Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Badai di Perbukitan
Sudah hampir dua minggu sejak Ellara Dawson mulai bekerja di Blackwood Ranch. Selama dua minggu itu, ia mulai mengenal ritme kehidupan di peternakan terbesar Kentucky tersebut. Bangun sebelum matahari terbit, membersihkan kandang, memeriksa pakan, memandikan kuda, dan sesekali membantu latihan berkuda. Pekerjaan itu melelahkan namun setidaknya Ellara menyukainya, sampai sore itu.
"Bisakah kau membawa Daisy ke danau utara?" tanya Hank sambil menyerahkan tali kekang seekor kuda betina berwarna cokelat muda.
Ellara mengangguk. "Tentu."
"Daisy agak gelisah sejak pagi."
"Aku akan menjaganya."
Hank tersenyum.
"Itulah alasan aku mempercayakan tugas ini padamu."
Ellara mengusap leher Daisy. Kuda itu mengeluarkan suara pelan, tenang, setidaknya untuk saat ini. Jalur menuju Danau pribadi Blackwood Ranch membelah hamparan padang rumput sebelum akhirnya memasuki kawasan hutan pinus. Matahari sore mulai condong ke barat. Sinar keemasannya menembus sela-sela pepohonan. Pemandangan yang begitu indah hingga membuat Ellara beberapa kali memperlambat langkah kudanya hanya untuk menikmati suasana.
Udara di sini terasa berbeda, lebih segar, lebih bebas.
Tidak heran banyak orang kaya rela membayar mahal hanya untuk menikmati pemandangan seperti ini.
Setelah hampir dua puluh menit berkuda, akhirnya danau itu terlihat. Danau pribadi keluarga Blackwood.
Airnya berkilauan diterpa cahaya sore. Permukaannya tenang seperti kaca, dikelilingi pepohonan pinus dan perbukitan hijau yang menjulang di kejauhan. "Wow..." Ellara hampir lupa bernapas.
Ia pernah mendengar cerita tentang Danau itu. Namun melihatnya secara langsung tetap terasa luar biasa. Daisy berjalan perlahan menuju tepi air, menundukkan kepala, mulai minum. Ellara turun dari pelana. Membiarkan kuda itu beristirahat sejenak.
Angin sore bertiup lembut. Membawa aroma pinus dan air tawar. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Blackwood Ranch, ia benar-benar merasa damai. Sampai suara petir terdengar jauh di langit. Ellara mengangkat kepala, awan gelap mulai muncul dari arah barat. "Aneh." Ramalan cuaca pagi tadi tidak menyebutkan hujan. Ia kembali mendekati Daisy.
"Kita sebaiknya pulang."
Namun tepat ketika tangannya hendak meraih tali kekang—Seekor rusa tiba-tiba melompat keluar dari semak-semak. Daisy meringkik keras, tubuhnya menegang.
"Daisy!"
Kuda itu berputar panik, Lalu berlari cepat, sangat cepat.
"Daisy!"
Ellara mencoba mengejar, namun percuma dalam hitungan detik kuda itu sudah menghilang ke antara pepohonan. Jantung Ellara langsung jatuh. "Astaga..." Ia berdiri membeku, baru sekarang ia menyadari masalah sebenarnya. Daisy membawa semua perlengkapan, termasuk ponsel dan radio komunikasi.
Dan ia tidak tahu persis jalur pulang dari sini.
Satu jam kemudian, langit semakin gelap. Awan hitam kini memenuhi cakrawala. Ellara berjalan menyusuri jalur hutan sambil mencoba mengingat arah. Namun semakin lama ia semakin yakin bahwa dirinya tersesat. "Bagus sekali, Ellara." Ia menghela napas panjang. "Baru dua minggu bekerja dan sudah membuat masalah."
Suara petir kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Angin mulai bertiup lebih kencang membuat dedaunan bergoyang keras. Ellara mempercepat langkah namun setelah beberapa menit berjalan, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan. Ia langsung berhenti, jantungnya berdebar.
"Daisy?"
Namun yang muncul bukan Daisy, melainkan seekor kuda hitam besar yang sangat dikenalnya. Thunder. Dan di atas pelananya duduk Noah Blackwood. Ellara belum pernah merasa begitu lega melihat seseorang.
"Ellara?" Noah menarik tali kekang, ekspresinya berubah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ellara hampir tertawa karena gugup.
"Aku bisa menjelaskan."
"No." Tatapan Noah menyapu sekeliling.
"Kudamu di mana?"
Ellara menunduk.
"Kabur."
Hening.
"Hilang?"
"Mungkin."
Noah mengusap wajahnya pelan seolah sedang berusaha menjaga kesabaran.
"Aku sedang mencarinya."
"Aku bisa melihat itu."
Meskipun kalimatnya terdengar datar, Ellara menangkap nada khawatir di baliknya. Pria itu turun dari pelana.
"Sejak kapan?"
"Hampir satu jam."
"Dan kau berjalan sendirian?"
"Aku tidak punya pilihan."
Noah menggeleng pelan. "Kau seharusnya tetap di danau."
"Aku tahu."
Petir menyambar di kejauhan. Kali ini begitu terang hingga menerangi langit. Noah menoleh ke arah barat, ekspresinya langsung berubah serius.
"Kita harus pergi."
"Hujan?"
"Badai."
Lima menit kemudian mereka sudah berada di atas Thunder. Atau lebih tepatnya... Ellara berada di atas Thunder bersama Noah. Karena hanya ada satu kuda, dan tidak ada pilihan lain. Ellara duduk di depan, sementara Noah memegang tali kekang dari belakangnya. Jarak mereka sangat dekat, terlalu dekat. Setiap gerakan kuda membuat bahu mereka bersentuhan. Dan Ellara berusaha keras untuk tidak memikirkannya.
"Aku minta maaf."
Noah meliriknya.
"Untuk apa?"
"Karena membuat masalah."
"Percayalah." Nada suaranya terdengar kering.
"Kau bukan orang pertama yang kehilangan kuda di ranch ini."
"Itu tidak membuatku merasa lebih baik."
Untuk pertama kalinya Noah tertawa kecil.
Suara rendah yang membuat Ellara menoleh.
"Aku tidak sedang bercanda."
"Aku tahu."
Thunder terus berjalan menuruni jalur hutan, namun cuaca berubah lebih cepat dari perkiraan. Angin semakin kencang, langit semakin gelap, dan tak lama kemudian tetesan hujan pertama jatuh. Hujan turun semakin deras, butiran air menghantam dedaunan pinus dan menciptakan suara gemuruh yang memenuhi hutan.
"Kita harus lebih cepat," kata Noah.
Sebelum Ellara sempat menjawab, Noah memberi isyarat pada Thunder. Kuda hitam itu langsung mempercepat langkah. Derap kakinya menggema di jalur berlumpur yang membelah perbukitan. Ellara refleks berpegangan lebih erat pada pelana. Angin dingin menerpa wajahnya. Rambut yang terlepas dari ikatan mulai menempel di pipi karena hujan. Di belakangnya, Noah menjaga kendali penuh atas Thunder. Karena jalur semakin licin, pria itu beberapa kali meraih pinggang Ellara untuk memastikan gadis itu tetap seimbang.
"Pegang lebih kuat," ujarnya.
"Aku sudah berusaha."
"Hujan membuat jalurnya berbahaya."
Petir menyambar di kejauhan, kilatan cahayanya menerangi hutan selama sepersekian detik. Thunder terus berlari. Tubuh mereka bergerak mengikuti irama langkah kuda. Jarak yang semula terasa biasa kini menjadi sulit diabaikan.
Ellara bisa mendengar napas Noah tepat di belakangnya, bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu meski udara semakin dingin. Hal itu justru membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak tahu apakah penyebabnya adalah badai, perjalanan yang menegangkan, atau kedekatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Takut?" tanya Noah.
Sedikit.
Namun Ellara tidak ingin mengakuinya.
"Aku hanya ingin segera sampai."
"Noah tersenyum tipis.
"Aku juga."
Mereka kembali terdiam.
Hanya suara hujan dan derap kaki Thunder yang menemani perjalanan. Namun keheningan itu terasa berbeda. Tidak canggung, justru membuat Ellara semakin sadar akan keberadaan pria di belakangnya.
Pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai pewaris Blackwood Ranch. Dan yang kini sedang berusaha membawanya keluar dari badai.
Ketika angin bertiup lebih kencang, Noah kembali menahan pinggangnya agar tidak kehilangan keseimbangan. "Tenang," katanya pelan. "Aku tidak akan membiarkanmu jatuh." Kalimat sederhana itu membuat Ellara menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak datang ke Blackwood Ranch, ia mempercayai kata-kata Noah sepenuhnya. Dan itu terasa jauh lebih berbahaya daripada badai yang sedang mereka hadapi.
Noah memperhatikan langit.
"Kita tidak akan sempat mencapai rumah utama."
"Jadi?"
"Ada pondok pengawas di bukit sebelah timur."
"Kita bisa berlindung di sana?"
"Itu satu-satunya pilihan."
Perjalanan menuju pondok tidak mudah. Hujan semakin deras, jalur menjadi licin. Thunder beberapa kali harus memperlambat langkahnya, petir menyambar berkali-kali Menerangi hutan dalam kilatan cahaya putih. Akhirnya sebuah bangunan kayu muncul di atas bukit, pondok pengawas. Ellara hampir menangis lega.
Noah turun lebih dulu, lalu membantunya turun dari pelana. Tangan mereka bersentuhan sesaat. Anehnya, sentuhan singkat itu terasa lebih mengganggu daripada hujan deras yang membasahi seluruh tubuhnya.
Mereka segera membawa Thunder ke bawah atap samping pondok. Kemudian masuk ke dalam. Begitu pintu tertutup, suara badai terdengar sedikit mereda. Ellara menghela napas panjang. Ruangan itu sederhana, namun hangat. Ada sofa tua, meja kayu, dan perapian batu besar di sudut ruangan. Noah langsung mengambil beberapa kayu bakar. "Beruntung masih ada persediaan."
Beberapa menit kemudian api mulai menyala. Cahaya oranye memenuhi ruangan menciptakan suasana yang jauh lebih nyaman. Ellara duduk di dekat perapian mencoba menghangatkan tubuh. Pakaiannya basah, rambutnya juga. Begitu pula Noah. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, pria itu tidak terlihat seperti pewaris ranch miliarder. Tidak terlihat seperti pria yang selalu tenang dan mengendalikan segalanya. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang sama-sama terjebak badai di pondok kayu tua, di tengah perbukitan Kentucky.
Di luar, hujan terus mengguyur tanpa tanda-tanda akan berhenti. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke Blackwood Ranch... Ellara menyadari bahwa ia mungkin harus menghabiskan malam bersama Noah Blackwood.