Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: DARAH DAN PERTAHANAN TERAKHIR
Suara langkah kaki di luar gua itu terdengar semakin berat, beradu dengan suara tetesan air yang jatuh dari bebatuan. Arlan memberi isyarat agar Arumi tetap diam di sudut terdalam gua yang gelap. Nafas Arumi tertahan, tangannya mendekap Leon sedemikian rupa hingga detak jantungnya sendiri terasa beradu dengan detak jantung kecil sang bayi.
"Aku tahu kalian di dalam!" sebuah suara serak berteriak, diikuti oleh sorot lampu senter yang memotong kegelapan mulut gua.
Arlan bangkit berdiri. Meski kepalanya masih berdenyut dan darah kering menempel di pelipisnya, auranya berubah seketika. Jika biasanya ia adalah predator di ruang rapat, kini ia adalah singa yang tersudut di dalam sarangnya. Ia tidak memiliki senjata api, hanya sebuah batu tajam dan amarah yang murni.
"Tetap di sana, Arumi. Jangan bergerak apapun yang terjadi," bisik Arlan tanpa menoleh.
Tiga orang pria berseragam hitam masuk. Mereka bukan pengawal biasa; gerakan mereka taktis dan efisien. Pria terdepan menyeringai saat melihat Arlan. "Tuan Arlan Arkananta.
Menyedihkan sekali melihat sang penguasa bisnis bersembunyi di lubang tikus seperti ini."
"Siapa yang mengirim kalian?" suara Arlan terdengar dingin, stabil meskipun situasinya kritis. "Bram? Atau ibuku?"
"Bukan urusanmu. Tugas kami hanya membawa 'paket' itu," pria itu menunjuk ke arah Arumi dan Leon, "dan memastikan kau tidak lagi menjadi penghalang bagi rencana besar Nyonya Siska."
Arumi tersentak. Siska? Wanita glamor yang datang tadi siang? Ternyata dendam wanita itu jauh lebih dalam dari sekadar laporan pada ibu Arlan. Ia ingin melenyapkan Arlan dan mengambil Leon sebagai alat tawar menawar.
"Langkahi mayatku dulu," desis Arlan.
Pertarungan pecah dalam sekejap. Pria pertama menerjang dengan pisau lipat. Arlan berkelit dengan kecepatan yang mengejutkan bagi seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, menghantamkannya ke dinding gua, dan merebut pisaunya. Namun, dua pria lainnya tidak tinggal diam. Mereka menyerang Arlan secara bersamaan.
Arumi hanya bisa melihat bayangan-bayangan yang bertarung di bawah kilatan petir yang masuk melalui celah gua. Ia mendengar suara pukulan, erangan kesakitan, dan deru nafas yang memburu. Saat Arlan terdesak dan satu tendangan mendarat di perutnya hingga ia tersungkur, Arumi menjerit tertahan.
"Tuan Arlan!"
Salah satu penyerang melihat celah dan melangkah menuju Arumi. "Kemarikan bayinya, Nona. Kau tidak perlu ikut mati hari ini."
"Jangan sentuh dia!" Arumi berteriak. Ia meraih segenggam pasir dan tanah basah dari lantai gua, lalu melemparkannya tepat ke mata pria itu.
Saat pria itu mengerang karena matanya perih, Arumi tidak lari. Ia menggunakan tubuhnya untuk mendorong pria itu sekuat tenaga hingga ia terjengkang ke arah stalagmit yang tajam.
Arlan, melihat keberanian Arumi, seolah mendapatkan kekuatan tambahan. Ia bangkit, meluncurkan serangkaian pukulan yang menghancurkan pertahanan lawan terakhirnya. Dalam beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ketiga pria itu terkapar di lantai gua.
Arlan berdiri terengah-engah, tangannya bersimbah darah—entah darahnya sendiri atau darah lawannya. Ia menatap Arumi yang masih memeluk Leon dengan tubuh bergetar hebat.
"Kau... kau berani sekali," gumam Arlan, menatap Arumi dengan pandangan baru.
Mereka tidak bisa menetap di sana. Arlan tahu rekan-rekan penyerang itu pasti ada di sekitar hutan. Dengan bantuan cahaya bulan yang samar setelah hujan mereda, mereka mulai mendaki kembali melalui jalur yang berbeda.
"Kita harus mencapai jalan lama di balik bukit ini. Ada pondok pemburu milik kenalanku di sana," Arlan memimpin jalan, tangannya memegang tangan Arumi agar wanita itu tidak tergelincir.
Hutan itu sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun. Leon, seolah mengerti situasi hidup dan mati ayahnya, tetap diam dalam tiduran pulasnya yang melelahkan. Perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam. Arumi merasa kakinya hampir mati rasa, namun ia menolak untuk mengeluh. Setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia menatap wajah Leon yang damai, dan kekuatannya kembali.
Saat fajar mulai menyingsing, mereka sampai di sebuah pondok kayu kecil yang tersembunyi di rimbunnya pohon pinus. Arlan segera membukanya dengan kunci rahasia di bawah papan lantai.
Di dalam, suasananya sangat sederhana namun hangat. Arlan segera menyalakan perapian kecil. Arumi jatuh terduduk di atas tikar tua, nafasnya terengah. Ia segera memeriksa Leon lagi. Bayi itu mulai menggeliat, lapar.
"Susuilah dia," ucap Arlan lembut. Ia berbalik, memberi ruang bagi Arumi.
Sambil menyusui Leon, Arumi menatap punggung Arlan yang kini duduk di depan perapian. Kemeja putih pria itu sobek dan penuh noda lumpur serta darah. Pria yang biasanya tampak tak terjangkau itu kini terlihat begitu rapuh namun sekaligus sangat melindungi.
"Kenapa Siska menginginkan Leon, Tuan?" tanya Arumi setelah suasana mulai tenang.
Arlan menghela nafas panjang, asap tipis keluar dari mulutnya karena udara dingin. "Siska tahu bahwa jika Leon diakui sebagai anakku, maka dia tidak akan pernah bisa menguasai aset Arkananta. Tapi jika dia bisa 'menemukan' Leon dan menyerahkannya pada ibuku sebagai pahlawan, ibuku akan memaksaku menikahinya sebagai bentuk balas budi. Dia ingin menjadi ratu di kerajaan bisnisku, dengan Leon sebagai sanderanya."
"Dia kejam," bisik Arumi.
"Di duniaku, Arumi, kasih sayang adalah barang langka. Semua orang melihat orang lain sebagai angka atau peluang. Itulah sebabnya aku merahasiakan Leon. Aku ingin dia tumbuh tanpa beban itu. Tapi sepertinya, aku gagal melindunginya."
Arumi berdiri, menggendong Leon yang sudah kenyang, dan berjalan mendekati Arlan. Ia duduk di samping pria itu. "Anda tidak gagal, Tuan. Anda masih di sini. Kami masih di sini. Itu adalah kemenangan."
Arlan menoleh, menatap mata Arumi. Jarak di antara mereka sangat dekat hingga Arlan bisa mencium aroma lembut susu bayi dan sabun murah yang dipakai Arumi—aroma yang menurutnya jauh lebih memabukkan daripada parfum termahal milik Siska.
"Arumi," suara Arlan rendah dan parau. "Terima kasih."
Itu adalah kata-kata pertama yang tulus yang pernah Arumi dengar dari mulut pria itu. Tidak ada perintah, tidak ada ancaman. Hanya rasa syukur.
Tanpa sadar, Arlan mengulurkan tangannya, menyentuh luka kecil di dahi Arumi akibat benturan di mobil tadi. Arumi tidak menghindar. Sentuhan itu terasa hangat, mengalirkan getaran yang membuat jantungnya berdegup tak menentu.
"Luka ini... seharusnya kau tidak perlu mengalaminya jika bukan karena aku," bisik Arlan.
"Saya melakukannya untuk Leon. Dan untuk... Anda," jawab Arumi berani.
Arlan menatap bibir Arumi yang sedikit pucat karena kedinginan. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk merengkuh wanita ini, untuk melindunginya dari dunia yang kejam ini. Namun, sebelum momen itu berlanjut, suara helikopter terdengar dari kejauhan.
Arlan segera berdiri dan melihat keluar jendela. Helikopter itu memiliki logo Arkananta Group.
"Itu bantuan? Atau musuh?" tanya Arumi cemas.
"Itu tim pribadiku yang dipimpin oleh Raka," Arlan menghela nafas lega. "Bram tidak tahu tentang tim bayangan ini. Kita aman untuk saat ini."
Tim penyelamat datang dengan peralatan lengkap. Raka, pria tegap dengan wajah jujur, segera memberikan laporan bahwa Bram telah melarikan diri dan sedang dalam pengejaran internasional. Siska pun menghilang dari peredaran sejak rencana penculikannya gagal.
Mereka kembali ke Jakarta, namun bukan ke mansion yang lama. Arlan membawa mereka ke sebuah apartemen penthouse dengan keamanan tingkat militer yang paling canggih di pusat kota.
"Mulai hari ini, segalanya berubah," ucap Arlan saat mereka sampai di apartemen baru yang mewah itu. "Kau bukan lagi sekadar perawat atau ibu susu di mataku, Arumi."
Arumi tertegun. "Maksud Anda, Tuan?"
Arlan menatap pemandangan kota dari jendela apartemennya yang megah. "Dunia luar sudah mulai mencium keberadaanmu. Aku tidak bisa lagi menyembunyikanmu sebagai pelayan. Jika kau ingin tetap melindungi Leon, kau harus memiliki identitas baru."
Arlan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas kerjanya. Di sana tertulis nama Arumi, namun di bawahnya tertulis status baru: Asisten Eksekutif dan Tunangan Arlan Arkananta.
"Ini gila!" seru Arumi. "Saya tidak mungkin menjadi tunangan Anda!"
"Ini satu-satunya cara agar ibuku dan orang-orang seperti Siska tidak bisa menyentuhmu atau Leon secara hukum. Sebagai tunanganku, kau memiliki perlindungan penuh dari protokol keluarga Arkananta. Kita akan berpura-pura sampai aku bisa membersihkan semua musuhku. Setelah itu, kau bebas pergi dengan semua uang yang kau butuhkan."
Arumi menatap dokumen itu, lalu menatap Leon yang sedang merangkak di atas karpet bulu yang mahal. Menjadi tunangan seorang Arlan Arkananta berarti masuk ke dalam sarang singa yang sesungguhnya. Ia akan menjadi sorotan kamera, target gosip, dan musuh nomor satu Victoria Arkananta.
"Apakah ini bagian dari kontrak?" tanya Arumi getir.
Arlan berjalan mendekat, berdiri sangat dekat hingga Arumi bisa merasakan panas tubuhnya.
"Bukan. Ini adalah permohonan. Aku butuh kau, Arumi. Leon butuh kau. Tolong, bantu aku menjaga apa yang tersisa dari hatiku."
Arumi melihat kejujuran di mata Arlan. Ia tahu, jika ia menerima ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia bukan lagi Arumi si gadis miskin; ia akan menjadi wanita di samping penguasa Jakarta.
"Baik," bisik Arumi. "Saya terima."
Arlan mengambil sebuah cincin berlian biru dari sakunya—cincin yang seharusnya diberikan pada mantan tunangannya dulu—dan menyematkannya di jari manis Arumi.
"Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, Arumi Arkananta," bisik Arlan.
Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta, sebuah sandiwara terbesar dimulai. Arumi tidak tahu bahwa di balik dinding apartemen itu, Bram sedang menatap layar monitor yang menampilkan foto mereka berdua. "Nikmatilah saat-saat ini, Arlan. Karena penghancuranmu yang sebenarnya baru saja dimulai," gumam Bram di sebuah ruangan gelap di sudut kota.