Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Adiyasa, pria berusia 18 tahun itu di temukan tewas mengenaskan oleh warga, jazadnya mengapung di sungai kumuh bersamaan dengan sampah yang juga bau busuk.
Yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa sekarang ia bangun, apakah dia mati suri? Setelah itu, Adiyasa seolah mengalami transformasi dari korban bully menjadi pria tangguh tak terkalahkan, inilah kembalinya kesatria pedang hitam.
Seperti kata Noveltoon dan Mangatoon kalau berkarya tidaklah mudah, maka dari itu mari dukung karya author dengan like, komen, subscribe dan bintang lima. Selamat membaca. Yang nggak pelit dukungan hidupnya bahagia. 🥰
Cover by Mak R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Aku?
Di markas, Raja melemparkan uang setengah dari perjanjian itu pada para preman yang sedang berjongkok, mereka semua yang sudah babak belur jtu memunguti uang yang berserakan itu.
Dan uang yang mereka kumpulkan sudah lebih dari cukup untuk biaya berobat ke klinik. "Gila, dia hebat banget, kaya datang dari jaman kerajaan aja," gumam salah satu si preman dan gumaman itu terdengar sangat menyakitkan di telinga Raja.
"Diam dan cepat pergi dari sini!" teriak Raja, pria berhoodie krem itu menarik nafas dalam dan mulai mengatur deru nafasnya.
"Harus bagaimana lagi kita menyingkirkan dia, kenapa sekarang dia jadi kuat tak terkalahkan?" geram Raja seraya melempar dirinya untuk duduk di sofa yang tersedia.
Dan para temannya itu hanya diam, mereka ikut memikirkan langkah selanjutnya.
****
Sementara itu, Adiyasa yang masih pingsan sedang ada di padang rumput, ia berlarian bersama gadis cantik bernama Jia Mee.
Senyum manis merekah dari bibir mungil gadis berambut panjang itu, ia berpenampilan ala pendekar. Kemudian, Jia Mee yang lelah terus berlari itu terjatuh dan disusul oleh Adiyasa (Elang).
Dengan gerakan tangan yang menggoda, Jia Mee memainkan rambut panjang Adiyasa dan pria itu pun memeluk kekasih hatinya yang berada di sisinya.
Lalu, Jia Mee bertanya, "Kamu sangat kuat, tak terkalahkan, apakah kamu memiliki kelemahan?"
Diam, Adiyasa yang sedang menikmati aroma wangi dari kekasihnya itu tak menghiraukan pertanyaan itu membuat Jia Mee melepaskan dirinya dari pelukan itu.
Sekarang, Jia Mee bangun dari berbaringnya. "Aku pulang sebelum ayahku mencari!" ucapnya dan Adiyasa menahan lengan gadis itu.
"Jangan merajuk, Mee. Kelemahan ku adalah kamu!" ungkap Adiyasa seraya tersenyum manis.
"Hm," desah Jia Mee yang tak menghiraukan gombalan itu. Gadis itu tau kalau pria tampan yang ada bersamanya itu sangat mencintainya dan akan mengambil kesempatan ini.
Jia Mee pun berlalu dan kemudian segerombolan pemuda datang untuk menghadang. Mereka menginginkan gadis cantik itu.
Melihat itu, Adiyasa/Elang pun segera maju, ia melindungi kekasih hatinya dan pria itu segera mengeluarkan pedang hitamnya dari tempatnya.
"Pendekar pedang hitam, jadi dia orangnya," gumam si ketua gerombolan itu, ia merasa hebat dan merasa dapat mengalahkannya dengan sekali libas menggunakan pedangnya yang konon tidak kalah sakti dari pedang hitam tersebut.
Namun, kesombongannya itu dibayar kontan saat ia mengayunkan pedangnya dan disambut oleh pedang hitam Adiyasa, pedangnya tidak ada apa-apanya karena seketika patah menjadi dua.
Adiyasa pada jaman kuno itu pun menyeringai dan menghabisi mereka tanpa ampun. Sayatan pedangnya yang mematikan itu membuat para gerombolan tersebut menyesal karena telah berhadapan dengan Adiyasa.
Melihat itu, Jia Mee ingin memiliki pedang Adiyasa, sayangnya, ia sama sekali tidak dapat menyentuh pedang itu.
Kemudian, ia mendengar suara yang memanggilnya, "Adi... Adi," lirihnya dan pria yang masih memejamkan matanya itu menolak karena tidak mau dipanggil Adi.
"Elang, namaku Elang!" jawab Adiyasa yang masih memejamkan mata dan kemudian, dalam bayangannya, ia kembali melihat Jia Mee yang mengayunkan pisau beracun ke arah dadanya.
"Jia Mee!" teriak Adiyasa seraya membuka mata dan ia melihat Jia Mee ada di depan matanya.
Ya, Adiyasa bangun dan dia ada di rumah Clara, gadis yang sangat mirip dengan Jia Mee, melihat itu, ia segera mengarahkan tangannya untuk mencekik gadis remaja itu.
"Aakhh!" pekik Clara seraya menahan tangan Adiyasa, ia berusaha melepaskan tangan itu dari lehernya.
"A-Adi," lirik Clara dengan terbata, nafasnya hampir habis dan tangan kiri Adiyasa berusaha melepaskan tangan kanannya yang sedang mencekik gadis itu.
"Jangan seperti ini, lepaskan tanganku dari gadis itu!" kata hati Adiyasa dan sekarang, ia pun melepaskannya.
"Aakkhh!" pekik Adiyasa dan Clara bersamaan. Bedanya, Clara merasa sakit dan sesak di lehernya.
Sementara Adiyasa, ia merasa sakit kepala yang hebat. "Siapa aku!" teriaknya dan itu membuat Clara menjadi bingung, gadis berdress putih panjang selutut itu juga ketakutan dan ia memukul Adiyasa menggunakan bantal sofa.
"Bangun, Adi! Sadar! Gue Clara bukan Jia Mee!" teriak Clara yang masih terus memukuli Adiyasa.
Dan apa yang dilakukan olehnya itu berhasil membuat Adiyasa tersadar dan kembali menjadi Adiyasa yang seharusnya.
"Aku harus pulang, kamu harus antar aku!" kata Adiyasa yang seolah tak merasa bersalah.
"Nggak mau, aku takut sama kamu!" jawab Clara dan Adiyasa mengancam akan melukainya jika tidak mau mengantarkan pulang.
Dengan terpaksa, Clara pun menurutinya, ia pergi menggunakan mobil dan Adiyasa merasa ragu. "Yakin aman?" tanya Adiyasa dan Clara menjawab, "Amanlah!"
Kemudian Adiyasa yang tidak tau cara membuka pintu itu menyuruh Clara untuk membukanya, ia tidak mau terlihat begitu bodoh di mata wanita itu dan Adiyasa memperhatikannya.
Di perjalanan, Adiyasa lebih banyak diam, ia berpikir apakah dirinya berreinkarnasi?
"Kamu percaya reinkarnasi?" tanya Adiyasa seraya menatap Clara dan yang mendapat pertanyaan itu pun terkekeh.
"Gue yang keturunan cindo aja agak nggak percaya, lah, elu malah nanya ginian!" jawab Clara seraya menggeleng.
Sekarang, Adiyasa kembali diam dan saat hampir sampai di rumahnya, ia melihat Kinanti yang sedang duduk di jembatan, terlihat raut wajah kebingungan.
"Berhenti!" perintah Adiyasa dan Clara pun menepikan mobilnya.
"Kenapa? Bukannya rumah lu masih jauh?" tanya Clara seraya membuka kunci mobilnya dan Adiyasa tidak menjawab membuat Clara merasa kalau pria itu bukanlah Adiyasa yang hangat, seperti Adiyasa yang dulu.
Sekarang, Adiyasa menghampiri Kinanti dan gadis itu pun segera memeluk juga memukuli lengan kakaknya.
"Kemana aja, sih, Bang! Bikin panik aja, tau nggak kalau ibu khawatir, ibu takut kejadian kaya waktu itu, Abang pulang tinggal jasad dan nama doang!" kata Kinanti dan Adiyasa memilih diam.
Ia menerima semua kemarahan adiknya dan setelah puas, Kinanti menjatuhkan kepalanya di dada bidang kakaknya dan Adiyasa mengusap pucuk rambut adiknya.
Clara yang masih ada di mobil itu memperhatikan dan ia merasa kalau sudah salah menduga. "Dia masih Adiyasa yang hangat, terlihat dia begitu sangat menyayangi adiknya," lirih Clara dan sekarang, ia pergi, ia harus pulang karena tugas sekolahnya belum selesai dikerjakan.
Begitu juga dengan Adiyasa, ia pun pulang bersama adiknya dengan berjalan kaki, sesampainya di rumah, Mirah memarahinya, ia juga memohon pada putranya untuk berhenti menghilang.
Melihat kecemasan itu membuatnya penasaran, trauma apa yang dimiliki oleh ibunya dan Adiyasa pun mencari tau dengan menanyakan itu pada Kinanti.
"Besok aja Kinan ceritanya, sekarang, Kinan capek, mau istirahat!" jawab Kinanti yang kemudian masuk ke kamarnya dan Adiyasa pun pergi ke kamarnya.
Pria kurus itu membuka pakaiannya yang penuh keringat dan ia melihat dari cermin kalau punggungnya memiliki luka lebam seperti baru saja dipukul dari belakang.
"Tapi, kenapa aku nggak ngerasain sakit?" tanyanya pada diri sendiri, "atau karena aku mati suri? Seperti yang mereka katakan?" lanjutnya dan Adiyasa semakin penasaran dengan kehidupannya sebelum meninggal.
Ia pun harus mencari tau dan ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada tubuhnya dan trauma dari keluarganya.
Karya ini merupakan karya jalur kreatif.