Rara wijaya wanita yang cerdas, baik hati dan termaksud gadis pemberani. Dia harus menikah dengan Rendy Handoko seorang CEO muda. Pria yang memiliki penampilan yang tampan dan kepribadian yang sombong.
Dari awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang.
Rendy merasa Rara menikahinya karena harta. Oleh karena itu Rendy selalu berkata kasar kepadanya.
Sementara itu Rara yang memiliki kepribadian ceria harus berubah seratus delapan puluh derajat untuk meruntuhkan kesombongan suaminya.
Tidak ada hari tanpa keributan dan kecemburuan di antara pasangan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ylfrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Rara tersenyum simpul mendengar ucapan Rendy dan ketika dia pergi meninggalkannya Rara semakin tersenyum lebar. Awal pertemuan Rara dan dia sudah mengibarkan bendera perang. Rendy melihat Rara tersenyum, ia langsung menyimpulkan bahwa Rara adalah wanita yang tidak baik, dapat di lihat dari cara ia menatapnya.
Rendy langsung meninggalkan Rara begitu saja. Namun, Rara tidak hilang akal, enak saja dia meninggalkannya seorang diri setelah membawa Rara kesini di tambah dia sudah mempermalukan Rara. Rara mengejar Rendy dan ikut masuk ke dalam lift tersebut bersamanya.
"Sial" Ucap Rendy merasa gagal mempermainkan Rara
"Tepat sekali, anda pembawa sialnya!" Tunjuk Rara ke arah Rendy
Rendy hanya mengernyitkan keningnya, melihat tingkah tidak waras wanita di sampingnya. Dan niat Rendy menggebu-gebu ingin segera menikahi Rara dan ia juga berjanji akan menghancurkan hidup Rara setelah itu.
Dan ketika pintu lift terbuka, Rara mempercepat langkah kakinya menuju parkiran mobil yang sudah di tunggu oleh Pak Joko, Rara tidak ingin di tinggalkan dalam keadaan dimana gaunnya sudah basah
"Kau mau kemana?" Tanya Rendy ketika Rara ikut masuk ke dalam mobilnya, Rara tahu ia tidak ingin bersamanya lagi, tapi Rara tidak peduli itu yang ia mau, Rara sampai di rumah dengan selamat
"Pulang lah!" jawab Rara
"Kenapa harus dengan mobil saya?"
"Anda lupa? Anda yang merencanakan makan malam aneh ini" ucap Rara mempertahankan tempat duduknya di sisi kiri
"Jika kau tidak bisa menjaga ucapanmu, saya akan menarik semua aset yang sudah saya berikan ke keluarga Adit Wijaya" ancamnya selalu begitu
"Opttsss sorry!" Sahut Rara menutup mulut dengan kedua tangannya
"Keluar!" Rendy menarik tangan Rara
"Tidak!" Rara tetap mempertahankan posisi
"KELUAR!" teriak Rendy
"Ya udah, biar Bapak yang keluar" Ucap Pak Joko melihat mereka ribut kembali
"Jangan!" Jawab Rendy dan Rara secara bersamaan
"Iya!" Sahut Pak Joko tersenyum manis dan mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan hotel tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang Rara dan Rendy di temani oleh keheningan. Sesekali Rendy menoleh menatap Rara yang memejamkan matanya sedari tadi.
Setelah setengah jam perjalanan,
Rara sampai di rumah. Rara turun dan tidak mengucapkan apa-apa lagi, karena baginya tidak ada yang perlu di ucapkan lagi.
Mungkin sedikit aneh bagi Rendy atau dia berpikir Rara tidak memiliki tata krama. Tak berselang lama, ia juga segera meninggalkan rumah Rara.
Rara menghela nafasnya yang memburu ketika satpam rumah membukakan gerbang.
Sejujurnya hatinya terluka mendapatkan perlakuan seperti tadi, Rara sudah banyak menemui lelaki tetapi semuanya menghormatinya bahkan memperlakukan Rara dengan romantis. Tetapi kembali lagi Rara harus kuat menghadapi semua ini, Rara tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain. Termasuk keluarganya sendiri.
"Rara!" Panggil suara yang mulai cukup asing baginya
Rara menoleh dan mendapati pria tinggi dan juga rupawan. Pria itu tengah tersenyum manis ke arahnya. Rara juga ikut tersenyum dan tanpa menunggu apa-apa lagi. Rara berlari ke arah pria itu dan memeluknya cukup erat.
Bau khas pria itu tidak pernah berubah, dia adalah pria yang tadi pagi Rara lihat, pria yang ia rindukan, sangat sulit menjelaskan tentang dirinya, Rara hanya perlu menjelaskan ia merindukannya.
"Angga" Tutur Rara masih memeluk pria itu
"Kenapa kau tidak bilang kalau sudah pulang?" Tanya Angga membalas pelukan Rara
"Suprise!" Ucap Rara dan entah kenapa suaranya mulai parau, tiba-tiba saja Rara menangis di pelukan Angga. Rara menangis sejadi-jadinya. Rara seperti mendapatkan sandaran setelah sekian lama,
Dan ketika Angga membelai rambutnya, tangisan Rara semakin kuat, Rara bingung dengan keadaan ini, Rara bingung memulai cerita ini darimana, saat ini tidak ada yang ingin Rara lakukan selain menangis dan memeluknya.
"Ra, kau kenapa?" Tanya Angga melepaskan pelukannya. Namun, Rara menahannya agar tidak lepas
"Angga!" Teriak suara dari kejauhan, suara wanita itu semakin mendekat dan langsung menarik tubuh Rara cukup kuat, Rara meringis kesakitan ketika kukunya mengenai lengannya
"Raisa?" katanya begitu melihat sahabatnya kembali
Dari tatapannya Rara melihat Raisa seperti membencinya dan ketika Rara mencoba memeluknya dia menepis tangan Rara
"Kau jahat ya Ra?" kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup menyakiti
"Maksud kau?" tanyanya kebingungan
"Kau pulang hanya untuk merebut Angga dari aku?" tuduhan itu sepertinya tidak pantas untuk Rara
"Aku tahu kalian saling mencintai tetapi itu dulu, dan untuk sekarang Angga sudah milik aku!" Teriak Raisa cukup keras
Rara melihat raut wajah cemburunya, dan Raisa hanya salah paham, Rara tidak berniat merebut siapapun
"Delapan tahun kau meninggalkan dia, bukan delapan bulan. Dan ketika dia sudah melupakan kau, kau datang lagi" seakan pertanyaan Raisa menyudutkan Rara yang tidak mengerti apa-apa
"Raisa!" Seru Angga menahan tangan Raisa yang sudah tidak terkendali lagi
"Sa aku nggak ada maksud apa-apa!"
"Dan aku juga tidak ingin menghancurkan hubungan kalian, aku butuh kalian saat ini"
"Butuh kami, setelah kau pergi tanpa pamit? Menghilang entah kemana? Sahabat macam apa kau?"
Di posisi ini Rara merasa terjebak, kenapa orang-orang selalu menyalahkan nyaa tanpa bertanya dulu kejadian yang sebenarnya. Sejujurnya Rara juga tidak ingin menghilang atau pergi tanpa pamit, dan Rara rasa kembalinya adalah pengganggu bagi mereka.
Ketika itu Rendy memutar mobilnya kembali kearah rumah Rara, setelah menyadari dompet dan ponsel Rara tertinggal di mobilnya. Ia bersama Pak Joko melihat keributan itu. Dan mungkin untuk pertama kali juga bagi Rendy melihat Rara menangis. Ia masih memperhatikan dari dalam mobilnya seraya tersenyum kecil, mungkin dia sudah mendapatkan ide untuk menghancurkan Rara
"Sayang dengarkan penjelasan Rara dulu" Ucap Angga menenangkan Raisa
Dari panggilan itu Rara mengerti bahwa di antara mereka sedang menjalin hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan, mungkin saja Raisa cemburu melihatnya memeluk kekasihnya
"Nggak ada yang perlu di jelaskan setelah 8 tahun berlalu!" kata Raisa merangkul lengan Angga
"Kau kenapa, dia ini teman kau juga, kau cemburu?" tanya Angga
"Wanita mana yang tidak cemburu melihat kekasihnya di peluk wanita lain"
"Dia bukan wanita lain dia itu sahabat kita"
"Bukan, setelah dia pergi tidak ada lagi kata sahabat dan kau tahu kebanyakan sahabat bisa merebut pacar sahabatnya sendiri"
"Ada apa dengan kau Raisa memiliki pikiran seperti itu?"
"Kau marah denganku dan lebih membela dia?" tanya Raisa menunjuk Rara, di posisi ini Rara serba salah, ikut bicara takut salah ucap, diam pun juga membingungkan
"Ada apa?" Tanya Rendy dan sudah berdiri di samping Rara. Rara yang tidak menyadari sedari tadi kedatangannya dan ketika melihat Rendy langsung menghapus air matanya.
Angga Damawangsa?