Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Diserang
“Xavier, jangan bicara keras-keras sama adikmu!” Suara tegas lain mulai terdengar di ujung telepon. Luna tersenyum tipis, kala cinta pertamanya itu membelanya dari amukan sang kakak.
“Dad, ada suara laki-laki di dekat Luna! Padahal harusnya dia sudah sampai di apartemen sejak tadi!” kesal Xavier.
“Sudah, sudah! Kalian ini malah berantem. Sini ponselnya!” Tidak ada yang berani membantah, ketika wanita lembut namun tegas itu mulai bersuara dan kini mengambil alih ponsel Xavier. “Luna Sayang, kamu sudah sarapan? Bagaimana hari pertama kamu bekerja di sana?”
Luna semakin besar kepala. Ia tertawa puas meski tanpa suara. Hal itu tak luput dari pandangan Arash yang mendongak, terpesona dengan kecantikan gadis di depannya.
“Seru, Mom. Hehe. Luna baru sampai, belum sempat sarapan, Mom,” sahut Luna mendelik karena Arash menatapnya tak berkedip. Luna juga mengisyaratkan jarinya agar Arash tetap tutup mulut.
“Kau pacaran ya, Luna! Memang perjalanan ke apartemen sampai dua jam?! Ngaku kamu!” celetuk Xavier. Khansa—ibu mereka, memang sengaja menyalakan loud speaker. Sehingga mereka bisa mendengar suara Luna sembari sarapan.
“Iiih enggak, Kak. Semalam tuh banyak pasien. Jangan nuduh sembarangan!” bantah Luna dengan degup jantung yang tak beraturan. Apalagi kini netranya bertumbukan dengan Arash yang tersenyum tengil padanya. Matanya mendelik untuk kesekian kalinya. Luna melayangkan tatapan ancaman pada lelaki itu andai berani mengeluarkan suara.
“Kalau nggak salah enggak usah panik gitu. Awas kalau dugaanku bener, aku seret kamu ke Palembang! Enggak peduli dengan nilai residen kamu nanti!” ancam Xavier.
Tidak ada sahutan apa pun, hanya terdengar deru napas Luna yang memburu. Matanya berkaca-kaca. Setelah resmi mendapat gelar dokter, Luna menjalani profesi dokter residennya di Rumah Sakit swasta yang ada di Jakarta. Luna tidak ingin ada kesenjangan atau perlakuan khusus, jika dia bekerja di rumah sakit milik orang tuanya selama mengambil pendidikan spesialis.
“Sayang, sudah. Jangan menekan adikmu. Mommy yakin, Luna bisa menjaga diri dengan baik. Luna, Sayang, mandi, sarapan terus istirahat ya. Semangat belajarnya, semoga bisa menjadi dokter bedah yang kompeten, hebat seperti keinginanmu. Tidak usah pikirkan pulang, kapan-kapan kami yang akan mengunjungimu,” tutur Khansa yang selalu menenangkan. Berbeda sekali dengan sang kakak, tidak pernah bisa bicara baik-baik padanya.
“Terima kasih, Mom. Kalau gitu, Luna pamit dulu. Salam buat Daddy, Mom.” Luna mematikan teleponnya. Menatap kesal pada profil sang kakak yang kosong tanpa foto apa pun. “Kenapa sih, dulu harus satu rahim sama dia? Menyebalkan!” ketus Luna berbicara sendiri.
Lupa jika Arash masih di bawahnya, Luna hampir saja menendang lelaki itu. Namun, segera terhenti ketika mendengar desis kesakitan lelaki itu.
“Eh, maaf.” Luna membantu pria itu berdiri, mendudukkan Arash yang memang nampak kesakitan luar biasa.
Tidak dibuat-buat seperti sebelumnya, Luna paham. Bahkan tidak bisa membayangkan seberapa sakit kepala lelaki itu. Dijahit tanpa anestesi, tubuhnya meremang. Padahal tadi, biasa saja hingga berhasil menutup luka itu dan menghentikan pendarahannya.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...
Usai menyiapkan obat, Luna kembali dengan segelas air putih, meletakkannya di meja, “Ini obatnya, minumlah. Untuk mengurangi nyeri dan mencegah demam.” Luna menyerahkan lima butir obat berukuran cukup besar.
Arash menelan salivanya dengan berat. Tegukannya sampai terdengar, wajahnya semakin pucat. Sama sekali tidak berkedip menatap telapak tangan mulus itu.
“Kenapa?” Kening Luna mengernyit heran.
“Besar sekali, mana banyak pula,” gumam Arash.
“Mau sembuh tidak?” seru Luna menatapnya tajam.
“Ma ... mau, Dok!” ucap Arash menengadahkan tangannya.
Alis Luna saling bertaut. Ia melihat telapak tangan besar itu tampak gemetar. “Mau dihalusin dulu obatnya? Kayak bayi gitu?” tawar Luna menahan tawa.
“Tidak usah!” tolaknya merebut paksa obat-obatnya menelan sekaligus. Ia segera menyambar air putih di gelas dan meneguknya hingga habis. Napas lelaki itu terengah-engah saat meletakkan gelas kosong di meja.
Luna beralih mengambil kasa, berdiri tepat di depan Arash untuk membebat lagi kepalanya. “Jangan banyak gerak, lukanya biar enggak kena debu,” titahnya. Dengan telaten, Luna melingkarkan kasa itu hingga rapi, menutup luka Arash dengan sempurna. Lalu beralih membereskan semua peralatannya yang berantakan. Tak lupa kembali mencuci alat-alat tersebut.
Arash tidak lagi bersuara, matanya terpejam merasakan denyut kepalanya yang menyiksa. Ingin mengumpat, tapi tidak bisa. Apalagi kini aroma tubuh Luna yang memabukkan menguar di hidungnya. Sedikit memberinya ketenangan.
“Istirahatlah di kamar.” Luna membantu Arash berdiri.
“Kita sekamar?” tanya Arash yang langsung membuka matanya. Bibirnya menyungging senyum penuh semangat.
Luna memicingkan mata sembari berdecih, “Kamu akan tinggal nama jika melakukannya!” tegasnya memapah Arash hingga ke sebuah kamar kosong. “Aku menampungmu sampai lukamu sembuh saja.”
“Kita tinggal bersama, Dok?” Arash menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
“Tidak! Kamu tinggal sama Bibi. Kalau ada apa-apa, lapor saja sama Bibi!”
Raut kecewa pun berpendar dari wajah pria itu. Andai saja tubuhnya sehat, sudah pasti Arash tidak akan melepaskannya.
“Yah, padahal aku akan sembuh lebih cepat jika sama Dokter,” tutur Arash mengedipkan sebelah mata.
Enggan menanggapi, Luna keluar dari kamar itu. Menemui Bibi yang membantu membereskan apartemen, memintanya tutup mulut sekaligus melayani Arash. Tanpa membantah, ART itu pun mengiyakan permintaan Luna.
Luna keluar dari apartemennya. Melenggang santai hingga berhenti di depan unit yang berbeda, tapi masih satu lantai dengannya. Setelah menekan bel berkali-kali, pintu apartemen terbuka.
“Luna, ada apa?” tanya gadis bersurai panjang, mengintip dari balik pintu.
“Zora, kamu kok masih di rumah? Bukannya koas enggak ada liburnya?” tanya Luna.
“Persiapan ujian, Luna. Ah mataku lelah. Kamu enak, udah melewatinya.” Zora melenggang masuk melempar kembali tubuhnya di sofa.
“Semua dokter pasti melaluinya. Semangat. Oiya, aku nginep sini ya beberapa hari,” pinta Luna, Zora terperanjat seketika.
“Tumben? Ada apa?” selidik Zora, teman dekatnya sejak kuliah itu. Sayangnya, Luna lebih cepat menyelesaikan kuliahnya.
...\=\=\=ooo\=\=\=\=...
Malam harinya, teriakan disertai suara puluhan knalpot motor memekakkan telinga di sebuah rumah yang ada di kawasan Andora.
“Cepat keluar atau aku hancurkan kalian!” teriak pria yang menjadi pemimpinnya.
Tahu jika Geng Arthropoda mengalami kekosongan ketua beserta wakilnya, Geng Cobra menjalankan aksinya menyerang markas musuhnya itu.
Beberapa anggota Arthropoda segera keluar, mereka terkejut melihat pelataran dipenuhi wajah-wajah bengis dengan membawa alat pukul.
Tidak semua stanby di markas, karena sebagian mencari keberadaan Arash yang masih bersembunyi dari kejaran papanya.
“Gimana nih? Omed dan si Bos enggak ada di sini. Bos juga belum bisa dihubungi? Anggota kita yang ada enggak seberapa?”
“Hadapi saja sebisanya.”
Mereka berunding ketika mendengar tempat mereka terkepung. Mau kabur pun sepertinya sudah tidak bisa. Mereka hanya tinggal 10 orang, keluar dari rumah, menatap tajam pada geng motor lawannya itu.
“Hahaha! Berani juga kalian keluar tanpa pimpinan. Kirain bakal kabur seperti bos kalian!” sindir Josh, ketua geng Cobra.
“Kami sama sekali tidak takut!” balas Caesar yang berdiri paling depan.
“Cuih! Sudah dikepung masih saja sombong. Aku beri waktu 1 menit untuk meninggalkan tempat ini, dan juga tinggalkan bos kalian yang pengecut itu, jadilah anggota kami. Jika tidak....” Josh menggerakkan lehernya hingga bergemeletuk.
“Lebih baik kami mati dari pada bergabung denganmu!” tantang Caesar memotong ucapan Josh.
Merasa diremehkan, Josh menggertakkan gigi-giginya, “Serang! Jangan beri mereka ampun!” teriak Josh mengangkat tongkat base ball lalu anak buahnya turun dan segera maju menyerang pertahanan Arthropoda.
Bersambung~