NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. : 6

Lisa memegang bola cahaya Inti Naga itu di tangannya. Ia menatap Floyen yang sedang duduk manis menikmati kue.

"Floyen, lihat ini," panggil Lisa.

Floyen menoleh, "Apa itu Kak?"

"Ini adalah inti kekuatan dari monster yang tadi menyerangmu. Sekarang... jadilah kekuatan untuk melindungi dirimu!"

Lisa mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Inti Naga itu melayang, lalu Lisa mulai melafalkan mantra kuno yang sangat indah. Cahaya itu berputar kencang, memadat, dan berubah bentuk.

TRANG!!! ⚔️✨

Sebuah pedang indah turun perlahan ke tangan Lisa.

Pedang itu memiliki gagang yang elegan berwarna emas kehitaman. Bilah pedangnya memancarkan cahaya gelap yang anggun, dan tepat di tengah bilah pedang itu terdapat lambang Naga yang terukir sangat jelas dan berkilau. Itu adalah senjata buatan langsung dari energi murni seekor Naga.

Lisa menghampiri Floyen dan menyerahkan pedang itu.

"Nah, ini buatmu. Pedang ini jauh lebih kuat dari pedang lamamu yang patah tadi. Sekarang kau punya kekuatan Naga di tanganmu."

Mata Floyen berbinar-binar tak percaya. Ia menerima pedang itu dengan gemetar. Rasanya sangat ringan namun terasa sangat kuat dan nyaman di genggamannya.

"Wah... cantik dan keren banget! Makasih banyak Kakak Lisa!!" seru Floyen sambil melompat kegirangan. Ia langsung menghunusnya sedikit, dan wush... aura putih peraknya bercampur dengan aura hitam emas pedang itu, membuat tampilannya makin garang!

Belum lama mereka bersorak, tiba-tiba beberapa sosok guru dan pengawas muncul dengan terburu-buru melalui portal kecil. Wajah mereka panik dan serius.

"Ada apa?! Getarannya sangat dahsyat! Kami merasakan aura Naga yang sangat kuat di sini!!" teriak salah satu guru sambil mengedarkan pandangan.

Mereka siap siaga, tongkat sihir dan pedang mereka terhunus. Tapi... apa yang mereka lihat?

Tidak ada monster. Tidak ada pertarungan. Hanya ada Lisa yang berdiri tenang, Floyen yang duduk cantik di kursi sambil memegang teh dan pedang baru, serta beberapa siswa lain yang hanya terdiam bingung.

"Haah? Mana naganya?!" tanya Kepala Guru bingung. "Tadi kami jelas-jelas merasakan tekanan dahsyat dan aura membunuh yang sangat kuat! Kenapa di sini malah tenang seperti taman bunga?!"

Para siswa yang ketakutan tadi hanya bisa saling pandang. Mereka tidak bisa menjelaskan. Mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka tahu hanyalah... gadis berpenutup mata itulah yang melakukan segalanya.

Lisa maju selangkah, membungkuk sopan dengan wajah polos.

"Maafkan kami, Guru. Tadi memang ada monster, tapi tiba-tiba monster itu menghancurkan dirinya sendiri entah kenapa. Kami juga tidak mengerti. Kami baik-baik saja kok."

Floyen ikut menimpali dengan senyum lebar, "Iya Betul! Kami aman kok! Berkat Kakak Lisa!"

Para guru menggaruk kepala yang tidak gatal. Sangat aneh. Tapi melihat semua siswa selamat dan tidak ada luka parah, mereka akhirnya menghela napas lega.

"Ya sudah... syukurlah kalian semua selamat. Karena ancaman sudah hilang dan kalian sudah menyelesaikan misi, kita kembali sekarang."

KEPULANGAN

Salah satu guru mengangkat tongkatnya dan menciptakan Portal Besar yang berwarna keemasan.

"Silakan masuk semuanya. Kembali ke Akademi."

Para siswa berbaris masuk dengan perasaan campur aduk. Lady Clarissa dan gengnya melirik Lisa dengan tatapan takut dan hormat, mereka tidak berani berbuat apa-apa lagi.

Sebelum masuk portal, Floyen menggandeng tangan Lisa erat-erat.

"Hari ini seru ya Kak! Dan pedang ini akan menjadi pedang favoritku!" bisik Floyen sambil memainkan pedang barunya.

Lisa tersenyum tipis. "Hm. Ingat, gunakan dengan bijak ya. Itu kekuatan yang sangat besar dan sepertinya pedang itu masih bisa di upgrade."

"Maksudnya kakak di upgrade? Ini kan bukan tongkat sihir" ucap floyen bingung

"Saat aku mengubah inti itu menjadi pedang aku melihat sekilas bentuk sejati pedang itu dan itu bukan seperti sekarang berarti itu masih bisa di upgrade kedepannya sebelum itu aku akan coba meneliti nya dahulu" ucap Lisa serius

Kemudian mereka pun melangkah masuk ke portal, meninggalkan hutan yang tenang.

Di halaman utama Akademi, ratusan siswa dan guru sudah berkumpul menunggu. Wajah mereka cemas karena Lisa dan kelompoknya adalah yang terakhir kembali.

"Eh, itu mereka! Mereka datang!"

Saat portal terbuka dan Lisa serta yang lainnya muncul, semua orang langsung berkerumun. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat pemandangan di depan mata.

Lisa berjalan paling terakhir dengan tenang dan anggun. Di depannya, Floyen tampak segar bugar, wajahnya berseri-seri sambil memeluk erat pedang barunya yang berwarna emas kehitaman yang terlihat sangat sakti.

Para guru yang memeriksa kondisi mereka pun heran.

"Kalian... tidak ada yang terluka parah? Padahal kami mendeteksi energi Naga level tinggi di sana?"

Lisa hanya tersenyum tipis dan mengangguk. "Kami baik-baik saja, Guru. Beruntung monster itu tiba-tiba menghilang sendiri."

Jawaban yang singkat, padat, dan membuat semua orang makin penasaran.

Di pinggir kerumunan, Lady Clarissa dan gengnya berdiri mematung. Sejak tadi mereka sudah melihat sendiri tentang apa yang terjadi di hutan.

Tentang bagaimana Lisa menjentikkan jari lalu kepala monster serigala sebanyak itu meledak tentang bagaimana Naga raksasa itu tunduk dan hancur sendiri hanya karena ditatap oleh gadis itu.

Saat mata Clarissa bertemu dengan Lisa (meski Lisa tidak melihatnya), tubuh Clarissa langsung gemetar hebat. Ingatannya kembali pada saat ia menghina Lisa sebagai 'tidak berguna'.

'dia bukan manusia biasa! Dia monster! Aku mati kalau berhadapan dengannya!' batin Clarissa panik.

Tanpa pikir panjang, Clarissa langsung menarik teman-temannya. "AYO KITA PERGI!!"

Wush!

Mereka langsung kabur membelah kerumunan seolah-olah dikejar hantu, tidak berani menatap Lisa sedetik pun lebih lama. Rasa sombongnya hilang berganti dengan ketakutan yang luar biasa.

Lisa yang mendengar langkah kaki yang menjauh itu hanya tersenyum sinis kecil dalam hati. 'Dasar rendahan,' pikirnya datar.

  Setelah selesai dengan laporan, Lisa pamit untuk kembali ke asrama. Karena asrama Floyen terpisah (asrama senior), Lisa pun berjalan sendirian menuju sayap asrama kelas 1.

Koridor akademi yang biasanya ramai, seketika menjadi hening saat Lisa lewat.

Semua mata tertuju padanya. Siswa laki-laki maupun perempuan berhenti berbicara, mereka menepi memberikan jalan lebar untuk Lisa lewat.

Tapi bukan karena sopan, tapi karena takut.

"Itu... itu Lisa kan? Yang di hutan tadi?"

"Iya itu dia! Katanya sih Naga aja sampai minta maaf dan bunuh diri ketemu dia!"

"Gila... gue denger dia cuma angkat tangan doang terus monster terpental jauh banget!"

"Jangan dilihat terus! Nanti dia marah gimana?! Aura dia tuh dingin banget sumpah!"

"Jangan bising-bising, katanya dia marah kalau berisik loh..."

Bisikan-bisikan itu terdengar jelas oleh telinga tajam Lisa. Namun, Lisa sama sekali tidak peduli. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi.

Bagi mereka, Lisa adalah sosok misterius yang kuat dan menakutkan. Tapi bagi Lisa... ini justru bagus. Dengan mereka takut, tidak akan ada yang berani mengganggunya atau mengajaknya mengobrol tidak penting. Ia bisa hidup tenang seperti yang ia inginkan.

Lisa terus berjalan, membiarkan orang-orang berbisik dan gemetar di belakangnya, sementara ia melangkah menuju kamarnya dengan anggun.

Baru saja Lisa meletakkan tasnya dan hendak duduk di tepi ranjang untuk beristirahat...

Tok! Tok! Tok! Tok! 🚪

Seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan ritme yang cepat dan tegas, seolah orang itu tidak sabaran atau memang memiliki wibawa tinggi. Suaranya cukup keras hingga terdengar jelas di dalam kamar yang sunyi.

Lisa mengerutkan kening tipis. 'Siapa yang berani datang ke sini jam segini?'

Dengan langkah santai, Lisa berjalan mendekati pintu. Ia tidak merasa waspada, karena indranya bisa merasakan bahwa orang di luar tidak memiliki niat buruk, hanya rasa penasaran yang sangat besar.

Lisa membuka pintu.

Saat pintu terbuka, tampaklah sosok seorang pemuda berdiri tegap di depannya.

Pemuda itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap, mengenakan seragam OSIS yang sedikit berbeda dari yang lain—lebih mewah dan memiliki hiasan emas yang menandakan statusnya. Wajahnya sangat tampan dengan rahang yang tegas, rambut hitamnya disisir rapi, dan sepasang mata tajam namun teduh yang menatap lurus ke arah Lisa.

Dia adalah Pangeran Kael, Ketua OSIS sekaligus putra mahkota dari Kerajaan Terbesar di benua ini. Dia dikenal sebagai sosok yang dingin, jenius, dan sangat dihormati seluruh akademi.

Namun, saat ini wajah dingin Pangeran Kael terlihat sedikit terkejut. Matanya tak berkedip menatap wajah Lisa yang cantik namun misterius di balik penutup matanya.

Kael sedikit terbatuk untuk menetralkan suaranya, lalu membungkuk sopan—sangat sopan, level hormat yang jarang ia berikan pada siswa lain.

"Selamat sore. Maaf mengganggu waktumu beristirahat," ucap Kael dengan suara berat dan berwibawa. "Aku Kael, Ketua OSIS. Bolehkah aku masuk sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Lisa."

Meskipun bertanya, tatapan matanya tidak lepas dari Lisa. Ia jelas-jelas penasaran setengah mati dengan gadis yang baru saja membuat keributan besar di hutan tadi. Gadis yang membuat Naga pun tunduk.

Lisa berdiri diam di ambang pintu, wajahnya tetap tenang dan datar tanpa ekspresi.

"Ada apa, Pangeran?" tanya Lisa pelan, suaranya lembut namun dingin. "Jika hanya ingin bertanya soal kejadian di hutan, aku sudah menjelaskan pada guru semuanya."

 

Kael menggeleng pelan. "Bukan soal itu. Aku ingin mendengarnya langsung darimu. Dan juga... aku ingin melihat pedang yang dipegang adikmu tadi. Itu bukan barang biasa."

Lisa terdiam sejenak, lalu menyingkir sedikit memberi jalan.

"Masuklah. Tapi jangan berisik, aku sedang ingin tidur."

"Terima kasih."

Kael melangkah masuk ke dalam kamar Lisa. Ruangan itu bersih, rapi, dan memiliki aroma yang sangat harum dan menenangkan—seperti aroma bunga surgawi yang belum pernah Kael cium sebelumnya.

Kael duduk di kursi yang disediakan, sementara Lisa duduk di tepi ranjang dengan pose anggun, menunggu pemuda itu berbicara.

"Jujur saja Lisa..." Kael menatapnya serius. "Aku sudah melihat banyak penyihir hebat, bahkan penyihir kerajaan sekalipun. Tapi apa yang kau lakukan hari ini... di luar nalar. Bagaimana caramu membuat monster level Boss itu menyerah begitu saja?"

Lisa tersenyum tipis, senyuman yang membuat jantung Kael berdegup sedikit lebih kencang.

"Karena... makhluk lemah memang seharusnya tunduk pada yang lebih kuat, bukan begitu, Yang Mulia Pangeran?"

Pangeran Kael menatap Lisa lekat-lekat, menunggu jawaban yang bisa menjelaskan semua keanehan hari ini.

Lisa duduk dengan tenang, jari-jarinya yang lentik saling bertaut di atas pangkuan. Ia tersenyum tipis, senyuman yang sangat manis namun sulit diterka.

"Pangeran Kael..." suara Lisa lembut namun terdengar jauh. "Dunia ini luas, lebih luas dari apa yang tertulis di buku-buku sejarah di perpustakaan kerajaanmu."

"Ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Ada kekuatan yang tidak perlu diukur dengan kristal atau skala level."

Lisa menoleh sedikit ke arah jendela di mana bulan mulai bersinar.

"Monster itu tunduk... mungkin karena ia bisa merasakan sesuatu yang bahkan kalian para manusia tidak bisa melihatnya. Mungkin ia sadar... bahwa ia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih tinggi, dan jauh lebih agung dari sekadar 'penyihir' atau 'ksatria'."

Lisa kembali menatap ke arah Kael (meski tak terlihat).

"Jadi... anggap saja itu keajaiban. Atau anggap saja itu hanya kebetulan. Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, nanti kepalamu bisa sakit."

Glek.

Kael menelan ludah. Wajahnya tampak bingung campur takjub. Jawaban Lisa justru menimbulkan seribu pertanyaan baru di kepalanya.

'Jauh lebih tua? Jauh lebih agung? Apa maksudnya? Apakah dia reinkarnasi orang hebat? Atau...'

Rasa penasaran Kael justru memuncak, dan entah kenapa, jantungnya berdegup lebih kencang melihat sosok gadis yang begitu misterius dan cantik di hadapannya.

"EEEKKKK?!!"

Tiba-tiba, pintu kamar didorong terbuka dengan kasar tanpa mengetuk.

"Kakak Lisa!! Aku bawa makan mal—"

Belum sempat Floyen menyelesaikan kalimatnya, langkah kakinya terhenti mendadak. Matanya yang tadinya ceria langsung membelalak lebar melihat sosok yang duduk di hadapan Lisa.

Di sana, duduk tegap adalah Pangeran Kael, Ketua OSIS nomor satu di akademi yang terkenal dingin dan sulit didekati!

Floyen terpaku, mulutnya terbuka sedikit, bingung antara mau membungkuk hormat atau mau lari.

"EHHHH?! P-P-PANGERAN KAEL?!!" 🫣🫣

Floyen langsung reflek membungkuk 90 derajat dengan kaku. Wajahnya langsung memerah padam karena kaget dan grogi.

"Ma-maafkan saya!! Saya tidak tahu kalau ada tamu penting!! Saya salah masuk kamar!!" seru Floyen panik, hampir menjatuhkan nampan makanan yang dibawanya.

Kael yang tadinya serius, sedikit tersenyum melihat tingkah lucu Floyen. "Tenang saja, Floyen. Kau tidak salah kamar."

Lisa menghela napas pelan melihat tingkah adiknya. "Sudah Floyen, masuklah dan tutup pintunya. Jangan berisik."

"Iya Kak! Maaf Kak!"

Floyen masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan nampan makanan di meja sambil sesekali melirik Kael dengan takut-takut.

"Ehm... maaf ya Pangeran mengganggu. Saya cuma mau bawain makan buat Kakak Lisa soalnya tadi dia belum makan banyak," kata Floyen canggung.

Kael mengangguk sopan. "Tidak apa-apa. Justru aku yang sudah terlalu lama mengganggu istirahat Lisa."

Pangeran itu lalu berdiri dan menatap Lisa sekali lagi.

"Baiklah Lisa, aku pamit dulu. Percakapan kita sangat menarik... sampai jumpa besok."

Tepat saat Kael hendak melangkah keluar pintu, ia tiba-tiba berhenti. Bahunya yang tegap menahan langkahnya. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap punggung Lisa yang anggun.

"Tunggu sebentar, Lisa..." suara Kael terdengar lembut, penuh rasa ingin tahu yang besar.

Lisa dan Floyen pun menoleh.

"Aku sudah bertanya-tanya sejak pertama kali melihatmu... dan semakin penasaran setelah melihat kekuatanmu hari ini."

Kael melangkah mundur sedikit masuk ke dalam kamar, matanya menatap tepat ke arah kain penutup mata yang menutupi indra penglihatan gadis itu.

"Kenapa kau selalu menggunakan penutup mata ini? Apakah matamu terluka? Atau ada alasan khusus yang membuatmu menyembunyikannya dari dunia?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Mendengar pertanyaan itu, Lisa dan Floyen secara refleks saling bertukar pandang.

Hati Floyen berdegup kencang. Karena dialah satu-satunya orang di dunia manusia ini yang pernah melihat kebenarannya. Bahkan Paman Cedric dan Bibi Rafaela pun tidak tahu. Hanya dia.

Floyen teringat saat pertama kali Lisa membuka penutup matanya hanya untuknya...

Flashback:

Saat itu mata Lisa terbuka. Bukan mata biasa, melainkan sepasang mata yang memancarkan cahaya keemasan dengan pola galaksi yang berputar indah di dalamnya. Melihatnya membuat Floyen serasa melihat ciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Hati Floyen langsung dipenuhi perasaan agung, damai, dan kecantikan yang luar biasa. Rasanya seperti terhipnotis, ingin terus menatapnya selamanya, rasanya ingin memiliki mata itu hanya untuk dilihat sendiri. Itu adalah mata seorang Dewi yang mempesona dan mematikan sekaligus.

End Flashback.

Floyen mengerti betul. Jika mata itu dilihat oleh orang sembarangan... mereka bisa kehilangan akal sehat karena terpesona, atau bahkan bisa buta karena terlalu terang. Itulah kenapa Lisa menutupnya.

Lisa tersenyum tipis, senyuman yang penuh teka-teki. Ia tidak menjawab langsung, melainkan mengangkat tangannya perlahan menyentuh ujung kain penutup matanya pelan.

"Kenapa aku menutupnya?" ucap Lisa pelan, suaranya terdengar seperti nyanyian kuno.

"Karena... mata ini bukan mata untuk melihat dunia yang fana ini."

"Mata ini diciptakan untuk melihat kebenaran, melihat masa lalu, masa depan, dan melihat apa yang tersembunyi di balik dimensi."

Lisa menoleh ke arah Kael, meski kain itu masih menutup rapat.

"Dan satu hal lagi, Pangeran..."

Lisa berhenti sejenak, membuat suasana jadi mencekam namun indah.

"Jika kau melihatnya... kau mungkin akan lupa cara bernapas. Atau mungkin... kau akan jatuh cinta dan tergila-gila padaku hingga tak ingin kembali ke duniamu lagi. Apakah kau siap menanggung risiko itu?"ucap Lisa sambil tersenyum kecil

TERPANA DAN BINGUNG

Glek!

Kael menelan ludah secara refleks. Wajahnya tiba-tiba terasa panas, jantungnya berdegup kencang tak karuan mendengar jawaban itu.

Bayangan di kepalanya berputar. Mata yang bisa membuat orang lupa bernapas? Mata yang bisa membuat orang jatuh cinta seumur hidup?

Imajinasinya liar membayangkan betapa cantiknya mata gadis itu. Rasa penasarannya memuncak, tapi ia juga sadar jika dia terlalu jauh kemungkinan akan ada bahaya yang luar biasa di balik kain itu.

Kael tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terpaku, mulutnya terkunci rapat.

Lisa tertawa kecil melihat reaksi Kael, suara tawa yang sangat merdu.

"Sudahlah. Penasaran itu menyakitkan, Pangeran. Lebih baik kau pergi dan istirahat."

"Ba... baiklah..." Kael akhirnya sadar dan sedikit gugup. "Selamat malam, Lisa. Terima kasih... atas jawabannya."

Pangeran itu pun akhirnya pergi dengan kepala penuh pertanyaan dan hati yang berdebar tak karuan.

 

SETELAH KAEL PERGI

Begitu pintu tertutup, Floyen langsung lompat ke arah Lisa dan memeluk lengan kakaknya.

"Huahaha! Pangeran Kael sampai bengong! Kasihan dia jadi makin penasaran!" seru Floyen sambil terkikik. "Tapi Kakak jahat banget sih ngomong gitu... tapi bener sih, mata Kakak itu terlalu indah buat dilihat orang sembarangan. Cuma Floyen aja yang boleh lihat kan? 😤❤️"

Lisa mengelus kepala adiknya. "Tentu. Hanya kau yang berhak melihatnya, adikku kecil."

Bersambung...

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!