Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Jejak kaki
“Hai pagi, Flora. Sandra.”sapa Ben.
“Hai, Ben.”sapa Flora ramah sambil melirik Sandra
yang salah tingkah. Ben, teman seangkatan mereka juga tapi berbeda kelas dengan
Flora dan Sandra. Sejak Flora bersekolah disana, Ben selalu menyapanya setiap
mereka bertemu. Dan yang paling membuat Flora geli, Sandra selalu salah tingkah
kalau Ben ada bersama mereka.
“Kalian udah sarapan? Ayo ke kantin. Gue
traktir.”ajak Ben.
“Wah, dalam rangka apa nich?”tanya Flora. Bukan hal
baru kalau Ben selalu mentraktir mereka makan di kantin. Ia selalu mencari
alasan untuk bisa bersama Flora.
“Flora, gue gak ikut ya. Gak enak.”bisik Sandra
mencoba melepas tangannya yang dipegang Flora.
“Udah, ikut aja.”bisik Flora mengeratkan pelukannya
pada lengan Sandra.
Mereka berjalan bersama menuju kantin. Ben yang
asyik ngobrol dengan Flora, beberapa kali menyenggol Sandra tanpa sengaja.
Sandra yang jalan di tengah-tengah, jadi makin deg-degan. Wajahnya merona merah
sampai ke daun telinganya juga.
Sampai di kantin, Ben duduk di hadapan Flora yang
duduk di samping Sandra. Mereka memesan nasi uduk dengan porsi kecil. Di bawah
meja, Ben menendang kaki Flora. Ia memberi tanda dengan matanya. Flora yang
ngeh, menoleh pada Sandra.
“San, nanti jadi ke toko buku?”tanya Flora
menghabiskan sesuap terakhir nasi uduknya.
“Iya, jadi. Novel yang mau gue baca uda rilis.”saut
Sandra sambil makan dengan lambat.
Coba saja tidak ada Ben di hadapannya, sudah tentu
mereka berdua akan selesai makan bersamaan. Tiba-tiba ponsel Sandra berdering,
ia beranjak dari duduknya lalu pergi ke sudut kantin untuk menjawab telpon. Ben
langsung melengos ketika Sandra pergi dari sana.
“Payah banget.”keluh Ben.
“Iya, lo payah banget. Bilang gitu aja gak
berani.”saut Flora kesal.
“Kan udah gue bilang, didepan dia gue gugup. Gagal
dech nganterin dia. Gimana nich?”kata Ben frustasi.
“Masih belum gagal. Lo bawa mobil kan?”tanya Flora.
Ben mengangguk. Mereka berhenti bicara saat Sandra
kembali bergabung bersama mereka. “Gue nggak jadi ke toko buku. Malahan harus
ijin pulang cepet nich. Papa mau ngajak ke rumah temennya.”
Ben terlihat kecewa tapi ia merubah ekspresi
wajahnya dengan cepat. Flora mengangguk-angguk. Gagal sudah rencana mereka agar
Ben dan Sandra bisa pergi ke toko buku bersama-sama.
Sepulang sekolah, Ben masih mengikuti Flora sampai
ke gerbang sekolah. Ia merengek minta Flora memikirkan cara agar dirinya dan
Sandra bisa kencan. Ben dan Sandra sebenarnya saling menyukai satu sama lain.
Tapi keduanya terlalu malu untuk mengatakan perasaan mereka.
Flora yang gemes sendiri sudah ingin mengatakan
perasaan mereka yang sebenarnya tapi keduanya membuat Flora berjanji untuk
merahasiakan perasaan mereka sampai mereka berani mengatakannya sendiri.
“Ben, ntar dech aku pikirin. Jangan tarik-tarik
tanganku kayak gini dong.”protes Flora.
“Please, Flo.”mohon Ben.
Tiba-tiba dari arah dalam sekolah ada salah satu
siswa yang mengendarai motornya ngebut hampir menabrak Flora yang berdiri agak
ke tengah gerbang. Ben refleks menarik tangan Flora kearahnya. Flora memeluk
Ben tanpa sengaja. Ia tampak terkejut melihat motor melaju kencang di
sampingnya.
“Kamu nggak pa-pa kan? Woi!! Pelan-pelan dong!”teriak
Ben juga sama kagetnya.
“Ma... makasih, Ben.”ucap Flora.
Tak jauh dari mereka, seorang pria yang baru saja
datang mengepalkan tangannya melihat adegan mesra di hadapannya. Reva sengaja
buru-buru pulang kuliah untuk menunggu Flora di gerbang sekolahnya. Tapi justru
disuguhi pemandangan dua anak manusia berpelukan mesra di gerbang sekolah.
“Dasar cewek sialan! Katanya nggak punya pacar.
Awas kau nanti.”sungut Reva marah.
Reva masih belum beranjak dari tempatnya menunggu
Flora. Ia melihat Flora dan Ben masuk lagi ke dalam halaman sekolah. Tak lama,
mobil Ben keluar dari sana. Reva mengingat jenis mobil dan plat nomor mobil
itu.
Reva mengikuti mobil Ben yang ternyata berhenti di
depan rumahnya. Flora keluar dari sana, tersenyum lebar kearah Ben yang
langsung pergi dari sana. Brrmm!! Suara motor Reva membuat Flora menoleh.
Melihat siapa yang membuat suara berisik itu, Flora membuka gerbang rumah Alex
lebih lebar untuk Reva.
Setelah Reva mengendarai motornya masuk, Flora
menutup gerbang dengan cepat. Ia sedikit berlari menyusuri jalan menuju rumah
utama. Reva sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Flora menyusul beberapa saat
kemudian. Ia membuka sepatunya di teras sebelum masuk ke dalam rumah Alex.
Ia tertegun melihat bekas jejak sepatu Reva
membekas dari teras sampai ke dalam rumah. Reva sengaja menginjak sedikit
lumpur yang tertinggal di dekat garasi. Flora mendengus kesal. Memang tugasnya
membersihkan rumah setelah pulang sekolah, tapi bukan berarti Reva bisa
seenaknya seperti ini.
“Kayaknya sengaja nich. Tunggu saja, tuan Reva.”bisik
Flora memikirkan rencana mengerjai Reva.
Flora mengganti seragamnya dengan kaos dan celana
pendek. Ia mengambil peralatan kebersihan lalu membersihkan teras dan ruang
tamu dengan cepat. Rava yang baru datang, melihat lantai masih basah. Ia duduk
di teras sambil melepas sepatunya. Flora yang keluar lagi untuk mengganti air
pel, tersenyum melihat Rava duduk disana.
“Siang, kak Rava. Udah pulang ya.”sapa Flora ramah.
“Iya, Flora. Kamu baru ngepel?”tanya Rava. “Udah
makan, belum?”
Flora menggeleng. Ia akan makan nanti saja setelah
selesai membersihkan rumah. Rava meminta Flora menemaninya duduk di teras.
“Kamu udah kelas tiga kan? Bentar lagi lulus. Mau
kuliah dimana?”tanya Rava.
“Aku nggak mau kuliah dulu, kak. Maunya kerja aja.
Nggak ada biayanya juga, kak. Sekolah disini aja dibayarin sama tuan Alex. Aku nggak
enak kalau minta dibayarin kuliah juga.”saut Flora.
“Kamu belum cerita kenapa kamu pindah kesini. Mau
cerita?”
Flora mengatakan kalau kedua orang tuanya baru
meninggal, seorang tuan tanah di desanya ingin menikahi Flora. Tuan tanah itu
bilang kalau orang tua Flora punya hutang padanya.
“Aku nggak pernah dengar kalau ayah dan ibu punya
hutang pada tuan tanah itu. Dia sempat maksa aku untuk nikah sama dia. Untung
saja bibi Roh datang tepat waktu. Bibi Roh minta bantuan tuan Alex untuk
membebaskan aku dari tuan tanah itu. Makanya sekarang aku kerja disini, kak.”
Rava mengangguk-angguk. Tapi ia menyayangkan kalau
Flora tidak kuliah, ia tidak akan bisa merubah kehidupannya.
“Kalau kamu kuliah, kamu bisa mandiri, bekerja di
tempat yang bagus. Otomatis merubah kehidupanmu juga.”kata Rava.
Flora berpikir sejenak, “Kak, ada nggak tempat
kuliah yang bagus tapi dekat sini. Jangan terlalu mahal juga.”
“Di dekat kantor papa ada kok universitas yang
bagus. Tapi aku nggak kuliah disana.”kata Rava.
“Oh, memangnya kakak kuliah dimana?”tanya Flora
antusias. Tangannya tidak berhenti memegang pengepelan dan terus saja
mengaduk-aduk air di dalam ember dengan alat pel itu.
Rava tersenyum melihat tingkah Flora. “Tanganmu
nggak bisa diem ya.”
“Hehe... iya, kak. Kebiasaan dari kampung. Ibu
nggak bolehin tangan diem walaupun lagi ngobrol. Kakak kuliah dimana?”tanya Flora
lagi.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling
penting vote, vote, vote. Ty.
Visual Sandra
Visual Ben