Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Finding You, Alicia
Hari berganti.
Hari ini, 31 Desember, akhir tahun. Sama seperti beberapa hari sebelumnya. Pagi ini Alina sudah sibuk dengan perannya sebagai pembantu pengganti kediaman Vincent Louis Oliver. Rumah sudah bersih. Sarapan sudah siap. Tinggal menunggu Vincent berangkat kerja dan dia akan melanjutkan untuk bersih-bersih kamar, halaman, dan kolam renang.
Tak... tak... tak... tak...
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Alina mendongak. Pria tampan dengan rahang tegas dan mulus tanpa jambang serta kumis. Tubuhnya tinggi tegap dengan bahu yang lebar. Terlihat sangat gagah dengan balutan jas kemeja mahal, dasi, celana panjang yang mahal dan sepatu pantofel yang mengkilap.
"Selamat pagi, Tuan. Sarapannya sudah siap," ucap wanita itu.
Vincent tak menjawab. Laki laki itu menarik salah satu kursi kosong di sana dan mendudukkan tubuhnya. Alina mendekat. Diletakkannya sepotong sandwich daging di hadapan sang majikan. Tak lupa, segelas susu putih hangat ia jadikan teman untuk mengisi perut Vincent Louis Oliver sebelum berangkat bekerja.
"Silahkan, Tuan," ucap wanita itu. Lagi lagi Vincent tak menjawab. Ia menarik piring itu agar lebih dekat padanya. Sedangkan Alina nampak mundur satu langkah. Ia berdiri di samping meja makan di sana guna menemani sang majikan menyantap sarapan paginya.
Alina merasakan gerah. Ia sebenarnya sudah mandi sejak sebelum subuh tadi. Namun aktivitasnya yang padat membuat keringat itu mulai bercucuran. Gadis itu kemudian menggerakkan tangannya. Ia melepas ikat rambutnya yang mulai berantakan. Ia kemudian menyisir helaian benda hitam panjang itu agar lebih rapi, lalu mengikatnya kembali. Hal itu rupanya tak luput dari pandangan Vincent. Laki laki itu diam sejenak menikmati pemandangan pagi di hadapannya itu. Gadis kampung yang polos, mengikat rambut tepat di hadapannya dengan latar belakang sorot sinar matahari yang cerah. Berhasil membuat siluet lekuk tubuh ramping sempurna milik sang asisten rumah tangga.
Vincent mengangkat dagunya. Ah, ia jadi ingat, ia pernah menyentuh gadis itu. Ia lah yang mendapatkan mahkota gadis polos itu.
Ck! Vincent, apa yang kau pikirkan? Dia hanya gadis kampung yang tidak kau kenal. Kejadian malam itu juga hanya sebatas kecelakaan. Tidak perlu diingat ingat lagi.
Vincent menggelengkan kepalanya samar. Ia pun lantas memulai santap paginya.
"Malam ini malam tahun baru. Aku mengizinkanmu pergi malam ini jika ingin merayakan pergantian tahun bersama temanmu," ucap pria itu seraya melahap sandwich nya.
Alina tersenyum tipis. "Saya tidak akan kemana-mana, Tuan," ucapnya. "Saya tidak punya kenalan di kota ini."
Vincent melirik sekilas. "Oh, ya? Satupun?"
Alina mengangguk.
"Baiklah kalau begitu," Vincent bangkit dari duduknya. "Aku berangkat dulu."
Laki-laki itupun bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia kemudian berangkat ke kantornya menggunakan sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Pak Supri.
Kurang lebih setengah jam perjalanan, mobil hitam itu tiba di sebuah bangunan tinggi bertuliskan The Oliver Grup. Sang CEO muda itu keluar dari mobilnya lalu mengayunkan kakinya masuk ke dalam bangunan tinggi itu.
Selayaknya para pemimpin perusahaan-perusahaan besar lainnya, sepanjang kakinya melangkah sapaan hangat dari para karyawannya terus ia terima. Namun dari semua itu tak ada satu pun yang Vincent pedulikan. Ia terus melangkah. Tanpa senyuman, tanpa jawaban.
Ting...
Pintu lift terbuka. Vincent tiba di lantai atas tempat dimana ruang kerjanya berada.
"Selamat siang, Tuan!" sapa seorang sekretaris bernama Talita. Vincent lagi lagi tak menjawab. Bos yang memang dikenal sangat dingin dan tegas itu bahkan sama sekali tak menoleh ke arahnya. Ia terus mengayunkan kakinya menuju ruangannya. Hingga tiba-tiba...
Ting...
Ponsel di saku jas Vincent berbunyi. Pertanda ada sebuah pesan masuk. Laki-laki itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerjanya. Dirogohnya saku jas itu lalu mengeluarkan ponselnya.
"Hari ini Alicia ada di club X. Dia ada di sana untuk merayakan pesta pergantian tahun. Lu bisa datang ke sana kalau lu mau ketemu dia," bunyi sebuah pesan yang rupanya dari Dion.
Vincent diam sejenak. Ia mengangkat dagunya lalu menarik satu sudut bibirnya. "Aku menemukanmu, Alicia," gumamnya.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/