Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Benteng di Ujung Dunia dan Ancaman Kekacauan
Setelah melintasi wilayah yang sempat tertutup kabut Ki Bayang, Cepot dan Dawala melanjutkan perjalanan jauh ke dalam alam seberang Jembatan Pelangi. Lentera yang mereka terima bersinar terang di genggaman, memandu mereka melewati hutan purba yang pohonnya menjulang menembus awan dan sungai yang airnya berkilau seperti kristal.
Namun, semakin jauh mereka melangkah, suasana mulai berubah. Tanah di bawah kaki terasa bergetar sesekali, angin berhembus dengan nada yang tidak menentu, dan langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan berwarna kelabu kehitaman yang bergerak cepat. Batu pemberi petunjuk yang mereka bawa kini berdenyut kencang dan memancarkan cahaya yang berkedip-kedip gelisah.
“Kang, ini bukan tanda yang baik,” kata Dawala sambil memegang gagang galah bambunya dengan erat. “Seolah ada kekuatan besar yang sedang berusaha memecahkan sesuatu yang menahannya.”
“Benar,” jawab Cepot sambil mengamati sekeliling dengan waspada. “Kita semakin dekat ke tempat yang disebut Benteng Penjaga Keseimbangan—pusat yang menjaga batas antara dunia yang teratur dan alam kekacauan yang tanpa bentuk. Jika benteng ini lemah, maka seluruh keteraturan di segala alam akan terancam hancur.”
Setelah berjalan dua hari lagi, mereka akhirnya tiba di sebuah dataran luas yang dikelilingi tembok batu raksasa setinggi gunung. Di tengahnya berdiri sebuah menara tinggi yang puncaknya menyentuh langit, dikelilingi oleh lingkaran cahaya yang berdenyut seperti detak jantung. Namun, cahaya itu terlihat semakin redup, dan di beberapa bagian tembok terlihat retakan yang memancarkan asap hitam yang berbahaya.
Di depan gerbang utama, berdiri para penjaga yang mengenakan baju perisai dari logam yang memudar, wajah mereka tampak lelah setelah berjuang menahan tekanan dari luar. Begitu melihat kedatangan Cepot dan Dawala, mereka segera menyambut dengan rasa lega yang bercampur cemas.
“Kalian datang tepat waktu,” kata panglima penjaga itu dengan suara berat. “Selama ribuan tahun, benteng ini menahan kekuatan kekacauan yang ingin masuk dan mengubah segala sesuatu menjadi tidak teratur, tidak memiliki bentuk, dan tanpa makna. Namun, belakangan ini muncul seseorang yang menyebut dirinya Penguasa Tanpa Batas. Ia bersekutu dengan sisa-sisa kekuatan yang ingin merusak keseimbangan, dan kini ia berusaha menghancurkan dasar benteng ini dari dalam.”
Mereka segera dipersilakan masuk ke dalam menara pusat. Di ruang paling dalam, terlihat sebuah inti cahaya raksasa yang menjadi sumber kekuatan seluruh benteng. Di depannya berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi, mengenakan jubah yang berubah-ubah warna dan bentuk, matanya menyala dengan cahaya yang tidak tetap. Itulah Ki Nirmaya, yang percaya bahwa keteraturan hanyalah belenggu yang membatasi kebebasan mutlak.
“Jadi, akhirnya ada juga yang berani melangkah sampai ke sini,” ucapnya dengan nada yang terdengar di mana-mana. “Mengapa harus terikat pada aturan, batas, dan keseimbangan? Biarkan segala sesuatu berubah sesuka hati, tidak ada yang tetap, tidak ada yang terikat—itulah kebebasan sejati!”
“Kebebasan tanpa batas bukanlah kebebasan, melainkan kehancuran,” jawab Cepot tegas. “Tanpa keteraturan, tidak akan ada kehidupan, tidak ada makna, tidak ada perbedaan antara benar dan salah, antara ada dan tiada. Semua akan menjadi kekacauan yang tidak memiliki tujuan, bahkan kebebasan itu sendiri akan hilang karena tidak ada yang bisa bertahan.”
Ki Nirmaya tertawa keras, lalu menggerakkan tangannya. Dari celah-celah retakan di dinding, keluar aliran energi hitam yang berputar-putar, membentuk makhluk-makhluk tanpa wujud yang bergerak kacau dan menyerang ke segala arah.
“Rasakanlah apa yang kau sebut keteraturan itu! Lihat apakah ia bisa bertahan melawan perubahan yang tak terbatas!” serunya.
Dawala segera melompat ke depan, memutar galah bambunya dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin yang teratur dan kuat untuk menahan serangan makhluk-makhluk itu. “Kang, aku akan menahan mereka! Kau harus menjaga inti cahaya dan menghentikan dia!”
Cepot mengangguk, lalu melangkah mendekat sambil mengangkat Golek Pancasona. Cahaya putih keemasan memancar terang, menyatu dengan cahaya lentera dan batu petunjuk yang ia bawa, membentuk perisai yang menahan gelombang energi hitam yang dilemparkan Ki Nirmaya.
“Kau salah mengartikan makna perubahan!” seru Cepot. “Perubahan itu ada, tapi ia harus berjalan selaras dengan hukum alam. Pohon tumbuh, berbuah, lalu gugur—itu perubahan yang teratur. Jika ia berubah menjadi batu, lalu menjadi air, lalu menjadi api dalam sekejap tanpa aturan, ia tidak akan menjadi apa-apa selain kehancuran!”
Ia mengarahkan ujung pusakanya ke arah Ki Nirmaya, namun tidak menyerang secara langsung. Sebaliknya, ia memancarkan cahaya yang menembus ke dalam pikiran dan hati lelaki itu, memperlihatkan apa yang sebenarnya akan terjadi jika keseimbangan benar-benar hancur: segala bentuk akan lenyap, segala kenangan hilang, dan tidak ada lagi ruang bagi makhluk hidup untuk tumbuh dan berkembang.
Ki Nirmaya tertegun, perasaannya yang selama ini terisi oleh keinginan untuk melepaskan segala batas perlahan terguncang. Ia melihat gambaran kekosongan yang sesungguhnya, bukan kebebasan yang ia bayangkan. Kekuatan yang ia miliki mulai bergetar tidak stabil, karena ia sadar bahwa ia telah membangun tujuannya di atas kesalahpahaman.
“Jadi… apa yang aku anggap kebebasan ternyata hanya jalan menuju kehampaan?” gumamnya dengan suara yang melemah.
“Batas bukanlah penjara, melainkan penyangga,” jawab Cepot lembut namun tegas. “Dengan batas, segala sesuatu memiliki tempat dan tugasnya, sehingga bisa saling melengkapi dan menciptakan kehidupan yang indah. Itulah kebebasan yang sesungguhnya—bisa tumbuh dan berkembang sesuai jati diri masing-masing.”
Menyadari kesalahannya, Ki Nirmaya menarik kembali kekuatan yang ia gunakan. Ia membiarkan cahaya dari Golek Pancasona menyentuhnya, menetralkan energi yang tidak teratur di dalam dirinya. Perlahan, retakan di tembok benteng mulai menutup kembali, cahaya inti pusat bersinar terang dan stabil seperti sediakala, serta angin dan langit di luar kembali tenang dan cerah.
Sebagai tanda penebusan, Ki Nirmaya berjanji akan membantu menjaga batas antara keteraturan dan perubahan, memastikan bahwa keduanya berjalan selaras tanpa saling merusak. Para penjaga benteng pun menghela napas lega, rasa lelah mereka perlahan hilang seiring pulihnya kekuatan tempat itu.
“Terima kasih telah menyelamatkan dasar dari segala keseimbangan,” kata panglima penjaga sambil memberikan sebuah medali cahaya yang berbentuk lingkaran sempurna. “Ini adalah tanda bahwa tugas besar yang diberikan kepada kalian telah dijalan dengan baik. Medali ini akan mengingatkan kalian bahwa keseimbangan adalah tujuan akhir dari segala perjuangan.”
Membawa medali itu dan pengertian yang semakin dalam, Cepot dan Dawala melangkah keluar dari benteng itu. Mereka menyadari bahwa perjalanan mereka telah membawa mereka melintasi banyak tempat, menghadapi berbagai tantangan, dan selalu menemukan bahwa kebijaksanaan, kesabaran, dan rasa hormat terhadap aturan alam adalah kunci untuk menjaga kedamaian di mana pun mereka berada.