"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri Pengemis
Aku berdiri. Gerakanku begitu mendadak hingga sofa tua itu berderit keras.
"Tidak," kataku. Suaraku bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang akhirnya meluap dari dadaku.
"Kak?" Lily menatapku bingung, matanya yang penuh harap mulai redup.
"Kami tidak akan ikut," tegasku, menatap Eleanor lalu Ciarán bergantian. "Anda dengar itu? Kami menolak."
Eleanor terperanjat. "Tapi Elara... pikirkan baik-baik. Ini kesempatan—"
"Kesempatan apa? Kesempatan untuk menjadi hewan peliharaan kalian?" potongku kasar. Napasku memburu. "Dua belas tahun yang lalu, kalian membuang kami seperti sampah di depan gerbang kalian. Sekarang, saat kalian merasa bosan atau bersalah, kalian pikir kalian bisa datang ke sini dan memungut kami lagi?"
Aku menunjuk ke arah pintu keluar. "Kami bukan anjing yang bisa kalian tendang saat hujan, lalu kalian panggil pulang saat cuaca cerah hanya karena kalian butuh teman bermain! Kami manusia!"
Eleanor menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bukan begitu maksudku, sayang..."
"Pergi," desisku. "Bawa uang kalian, bawa rasa bersalah kalian, dan pergi dari sini. Kami sudah bertahan hidup tanpamu selama ini, dan kami akan terus bertahan."
Lily mulai menangis di belakangku. "Kak, jangan... aku mau ikut..."
"Diam, Lily!" bentakku tanpa menoleh. "Kita punya harga diri!"
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Suara napasku yang berat terdengar jelas.
Lalu, suara tepuk tangan pelan terdengar.
Satu kali. Dua kali. Lambat dan mengejek.
Ciarán masih duduk di tempatnya. Dia tidak terlihat tersinggung. Dia bahkan terlihat sedikit... terhibur. Dia menatapku dengan kepala sedikit miring, seolah sedang mengamati spesimen serangga yang menarik di bawah mikroskop.
"Pidato yang bagus," kata Ciarán tenang. "Sangat teatrikal. Sangat berapi-api."
Dia berdiri perlahan. Tingginya yang menjulang membuatku harus mendongak. Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan di atas lantai kayu yang berderit, hingga dia berdiri hanya satu meter di depanku.
Aroma parfumnya—sandalwood dan tembakau mahal—kembali menyerbu indra penciumanku, membuatku pusing.
"Kau bicara soal harga diri, Elara," ucapnya lembut, hampir seperti berbisik.
Mata gelapnya turun. Perlahan. Dari wajahku yang merah padam, melewati kaos lusuhku, celana jeans-ku yang pudar, hingga berhenti tepat di kakiku.
Aku refleks ingin menarik kakiku mundur, tapi tubuhku kaku.
"Kau punya harga diri yang sangat tinggi," lanjut Ciarán, suaranya setajam silet, "untuk seseorang yang memakai sepatu dengan lubang di jempolnya."
Darahku membeku.
Mataku mengikuti arah pandangnya. Di sana, di kaki kananku, sepatu kets kanvas murahan yang sudah kupakai selama tiga tahun akhirnya menyerah. Ada lubang kecil di bagian ujung depan, di mana jempol kakiku yang terbungkus kaos kaki abu-abu, yang juga berlubang, terlihat menyembul keluar.
Itu adalah detail kecil. Detail yang remeh. Tapi di hadapan sepatu kulit Ciarán yang mengkilap sempurna tanpa sebutir debu pun, lubang kecil itu terasa sebesar kawah gunung berapi.
Lubang itu berteriak. Lubang itu menertawakanku.
Semua kemarahan yang tadi kubangun, semua argumen tentang martabat manusia yang kulemparkan, runtuh seketika hanya karena satu lubang di sepatu.
Wajahku terasa panas. Bukan panas karena marah lagi, tapi panas karena malu yang membakar sampai ke akar rambut. Aku mencoba menekuk jari kakiku, mencoba menyembunyikan aib itu ke dalam sepatu, tapi Ciarán melihatnya. Dia melihat usahaku yang menyedihkan itu.
Dia mendongak kembali menatap mataku. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang kejam.
"Kau boleh bicara soal harga diri saat kau mampu membeli sepatu yang tidak mempermalukanmu di depan tamu," katanya dingin.
Aku membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku tercekat.
Dia menang. Tanpa berteriak, tanpa memaki, dia baru saja menelanjangiku dan membuktikan bahwa harga diriku tidak lebih berharga dari sepatu rongsokan ini.
...****************...
Mereka pergi lima menit yang lalu.
Suara dengungan mesin Rolls-Royce itu menjauh, membawa pergi Eleanor yang menangis dan Ciarán yang tersenyum menang. Mereka meninggalkan secarik kartu nama putih tebal di atas meja berdebu.
"Kami akan menunggu jawaban kalian sampai besok siang," kata Eleanor sebelum dia dipaksa keluar oleh Ciarán.
Sekarang, ruangan itu sunyi. Jauh lebih sunyi daripada sebelum mereka datang. Hening yang menekan gendang telinga.
Aku berdiri mematung menatap kartu nama itu. Huruf-hurufnya dicetak timbul dengan tinta emas. Elegan. Mahal.
"Kenapa?"
Suara Lily memecah keheningan. Bukan suara ceria yang biasa dia pakai untuk membicarakan bunga liarnya. Ini suara yang pecah, rapuh, dan basah.
Aku berbalik.
Lily berdiri di tengah ruangan, air mata mengalir deras di pipi kotornya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Kenapa Kakak menolaknya?" tanyanya, suaranya naik satu oktaf.
"Kau tahu kenapa, Lily," jawabku lelah, mencoba mengusap wajahku. "Mereka menghina kita. Terutama Ciarán. Dia melihat kita seperti—"
"Aku tidak peduli!" teriak Lily.
Aku tersentak. Lily tidak pernah berteriak padaku. Dia adalah adik yang manis, penurut, dan naif. Tapi gadis yang berdiri di depanku sekarang terlihat seperti orang asing yang putus asa.
"Aku tidak peduli dia melihat kita seperti apa!" jeritnya lagi, melangkah maju. "Aku tidak peduli kalau dia menghina sepatuku! Aku tidak peduli kalau dia menganggap kita sampah!"
"Lily, jaga bicaramu. Kita punya harga diri—"
"Harga diri?!" Lily tertawa histeris, air matanya berhamburan. "Kak, lihat kita! Lihat tempat ini! Kita makan roti basi sisa sampah! Kita minum air keran yang warnanya cokelat! Kita tidur di lantai bersama tikus! Di mana harga dirinya, Kak? DI MANA?!"
Kata-katanya menghantamku seperti pukulan fisik.
"Aku melakukannya untuk melindungimu," kataku, suaraku mulai meninggi, membela diri. "Aku bekerja siang malam supaya kita tidak perlu mengemis pada orang-orang yang membuang Ayah!"
"Dan lihat hasilnya!" Lily menunjuk tubuhnya sendiri yang kurus kering. "Aku lapar, Kak! Setiap hari perutku sakit! Aku kedinginan setiap malam! Aku lelah berpura-pura bahagia menyiram bunga liar padahal yang kuinginkan cuma nasi hangat! Aku lelah lapar, Kak!"
Tangisnya pecah menjadi raungan yang menyayat hati. Dia jatuh berlutut di lantai, memeluk perutnya sendiri seolah menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Tolong, Kak..." isaknya melemah. "Aku cuma ingin makan enak... sekali saja... Aku tidak kuat lagi..."
Aku mematung.
Setiap kata yang dia ucapkan adalah belati yang menusuk jantungku. Aku melihat adikku, darah dagingku, satu-satunya orang yang kucintai di dunia ini, berlutut memohon makanan.
Dan aku sadar, akulah penyebabnya.
Obsesiku pada "harga diri" telah membuatnya kelaparan. Kebencianku pada keluarga Vane telah menjadi penjara baginya.
Tapi rasa sakit itu segera berubah menjadi rasa pahit yang lain. Rasa dikhianati.
Aku sudah mengorbankan segalanya. Aku mencuri sampah demi dia. Aku menelan hinaan bos minimarket demi dia. Aku menjaga kami tetap "bebas" dari orang-orang kaya itu. Dan sekarang, dia membuang semua perjuanganku hanya demi janji makanan enak?
"Jadi kau lebih memilih menjual dirimu demi sepotong roti?" tanyaku dingin.
Lily mendongak, matanya merah dan bengkak. "Aku memilih hidup, Kak. Kakak memilih mati pelan-pelan hanya karena dendam."
Hening.
Kalimat itu menancap telak.
Aku mundur selangkah. Rasanya sesak. Dinding-dinding panti ini tiba-tiba terasa menyempit, mencekik leherku. Aku tidak bisa bernapas di sini. Aku tidak bisa melihat wajah Lily yang menuduhku sebagai kegagalan.
"Baik," bisikku, suaraku bergetar menahan emosi. "Kalau kau begitu ingin menjadi peliharaan mereka, silakan. Ambil kartu itu. Telepon mereka."
"Kak..."
"Jangan panggil aku," potongku. Aku berbalik, menyambar jaket tipisku yang tersampir di kursi. "Aku mau pergi."
"Kak Elara, mau ke mana?" Lily panik, mencoba berdiri.
"Mencari udara," jawabku tanpa menoleh. "Udara di sini terlalu penuh dengan kemunafikan."
Aku berjalan cepat keluar pintu, meninggalkan Lily yang menangis memanggil namaku. Aku menendang pintu depan hingga terbuka kasar, lalu melangkah ke jalanan yang mulai gelap.
Aku berjalan tanpa tujuan. Kemarahan, rasa malu, dan rasa lapar bercampur aduk di perutku menjadi racun yang membakar.
Aku butuh pelarian. Aku butuh melupakan tatapan merendahkan Ciarán dan teriakan lapar Lily.
Dan tanpa sadar, langkah kakiku membawaku menjauh dari panti, menuju pusat kota yang gemerlap namun kejam, menuju gang-gang sempit di mana takdirku yang sebenarnya sedang menunggu dalam bentuk kegelapan yang lain.