assalamualaikum,
hai jumpa lagi dengan saya vera
novel ini menceritakan perjalanan seorang wanita yang menantikan pendamping hidupnya.
lailatul zahwa seorang wanita karir yang berencana menikah setelah wisuda S2 nya. ia pun pergi ke acara wisuda dengan membawa setumpuk undangan dan dibagikan kepada teman temannya juga beberapa orang dosen.
namun takdir berkata lain, laila harus kehilangan calon suaminya beberapa hari sebelum janur kuning melemgkung. laila terpuruk dan mengurung diri hingga ia mendapat teguran dari perusahaan tempat ia bekerja.
ahirnya dengan berat hati laila melepaskan pekerjaan yang ia dapat sebagai bonus dari predikat comlude sarjana nya. ia dipanggil bekerja dengan posisi yang cukup bergengsi, bukan sebagai karyawan biasa.
ahirnya laila memutuskan menjalankan usaha mama dan menjemput jodoh disana. sudah banyak pernikahan orang yang ia rancang dan laksanakan sehingga menjadi meriah dan meninggalkan kesan bahagia yang bisa di kenang seumur hidup.
dan laila pun berharap ia juga bisa menata pernikahannya sedemikian rupa dengan lelaki yang mencintainya. dan mampu mendampinginya sampai ajal memisahkan mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vera irmayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI PERSIMPANGAN JALAN
jika tidak ada pagi-pagi sekali laila sudah berada di ruko untuk memeriksa acara-acara yang akan mendatang. laila biasa menyiapkan beberapa keperluan jauh jauh hari agar saat mendekati jadwal acara pekerjaannya tidak menumpuk.
"brrraaak" suara benturanpun terdengar sangat keras, sehingga semua penghuni ruko berhamburan keluar.
"ada apa? ada apa?, setiap orang pun saling bertanya.
"astaghfirullah, itu spertinya korban tabrak lari, ayo mas cepet dibantu". pekik laila saat melihat seorang laki-laki tersungkur dan separuh badannya tertimpa sepeda motor yang ia kendarai.
"bu laila sepertinya bapak ini tidak sadar dan luka nya cukup parah, harus dibawa kerumah
sakit.
"ok tunggu sebentar",laila berlari mengambil tas dan kunci mobil nya. karena ruko dia yg berada paling dekat dengan persimpangan jalan.
"mas tolong bantu angkat ya, dan dua orang ikut saya kerumahsakit dan yg lain tolong kendraan bapak ini dipakir di depan ruko saya, jika ada yang tau keluargabapak ini tolong segera di bubungi" ucap laila sebelum melajukan mobil nya ke klinik terdekat.
sesampainya di rumahsakit laki-laki itu segera dibawa masuk ke ruangan yang diatas pintu bertuliskan EMERGENCY.
"Mas Tono Mas Hadi, kira-kira di sekitar ruko kita ada yang kenal dengan bapak ini atau enggak ya". tanya laila pada dua orang pegawai showroom motor yang ikut mengantar ke klinik
"kayaknya nggak ad yang kenal deh mbak, dan bapak itu bukan dari daaerah sini" jawab tono sembari membersihkan bercak darah yang menempel di tangannya.
"tapi bapak itu bawa tas mbak, siapa tau ada ktp atau identitas lainnya". sambung hadi
"oh ya, ada dimana tas nya mas hadi" tanya laila dengan semangat.
"tadi saya tinggal di mobil mbak laila, sebentar mbak saya ambil" jawab mas hadi sambil melangkah menuju parkiran setelah menyambar kunci mobil dari tangan laila.
"alhamdulillah, semoga kita bisa hubungi eluarganya ya mas tono, kasihan kalau ada apa-apa" ucap laila dengan wajah sumringah seakan baru saja mendapatkan rezeki nomplok.
tiba-tiba mereka di hampiri seorang perawat dan menyarankan agar menyelesaikan administrasi, karena pasien harus rawat inap untuk beberapa hari.
laila pun mengikuti perawat itu ke bagian administrasi dan Tono tetap menunggu di depan ruangan menunggu Hadi.
"maaf mbak, silahkam di isi data pasien dan data mbak serta nomer telfon yang bisa di hubungi" jelas seorang ber seragam klinik dengan senyum dan lemah lembut.
"oh iya mbak", jawab laila saat menerima lembaran kertas semacam formulir pendafraran yang harus di isi sambil mengangguk
*haaahh nama, alamat, umur pasien, dari mana aku tau, sedang wajahnya saja aku nggak kenal, yaa allah bantu hambamu, apa yang harus saya isi di sini", batin laila sambil memandangi lembaran kertas di tangannya
"assalamualaikum*, mbak laila" salam hadi mengagetkan beberapa orang di depan loket administrasi.
"wa'alaikumsalam mas hadi, alhamdulillah cepat buka mas cari KTP atau SIM nya, atau kalau ada ponselnya mas" jawab laila saat melihat hadi membawa tas kecil berwarna hitam.
hadi dan laila pun sibuk mencari tanda pengenal, hadi menemukan ponsel di dalam tas kecil itu dan menyambarnya. laila yang melihatnya lantas mengisyaratkan bahwa bukan itu yang kita butuhkan sekarang lalu menyimpannya.
"kita butuh data nya mas hadi, karena pasien banyak luka serius dan harus segera di tangani dan menjalani rawat inap" jawab laila sambil menulis data pribadi laki-laki itu yang ia salin dari KTP nya.
"haahh jawa tengah, jauh sekali ya mas, dia perantau ternyata" pekik laila saat membaca alamat dari KTP yang ia pegang.
"wah iya ya mbak, sebentar mbak, saya periksa panggilan atau chat sosmed nya, semoga ponselnya nggak pakai kode-kode" jawab hadi mengambil ponsel dan mencoba membukanya.
suasana bangku panjang yang mulanya riuh oleh suara laila dan hadi pin seketika hening.
'' alhamdulillah,mbak laila ternyata dia tinggal nggak jauh dari sini mbak" ucap hadi kegirangan sehingga ia tidak sadar mengenggam pergelangan tangan laila
"astaghfirullah" laila yang kaget ketika ada yang menggenggam pergelangan tangannya pun sekwtika berteriak dan menarik tangannya.
"maaf mbak laila, sekali lagi maaf" ucap hadi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"ada apa sih mas hadi, kok kayak anak kecil dapet lolipop gitu" tanya laila sedikit dengan nada marah,
laila marah karena ia kesal hadi menggenggam pergelangan tangannya, karena selama ini laila sangat menjaga pergaulannya, sehingga ia tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram nya.
"ini mbak lihat chat terahirnya, ternyata bapak ini tinggal di pondok pesantren yatim piyatu mungkin si bapak ini salah satu pengajarnya mbak, kan ada TPA nya juga" jawab hadi sedikit santai.
"coba lihat mas hadi, siapa yang terahir kontak dengan beliau, dan segera hubungi". perintah laila sembari menyerahkan formulir kepada petugas administrasi.