Peringatan!
Cerita ini hanya fiksi, jadi kalau tidak sesuai dengan apa yang terjadi disekitar kita. kembali lagi, ini hanyalah fiksi.
Jadi, tahan jarinya untuk tidak menghujat penulis, kalau tokoh yang di hujat, silahkan!
*******
Sebuah perselingkuhan terjadi bukan karena niat pelaku, tapi karena adanya kesempatan, ingat! Kesempatan, maka waspadalah!
Kehidupan Shakilah dan Jojo, yang belum di karuniai anak, semula berjalan dengan sangat manis.
Sampai akhirnya kedatangan Shopia, adiknya Shakila, mengubah apa yang semula semanis gula jawa, menjadi lebih pahit dari empedu.
Shakila yang kurang menghargai suaminya, membuat Jojo mulai melirik adik iparnya yang jauh lebih penurut seperti kelinci dibandingkan dengan Shakila yang pembangkang.
Dan akhirnya, hubungan terlarang itu terjadi di belakang Shakila.
Shopia hamil, anak siapa? Ikuti kisah rumah tangga Jojo dan Shakila selanjutnya.
Follow Ig rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 . Pindah rumah
Hanya satu malam saja bang Jojo dan Syakila menginap di rumah orang tua Syakila. Esok harinya bang Jojo membawa Syakila pindah ke rumah miliknya sendiri.
Bang Jojo tersenyum lebar sambil membuka pintu rumahnya.
“Selamat datang di istana kita, Dek Sya.”
Syakila berdiri di ambang pintu, matanya menyapu isi rumah yang bersih, rapi, tapi masih terkesan aroma maskulinnya.
Langit-langit tinggi, cat warna abu-abu elegan. Belum banyak perabotan, karena memang bang Jojo tidak tinggal disitu. Ia cuma membeli sebagai investasi.
Begitu dia dijodohkan sama Syakila, baru mulai diisi dengan perabotan seadanya, maksudnya yang perlu-perlu saja dulu. Seperti tempat tidur, lemari pakaian, sofa, kursi makan dan peralatan dapur. Yang lain bisa menyusul kemudian.
“Perabotannya semua baru kan Dek Sya, semua baru Abang beli buat menyambut kedatangan istri baru.” bangga bang Jojo.
Syakila angkat jempol. “Tapi sayangnya Abang lupa nyiapin satu hal.”
“Apa?”
“Pojok makeup, cermin gede, dan lemari baju khusus buat aku.”
“Nanti kita beli ya Dek Sya.” janji bang Jojo.
Hari pertama tinggal bareng di rumah sendiri, mereka sibuk beberes. Syakila mulai menata dapur, sementara bang Jojo sibuk menyusun ulang posisi sofa tapi entah kenapa selalu kembali ke tempat semula.
“Bang, kamu tuh kayak GPS rusak. Disuruh belok kanan, tetap ke kiri,” protes Syakila.
“Abang tuh cinta simetri. Kursi tuh harus searah dengan kiblat.”
“Suka-suka kamu lah, Bang.” ucap Syakila memilih merebahkan diri di atas ranjang, sambil bermain ponsel. Membiarkan suaminya sibuk menata perabotan.
Malamnya, mereka tidur di kamar utama. Kasur empuk, sprei baru, aroma pengharum ruangan.
Bang Jojo tiba-tiba tersenyum nakal sembari mendekat.
“Dek Sya, kemarin kan di rumah orang tua kamu kita nggak begituan. Malem ini ya, Dek Sya. Anggap aja acara seremonial tinggal di rumah baru.” ucap bang Jojo yang tangannya sudah mulai menyentuh daerah-daerah yang sangat sensitif di tubuh Syakila.
Syakila yang emang doyan, tidak menolak ajakan suaminya, malah dia yang langsung bersikap agresif.
Tentu saja bang Jojo senang bukan kepala.
*
*
Sore itu Syakila lagi asik scrolling TokTok di ruang tamu, pakai daster paling nyaman, rambut dicepol, kaki selonjoran. Bang Jojo lagi di belakang rumah, menyiram tanaman sambil bernyanyi lagu suka-suka.
Tanaman yang memang ditanam oleh bang Jojo, agar rumahnya tidak terlihat jika tidak dihuni. Biasanya setiap akhir pekan bang Jojo membersihkan rumah dan halaman, biar tetap enak untuk dipandang mata
Kenapa dibilang lagu suka-suka yang dinyanyikan oleh bang Jojo? Ya karena bang Jojo memilih di bait-bait yang ia suka dan ia hafal saja.
Tiba-tiba ada notifikasi WA masuk. Dari seseorang yang bikin kangen sekaligus bikin jengkel, alis Syakila langsung naik sebelah
Hans.
{ Selamat menempuh hidup baru,}
Syakila hanya mendesah.
Hans termasuk mantan yang paling bahaya, mantan yang tidak tahu diri. Memacari dirinya bukan karena cinta, tapi azas manfaat.
Dengan rasa penasaran bercampur curiga, Syakila membuka pesan berikutnya.
{Hai, Sya. Gimana kabarnya? Sekali lagi aku ucapkan selamat ya. Kamu pasti bahagia banget sama suamimu.}
Masih sopan. Masih standar basa-basi.
Lalu dua menit kemudian... pesan ketiga masuk.
{Aku lagi butuh bantuan kamu, Sya. Gak enak minta, tapi cuma kamu yang bisa aku mintai tolong. Bisa pinjam uang dulu gak? Cuma sebentar, nanti aku ganti. Janji!}
Syakila melotot ke layar HP.
“Dasar nggak berubah, udah jadi mantan pun masih memanfaatkan aku.” omel Syakila.
Belum sempat membalas pesan dari Hans, dari arah dapur muncul suara bang Jojo.
“Dek Syaaa! Abang nemu tomat bentuknya kayak love! Pohon tomat liar, mungkin ada burung yang membawa bijinya. Pertanda bagus nih! Rejeki lancar, hubungan makin mesra!” bang Jojo mulai lebay.
“Ya udah, diawetkan aja.” jawab Syakila asal.
Jojo masuk ke ruang tamu, masih pakai kaos oblong bolong satu titik.
“Kenapa muka kamu kok pucet gitu? Kamu sakit, Dek Sya?” tanya bang Jojo sambil mendekat.
“Enggak, cuma ada yang ngucapin selamat aja. Masa’ baru sekarang ngucapinnya, telat.” jawab Syakila setengah jujur setengah berbohong.
Bang Jojo mendekat. “Dari siapa? Fans lama?”
Syakila tersenyum canggung sambil mengangguk. Bang Jojo ikut mengangguk, lalu senyum. Tapi senyum Bang Jojo bukan senyum biasa.
Itu senyum laki-laki yang siap ngajak sparing, jika si fans lama mulai iseng.
Bang Jojo duduk di samping Syakila, mencondongkan badan, lalu mencoba mengintip layar ponsel.
“Fans lama atau mantan?” tanyanya dengan nada sok santai, tapi alisnya jelas naik.
Syakila buru-buru mengunci layar HP. “Abang, jangan kepo dong. Itu cuma orang masa lalu, nggak penting.”
“Orang masa lalu itu kadang lebih bahaya dari maling sandal di masjid, Dek Sya.” Bang Jojo menyandarkan punggung ke sofa, matanya tetap menatap tajam.
Syakila mengerling malas. “Abang lebay.”
“Lebay demi istri halal nggak dosa, Dek.” Jojo mengambil bantal kecil dan memeluknya. “Abang cuma mau pastikan, jangan sampai ada orang iseng yang bikin kamu gelisah. Abang ini tipenya satpam 24 jam, tau nggak?”
Syakila terkekeh, lalu pura-pura kembali fokus ke HP. “Ya udah, kalau Abang mau jadi satpam, aku gaji pakai ciuman aja gimana?”
Bang Jojo langsung berdiri dengan gaya superhero. “Deal! Tapi kalau ada mantan yang ganggu, Abang bukan cuma satpam, tapi sekuriti plus preman komplek sekalian.”
Syakila menahan senyum, tapi matanya sesaat melirik layar HP yang masih menampilkan pesan terakhir dari Hans. Deg-degan juga.
Bang Jojo menepuk paha istrinya pelan. “Kalau itu bener mantan, Abang nggak marah kok. Asal kamu tahu satu hal.”
“Apa?” Syakila balik menatap, setengah curiga.
Bang Jojo menunduk, suaranya pelan tapi tegas.
“Selama kamu jadi istri Abang, yang boleh manfaatin kamu cuma Abang. Itu pun buat masak, mijitin, sama nemenin tidur.”
Syakila ngakak nggak tahan. “Astaghfirullah, Bang! Niatnya romantis, kok ujungnya gitu.”
Bang Jojo ikut ketawa, tapi matanya tetap menyimpan kewaspadaan. Ia belum tahu isi pesan sebenarnya dari Hans, tapi naluri laki-laki jelas sudah menyalakan alarm.
*********