NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - Mencoba Kuat

"Katanya aku kuat, padahal aku cuma pandai menyembunyikan sakit. Aku cuma ingin kelihatan sempurna, bukan jadi bahan kasihan."

...***...

Mobil terparkir di halaman. Pak Herman pun sudah berada di balik kemudi dengan mesin yang sejak tadi menyala. Terlihat sangat sabar menunggu kedatangan Rayna untuk segera berangkat ke sekolah.

"Ma, Rayna pergi sekolah dulu ya." pamit Rayna sambil mencium tangan mamanya.

"Iya, Nak. Hati-hati ya." balas mamanya, memandang Rayna dengan penuh perhatian. "Itu kamu bawa barang apa? Kok tumben bawa tas lebih?" tanyanya menyadari Rayna menenteng dua tas sekaligus.

"Ini baju olahraga, Ma. Hari ini ada jadwal aku olahraga disekolah." jawab Rayna berusaha santai.

"Oh gitu. Yaudah deh, inget jangan terlalu cape ya olahraganya. Inhaler juga gak lupa kan?" Mama memastikan.

"Aman, Ma. Udah aku masukin ke tas kok tadi," jawab Rayna meyakinkan.

Setelah berpamitan sekali lagi, Rayna melangkah keluar rumah dan menghampiri mobil. Pak Herman membukakan pintu untuknya dengan sigap.

"Selamat pagi, Non Rayna," sapa Pak Herman ramah.

"Pagi, Pak," balas Rayna sambil tersenyum. Ia masuk ke dalam mobil dan segera memasang sabuk pengaman.

Di sekolah, suasana sudah ramai dengan siswa-siswi yang berdatangan. Rayna berjalan menuju lapangan olahraga dengan langkah sedikit ragu.

Hari ini jadwalnya lari keliling lapangan, dan ia tahu betul kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas berat seperti itu. Namun, rasa malu dan takut dianggap lemah membuatnya nekat untuk tetap ikut.

"Hai Rayna, lo udah dateng juga nih" sapa Eve, salah satu teman sekelasnya, menghampiri Rayna.

"Iya, baru aja nyampe," jawab Rayna, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Lo udah siap buat lari hari ini? Gue sih males banget, panasnya minta ampun," keluh Eve sambil mengipasi dirinya dengan tangan.

"Hehe, gue juga sama. Tapi yaudah lah, ikutin aja," balas Rayna, mencoba untuk tetap terlihat ceria.

Pak Iwan, guru olahraga mereka, memberikan aba-aba untuk memulai pemanasan. Rayna mengikuti gerakan pemanasan dengan hati-hati, berusaha untuk tidak terlalu memaksakan diri.

Namun, saat Pak Iwan menyuruh mereka untuk mulai berlari, Rayna merasa jantungnya berdebar kencang.

Ia mulai berlari bersama teman-temannya, mencoba untuk mengimbangi kecepatan mereka. Awalnya, ia masih bisa mengikuti, tapi semakin lama napasnya terasa semakin sesak. Dadanya mulai terasa berat, dan ia mulai terengah-engah.

"Hhhh.. Dada gue rasanya sakit banget..." gumam Rayna.

Rayna berusaha untuk tidak menyerah. Ia terus berlari, memaksakan dirinya untuk tetap bertahan. Namun, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi. Asmanya mulai kambuh. Ia merasakan dadanya semakin sesak, dan napasnya semakin pendek.

Ia mencoba untuk memperlambat larinya, tapi sudah terlambat. Tubuhnya terasa lemas, dan pandangannya mulai kabur. Ia merasa seperti akan pingsan.

"Eh.. Tolong dong.." lirih Rayna, suaranya nyaris tak terdengar.

Namun, teman-temannya terlalu fokus pada lari mereka sehingga tidak menyadari Rayna sedang dalam kesulitan. Rayna terus berusaha untuk berlari, tapi akhirnya ia tidak kuat lagi. Ia berhenti di tengah lapangan, memegangi dadanya dengan erat.

"Aduh... Hhhh..." rintih Rayna, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.

Beberapa siswa yang berada di dekatnya menyadari Rayna sedang kesusahan. Mereka segera menghampirinya.

"Rayna, lo kenapa?" tanya salah seorang teman, wajahnya panik.

"A.. Asma gue. Kk.. Kambuh..." jawab Rayna terbata-bata.

"I.. Inhaler... inhaler gue ada di tas..." lanjutnya, menunjuk ke arah tasnya yang tergeletak di pinggir lapangan.

Suasana menjadi panik. Teman-teman Rayna berusaha untuk membantunya, tapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Cepetan ambil inhalernya!" teriak salah seorang teman.

Di tengah kepanikan itu, Ben, cowok yang dijodohkan dengan Rayna itu, datang menghampiri. Ia melihat Rayna sedang kesulitan dan segera bertindak cepat.

"Mana tas lo?" tanya Ben dengan nada khawatir.

Rayna menunjuk ke arah tasnya. Ben segera berlari mengambil tas itu dan mencari inhaler di dalamnya. Dengan tangan gemetar, ia memberikan inhaler itu kepada Rayna.

Rayna segera menghirup inhaler itu dalam-dalam. Namun, setelah beberapa menit, kondisinya tidak kunjung membaik. Napasnya masih sesak, dan keringat dingin terus membasahi wajahnya.

"Gak... gak mempan..." ucap Rayna lirih, suaranya semakin melemah.

Pak Iwan, guru olahraga, yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri Rayna. Ia melihat Rayna semakin pucat dan menyadari situasinya sangat serius.

"Kita harus bawa Rayna ke IGD sekarang!" seru Pak Iwan panik.

Tanpa membuang waktu, Pak Iwan menggendong Rayna dan membawanya menuju mobil.

Ben dan beberapa teman lainnya rasanya ingin sekali ikut menemani Rayna. Namun itu semua dilarang oleh Pak Iwan.

"Yang lain, sudahi saja olahraga kalian dan segera berganti pakaian untuk pelajaran berikutnya," katanya tergesa-gesa.

Mereka semua hanya menganggukkan kepalanya, dan berharap Rayna baik-baik saja.

"Kasihan juga manusia itu." gumam Ben sedikit khawatir.

...***...

Di sisi lain, suasana rumah sakit terasa sangat padat dan hiruk pikuk. Setelah Pak Iwan menghubungi Mama Rayna sejak di mobil tadi, wanita itu datang dengan tergesa-gesa, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Ia menerobos kerumunan orang di ruang tunggu IGD, matanya mencari-cari sosok putrinya.

"Rayna! Rayna di mana?" serunya panik, suaranya bergetar.

Pak Iwan, yang sedari tadi menunggu dengan cemas bersama dua guru lainnya, segera menghampiri Mama Rayna.

"Ibu, Rayna ada di dalam, lagi diperiksa dokter," ucap Pak Iwan mencoba menenangkan.

Mama Rayna menghela napas lega, namun kekhawatiran masih terpancar jelas di wajahnya. "Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?" tanyanya bertubi-tubi.

"Tadi Rayna asmanya kambuh saat olahraga, Bu. Dia sepertinya memaksakan diri saat lari," jelas Pak Iwan dengan nada menyesal. Ia merasa bersalah karena tidak menyadari kondisi Rayna sejak awal.

Mama Rayna menggelengkan kepalanya pelan. "Rayna memang seperti itu, Pak. Dia selalu ingin melakukan yang terbaik, tapi kadang lupa sama kondisinya sendiri," gumamnya lirih.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Mama Rayna dan Pak Iwan segera menghampirinya.

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Mama Rayna cemas.

"Kondisi Rayna sudah stabil, tapi asmanya memang cukup parah. Kami sudah memberikan nebulizer dan obat-obatan untuk meredakan sesaknya," jelas dokter tersebut.

"Apakah dia harus dirawat inap, Dok?" tanya Mama Rayna lagi.

"Sebaiknya begitu, Bu. Kami ingin memantau kondisinya lebih lanjut dan memastikan asmanya tidak kambuh lagi," jawab dokter tersebut.

Mama Rayna mengangguk setuju. "Baiklah, Dok. Saya setuju Rayna dirawat inap."

Setelah mengurus administrasi, Mama Rayna diperbolehkan masuk ke ruang perawatan Rayna. Pak Iwan dan kedua guru lainnya menunggu di luar dengan cemas.

Rayna terlihat lemah dan pucat, terbaring di ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.

"Sayang, Mama di sini," ucap Mama Rayna lembut sambil mengelus rambut Rayna.

Rayna membuka matanya perlahan dan tersenyum lemah. "Mama..." lirihnya.

"Kamu kenapa sih, Nak? Kenapa kamu maksa ikut lari? Kamu kan tahu kamu punya asma," omel Mama Rayna dengan nada khawatir.

"Rayna cuma gak mau keliatan lemah di depan teman-teman, Ma," jawab Rayna pelan.

Mama Rayna menghela napas panjang. "Mama ngerti, Sayang. Tapi kesehatan kamu lebih penting dari apapun. Jangan pernah memaksakan diri kalau kamu memang tidak mampu," nasihatnya dengan lembut.

Rayna mengangguk mengerti. "Iya, Ma. Rayna janji gak akan ngulangin lagi," ucapnya menyesal.

Setelah memastikan Rayna mendapatkan perawatan yang baik, Mama Rayna keluar dari ruang perawatan dan menghampiri Pak Iwan dan kedua guru lainnya.

"Terima kasih banyak ya, Pak, sudah membawa Rayna ke sini," ucap Mama Rayna tulus.

"Sama-sama, Bu. Kami juga merasa bersalah karena tidak menyadari kondisi Rayna sejak awal," jawab Pak Iwan dengan nada menyesal.

"Tidak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang Rayna sudah mendapatkan perawatan yang baik," ucap Mama Rayna sambil tersenyum.

Pak Iwan dan kedua guru lainnya berpamitan kepada Mama Rayna dan kembali ke sekolah. Mereka berharap Rayna akan segera sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Bersambung...

1
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
Nuri_cha
jangan seterluka itu Rayna. karena di sana, belum tentu Vando menjaga cinta kalian
Nuri_cha
elah... inget Vando Mulu. dia aja gak inget sama kamu. kalau inget mah, dia pasti ngehub kamu. ini udh berbulan2 kan, gak ada effort sama sekali dari si vando. lupain aja lah
Nuri_cha
Rayna masih merasa kurang nyaman sama kamu, Ben. kasih dia waktu dulu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!