NovelToon NovelToon
Cinta Kembarku

Cinta Kembarku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Badboy / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sanny Rama

Sequel DUREN MANIS...

Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.

Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.

Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?

Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.

Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.

Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?

Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Jejak kaki

“Hai pagi, Flora. Sandra.”sapa Ben.

“Hai, Ben.”sapa Flora ramah sambil melirik Sandra

yang salah tingkah. Ben, teman seangkatan mereka juga tapi berbeda kelas dengan

Flora dan Sandra. Sejak Flora bersekolah disana, Ben selalu menyapanya setiap

mereka bertemu. Dan yang paling membuat Flora geli, Sandra selalu salah tingkah

kalau Ben ada bersama mereka.

“Kalian udah sarapan? Ayo ke kantin. Gue

traktir.”ajak Ben.

“Wah, dalam rangka apa nich?”tanya Flora. Bukan hal

baru kalau Ben selalu mentraktir mereka makan di kantin. Ia selalu mencari

alasan untuk bisa bersama Flora.

“Flora, gue gak ikut ya. Gak enak.”bisik Sandra

mencoba melepas tangannya yang dipegang Flora.

“Udah, ikut aja.”bisik Flora mengeratkan pelukannya

pada lengan Sandra.

Mereka berjalan bersama menuju kantin. Ben yang

asyik ngobrol dengan Flora, beberapa kali menyenggol Sandra tanpa sengaja.

Sandra yang jalan di tengah-tengah, jadi makin deg-degan. Wajahnya merona merah

sampai ke daun telinganya juga.

Sampai di kantin, Ben duduk di hadapan Flora yang

duduk di samping Sandra. Mereka memesan nasi uduk dengan porsi kecil. Di bawah

meja, Ben menendang kaki Flora. Ia memberi tanda dengan matanya. Flora yang

ngeh, menoleh pada Sandra.

“San, nanti jadi ke toko buku?”tanya Flora

menghabiskan sesuap terakhir nasi uduknya.

“Iya, jadi. Novel yang mau gue baca uda rilis.”saut

Sandra sambil makan dengan lambat.

Coba saja tidak ada Ben di hadapannya, sudah tentu

mereka berdua akan selesai makan bersamaan. Tiba-tiba ponsel Sandra berdering,

ia beranjak dari duduknya lalu pergi ke sudut kantin untuk menjawab telpon. Ben

langsung melengos ketika Sandra pergi dari sana.

“Payah banget.”keluh Ben.

“Iya, lo payah banget. Bilang gitu aja gak

berani.”saut Flora kesal.

“Kan udah gue bilang, didepan dia gue gugup. Gagal

dech nganterin dia. Gimana nich?”kata Ben frustasi.

“Masih belum gagal. Lo bawa mobil kan?”tanya Flora.

Ben mengangguk. Mereka berhenti bicara saat Sandra

kembali bergabung bersama mereka. “Gue nggak jadi ke toko buku. Malahan harus

ijin pulang cepet nich. Papa mau ngajak ke rumah temennya.”

Ben terlihat kecewa tapi ia merubah ekspresi

wajahnya dengan cepat. Flora mengangguk-angguk. Gagal sudah rencana mereka agar

Ben dan Sandra bisa pergi ke toko buku bersama-sama.

Sepulang sekolah, Ben masih mengikuti Flora sampai

ke gerbang sekolah. Ia merengek minta Flora memikirkan cara agar dirinya dan

Sandra bisa kencan. Ben dan Sandra sebenarnya saling menyukai satu sama lain.

Tapi keduanya terlalu malu untuk mengatakan perasaan mereka.

Flora yang gemes sendiri sudah ingin mengatakan

perasaan mereka yang sebenarnya tapi keduanya membuat Flora berjanji untuk

merahasiakan perasaan mereka sampai mereka berani mengatakannya sendiri.

“Ben, ntar dech aku pikirin. Jangan tarik-tarik

tanganku kayak gini dong.”protes Flora.

“Please, Flo.”mohon Ben.

Tiba-tiba dari arah dalam sekolah ada salah satu

siswa yang mengendarai motornya ngebut hampir menabrak Flora yang berdiri agak

ke tengah gerbang. Ben refleks menarik tangan Flora kearahnya. Flora memeluk

Ben tanpa sengaja. Ia tampak terkejut melihat motor melaju kencang di

sampingnya.

“Kamu nggak pa-pa kan? Woi!! Pelan-pelan dong!”teriak

Ben juga sama kagetnya.

“Ma... makasih, Ben.”ucap Flora.

Tak jauh dari mereka, seorang pria yang baru saja

datang mengepalkan tangannya melihat adegan mesra di hadapannya. Reva sengaja

buru-buru pulang kuliah untuk menunggu Flora di gerbang sekolahnya. Tapi justru

disuguhi pemandangan dua anak manusia berpelukan mesra di gerbang sekolah.

“Dasar cewek sialan! Katanya nggak punya pacar.

Awas kau nanti.”sungut Reva marah.

Reva masih belum beranjak dari tempatnya menunggu

Flora. Ia melihat Flora dan Ben masuk lagi ke dalam halaman sekolah. Tak lama,

mobil Ben keluar dari sana. Reva mengingat jenis mobil dan plat nomor mobil

itu.

Reva mengikuti mobil Ben yang ternyata berhenti di

depan rumahnya. Flora keluar dari sana, tersenyum lebar kearah Ben yang

langsung pergi dari sana. Brrmm!! Suara motor Reva membuat Flora menoleh.

Melihat siapa yang membuat suara berisik itu, Flora membuka gerbang rumah Alex

lebih lebar untuk Reva.

Setelah Reva mengendarai motornya masuk, Flora

menutup gerbang dengan cepat. Ia sedikit berlari menyusuri jalan menuju rumah

utama. Reva sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Flora menyusul beberapa saat

kemudian. Ia membuka sepatunya di teras sebelum masuk ke dalam rumah Alex.

Ia tertegun melihat bekas jejak sepatu Reva

membekas dari teras sampai ke dalam rumah. Reva sengaja menginjak sedikit

lumpur yang tertinggal di dekat garasi. Flora mendengus kesal. Memang tugasnya

membersihkan rumah setelah pulang sekolah, tapi bukan berarti Reva bisa

seenaknya seperti ini.

“Kayaknya sengaja nich. Tunggu saja, tuan Reva.”bisik

Flora memikirkan rencana mengerjai Reva.

Flora mengganti seragamnya dengan kaos dan celana

pendek. Ia mengambil peralatan kebersihan lalu membersihkan teras dan ruang

tamu dengan cepat. Rava yang baru datang, melihat lantai masih basah. Ia duduk

di teras sambil melepas sepatunya. Flora yang keluar lagi untuk mengganti air

pel, tersenyum melihat Rava duduk disana.

“Siang, kak Rava. Udah pulang ya.”sapa Flora ramah.

“Iya, Flora. Kamu baru ngepel?”tanya Rava. “Udah

makan, belum?”

Flora menggeleng. Ia akan makan nanti saja setelah

selesai membersihkan rumah. Rava meminta Flora menemaninya duduk di teras.

“Kamu udah kelas tiga kan? Bentar lagi lulus. Mau

kuliah dimana?”tanya Rava.

“Aku nggak mau kuliah dulu, kak. Maunya kerja aja.

Nggak ada biayanya juga, kak. Sekolah disini aja dibayarin sama tuan Alex. Aku nggak

enak kalau minta dibayarin kuliah juga.”saut Flora.

“Kamu belum cerita kenapa kamu pindah kesini. Mau

cerita?”

Flora mengatakan kalau kedua orang tuanya baru

meninggal, seorang tuan tanah di desanya ingin menikahi Flora. Tuan tanah itu

bilang kalau orang tua Flora punya hutang padanya.

“Aku nggak pernah dengar kalau ayah dan ibu punya

hutang pada tuan tanah itu. Dia sempat maksa aku untuk nikah sama dia. Untung

saja bibi Roh datang tepat waktu. Bibi Roh minta bantuan tuan Alex untuk

membebaskan aku dari tuan tanah itu. Makanya sekarang aku kerja disini, kak.”

Rava mengangguk-angguk. Tapi ia menyayangkan kalau

Flora tidak kuliah, ia tidak akan bisa merubah kehidupannya.

“Kalau kamu kuliah, kamu bisa mandiri, bekerja di

tempat yang bagus. Otomatis merubah kehidupanmu juga.”kata Rava.

Flora berpikir sejenak, “Kak, ada nggak tempat

kuliah yang bagus tapi dekat sini. Jangan terlalu mahal juga.”

“Di dekat kantor papa ada kok universitas yang

bagus. Tapi aku nggak kuliah disana.”kata Rava.

“Oh, memangnya kakak kuliah dimana?”tanya Flora

antusias. Tangannya tidak berhenti memegang pengepelan dan terus saja

mengaduk-aduk air di dalam ember dengan alat pel itu.

Rava tersenyum melihat tingkah Flora. “Tanganmu

nggak bisa diem ya.”

“Hehe... iya, kak. Kebiasaan dari kampung. Ibu

nggak bolehin tangan diem walaupun lagi ngobrol. Kakak kuliah dimana?”tanya Flora

lagi.

*****

Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu

rate bintang 5, like, komen, dan yang paling

penting vote, vote, vote. Ty.

Visual Sandra

Visual Ben

1
Eka Sari Agustina
👍👍👍👍👍
G
lanjut
Mella Soplantila Tentua Mella
dasar Reva mesuuum... ha ha hahaaa ketangkap basah sm ibu negara
Martini
di tunggu kelanjutannya Thor kan flora hamil
Martini
wah dapat mantu Sekai 2 mama jelita god
Martini
anaknya mami jelita gresek semua
Martini
bakal kena semprot tu jeny
Martini
gawangnya udah gol ya reva
Martini
selalu seru aja Thor karyamu
Martini
hahaha camer sama menantu klop geseknya
Martini
pembantu ganjen di pecat aja Thor bisng kerok itu
Martini
iya Reva itu kan bucin
Martini
jangan bikin aq baper donk Thor kasihan ravanya
Martini
aq sampai ikut nangis Thor kasihan rava perjuanganya tidak ada artinya di depan diva
Martini
diva kok sadis tadi aja berharap sekarang malah bikin rava hanjur
Martini
semoga Frank ya thor
Martini
aq setuju kalau Roger sama jeny
Martini
mungkin lagi berhai hai Thor Reva sama flo
Martini
kayaknya dapat lampu hijau dech Juan Ama devina 👍👍👍
Martini
Devina kok hadi gadis bar bar sich
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!