NovelToon NovelToon
The Death Mirror

The Death Mirror

Status: tamat
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Model / Obsesi / Tamat
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Richest

Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.

Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.

Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.

Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.

Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?

Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Mayat Kimberly sudah dikembalikan ke keluarganya dan sekarang sedang dalam proses pemakaman.

Michelle mendampingi Edward yang masih dengan mata sembabnya. Dia tampak sesekali menepuk-nepuk pundak lelaki itu.

"Kamu yang sabar ya, Ward. Aku yakin selepas kepergiannya Kim kamu pasti bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik darinya." bisiknya lirih.

Lelaki itu menatapnya sekilas. Hanya mereka berdua saja yang dapat mendengar perkataan Michelle tadi.

Setelah pemakaman Kimberly selesai, Michelle telah kembali ke rumahnya. Orla sudah menunggunya di kamar.

"Astaga" gadis itu memegangi dadanya.

"Kenapa?"

"Kamu membuatku terkejut. Ada apa lagi kamu datang kesini?"

"Aku mau kamu culik mayat Kimberly."

"Untuk apa?"

"Apa kamu tidak mau mayatnya disimpan di rumahmu untuk dijadikan koleksi? Menurutku harusnya seperti itu. Itu bukti kemenangan, Michelle."

Gadis itu terlihat sedang berpikir. Dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Dia memang merasa sangat puas dengan kematian Kim.

"Baiklah, aku akan mengoleksi mayat itu."

"Sepertinya aku akan butuh sebuah ruangan khusus untuk koleksi mayat." tambahnya.

Beberapa hari kemudian,

Edward dan Frans sedang berada di kantor polisi. Mereka sedang diberi penjelasan oleh seorang pak polisi.

"Penyelidikan kasus kematian Nona Kimberly ini sangatlah rumit. Tidak ada bukti apapun yang bisa mendukung proses penyelidikan. Perutnya ditemukan dalam keadaan hancur lebur namun dapat dipastikan itu ulah orang lain. Jika dia bunuh diri, pasti akan meninggalkan senjata atau alat tajam apapun di sana."

"Dan pembunuhnya ini diperkirakan sudah sangat handal. Dia tidak meninggalkan jejak apapun di sana. Jika begini, sulit bagi kami untuk terus melanjutkan proses penyelidikan."

"Rumah anda telah dijaga secara ketat oleh satpam yang bekerja di sana. Kami akan terus mengawasi dan melakukan interogasi semua asisten di rumah anda, termasuk satpam." tambahnya.

Sementara itu, setelah diperiksa kembali, ternyata ada kesalahan yang terjadi pada proses autopsi.

Penyebab kematian Venny yang sebenarnya bukan dikarenakan keracunan makanan. Melainkan disebabkan oleh penyakitnya sendiri.

Claudie sudah tidak ditahan lagi di kantor polisi. Frans dan Edward bertemu gadis itu saat ingin keluar dari sana.

"Claudie?" Frans melihat gadis itu baru saja keluar dari sebuah ruangan.

"Om. Maaf, saya merasa bersalah. Dengan kehadiran saya dan membawa sup ke rumah om, tante Venny jadi meninggal. Maafkan saya, om." ucapnya sambil menangis.

"Tidak, ini bukan salah kamu. Istri saya meninggal karna penyakitnya sendiri. Bukan karna kamu, Clau. Justru saya senang karna sebelum istri saya meninggal kamu sempat berbuat baik kepadanya. Terimakasih, Clau." gadis itu tersenyum.

...****************...

Edward tidak pulang ke rumah karena memang ia belum diperbolehkan untuk pulang. Dia memilih untuk tinggal di apartemen saja.

James tampak habis berbelanja. Dia tak lupa membawakan makanan untuk sahabatnya yang masih dalam suasana berkabung itu.

Dia meletakkan banyak makanan di atas meja. Kemudian mengambil air di gelas untuk diminum.

"Ayo makan, bro. Kalau enggak makan nanti kamu malah sakit."

Lelaki itu diam saja. Dia hanya melirik James sekilas. Dia seperti orang yang tak punya semangat hidup.

"Hmm, apa kamu mau makan masakan aku? Aku kan chef mungkin saja kamu sudah rindu dengan masakanku. Oke. Kalau begitu aku ke dapur dulu ya. Mau masak."

Edward tak menjawab ucapan demi ucapan sahabatnya dengan sepatah katapun. Sementara James kini tampak sedang bersemangat untuk memasak makan malam.

Dia mulai mengupas bawang merah dan bawang putih. Kemudian mengirisnya. Lalu dia akan mengambil air di wastafel.

Saat dia mengambil air, yang dia lihat bukanlah air. Melainkan darah merah segar yang baunya sangatlah tidak enak.

"Hueekk" dia seperti ingin muntah melihat darah segar itu.

Dia merasa heran dari mana munculnya darah merah segar tersebut. Lalu dia lebih memilih untuk memotong daging sapi terlebih dahulu.

Saat dia akan memotong, dia menghentikan niatnya. Dilihatnya itu bukanlah daging sapi. Melainkan kepala Kimberly.

"Kim!!" teriaknya. Dan dia segera mundur dan menjauh dari potongan daging sapi yang dilihatnya adalah kepala Kim tersebut.

Edward segera menghampiri James ke dapur. Dia mendengar teriakan sahabatnya yang histeris tadi.

"Ada apa, James?" tanyanya panik.

"E-enggak. Tadi, jari aku luka sedikit." ucapnya berbohong.

"Lalu?"

James mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan pertanyaan terakhir dari lelaki itu.

"Maksudku lalu kenapa kau berteriak menyebut nama Kim?"

"Oh, aku tadi hanya asal teriak saja."

"Yasudah, cepat pergi sana. Aku akan lanjut memasak. Kamu santai saja menunggu hidangannya selesai." usirnya.

...****************...

Michelle dan tiga orang anak buahnya kembali ke area pemakaman. Mereka ingin mencuri mayat Kimberly. Sekalian mencari anting gadis itu yang hilang.

Sepanjang perjalanan, mereka terus mengamati sekeliling yang mereka lewati dengan teliti untuk menemukan anting itu dengan cepat.

Namun sial. Bahkan sekarang mereka sudah sampai di kuburan Kimberly. Namun mereka tak lekas menemukan anting milik Michelle.

"Bos, kayaknya itu anting udah diambil sama orang deh. Barang mahal kalau hilang udah kecil kemungkinan kembalinya."

"Bukan masalah barang mahal atau enggak. Tapi ini bisa berakibat fatal kalau sampai di tangan yang salah."

"Bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi nantinya." tambahnya.

"Sudah, cepat sana gali kuburan kecoa itu!" tegasnya.

Dia melihat ke sekeliling sambil berjaga-jaga takut ada orang lain yang melihat aksi mereka. Sementara anak buahnya menggali tanah dengan secepat mungkin.

Setelah semuanya selesai, mereka langsung pulang ke rumah. Michelle telah menyiapkan ruangan khusus untuk menyimpan semua koleksi mayatnya.

Mayat Kimberly diawetkan dan kemudian dipajang di ruangan khusus tersebut. Dia menatap wajah Kimberly dengan intens.

"Rasakan sendiri sekarang betapa tragisnya cara kamu mati. Aku merasa puas sekali melihat kondisi kamu saat ini. Tapi, mungkin ini juga bisa mengobati rinduku ke kamu nantinya."

"Hmm maksudku kalau-kalau saja aku rindu kamu. Soalnya selama ini aku enggak pernah tuh rindu kamu. Yang ada aku rindu sama suami kamu yang bodoh itu."

"Ya, dia bodoh. Bodoh karna lebih memilih kamu daripada aku. Dari sini kelihatan kan betapa bencinya aku ke kamu?"

"Oh iya, aku lupa. Aku mau kok Kim jadi pewaris Cornelia Group. Aku ingin kaya raya juga seperti kamu. Maka dari itu aku harus bunuh kamu."

"Hmm, menurut kamu, ayahmu itu harus kubunuh juga atau tidak?"

"Hah? Apa?" dia tampak mendekatkan telinganya ke mulut mayat Kimberly.

"Maaf aku enggak dengar omongan kamu, Kim. Oh, astaga aku lupa. Kamu kan udah enggak bernyawa lagi." dia tampak memegangi jidatnya.

"Sepertinya ayahmu tidak usah dibunuh sekarang ya. Soalnya aku belum dapat semua hartanya. Jadi jangan mati dululah."

"Udahan dulu ya teman kita mengobrolnya. Soalnya aku udah ngantuk banget. Mau tidur. Kamu juga harus tidur yang cukup ya."

"Eh, kamu kan tidur untuk selama-lamanya ya, haha." dia tampak tertawa seperti orang gila.

Kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang sulit diartikan. Tanpa sepengetahuannya, mata mayat itu tiba-tiba saja terbuka dan melotot seperti ingin keluar dari tempatnya.

...****************...

Michelle bertemu dengan Edward di lokasi pemotretan. Lelaki itu sengaja datang ke sana untuk mengelola Cornelia Group. Dia memang ditugaskan oleh Frans.

Frans tidak ingin Cornelia Group menjadi terbengkalai karena kepergian istrinya. Maka dari itu dia menyuruh Edward untuk menyempatkan diri pergi ke sana dan mengaturnya.

Dia berpapasan dengan Michelle saat akan memasuki ruangannya. Gadis itu tampak berhenti berjalan dan menyapanya.

"Edward? Apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?"

"Aku baik, kamu?"

"Ya, aku juga baik. Kamu kesini sendirian? Enggak sama Pak Frans?"

"Enggak, aku kesini sendirian. Ada apa?"

"Malam ini sepertinya disini ada acara ya? Aku melihat banyak petugas seperti sedang mempersiapkan sesuatu."

"Ya, malam ini memang ada acara. Ada sesuatu yang akan disampaikan."

"Aku pergi dulu ya, Chelle."

Gadis itu mengangguk dan tersenyum simpul. Dia pergi ke lantai atas. Dan sekarang dia sedang melihat-lihat pemandangan di bawah sambil menunggu kehadiran mentornya.

Dia melihat seperti ada seseorang yang sangat dia kenali sedang berada di bawah sana. Dia adalah Kimberly.

Michelle tampak tidak percaya dengan yang baru saja dilihatnya itu. Dia mengedipkan matanya. Kemudian mengucek-ngucek matanya tersebut.

Tetap saja itu adalah Kim. Dia tidak salah lihat. "Enggak, enggak mungkin Kim masih hidup. Dia sudah mati." gumamnya tak percaya.

"Kim memang sudah mati, girl. Ada apa? Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" timpal seorang pria yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.

Michelle sama sekali tak mengenali pria tersebut. Dia pikir pria itu baru di sini karena dia belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Michelle melirik ke bawah lagi sekilas. Kemudian dia beralih ke kanannya. Betapa terkejutnya ia ketika tidak melihat pria itu berada di sebelahnya lagi.

"Kemana pria itu tadi?" gumamnya kebingungan.

1
Crazy Girl
Apa yang terjadi dengan Michelle selanjutnya? Semuanya ayo semangat lagi bacanya ☺️✌️
Isabel Hernandez
Sudut pandang baru
Crazy Girl: lanjut baca terus yaa 👍🙏
total 1 replies
Abdul Rahman
Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!
Crazy Girl: Terimakasih, baca terus ya:)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!