suka melamun, suka kaget sendiri. Mikirin apa sih?"

Arka tersenyum tipis, berusaha menata ekspresinya agar terlihat biasa saja. Ia bersandar di kursi, menyilangkan tangan di dada—posisi pertahanan yang tak sadar ia bentuk belakangan ini.

"Nggih... cuma mikirin proyek desain yang agak rumit, Le. Banyak revisi, pusing rasanya," jawabnya pelan, menggunakan alasan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ia belajar dari Elena: kalau mau menutupi kebenaran, gunakan hal yang paling masuk akal.

Elena tertawa kecil, suara renyah yang dulu selalu membuat hatinya tenang, kini justru membuat bulu kuduknya meremang. Wanita itu berjalan memutari meja kerja, mendekat ke sisi Arka. Ia bersandar ringan di pinggiran meja, tepat di sebelah buku catatan tebal yang menyembunyikan bukti-bukti itu.

"Mas ini sih, kerjaan terus. Sampai nggak sempat ngobrol sama istri sendiri," katanya manja, lalu tangan kanannya yang lentik bergerak, menyentuh lengan Arka pelan. "Padahal... aku punya kabar lho."

Arka menahan napas. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Mencari celah, mencari tanda kebohongan, mencari sedikit pun tanda bahwa wanita ini bukanlah orang yang ia nikahi.

"Kabar apa?" tanyanya singkat.

Elena tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Minggu depan aku harus ke Bandung. Ada proyek renovasi rumah klien besar. Katanya rumahnya luas banget, pemiliknya orang terpandang di sana. Aku harus survei lokasi dan pertemuan tiga hari."

Bandung.

Kata itu menghantam dada Arka lebih keras daripada pukulan fisik mana pun.

Bandung. Kota tempat tinggal Adrian Mahesa. Kota yang selalu disebut di pesan-pesan rahasia itu. Kota asing yang tidak pernah Elena kunjungi selama mereka menikah, tiba-tiba menjadi tujuan perjalanan dinas yang mendadak dan sangat kebetulan.

"Bandung..." ulang Arka pelan, nadanya tak bisa disembunyikan sedikit pun menjadi kaku. "Klien baru ya?"

"Iya banget! Namanya Pak... hm..." Elena mengerutkan kening seolah berusaha mengingat, lalu tersenyum lagi. "Pak Mahesa. Pak Adrian Mahesa. Katanya dia pengusaha properti besar di sana. Dapat rekomendasi dari teman lama ayah di Surabaya."

Arka merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.

Mahesa. Nama belakang yang sama persis dengan pria dalam pesan itu. Dan Elena menyebutnya dengan santai, dengan wajah polos seolah tidak ada apa-apa. Apakah ini keberanian yang luar biasa? Atau ia sengaja ingin Arka tahu, tapi membuatnya terlihat sebagai kebetulan belaka?

"Kenapa, Mas? Kok mukanya aneh gitu?" tanya Elena, memiringkan kepalanya. Tangan yang tadinya menyentuh lengan Arka kini bergerak naik, menyentuh pipi suaminya dengan lembut. Kulitnya halus, dingin. "Ada yang salah ya?"

Arka menangkap pergelangan tangan Elena.

Gerakannya tidak kasar, tapi juga tidak lembut. Cukup kuat untuk menahan pergerakan wanita itu. Matanya menatap lurus ke manik mata cokelat Elena, berusaha menembus lapisan-lapisan topeng yang ia pakai.

"Le... dulu kamu pernah bilang, kamu nggak punya kenalan di Bandung. Kamu bilang selain Surabaya dan Jakarta, kamu jarang ke mana-mana," kata Arka pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Teman lama ayahmu di sana? Piye aku nggak pernah denger ceritanya?"

Wajah Elena berubah. Sekejap saja. Cahaya di matanya meredup, digantikan oleh kilatan dingin yang tajam. Bibirnya yang merah merona itu perlahan mengukir senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia menarik tangannya perlahan dari cengkeraman Arka, gerakannya tenang dan berwibawa.

"Mas itu lupa ya?" nada bicaranya berubah. Logat Surabayanya keluar lebih tebal, lebih tajam. "Banyak hal yang nggak perlu diceritakan semua, Mas. Bukannya dulu Mas yang bilang, percaya itu kunci pernikahan kita?"

Ia berdiri tegak, merapikan ujung kemejanya yang sedikit kusut. Pandangannya menatap Arka dari atas ke bawah, seolah Arka adalah anak kecil yang bertanya hal konyol.

"Atau... Mas mulai ragu lagi? Mas mulai mikir yang bukan-bukan lagi?" Elena menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya kecewa. "Yaelah, Mas. Kalau begini terus, kapan kita bisa damai? Aku kerja keras buat masa depan kita, eh malah dicurigai terus. Memangnya aku ini kelihatan kayak wanita yang nggak punya harga diri sampai main-main di belakang suami?"

Kalimat itu tajam. Sangat tajam. Elena pandai sekali membalikkan keadaan. Ia membuat dirinya menjadi pihak yang tersakiti, dan Arka menjadi suami yang tidak tahu diri, penuh curiga, dan tidak menghargai kerja keras istri.

Arka diam. Lidahnya kelu. Ia tahu ia sedang diputarbalikkan, tapi ia belum punya bukti yang cukup kuat untuk mematahkan kata-kata Elena. Bukti tanda tangan itu? Hanya tanda tangan. Bisa saja dibilang kebiasaan berubah. Bukti nama Mahesa? Nama umum, bisa saja kebetulan.

"Maaf..." kata Arka akhirnya, suara yang keluar adalah kebohongan lain yang terpaksa ia ucapkan. "Aku cuma... khawatir sama kamu. Bandung kan agak jauh, Le."

Elena tersenyum lagi, senyum yang lega karena berhasil memenangkan ronde ini. Ia kembali mendekat, mencium kening Arka sekilas.

"Nah, gitu dong. Mas emang paling baik kok," bisiknya lembut di telinga Arka. "Tenang aja ya. Aku berangkat hari Rabu, pulang hari Jumat. Nanti aku bawain oleh-oleh yang enak ya."

Ia berbalik badan, berjalan anggun menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak, menoleh sedikit ke belakang tanpa menatap Arka.

"Oh ya, Mas..." ucapnya santai. "Jangan terlalu sering ngintip barang-barang di mejaku ya. Nanti Mas makin pusing kalau lihat tulisan tangan aku yang jelek dan berubah-ubah. Aku sendiri kadang bingung kok tulisanku bisa beda-beda tergantung suasana hati."

Pintu tertutup pelan.

Arka terpaku di kursinya. Tubuhnya terasa kaku seperti patung.

Kalimat terakhir itu... bukan sekadar omongan biasa. Elena tahu. Elena tahu dia melihat tanda tangan itu. Elena tahu dia sedang menyelidiki tulisan tangannya. Dan wanita itu mengakui perbedaannya dengan cara yang paling licik: menyalahkan suasana hati.

Di atas meja, di balik buku catatan tebal itu, dua tanda tangan yang berbeda itu kini terasa seperti dua wajah wanita yang sama—satu yang tersenyum manis di siang hari, satu yang merencanakan sesuatu yang mengerikan di malam hari.

Dan Arka sadar, perjalanan ke Bandung itu bukan sekadar urusan proyek.

Di Bandung, kebenaran yang sesungguhnya sedang menunggunya. Dan mungkin, di sana juga bahaya yang mulai mengancam pernikahan dan nyawanya sendiri.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!