Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11
Dewa kaget saat kepala desa langsung memecat nya tanpa pesangon. Hal itu membuat nya bingung dan kaget. mengapa secara tiba tiba. Apa penyebab nya. Setahu nya dia tak melakukan kesalahan apapun.
"Pak, kenapa saya di pecat?" kata nya dengan nada lemas.
"Saya salah apa pak, saya tak berbuat salah apapun."
"didik anak mu dengan baik, gara gara dia anak ku Raka besok di panggil ke ruangan kepala sekolah nya. Kalau sampai putra ku kenapa kenapa, aku akan memberikan keluarga mu pelajaran!"
Deg.... Jadi sekarang dewa paham, bahwa ini pasti ada sangkut-pautnya dengan Ali. Mengapa harus seperti ini, kenapa kepala sekolah bertindak tidak tegas seperti ini. Hanya gara urusan personal antara Ali dan raka, dia malah memecat nya, bahkan tanpa pesangon sedikitpun. tubuh nya benar benar lemah, mengapa orang miskin sepertinya harus di tindas dengan kejam seperti ini.
Sebelum ke sawah, Raka langsung mengadu kepada ayah nya. Anak laki laki itu langsung meminta ayah nya untuk memecat ayah nya Ali. karena telah membuat nya dalam masalah besar. awalnya pak Rusdi bingung, tapi secara di hasut oleh putra nya sendiri, akhirnya pak kades itu pun menyetujui putra nya. itulah sebab nya, pak Rusdi langsung memerintahkan kepada dewa untuk tak usah datang besok ke sawah nya lagi.
"Uang pesangon mu itu, anggap saja ganti rugi atas apa yang akan terjadi dengan Raka putra ku!"
Kejam, tanpa sadar dewa meneteskan air mata nya. hidup dalam kemiskinan ini, membuat nya benar benar di tindas habis habisan, oleh orang yang berkuasa.
"Baiklah pak, kalau seperti itu. Saya ikhlas. Tapi jangan pernah meragukan cara didik saya dalam mendidik putra saya, karena saya tak pernah mengajari nya untuk menjadi lemah dan menindas orang lain." ucap dewa yang langsung pergi membawa cangkul nya pulang ke rumah nya dengan rasa sakit akibat di hina habis habisan oleh kepala desa di sukamaju itu.
Sesampainya di rumah, terlihat wajah istrinya yang tampak sendu duduk di kursi tua yang hampir rapuh itu.
"Mas, sudah pulang."
Dengan Bergegas Ratna mengambil satu gelas air putih untuk suami nya itu.
"Mas, ini di minum dulu."
"Makasih ya dek."
"Sama sama mas." Ratna melihat wajah suami nya yang tampak murung. terlihat ada kecemasan yang di sembunyikan.
"Besok biar mas aja yang datang ke sekolahan Ali."
"Deg.... Mas udah tau ya."
"Apa Bu Romlah juga memecat mu dek?"
Ratna langsung mengangguk lemah, seolah tak berdaya saat ini.
"Maaf ya mas, mereka menghina Ali, dan juga cara didik keluarga kita. sungguh hati ku sakit saat mendengar bu Romlah menuduh Ali seperti itu mas."
"Sut.... Udah gpp, mungkin ini udah jalan nya. Besok mas akan cari pekerjaan lain, agar kita bisa buat usaha untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga kita."
"Jadi mas juga di pecat oleh pak kades?" ucap nya yang sudah menumpahkan tangis kesedihan yang sejak tadi di tahan.
"Sudah, gpp ya dek. Kita harus kuat. Ali dan Dinda jangan sampai tau, biar kita sebagai orang tua harus mengajarkan mereka untuk tetap berani. Mas juga berharap Ali bisa sukses dan mencapai cita cita nya kelak."
Tanpa mereka sadari, Ali mengintip dan mendengarkan dari kamar nya. tatapan nya berkaca-kaca saat mendengar ucapan orang tua nya. membela nya dan langsung kehilangan pekerjaan nya. sungguh ali benar benar merasa bersalah.
"Ayah, ibu.... Ali janji, Ali akan membuat orang orang yang menghina ayah dan ibu, suatu hari akan menyesal!"