Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Badai tulang
Pernyataan gua barusan bukannya bikin mereka takut, malah memicu tawa histeris dari orang-orang amatir itu. Di mata mereka, gua cuma satu orang Level 5 yang nekat masuk ke kandang macan.
"Satu orang modal pedang mainan mau ngancem belasan senapan?! Jangan ngelawak lu, bocah!" Si Tato Serigala berteriak barbar. "Tembak sampai jadi dendeng virtual!"
*DOR! DOR! DOR! DOR!*
Halaman pabrik langsung bising sama suara letusan pistol otomatis. Belasan peluru meluncur dari berbagai sudut, mengunci posisi gua di titik pusat lingkaran.
> **[Room Info - System Gaia]**
> * **Analisis Taktis:** Pengguna dikepung oleh 14 unit infanteri ringan. Kepadatan peluru: 85%. Jalur evakuasi fisik: 0%.
>
Bagi orang biasa, ini adalah skenario kematian mutlak. Tapi bagi seorang *Sword God* yang sinkronisasi sarafnya menyentuh angka 100% di dalam kokpit *Sovereign Edition*, lintasan peluru konvensional ini tak lebih dari sekadar garis-garis data lambat di udara. Gua bisa melihat *muzzle flash* (kilatan moncong) senjata mereka milidetik sebelum pelatuknya ditarik.
"Aliran Pedang Kelana... Bentuk Ketiga," bisik gua.
**[Sunken Moon - Bulan Tenggelam]**
Gua memutar tubuh gua di tempat dengan poros kaki kiri sebagai jangkar. Pedang **[Bone-Eater]** di tangan gua berputar seperti baling-baling helikopter, menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang diselimuti pendaran energi hijau dari sisa asam *Scythe-Stalker*.
*TINGTINGTINGTINGTINGTING!*
Belasan peluru pistol yang mengincar tubuh gua mendadak mental semua begitu menghantam dinding pusaran pedang tulang gua. Percikan api virtual memancar ke segala arah, membakar rumput kering di halaman pabrik.
"G-GAK MUNGKIN! Dia bisa nangkis peluru pake pedang?!" Si Tato Serigala melotot sampai matanya hampir keluar.
"Sekarang giliran gua," ucap gua dingin dari balik kepulan asap.
Begitu rentetan peluru mereka habis dan mereka terpaksa masuk ke fase *delay* animasi menembak selama 0,8 detik, gua langsung menghentikan putaran pedang gua dan meroket maju ke arah kerumunan paling padat di sisi kiri menggunakan teknik *Void Flash*.
*SRET! JLES! CRASH!*
Gerakan gua secepat kilat. Dalam waktu kurang dari dua detik, gua melewati tiga orang penembak. Bilah sabit *Bone-Eater* memotong sambungan zirah dada mereka dengan sangat presisi.
*Ting! Ting! Ting!*
**[Efek Khusus [Acid Bite] Terpicu secara beruntun!]**
**[Zirah target hancur! Kerusakan fatal!]**
*BOOM! BOOM! BOOM!*
Tiga orang langsung meledak bersamaan menjadi gundukan abu hitam digital. Sisa anggota yang melihat pemandangan horor itu langsung kehilangan seluruh mental bertarung mereka. Formasi lingkaran yang tadinya kokoh mendadak bubar berantakan karena mereka panik dan mencoba mundur ke dalam pabrik.
"Dia setan! Kabuuu—"
Gua tidak memberikan mereka ruang untuk bernapas. Dengan stat *Dexterity* 25, gua meliuk di antara sela-sela mesin tua yang berkarat, menebas urat kaki, memotong leher, dan memastikan setiap sabetan pedang gua memicu status *Weakpoint Destruction*.
*JLES! JLES! JLES!*
Halaman pabrik berubah menjadi tempat pembantaian sepihak. Setiap detik diisi oleh suara erangan pendek yang disusul oleh ledakan partikel abu hitam.
Si Tato Serigala, yang tadinya paling vokal, sekarang terduduk lemas di tanah dengan punggung menempel pada pintu besi pabrik. Pistolnya sudah kosong, tangannya gemetaran parah sampai tidak bisa memegang magasen cadangan.
Gua berjalan mendekatinya dengan langkah santai. Ujung *Bone-Eater* gua yang berlumuran darah hitam monster dan sisa abu manusia bergesekan dengan lantai semen, menimbulkan suara decitan yang menyiksa batinnya.
"T-Tunggu... ampuni gua... gua cuma babu di sini..." Si Tato Serigala menangis, air mata virtualnya mengucur deras.
Gua berhenti tepat satu langkah di depannya, menatapnya datar dari balik tudung hitam gua yang pudar. "Gua udah ngasih pilihan sebelum badai ini dimulai. Lu yang milih buat jadi abu."
*SLASH!*
Satu tebasan horizontal terakhir membersihkan halaman pabrik dari ancaman Faksi Iron-Fang.
**[Sistem: Anda telah memusnahkan seluruh unit pertahanan 'Kamp Iron-Fang' x14!]**
**[Mendapatkan: 3.500 EXP, 400 Koin Wasteland.]**
**[Level Anda meningkat: Level 5 -> Level 7!]**
**[Mendapatkan Kupon Kepemilikan: [Hak Milik Kamp Industri Terbengkalai (Tier 1)]]**
Gua menghela napas panjang, merasakan gelombang energi hangat dari Level 7 yang meremajakan seluruh otot tubuh virtual gua. Gua langsung mengalokasikan poin tambahan ke *Strength* dan *Vitality* untuk mempertebal bar darah gua.
"Ji!!! Lu bener-bener gak ngotak!" Jinho berlari masuk lewat gerbang kawat sambil memeluk senapannya, matanya jelalatan melihat belasan *item drops* yang berserakan di tanah halaman pabrik. "Gua baru aja mau nyari posisi nembak, lu udah ngebabat habis satu batalion!"
"Berisik. Cepet beresin jarahannya," gua menyarungkan kembali *Bone-Eater* ke pinggang. "Dan liat ini, Jinho. Kita baru aja dapet sertifikat hak milik tempat ini dari sistem."
Gua nunjukin layar hologram [Hak Milik Kamp] yang melayang di depan gua. Jinho yang melihat itu langsung menjatuhkan senapannya, matanya berbinar-binar penuh gairah logistik.
"Ji... ini artinya..." Jinho menelan ludah. "Pabrik ini sekarang resmi jadi pangkalan militer rahasia kita. Kita punya pagar, kita punya menara pantau, dan yang paling penting... di dalam pabrik ini pasti ada mesin reaktor daya utama!"
Gua berjalan melintasi halaman, mendorong pintu besi pabrik yang besar. Begitu pintu terbuka, pemandangan interior pabrik yang luas namun gelap gulita menyambut kami. Di tengah ruangan, sebuah tabung kaca raksasa berisi cairan hijau neon berkedip-kedip redup, memancarkan aura teknologi kuno yang misterius.
Mata emas gua menyipit menatap tabung tersebut. Di dunia *survival* ini, memiliki markas adalah awal dari segalanya. Tapi gua tahu, perubahan status pangkalan ini pasti bakal memicu notifikasi sistem yang bakal menarik perhatian faksi-faksi manusia yang jauh lebih berbahaya, atau bahkan... gelombang monster yang lebih ngeri.
"Jinho, tutup gerbang depan pake sisa kawat berduri," ucap gua sambil melangkah masuk ke dalam pabrik. "Mulai hari ini, tempat ini adalah awal dari koloni kita. Siapa pun yang berani mendekat... bakal gua pastiin nasibnya sama kayak serigala-serigala di luar."