Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kepulangan Keenan
Sejak dibukanya cafe beberapa hari lalu, Kirana dibuat tidak memiliki waktu senggang sama sekali. Dia bahkan sampai lupa jika hari ini Keenan akan mendarat dari Bali. Kirana sedang sibuk berdiri di belakang meja bar menyelesaikan pesanan take away dari seorang pelanggan. Selesai membuatkan pesanan, dia berjalan ke kasir dan melayani pelanggan yang akan membayar. Intinya hari itu Kirana sibuk.
“Selamat dat…,” Kirana terdiam melihat siapa yang datang. Dia jelas kaget melihat Keenan berdiri di hadapannya masih menenteng ranselnya.
“Keenan?!”
“Sibuk banget ya sampai lupa aku pulang hari ini?” tanya Keenan yang mulai berjalan masuk ke balik meja bar.
Ningrum dan Lucy juga sempat kaget melihat siapa yang sedang membantu pekerjaan Kirana, tapi mereka tidak punya waktu untuk menyambutnya. Malah Keenan sekarang meraih apron dan membantu pekerjaan Ningrum untuk menyerahkan pesanan pelanggan yang sudah menunggu di meja masing-masing.
Tepat pukul 10 cafe tutup. Kirana, Lucy, Ningrum, Dimas, dibantu Keenan bergegas membereskan semua kekacauan. Dimas yang bertugas mencuci semua piring dan gelas sedang di sebelahnya Ningrum mencuci peralatan masak lainnya. Lucy sedang mengecek persediaan bahan baku dan mencatat apa-apa saja yang harus dia beli untuk persiapan besok.
Kirana sedang membersihkan mesin kopi dan sekitaran meja bar sedang Keenan membersihkan meja dan mengepel lantai. Selesai dengan pekerjaannya, Kirana melangkah keluar, menghapus tulisan yang ada di black board di depan pintu kemudian membawanya masuk ke dalam.
Sebelum pulang mereka lebih dulu melakukan rapat untuk evaluasi hari ini sekalian menentukan special menu untuk besok apa. Tidak lama setelah rapat berakhir, jemputan untuk Lucy datang. Ningrum dan Dimas juga sudah kembali pulang begitu pula dengan Keenan dan Kirana yang dijemput oleh Ayah.
“Ki, sudah sampai nih,” kata Bunda pada Kirana yang ternyata tertidur saling bersandar dengan Keenan.
Mama dan Papa ikut keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan kedua calon besannya itu. Walaupun tidak sempat mampir karena Keenan pasti juga sudah lelah, jadi mereka hanya sempat bertegur sapa sebentar lalu pamit.
“Oiya Mbak, besok jadi kan?” tanya Mama.
“Jadi dong, Mbak tunggu saja di rumah. Kang ojekku kan sudah pulang jadi besok biar aku aja yang belanja kekurangannya,” kata Bunda yang Kirana tahu janjian mau masak-masak dengan Mama besok.
Kirana kembali menguap lalu melingkarkan kedua tangannya pada lengan Papa. Keenan juga sudah setengah tidur walau masih dalam posisi berdiri tegak. Untung ayah peka dan segera mengajak Bunda dan Keenan untuk pamit. Kirana juga sudah antara sadar tidak sadar ketika melambaikan tangan ke arah mobil Keenan yang mulai melaju meninggalkan rumah.
...***...
Di saat Mama dan Bunda asik memasak di dapur, Kirana dan Keenan hanya duduk santai di depan tv menonton film. Tadinya mereka sedang menonton film horror, tapi tiba-tiba Keenan menggantinya dengan film zombie ketika Kirana sedang ke kamar mandi.
Keenan tahu betul kalau pacarnya itu tidak takut dengan hantu, tapi dia bisa bergidik ketakutan kalau sudah berhubungan dengan zombie. Hal ini dia ketahui ketika festival sekolah dulu Kirana pernah lari terbirit-birit karena salah satu temannya cosplay menjadi zombie.
Kirana tahu filmnya sudah berubah, tapi dia tidak sadar film apa yang diputar karena dia masih asyik dengan handphonenya. Dia sedang menanyakan kabar Lucy dan Ningrum yang sedang berbelanja. Kirana juga memastikan kalau biji kopi yang dipesannya sudah datang bersama dengan beberapa keperluan lainnya.
Keenan masih dengan rasa tidak bersalahnya asik menonton film tanpa menghiraukan Kirana di sebelahnya. Keenan asik saja ngemil keripik kentang yang tadi dibeli Kirana. Selesai memastikan keperluan cafe, Kirana meletakkan handphonenya dan ikut meraih keripik kentang yang dimakan oleh Keenan.
Beruntungnya Kirana, ketika dia baru memfokuskan pandangan tepat ketika wajah seorang zombie muncul memenuhi layar. Kirana langsung berteriak dan meringkuk di sebelah Keenan. Kedua kakinya naik ke atas sofa, kepalanya sudah dia tenggelamkan di balik tubuh Keenan sedang kedua tangannya mencengkeram erat lengan Keenan sambil menangis. Mendengar suara tangisan itu jelas Keenan langsung mematikan tv. Bunda dan Mama yang kaget sampai berlari mendekat untuk memastikan apa yang terjadi.
“Huaa…, Keenan jahat banget sih nyebelin!!!” teriak Kirana sambil memukuli Keenan dengan bantal sofa.
“Ampun ay, astagfirullah maaf Kirana udahan, udah nggak ada itu udah gue matiin. Kirana.”
“Nggak peduli…!!!” kini Kirana bukan hanya memukuli Keenan dengan bantal tapi dia meraih tubuh Keenan dan mengguncangnya membuat Keenan semakin tidak berkutik.
“Kirana sakit aww…! Kirana! Udah! Bisa mati aku kalo kaya gini caranya, sayang!” Keenan pasrah. Kirana tidak mendengarkannya.
Tiba-tiba Kirana berhenti, kemudian memojokkan dirinya di sudut sofa dengan kedua kaki ditekuk dan tangan memeluk erat bantal sofa yang tadi dia pakai untuk memukuli Keenan. Keenan lebih dulu mengembalikan kesadarannya setelah diguncang oleh Kirana tadi kemudian dia mendekati Kirana dan mengulurkan tangannya meminta maaf.
“Dimaafin nggak?” tanya Keenan.
Kirana hanya memandangi tangan Keenan yang terulur padanya. Dia masih sesenggukan dan kesulitan mengatur nafasnya karena hidung yang mampet akibat menangis. Keenan mencoba memenangkan atensi Kirana, dengan tangan yang sama dia kini mengelus kepala Kirana yang masih tetap diam di tempatnya duduk.
“Maaf Ki, aku nggak tahu kalau jumpscarenya sampai separah itu,” kata Keenan.
“Kamu sih iseng banget. Nggak bapak nggak anak sama aja kelakuannya,” kata Bunda yang datang-datang malah ikut menyalahkan putranya.
“Aw sakit Nda, kenapa jadi Keenan juga yang kena sih heran," rintih Keenan yang dicubit oleh ibunya.
“Ya sudah tahu pacarnya takut zombie kok kamu nyetelnya itu. Kamu nih gimana sih Kee,” kata Mama kali ini.
“Kan kepo Ma, katanya bagus, film baru keluar. Tadinya Keenan mau minta Kirana duduk aja tapi jangan ikut nonton tapi dia udah lihat jumpscarenya duluan,” kata Keenan.
“Udah lah sana kalian berdua makan dulu terus siap-siap berangkat tuh udah jam berapa juga,” kata Mama.
Kirana langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Keenan menuju ke wastafel untuk cuci tangan. Kirana menyusul setelah mengganti pakaiannya dan memoles wajahnya dengan bedak dan lip cream berwarna nudes. Kirana sempat terbelalak begitu melihat isi meja makan. Kirana tahu kalau Bunda dan Mama masak-masak tapi tidak expect kalau masakannya akan sebanyak ini.
“Mama niat banget belajar masak masakan eropa kenapa sih Ma sebenarnya?” tanya Kirana.
“Memangnya nggak boleh?”
“Jujur aja, kan kemarin mbak bilang pengen belajar masak masakan eropa karena Papanya Kirana yang minta,” kata Bunda membuat pipi Mama memerah.
“Ahh pantesan. Dasar pengantin baru lupa umur Mama mah,” kata Kirana meledek Mamanya.
Selesai makan, Kirana dan Keenan bergegas berangkat ke cafe. Mereka sudah terbilang terlambat karena sudah hampir jam 1. Lucy dan Ningrum pasti sudah ada di cafe. Keenan meninggalkan Bunda di rumah Kirana, biar nanti Ayah yang menjemput Bunda katanya. Karena saat ini dia harus bertanggung jawab setelah membuat titisan Haruno Sakura ini marah makanya, ketimbang dia mati kena bogem dia meminta Bunda mengalah.
“Maaf aku telat,” kata Kirana pada Lucy, Ningrum, dan Dimas.
“Mana?” tanya Lucy langsung menodong.
“Apa?” tanya Kirana.
“Makan siang lah, kan perjanjiannya yang telat harus beliin makan siang,” kata Ningrum ikut menodong juga.
Kirana teringat, untung tadi Mama dan Bunda membawakan sebagian untuk Kirana bawa jadi dia selamat dari hukuman denda. Tidak lucu kan baru kerja 2 minggu, tapi gaji sudah dipotong saja. Tidak asik.
“Ini masakan Bunda pasti,” kata Ningrum.
“Tahu aja,” kata Kirana.
“Lidah seorang chef nggak pernah salah,” kata Ningrum membanggakan diri.
“Ibu-Ibu kalau udah silahkan diberesin itu mejanya. Udah mau jam 1 ini,” kata Keenan mengingatkan.
Lucy, Ningrum, Dimas, dan Kirana langsung membereskannya. Ketiganya melanjutkan makan di dapur sedangkan Kirana menuju ke meja bar mempersiapkan arenanya. Dia memasukkan biji kopi yang baru ke dalam mesin penggiling kemudian mempersiapkan mesin kopinya. Kirana tidak lupa mengelap gelas-gelas latte dan memeriksa apakah bahan-bahan sudah siap semua termasuk es, susu, sirup, soda dan lain sebagainya. Lucy yang selesai dengan makan siangnya langsung menata kue-kue dan macaron ke dalam etalase dan terakhir Kirana memeriksa apakah ice creamnya sudah jadi.
“Clear. Kalian gimana?” tanya Kirana pada yang lainnya.
“Meja clear,” jawab Keenan.
“Dapur siap tempur.”
“Dan mulai hari ini lo nggak sendirian Ki, jeng jeng…, akhirnya sertifikat barista gue jadi. So…, Kirana nggak akan kerja sendirian. Gue bakal bantu di bar jadi lo bisa lebih fokus di kasir, ok?” kata Lucy sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kirana.
“Good. Yuk sini kumpul…,” mereka tos dulu sambil menyerukan jargon, baru membalikkan papan “closed” menjadi “open”. Keenan juga membawa keluar blackboard berisi rekomendasi menu hari ini yang ditulis dengan cantik oleh Ningrum.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor