"Kamu bisa memasak?" tanya Ayuma melirik Alin.
Saat ini mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Alin
Alin mengangguk antusias. "Bisa, Ma. Tapi hanya menu sederhana, masakan rumahan".
"Kapan-kapan mama mau coba masakan kamu ya, pasti sangat enak".
"Iya, Ma"
'Duhh gimana nih' Alin hanya melirik sepotong beef yang berada di hadapan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Setelah Hampir tiga jam perjalanan akhirnya Alvin dan Hana sampai di kediaman tuan Mahendra, mereka sampai sekitar jam dua belas malam dan tuan Mahendra sedang tertidur.
Tapi sebelum sampai ke kediaman tuan Mahendra, Alvin telah menelfon terlebih dahulu akan kedatangan nya.
"pak, saya mau bertemu tuan Mahendra, ini sangat penting" ucap Hani saat berada di depan gerbang rumah Alvin.
"tuan Mahendra sedang istirahat dan tidak bisa di ganggu" jawab satpam yang telah bersekongkol dengan Alvin dan tuan Mahendra.
"tapi ini benar benar penting pak, tolong saya ingin berbicara sebentar saja dengan tuan Mahendra atau anak nya yang bernama Alvin" ucap Hani dengan memohon namun tetap saja satpam itu melarang Hani dan Alvin masuk.
Hana dan Hani tidak mengetahui identitas asli Alvin begitu pun dengan nama nya, yang mereka tau adalah Al seorang kurir kiriman tuan Mahendra.
Hani tidak berhenti begitu saja untuk berusaha masuk di kediaman tuan Mahendra. Hani pun melihat kiri kanan mencari sesuatu agar bisa masuk ke dalam rumah tuan Mahendra.
saat menoleh Hani melihat ada pohon besar di samping rumah tuan Mahendra dan Hani pun berfikir akan memanjat pohon itu dan melompat masuk ke dalam pekarangan rumah tuan Mahendra.
"hey gadis gila, kau mau kemana" tanya Alvin saat melihat Hani sedang berjalan ke arah pohon besar. namun Hani tidak menjawab perkataan Alvin.
Hani memanjat pohon dengan sangat mudah dan tak butuh waktu lama Hani sudah berada di dahan pohon dan akan segera melompat masuk ke dalam pekarangan rumah.
"apa kau sudah gila, kenapa kau memanjat pohon besar itu" ucap Alvin saat berada tepat di bawa pohon.
"lebih baik kau diam saja dan tunggu aku di situ, aku akan melompat masuk ke dalam pekarangan rumah agar bisa bertemu tuan Mahendra" ucap Hani sembari mengambil ancang-ancang untuk melompat masuk.
"Hey di situ bukan pekarangan tapi...." belum selesai Alvin berkata Hani sudah melompat masuk dan ternyata Hani mendarat di kolam renang bukan di pekarangan rumah.
"Aaaa" teriak Hani.
Saat mendengar teriakkan Hani, Alvin pun segera masuk dan menyelamatkan Hani dengan ikut melompat di kolam renang dan membatu Hani menepati.
"Hey bangun gadis gila" ucap Alvin setelah membaringkan tubuh Hani di pinggir kolam dan menepuk pelan pipi Hani namun Hani belum juga sadar dan dengan terpaksa Alvin pun memberikan nafas buatan untuk Hani. tidak butuh waktu lama Hani pun terbangun dan panik melihat Alvin dengan jarak yang begitu dekat. refleks Hani pun mendorong Alvin hingga jatuh ke kolam renang lagi.
"Dasar supir bodoh, apa yang kau lakukan pada gadis polos seperti ku" ucap Hani.
"Eh gadis gila, aku hanya membantu mu dan kau malah mendorong ku, kau benar benar tidak tau berterima kasih" kata Alvin sembari menepi di pinggir kolam.
Bukan nya berterima kasih Hani malah pergi begitu saja. Hani pergi ke pintu depan dan mengetuk pintu agar tuan Mahendra tau akan kedatangan nya.
"Eh eh kau masuk lewat mana" tanya satpam saat melihat Hani berada di depan pintu utama dan menyeret Hani agar segera pergi namun Hani terus berteriak dan memberotak. hingga tuan Mahendra pun terbangun dan membuka pintu utama.
"ada apa ini, kenapa kau membuat keributan di rumah ku" ucap tuan Mahendra
"dia datang hanya ingin meminta sumbangan tuan" ucap satpam itu dengan asal.
"Eh sembarangan kau, mana ada gadis cantik seperti aku ini, meminta sumbangan" ucap Hani sembari menginjak kaki satpam itu dan sontak satpam itu pun melepas genggaman tangan nya.
***Setelah menginjak kaki satpam itu Hani pun segera menghampiri tuan Mahendra.
"tuan aku mohon, aku sangat membutuhkan bantuan mu, parah buruh setiap hari meminta hak mereka, tolong lakukan sesuatu untuk mereka, mereka hanya rakyat biasa dan bergantung kepada anda, tolong bantu mereka tuan, saya mohon"
"jadi begini nak.." belum sempat tuan Mahendra melanjutkan ucapannya Alvin datang lewat pintu belakang dan berbisik di balik tembok.
"ayah jangan dengar kan dia, gadis itu juga terlibat dalam kasus ini" lirih Alvin di balik tembok.
"maaf nak tapi keputusan ada di tangan anak ku, aku tidak bisa melakukan apa apa" ucap tuan Mahendra dan berlalu pergi. sebenarnya tuan Mahendra ingin menolong Hani tetapi bisikan setan dari Alvin bergema di telinga nya.
"kau dengar kan semua keputusan ada di tuan muda Alvin, jadi sebaik nya kau pergi saja karena tuan Alvin tidak akan merubah keputusannya" ucap satpam itu.
"kau pikir aku akan pulang semudah itu!! aku akan terus menunggu tuan muda Alvin dan meminta tolong dengan nya" Hani bersikeras untuk tetap tinggal hingga akhirnya Alvin memberikan kode kepada satpam nya.
"baiklah kau tunggu saja, aku akan pergi istirahat tapi ingat kau jangan menghancurkan ruangan ini" ucap satpam itu dan segera pergi.
Kini hanya ada Alvin dan Hani di ruangan itu dengan kesunyian. Hani terus mondar-mandir seperti setrikaan sedang kan Alvin duduk dan menguap karena sangat mengantuk.
"Hey gadis gila, sampai kapan kau akan menunggu tuan Alvin pulang?" tanya Alvin sembari menguap karena sangat mengantuk. namun perkataan Alvin di hiraukan begitu saja oleh Hani.
"Nih pakai lah kemeja ini, agar kau tidak masuk angin jika memakai pakaian basah dan tembus pandang begitu" ucap Alvin sembari memberikan kemeja untuk hani.
Karena terlalu banyak pikiran Hani sampai sampai melupakan baju nya yang basah akibat jatuh ke kolam renang tadi dan dengan cepat Hani meraih kemeja yang di berikan Alvin dan segera mengganti.
"kamar nya di mana, aku mau ganti baju" tanya Hani dengan menyilang kan kedua tangan nya di dada.
"Biar aku antar" jawab Alvin sembari berjalan menuju kamar tamu dan membuka pintu. Hani pun segera masuk dan berganti pakaian. tidak butuh waktu lama akhirnya Hani selesai memakai kemeja Alvin. karena tubuh Hani yang kecil dan kurus alhasil kemeja Alvin kebesaran.
Dan setelah mengganti pakaian Hani dan Alvin kembali ke ruang tamu dan karena sangat mengantuk akhirnya Alvin tertidur di sofa.
Berbeda dengan Hani yang masi duduk di depan Alvin sembari melirik sekilas ke arah Alvin yang sedang tertidur.
"Kenapa kau tidak pulang" tanya tuan Mahendra saat ingin ke dapur untuk mengambil air minum.
"Aku sedang menunggu tuan muda pulang dan aku tidak akan pulang sebelum bertemu tuan muda dan menjelaskan penderitaan yang di alami parah buruh" ucap Hani.
Sontak hati tuan Mahendra pun bergerak dan mengajak Hani untuk kerjasama.
"Hmm bagaimana jika kau pulang saja dan suruh supir mu itu untuk berpura-pura menjadi tuan muda, besok pagi jika tuan muda datang aku akan ke kota M bersamanya" saran tuan Mahendra
"tapi bagaimana jika ada yang mengenali supir itu" ucap Hani sembari melirik Alvin.
"tenang saja, cuman ada beberapa orang yang pernah melihat putra ku itu dan mungkin hanya kau yang mengenal baik putra ku" ucap Mahendra dengan tersenyum.
"yang benar saja tuan, aku saja tidak perna melihat tuan muda, lantas bagaimana aku mengenal nya dengan baik" ucap Hani sembari mengernyitkan dahi nya.
"ah tidak usah di pikir kan perkataan aku tadi, lebih baik kau pulang sekarang bersama supir mu itu, besok aku janji akan datang ke kota M" ucap tuan Mahendra sembari berlalu pergi.
**