Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama menjadi istri(1)
Aku terbangun karena mendengar azan shubuh berkumandang, aku bingung kenapa aku tak bisa bergerak, dan kenapa rasa gulingku besar sekali dan hangat seperti tubuh manusia, aku berusaha melepaskan diri hingga merasa ada deru nafas di puncak kepalaku. Oh tidaakk, aku baru ingat aku tak sendirian di kamar ini, Bang Yusuf
"Aaaa...." teriakku, sontak yang mendengar pun kalang kabut, hingga terduduk
"Ada apa, dek?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur
"Ada apa-ada apa, kenapa peluk-peluk, gak izin lagi" sungutku kesal
"Enak aja, kamu yang meluk duluan, kok Abang yang disalahin" balasnya Tak mau kalah
"Jelas-jelas Abang yang meluk duluan"
"Kamu juga meluk dek, jadi apa salahnya"
Bener juga sih apa salahnya coba? Toh sama-sama meluk.
"Ya seenggaknya bilang dong, jangan asal meluk gitu" tetap aku tak mau kalah
"Iya-iya maaf ya dek" gitu dong ngalah.
"Ayo, buruan wudhu kan udah azan tadi, ntar habis waktu karena berdebat gak guna gini" lanjutnya sambil menarik lenganku, tak memberiku waktu untuk memakai jilbabku, sampai dikamar mandi dia melepas tanganku, bersiap berwudhu, ku ikat asal rambutku, dan mulai berwudhu disampingnya.
Kami shalat berjamaah dikamar, toh kalau bang Yusuf pergi ke mesjid gak sempat lagi berjamaah.
Selesai shalat seperti biasa aku menyalami tangannya, dan dia mengusap lembut kepalaku sambil melafalkan do'a. Aku jadi salut walau pun sikapnya kadang bawel tapi dia termasuk suami idaman. Aku bangga. Eh?
Setelah mandi aku turun kebawa membantu ibu menyiapkan sarapan, ini termasuk tugasku sebagai istri dan aku akan belajar melupakan masa laluku.
Aku bicara panjang lebar dengan ibu sambil mematong sayur, yang kutahu besok calon suami adikku akan kesini untuk melamar adikku secara sah dengan membawa keluarganya. Aku jadi ingat memori 2 tahun lalu saat aku juga akan dilamar oleh orang yang sama seperti yang melamar adikku.
Sepertinya aku melamun terlalu lama hingga tercium bau hangus
"Astaghfirullah.." jeritku pelan. Segera kumatikan kompor
"Loh Yuna kenapa bisa hangus, masa baru nikah udah melamun sih" ucap ibuku menggoda. Aku kan malu.
" Gak kok bu, ini tadi apinya terlalu besar jadi hangus" aku nyegir, toh aku tak bohong tadi apinya memang besar
"Iya deh, ganti minyaknya tuh, yang tadi udah hangus nanti pahit, kasih kucing aja ikannya yang hangus tuh. Mana tau masih bisa dimakan sama kucingmu" jelas ibu, aku hanya mengiyakan
Aku memang punya kucing peliharaan berwarna putih dengan telinga dilingkari warna abu-abu kekuningan. Sungguh imut
Semua siap dimeja makan, melewati kamar Hana, aku memanggil Hana untuk makan, dan bergegas kekamarku untuk memanggil Bang Yusuf juga.
Sampai dikamar kulihat Bang Yusuf duduk sambil menyandarkan diri diranjang dengan ponsel ditangannya, aku menghampirinya
"Bang, makan dulu, semua udah nunggu tuh dibawah", ucapku sambil membereskan ranjang yang memang belum dibereskan. Kulihat dia menoleh, meletakkan ponsel kasur didekatnya. Aku tepat disampingnya
"Ayoo. Gak sabar cicipin masakan istriku" ucapnya sambil mencium pipiku sekilas. Kok aku jadi patung gini
"Ayoo. Dek!"lanjutnya seraya menarik tanganku, aku yang masih kaget hanya menurut. Hingga sampai diruang makan aku melayaninya juga dalam diam. Dan memakan makananku dalam diam.
"Alhamdulillah.." ucapnya selesai dengan makan dan minumnya. Yang lain juga mengucapkan hal sama, karena ritual makan udah selesai
"Gimana bang? Enak?" Ucapku saat berdampingan dengannya menuju kamar
"Apanya?" Ujarnya bingung. Dasar cowok gak peka awas aja, mau ku ulek-ulek rasanya. Menyebalkan.
"Itu loh, masakan tadi"
"Terus kenapa ama masakan tadi emangnya?" Hadeuuh. Gak sabar buat cincang ne orang. Sebal
"Gak ada" jawabku kesal mendahului masuk kamar
"Terus tadi apa juga" ucapnya seraya menyusul dari belakang. Aku masih diam males sama orang bar-bar macam bang Yusuf. Aku membereskan kamar yang tadi belum beres. Bang Yusuf sudah diam dari tadi, mungkin main ponsel lagi.
Kubereskan baju kotorku beberapa hari ini, ingin mencucinya dibawah. Saat berbalik, aku melonggo lagi, sungguh tak menyangka Bang Yusuf tertidur, dengan novelku diwajahnya. Dasar kebo. Eh, gak boleh ngatain suami Yuna, Dosaa!!!
Astaghfirullah, aku hanya geleng-geleng kepala, sungguh pria unik.
Aku mendekatinya, mau membangunkanbang Yusuf, kupandangi sekilas dasar pria, tampan tapi cerewet
"Bang, Bang. bangun!. Ini masih pagi ngapain tidur coba?" Ku guncang tubuhnya pelan. Tak ada jawaban. Benar-benar.
"Banggg.. bangun ihh" sedikit merengek mungkin saja dia bangun. Tapi tetap tak ada jawaban. Gimana cara banguninnya, kalau kasar nanti pasti terdengar sampai keluar.
Aha!!Aku punya ide. Kudekati wajahnya, kutiup-tiup wajahnya, berhasil!!. Dia mulai menggeliat.
"Bang bangun!" Ucapku didepan wajahnya, dia membuka mata, ck.. untung gak jantungan. Selesai
Saat ingin beranjak, seperti ada sepasang tangan yang merengkuh pinggangku. 'Apa ini'. Aku tertarik hingga jatuh diatas tubuhnya. Aku menggeliat mencoba melepaskan diri. Tapi apa daya dia sangat kuat
"Bang, lepaasss"
"Ngapain tadi deket, mau cium hm?"
"Enggak, orang tadi bangunin abang, ngapain juga abang tidur jam segini"ucapku dengan nada agak tinggi menutupi kegugupan. Sport jantung ini atau aku sudah mulai kena penyakit jantung. Oawalah. Bahaya ini
"Kan bisa bangunin biasa aja, kenapa kayak mau cium gitu"
" Enggak ih, abang aja tidurnya kayak kebo, susah dibangunin"
"Gak percaya, bilang aja mau cium, jangan malu-malu" aku menggeram, dia terus menggodaku. Kesal
"Gak gitu, lepaass"
"Cium dulu, baru dilepas" ucapnya manja seperti anak kecil minta permen
"Enggakk!"
"Cium!"
"Ih Abang gak mau" menjauhkan wajahku darinya
"Oke sayang, Abang yang cium kamu" Dia mengedipkan sebelah mata dengan senyum mengembang, dia pura-pura tak mendengarku. aku menatapnya horor
"Gak mau Abang, lepass" kenapa dia begitu kuat, bahkan usahaku tak berhasil
Aku takut, dia mendekati wajahnya dan wajahku, aku terus mencoba melepaskan diri, kurasa tangannya menekan tekukku, dia sudah sangat dekat hanya tinggal 2 cm mungkin. Aku memenjamkan mata, sungguh aku takut.
"Buka matamu dek"
"Gak bang, takut"
"Buka sayang" karena tak terjadi apa-apa, kubuka mataku pelan, masih didepan wajahnya. Ku tatap matanya, Indah
Dia menyeringai, mendekat. Aku terbelalak merasakan bibir sudah menempel dibibirku, dia menciumku, mata teduhnya memandangku. Jantungku berpacu dan wajahku terasa panas mungkin sudah merah padam.
Setelah beberapa detik dia melepas ciuman sungguh ini pertama kali, dia merenggangkan pelukan. Aku tergesa bangun ingin jauh dari hadapannya. Untuk menyembunyikan rona merah di pipi. Aku malu
Dia juga bangun dari tidurnya. Saat aku ingin beranjak dia menarik tanganku, hingga aku terduduk di pangkuannya dan memeluk pinggangku.
"Biarkan begini sebentar" ucapnya. Aku hanya bisa diam tak bisa lagi menyembunyikan wajahku darinya, dia meletakkan kepalanya dibahuku, aku tak bisa bergerak sungguh ini menegangkan. Perutku seperti diaduk-aduk. Kulihat dari ekor mata dia memenjamkan mata seperti menikmati sesuatu.
3 menit sudah, aku jadi bosan begini, dia melepaskan rengkuhan. Aku berdiri dengan cepat berlari keluar dengan terbirit-birit membawa baju kotor. Kudengar sekilas kekehan Bang Yusuf. Menyebalkan. Gak tau apa orang gugup.
Sampai di kamar mandi bawah, aku memegang dada, masih dag dig dug. segera mencuci baju untuk mengalihkan perhatian, sungguh kejadiaan tadi berputar-putar di kepalaku, sepertinya aku juga akan gila karena tertawa sendiri, memalukan.
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati