NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PARFUM MAHAL DAN PERUT KOTAK-KOTAK

Malam di Gang Kelinci selalu terasa lebih pengap. Suara jangkrik di sela-sela tumpukan kayu bekas bersahutan dengan deru motor Reyhan yang akhirnya membelah kesunyian Isya. Reyhan turun dari motornya dengan tubuh yang terasa remuk. Pertemuan dengan ibunya tadi siang masih meninggalkan beban di pundaknya, ditambah lagi tas ranselnya kini berisi titipan "modal" dari sang ibu yang cukup berat.

​Tok! Tok! Tok!

​"Assalamu’alaikum," ucap Reyhan dengan suara serak yang tenang.

​Di dalam, Vanya yang sejak tadi mondar-mandir seperti macan dalam sangkar langsung melompat menuju pintu. "Kum salam!" sahutnya dengan nada yang jauh dari kata ramah. "Itu si Begal baru pulang!" gerutunya pelan sebelum membuka pintu sedikit.

​Begitu pintu terbuka celah, Vanya langsung meluncurkan serangan verbal. "Heh! Kamu jam segini baru pulang?! Kamu tahu tidak, seharian aku di sini seperti tahanan? Tadi aku diserang oleh orang aneh, perempuan desa tidak tahu diri yang marah-marah menghina aku! Dia bawa rantang tapi bicaranya seperti racun!"

​Reyhan hanya diam. Ia menatap wajah Vanya yang merah padam. Baginya, ocehan Vanya hanya seperti kicauan burung yang terganggu wilayahnya. Ia tidak menanggapi, matanya justru beralih ke arah celah pintu yang masih tertutup setengah oleh tubuh Vanya.

​"Buka dulu pintunya. Biarkan aku masuk, jangan menghalangiku," kata Reyhan datar. Ia melirik tubuh Vanya yang hanya terbalut kemeja flannel miliknya—yang secara tidak sengaja mempertegas lekuk tubuhnya saat ia berdiri menantang. "Nanti kena sentuh... aku kena sanksi lagi. Aku tidak mau masuk penjara hanya karena tidak sengaja menabrakmu."

​Vanya mendengus keras, namun ia membukakan pintu lebar-lebar dengan kasar. Saat Reyhan masuk, pria itu bergerak sigap hendak menutup pintu di belakangnya. Karena jarak mereka sangat dekat, Vanya yang diliputi ketakutan dan prasangka refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan gerakan melindungi diri.

​"Heh! Jangan kurang ajar ya! Mau apa kamu?!" pekik Vanya ketakutan.

​Reyhan berhenti sejenak, tangannya yang memegang gagang pintu terdiam. Ia menatap Vanya dengan tatapan 'apa-apaan-kamu'. Tanpa berkata apa-apa, Reyhan melanjutkan gerakannya menutup pintu hingga terdengar bunyi klik kunci.

​Vanya membeku. Ia baru tersadar bahwa Reyhan hanya ingin menutup pintu agar privasi mereka terjaga, bukan ingin menyerangnya. Wajahnya seketika panas karena malu, namun ia mencoba menutupi rasa canggung itu dengan wajah yang makin galak.

​Reyhan melepaskan jaket ojolnya yang penuh debu jalanan, lalu membuka sepatunya. Ia meletakkan tas ransel berisi uang dari ibunya di atas meja kayu dengan hati-hati, seolah itu adalah benda paling berharga. Ia lalu mengambil gelas, mengisi air putih, dan meneguknya hingga tandas seolah baru saja melintasi gurun pasir.

​Tanpa memedulikan Vanya yang masih berdiri mematung, Reyhan mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi.

​"Heh! Kamu dengar tidak sih?!" bentak Vanya, merasa diabaikan.

​Reyhan berhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Ia berbalik perlahan, wajahnya terlihat misterius dalam temaram lampu neon. "Dengar ya, Nona Manja," suara Reyhan rendah namun berwibawa. "Namaku Reyhan. Kamu boleh panggil aku Rey, bukan 'Heh'. Dan ingat, meski ini karena paksaan, secara hukum agama saat ini aku adalah suamimu. Seharusnya sebagai istri, sambut suaminya tidak begitu. Kasih senyuman, kasih air minum, bicaranya yang lembut... Oke? Kamu mengerti?"

​Reyhan menjelaskan itu tanpa sedikit pun nada amarah. Ia berbicara seperti seorang kakak yang sedang mendidik adiknya yang nakal. Ia sadar, watak Vanya yang keras dan kasar ini terbangun karena timbunan kekayaan yang membuatnya merasa orang lain bisa dibeli. Reyhan tahu itu, karena dulu... ia pernah menjadi sosok yang sama.

​"Kamu suami kontrak! Bukan suami untuk seumur hidup!" balas Vanya dengan sisa-sisa harga diri.

​"Iya, tapi kontraknya baru ditandatangani tadi pagi dan belum habis. Berarti saat ini, detik ini, aku masih suamimu secara sah," pungkas Reyhan sebelum menutup pintu kamar mandi.

​Vanya terdiam seribu bahasa. Kalimat Reyhan barusan seolah membungkam lidahnya yang biasanya tajam. Ia menghentakkan kakinya ke lantai semen dengan kesal, lalu masuk ke dalam kamar.

​Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Reyhan keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya menuju kamar untuk mengambil baju. Vanya yang sedang duduk di atas kasur spontan menoleh ke arah pintu yang terbuka.

​Matanya membelalak. Ia tertegun melihat sosok di depannya. Di balik jaket ojol yang dekil itu, ternyata tersimpan tubuh yang sangat terawat. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan perutnya... kotak-kotak sempurna seperti model majalah kebugaran.

​Badan begal ini bagus juga... perutnya kotak-kotak. Tidak seperti Derian yang kembung kebanyakan minum bir, batin Vanya tanpa sadar. Matanya tak berkedip mengikuti gerakan otot punggung Reyhan saat pria itu meraih baju koko dari dalam lemari.

​Reyhan sadar sedang diperhatikan. Ia menoleh sedikit, mendapati Vanya yang menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

​"Kenapa? Suka?" goda Reyhan sambil menaikkan satu alisnya. "Melihat tubuhku seperti mau menerkam saja."

​"Eh! Anu... apaan sih! Pede banget kamu!" Vanya langsung membuang muka ke arah dinding, jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. "Siapa juga yang mau sama ojol bau keringat, begal lagi!"

​"Aku sudah mandi, tidak bau keringat lagi," sahut Reyhan tenang. Ia memakai baju kokonya dengan santai.

​Lalu, sebuah suara psssst-psssst terdengar. Reyhan menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma maskulin yang mewah, dingin, dan elegan seketika memenuhi kamar sempit itu. Wanginya begitu dominan, mengalahkan bau apek kamar tersebut.

​Vanya menghirup aroma itu dalam-dalam secara tidak sadar. Ini parfum mahal. Aku tahu merk ini, harganya jutaan. Kenapa dia punya ini?

​Reyhan kini sudah rapi dengan baju koko putih bersih dan sarung yang tersampir rapi. Ia mengenakan peci hitam yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan bersih. Ia menghamparkan sajadah di sudut kamar yang menghadap kiblat.

​"Kenapa? Aneh melihatku seperti ini? Kalau mau puji, bilang saja," ucap Reyhan tanpa menoleh saat ia mulai mengangkat tangan untuk Takbiratul Ihram.

​"Hiih! Amit-amit! Kamu sengaja ya memancing-mancing? Maaf ya, Bang Begal, aku tidak pernah tertarik sama kamu!" ketus Vanya, meski matanya tetap tak bisa berpaling.

​Saat Reyhan mulai sholat, Vanya hanya bisa duduk diam di kasur. Ia menatap punggung suaminya yang sedang bersujud. Dalam balutan baju koko dan peci, Reyhan terlihat... sangat tampan. Ada aura ketenangan dan kesalehan yang terpancar, seolah ia bukan pria yang sama yang tadi siang mengendarai motor matik butut.

​Dia tampan banget kalau pakai peci begitu. Kelihatannya sholeh sekali... Vanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Gak! Gak! Jangan sampai aku kena hipnotis dia! Penjahat seperti dia pasti banyak triknya. Dia bisa merampok tanpa memaksa, hanya lewat wajah dan sikap pura-puranya ini!

​Vanya menggigit bibirnya. Rasa curiganya masih besar, namun benteng pertahanannya mulai goyah oleh hal-hal sepele: wangi parfum, perut yang atletis, dan lantunan ayat suci yang kini mulai dibacakan Reyhan dengan suara rendah namun merdu.

​Ia tidak tahu, bahwa di dalam tas ransel yang diletakkan Reyhan di meja luar, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan hidupnya. Dan di luar sana, dalam kegelapan Gang Kelinci, sepasang mata masih terus mengawasi, menunggu instruksi untuk bertindak.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!