"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 6: Retakan Takdir dan Rahasia di Balik Cangkang
Malam di Hutan Seribu Pedang tidak pernah benar-benar gelap.
Sisa-sisa energi pedang yang tertanam di tanah memancarkan pendaran cahaya perak redup, menciptakan suasana mistis sekaligus mematikan.
Bau amis darah dari pembantaian murid Sekte Awan Biru masih menggantung di udara, namun anehnya, tidak ada satu pun binatang buas yang berani mendekat.
Tekanan aura yang ditinggalkan oleh Ling Chen telah menciptakan zona mati yang absolut.
Ling Chen kembali duduk bersila di samping telur misterius yang kini cahayanya semakin terang.
Serigala Perak Langit, yang kini telah pulih sepenuhnya, berjaga dengan setia di batas lingkaran cahaya.
Matanya yang tajam terus memantau kegelapan, telinganya bergerak-gerak menangkap setiap getaran suara sekecil apa pun.
Sambil menunggu telur itu menetas, Ling Chen memejamkan mata.
Ia membiarkan jiwanya berkelana ke masa lalu, ke sebuah masa di mana ia berdiri di atas hamparan bintang, memegang pedang yang sanggup membelah dimensi.
“Kenapa aku dikhianati?” pertanyaan itu selalu muncul di benaknya. Ia mengingat wajah saudara angkatnya, orang yang ia percayai untuk menjaga punggungnya dalam Perang Dewa.
Senyum ramah yang ternyata menyimpan belati beracun. Pengkhianatan itu bukan hanya tentang kekuasaan, tapi tentang rahasia Kitab Kehampaan Pedang yang kini bersemayam di jiwanya.
"Mereka pikir dengan membunuh ragaku, mereka bisa memiliki kekuatanku," gumam Ling Chen pelan.
Senyum dingin tersungging di bibirnya. "Mereka tidak tahu bahwa esensi dari pedang bukan berada pada benda, melainkan pada kehampaan itu sendiri."
Ia mulai menggerakkan jarinya di udara, membentuk segel-segel energi yang rumit. Cahaya biru keluar dari ujung jarinya, meresap ke dalam tanah. Ia sedang membangun sebuah Formasi Pengumpul Roh Sembilan Bintang.
Untuk mencapai target kekuatan yang ia inginkan dalam waktu singkat, ia tidak bisa hanya mengandalkan meditasi biasa. Ia harus "memaksa" alam semesta memberikan energinya.
Tiba-tiba, suara retakan halus terdengar. Krak.
Serigala Perak Langit seketika berdiri tegak, mengeluarkan suara desisan waspada. Ling Chen membuka matanya.
Perhatiannya terfokus sepenuhnya pada telur ungu misterius tersebut. Cahaya ungu yang tadinya redup kini berdenyut kencang seperti detak jantung.
Retakan itu menyebar dengan cepat, membentuk pola seperti jaring laba-laba.
Aura panas yang luar biasa tiba-tiba meledak keluar, menyapu kabut dingin di sekitar mereka. Tanah di bawah telur itu mulai menghitam karena panas yang ekstrim.
Krak! BUM!
Cangkang telur itu meledak menjadi ribuan kepingan cahaya. Di tengah kawah kecil yang terbentuk, tampak sesosok makhluk kecil yang masih basah dengan cairan bening.
Bukannya seekor naga atau burung phoenix seperti yang mungkin dibayangkan orang, makhluk itu berbentuk seperti seekor kucing kecil berbulu hitam legam, namun dengan sepasang sayap kecil yang masih kuncup dan ekor yang berakhir dengan ujung tajam seperti mata panah.
Namun, yang paling mengejutkan adalah matanya. Begitu makhluk itu membuka mata, tampak sepasang mata berwarna emas yang memancarkan kebijaksanaan dan kekejaman kuno.
"Seekor Shadow Void Beast?" Ling Chen sedikit terkejut.
"Makhluk yang seharusnya punah saat zaman kuno berakhir... kenapa telurnya bisa ada di tempat terpencil seperti Jombang?"
Makhluk kecil itu mengeluarkan suara kicauan halus, menatap Ling Chen dengan penuh rasa ingin tahu. Ia tidak tampak takut.
Sebaliknya, ia melompat kecil dan mendarat di bahu Ling Chen, mengendus lehernya sebelum akhirnya mendengkur dengan nyaman.
Ling Chen tertawa rendah. "Jadi, kau mengenaliku? Baguslah. Di dunia yang baru ini, kita berdua adalah sisa-sisa dari masa lalu yang terlupakan."
Sementara itu, di luar Hutan Seribu Pedang, berita tentang pembantaian Grand Elder Zhao dan pasukannya telah menyebar seperti api yang ditiup angin kencang.
Di aula utama Sekte Awan Biru, suasana sangat mencekam.
Seorang pria paruh baya dengan aura yang jauh lebih kuat dari Zhao, duduk di singgasana tertinggi. Ia adalah Sect Master Yun, penguasa tertinggi di wilayah tersebut.
Wajahnya gelap gulita, tangannya meremas sandaran kursi hingga hancur menjadi abu.
"Seorang pemuda bernama Ling Chen... memusnahkan satu batalion elit dan seorang Grand Elder sendirian?" suara Sect Master Yun terdengar rendah namun bertenaga, membuat para tetua di bawahnya menundukkan kepala ketakutan.
"Benar, Sect Master," jawab seorang murid yang berhasil selamat dengan gemetar.
"Dia tidak manusiawi. Pedangnya hitam seperti kegelapan, dan gerakannya... kami bahkan tidak bisa melihatnya."
"Keluarga Ling di Jombang harus bertanggung jawab!" teriak salah satu tetua.
"Kita harus meratakan kota itu jika mereka tidak menyerahkan Ling Chen!"
"Diam!" bentak Sect Master Yun.
"Jika dia bisa membunuh Zhao, berarti dia setidaknya berada di puncak Alam Fondasi atau bahkan Alam Inti Emas. Mengirim lebih banyak murid hanya akan mengantarkan nyawa. Aku akan menghubungi Aliansi Tiga Sekte Besar. Kita tidak bisa membiarkan variabel seperti dia tumbuh lebih kuat."
Kembali di hutan, Ling Chen tidak peduli dengan badai politik yang ia ciptakan. Ia tahu bahwa kekuatannya saat ini masih sangat jauh dari kata cukup.
Ia perlu meramu sebuah cairan khusus untuk memperkuat fisiknya sebelum ia bisa menggunakan teknik pedang ketiga.
"Serigala, carikan aku Bunga Darah Hitam dan Inti Kristal Angin," perintah Ling Chen.
Serigala perak itu melesat pergi ke kedalaman hutan tanpa ragu.
Sementara itu, si kecil hitam di bahu Ling Chen—yang kini ia beri nama Kuro—mulai menunjukkan kemampuannya.
Kuro menghirup udara, dan energi pedang di sekitarnya yang tadinya liar tiba-tiba terserap ke dalam tubuh kecilnya, lalu ia hembuskan kembali menjadi energi murni yang jauh lebih lembut untuk diserap Ling Chen.
"Luar biasa. Kau adalah filter energi alami," puji Ling Chen.
Selama beberapa hari ke depan, Ling Chen tenggelam dalam proses alkimia sederhana dan meditasi tingkat tinggi. Ia meminum ramuan pahit yang ia buat, membiarkan energi panas membakar meridiannya berkali-kali.
Setiap kali ia merasa akan pingsan, ia mengingat wajah-wajah pengkhianat di masa lalunya, dan kekuatannya kembali bangkit.
Di akhir hari ketujuh, sebuah ledakan energi keluar dari tubuh Ling Chen. Auranya yang tadinya tajam kini menjadi lebih tersembunyi, seolah-olah ia adalah pedang yang masuk kembali ke sarungnya.
Namun, siapa pun yang ahli akan tahu bahwa pedang yang tersarung justru jauh lebih mematikan.
"Alam Fondasi tahap menengah," gumam Ling Chen.
"Dalam tujuh hari, aku melompati tiga tingkatan kecil. Jika orang lain tahu, mereka mungkin akan mati karena iri."
Ia berdiri, menatap ke arah luar hutan. Ia bisa merasakan ribuan aura sedang mendekat menuju wilayah Jombang.
"Sekte Awan Biru, kalian benar-benar tidak sabar untuk binasa," ucapnya sambil membelai gagang pedang hitamnya.
"Mari kita buat Jombang menjadi tempat peristirahatan terakhir kalian."
Dengan langkah yang ringan namun mantap, Ling Chen keluar dari hutan, diikuti oleh Serigala Perak yang gagah dan Kuro yang bersembunyi di dalam jubahnya.
Perjalanan menuju puncak kembali dimulai, dan darah akan menjadi cat yang melukis jalannya.