Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Suara langkah terdengar dari dapur, Feryal berdiri disana masih dengan kaos longgar dan rambut yang diikat asal ia menuangkan air ke dalam gelas yang ia ambil dari rak. Dan tak lama ia menyalakan kompor berniat untuk memasak mie instan untuk ia santap saat ini, perutnya yang sedang terasa lapar tanpa melibatkan perasaan.
Pintu kamar terbuka Syahira keluar dengan mukena yang masih tersampir dibahunya, kedua netranya langsung tertuju ke dapur.
"Kak, udah bangun?"
"Dari tadi."
"Aku bikinin teh ya?"
"Udah."
"Itu,..kakak lagi masak apa?"
"Masak mie, lagi pengen aja" Feryal mendorong mangkok mie yang baru saja selesai ia buat ke arah Syahira. "Mau, nih"
"Enggak ah, kakak aja" Feryal mengangguk dan langsung menyeruput mienya lagi dengan lahapnya.
Seketika hening terasa, namun Syahira bingung harus mulai dari mana, ia menatap kakaknya seolah ada yang berbeda.
"Kak?"
"Hmm"
"Enggak jadi deh"
"Kenapa?"
"Aku ngeliat kakak kayak lelah banget"
"Biasa aja" jawaban yang sama selalu seperti itu, padahal yang ia lihat seolah sebaliknya tidak ada yang biasa saja Syahira menggigit bibirnya pelan.
Ditempat lain, Bilal duduk diruang dosen dengan tangannya yang tak lepas memegang buku ataupun kitab, terbuka tapi tidak dibaca,..pikirannya terasa penuh yang ia rasakan saat ini..
Bayangan itu lagi, kantin, wajah Syahira dan tawanya apalagi saat dirinya melihat ada laki laki di depannya yang juga muridnya sendiri.
Rahangnya mengeras, dan tangannya langsung menutup buku dengan cepat dan pelan. "Astaghfirullah,.." bisiknya lirih.
"Enggak boleh kayak gini, aku harus menjaga mata dan hatiku, ini tidak benar ya Allah"
***
Matanya terpejam namun tanpa sadar nama itu muncul lagi "Feryal" yang terlintas dalam ingatannya adalah wajah datar tanpa senyum, tidak ada kenangan indah bersamanya. Hanya itu.
Bilal membuka kedua netranya dengan napas berat, "apa,..aku yang menjauh duluan?" pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Area kampus kembali hidup, mahasiswa berlalu lalang, ada yang sambil ngemil camilan ada juga yang jalan sambil baca dan membetulkan kacamatanya, suara riuh tawa canda mereka kembali memenuhi koridor.
Syahira berjalan bersama Calysta, hari ini todak seperti biasanya seolah hari ini pikirannya begitu penuh namun sulit dijelaskan dengan kata kata. "Lo kenapa sih dari tadi diem aja?"
"Enggak, kenapa napa."
"Haish biasa banget elo mah Ra" celetuk Calysta tanpa ingin banyak berdebat.
"Eh sya itu tuh,.." kedua netranya mengarah ke Haikal yang seperti sudah menunggu kehadirannya.
"Suara, gue duluan ya ke kelas sebelah"
"Lah,..gue ditinggal" Calysta pergi begitu saja dengan sengaja, meninggalkannya untuk memberi ruang pada keduanya.
Syahira hanya menghela napas pelan, namun langkahnya tetap maju tidak berhenti. "Sya" sapanya.
Haikal langsung berlari kecil ke arahnya dengan senyum yang mengembang.
"Pagi"
"Pagi" sahut Syahira singkat
"Aku tungguin dari tadi tau, eh akhirnya datang juga" ucap Haikal.
"Kenapa?"
"Mau bareng aja"
Deg. Syahira hanya diam seraya mengangguk.
"Oh yaudah,..ayo" keduanya pun berjalan berdampingan tapi masih ada jarak diantara keduanya. "Elo udah hafal sampai mana?"
"Yang mana?
"An Naziat, tadi malam sih lumayanlah"
"Wii cepet juga"
"Dosennya killer soalnya ya hehe jadi ngebut"
"Ehmm enggak juga sih, lebih ke bikin kita balik mikir aja" Haikal mengangguk faham.
Dilantai dua seseorang berdiri diam menatap ke bawah, keduanya tak lepas dari menatap Syahira dan Haikal, namun kali ini ia tidak melepaskan pandangannya, malah menatapnya lebih lama dan semakin jelas.
Seolah ada sesuatu rasa didadanya yang membuatnya rasa itu seharusnya tidak boleh ada. Tangannya mengepal namun perlahan dilepas lagi, "Cukup,..tidak boleh" ia langsung memalingkan wajahnya lagi, dan membalikan tubuhnya melangkah cepat dan menjauh.
Diparkiran motor hitam mewah sudah bertengger tegak, dengan sang pemiliknya yang selonjoran santai, namun tatapannya datar dan fokus dari kejauhan lagi lagi ia melihat Syahira dan Haikal.
Rahangnya tiba tiba saja mengeras bukan tanpa sebab yang jelas, karena sejatinya ia bukanlah cemburu namun ada rasa peduli hanya ingin melindungi.
Kaizan melihat ke.arah lantai dua, ia hanya geleng kepala seraya tersenyum tidak suka, ia malah terlintas wajah Feryal dan mengingat kembali sisi lain dari sosok itu yang begitu tulus yang mungkin suaminya sendiri tidak mengetahuinya.
"Enggak bersyukur Bilal Bilal, punya bini secantik itu, setulus itu elo sia siain, sekarang elo malah ngelirik adenya,.." batin Kaizan tidak habis pikir.
Meninggalkan Kaizan yang mendengus kesal, langit semakin redup, hari ini Bilal disibukkan dengan banyaknya aktivitas. Karena selain menjadi dosen disatu kampus ia pun berpindah ke kampus lainnya mengajar para mahasiswa yang rata rata berusia diatas tiga puluh tahun.
Bahkan ia juga masih melanjutkan studinya secara online demi memperdalam ilmu yang membahas tuntas tentang keyakinannya tersebut.
Tak jarang ia berdiskusi dengan berbagai elemen dan mendapatkan kehormatan menjadi tamu penting disalah satu acara keagamaan.
Hari ini Bilal pulang terlambat, dirumah sudah ada Feryal yang menyempatkan waktu untuk pulang ke rumahnya.
Pintu rumah terbuka dengan pelan sampai suara decitannya pun terdengar. Feryal menoleh ia sudah cukup tau siapa yang datang. Karena aroma nafasnya dan parfum yang menempel ditubuh sosok itu pun begitu familiar di indra penciumannya.
"Udah pulang?"
"Hm"
"Udah makan?"
"Udah"
"Maaf aku terlambat pulang, tadi banyak banget kerjaan"
"Iya enggak apa apa" selepasnya tidak ada obrolan lagi diantara keduanya. Bilal menghela nafasnya, dan tak lama saat Feryal hendak menuju kamarnya Bilal langsung menghentikan langkahnya.
"Fer" sapa Bilal dan Feryal langsung menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arahnya.
"Iya" sahutnya singkat. Mendongak menatap Bilal suaminya itu.
"Kita perlu ngobrol"
"Ngobrolin apa?" tanyanya.
Deg. Seketika yang ingin ia ucapkan malah buyar, blank seketika. Bilal hanya terdiam tanpa kata. membuat Feryal hanya bisa menarik nafasnya seraya menghembuskannya perlahan.
"Enggak ada kan, yaudah" ucap Feryal ia langsung melangkah lagi menuju kamarnya. Dan membanting tubuhnya ke atas kasur big size miliknya.
Meninggalkan Bilal sang suami yang kini berdiri mematung. Bilal mendengus kesal namun kali ini entah kenapa dirinya bukan marah pada Feryal malah Bilal menyalahkan dirinya sendiri.
"Kenapa kita semakin jauh Fer,..?"
"Apa aku yang menjauh dari kamu?," kembali Bilal menyusulnya ke kamar.
Pintu ia buka perlahan melihat Feryal yang sedang memainkan ponselnya, ia berjalan mendekat ke arahnya. "Feryal, aku mau tanyabsatu hal sama kamu?"
"Apa, ngomong aja mas?"
"Kamu masih nyaman sama aku?"
Deg.
Feryal menoleh dan menatap Bilal, ia tidak langsung menjawab, ia hanya menarik nafasnya perlahan seraya menghembuskannya perlahan.
"Nyaman atau tidak itu tergantung, sendirinya gimana?, mas masih nyaman sama aku?"
Deg. Tanpa Bilal duga pertanyaan itu membuatnya terdiam tanpa bisa menjawabnya. Rahangnya mengeras namun ia sulit untuk berucap. Ia hanya mengeratkan tangannya pada alas ranjang yang ia duduki saat ini bersama Feryal.