Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
SELAMAT MEMBACA
Hari terakhir Vika bersama keluarganya sebelum akhirnya nanti sore ia akan berangkat menuju kota Bandung untuk tinggal disana bersama Neneknya.
"Mama hari ini Vika mau manja-manja sama Mama ya" ujar Vika sambil terus mengikuti kemanapun Mama Iren pergi.
"Iya boleh Vik,tapi ya gak harus ikutin kemanapun Mama bergerak kan" Mama Iren menghentikan langkahnya saat Vika terus saja mengekorinya kemana pun ia bergerak.
"Kok Mama gitu sih" Vika mengambil beberapa lembar keripik pisang dari dalam toples lalu mengunyahnya.
" Mending kamu siap-siap sana cek lagi yang mau dibawa udah ada semua apa blom" ucap Mama lagi.
"Udah beres bos tinggal cussss" ucap Vika sambil terus mengunyah keripik.
"Katanya kemarin diet lah kok sekarang dah gak berenti tuh ngunyah" Mama Iren menghentikan gerakannya lalu melihat heran kearah Vika.
"Gak apa-apa Mah hari ini aja kok,besok diet lagi" Mama Iren hanya menggeleng mendengar ucapan Vika.
wkwkwkk
"Diet berminggu-minggu cuma turun sekilo,makan gak sampe satu jam langsung naik dua kilo" ucap Pian sambil tertawa.
"Dari kapan loe ada disitu Ian?" tanya Vika
"Dari pertama loe ambil tuh keripik,kalo gw liat kaya nya udah abis sekilo tuh" tunjuk Pian pada toples yang kini hanya tinggal separuh.
"He..he gw khilaf kalo dah ngemil" Vika tersenyum saat melihat isi dari toples yang tadinya penuh kini hanya tinggal separuh.
"Makanya jauh-jauh dari toples kalo lagi usaha"Pian langsung menjauhkan toples yang tadi didepan Vika.
"Ka tar gw gak ikut ya nganterin loe,gw gak tega liat loe tinggal di kampung" ujar Pian.
"Dih kenapa sih Dek, Kaka gak apa-apa tinggal disana"
"Disana kan gak ada Mall ka,tapi banyak sih tukang jualan makanan yang enak-enak,tar loe gagal diet lagi makan terus" goda Pian pada sang kaka.
"Pian kok loe gitu sih,gw yakin kok pasti gw bisa kurus"ucap Vika dengan sangat yakin.
Hari itu Vika betul-betul menghabiskan waktunya bersama Mama dan juga adik nya.
Sore pun tiba,Papa Bagas pun sudah tiba sejak tadi.
Mereka sudah siap untuk berangkat menuju kota Bandung, barang-barang Vika pun sudah tertata rapi dibagasi mobil.
Ihsan yang sejak tadi memperhatikan rumah Vika nampak sedikit heran karena tidak seperti biasanya suasana rumah Vika sedikit ramai.
"Udah siap semuanya,ayo kita berangkat biar gak terlalu malem sampe sana"Papa Bagas sudah bersiap dibalik kemudi lalu mama Iren.
"Ka ..."panggil Pian dari ambang pintu.
Vika pun mengehentikan langkahnya lalu melihat kearah sang Adik yang tak mau ikut mengantarnya.
"Loe hati-hati disana,jangan lupa sering-sering VC gw" teriak Pian.
"Insyaallah ya kalau gw ada kuota ha...ha..." sahut Vika sambil bercanda.
Pian pun langsung menghampiri Vika dan memeluknya erat.
"Gw bakal kangen ama loe Ka, gak ada yang bakal gw ajak ribut lagi disini" ucap Pian.
"Woii loe kan anak cowo masa kaya gini, cengeng"ucap Vika yang tak mau kelihatan sedih didepan sang adik.
"Udah sana loe pergi"usir Pian yang langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu.
"Ayo Vika kita berangkat"
"Iya mah" Vikapun langsung masuk kedalam mobil dan mereka pun langsung berangkat menuju kota Bandung.
Sepanjang perjalanan Vika hanya diam sambil menatap jalanan.
Ingatannya kemarin pada saat ia kecil dulu saat masih dekat dengan Ihsan.
Taman disekitar kompleks perumahan merupakan tempat yang paling indah,ada banyak kenangan indah tertinggal disana.
Vika memejamkan matanya saat kenangan indah itu berubah sejak mereka masuk SMA.
Awalnya masih biasa namun lama kelamaan sikap Ihsan berubah apalagi saat ia sudah mempunyai kekasih.
Perlahan Ihsan semakin jauh, bahkan ia juga bisa sampai tega meninggalkan dirinya tadi malam.
"Aku harus bisa lupain dia" batin Vika
"Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa hari baru,aku yakin aku bisa berubah dan baik-baik saja tanpa kamu" batin Vika menyemangati dirinya sendiri.
Jam sembilan malam akhirnya mereka tiba dirumah Nenek Vika dan kedatangan mereka sudah ditunggu oleh sang Nenek.
"Akhirnya sampe juga" sambut sang Nenek.
Mereka pun langsung masuk kedalam rumah Nenek Rodiah, hawa sejuk pinggiran kota Bandung membuat Vika sedikit kedinginan.
Pagi pun tiba,Vika masih setia dengan selimut tebalnya.
Nenek Rodiah yang masih maklum dengan keadaan cucunya membiarkan saja Vika tertidur.
Sementara itu Mama Iren dan juga Papa Bagas baru saja pulang dari pasar di daerah Majalaya.
"Assalamualaikum"
"Vika belum bangun Bu?" tanya Papa Bagas pada ibu nya.
"Belum Gas,biar aja dulu mungkin dia masih penyesuaian" ujar Nenek Rodiah.
Papa Bagas pun mengiyakan.
Udara pagi kota Bandung yang begitu dingin membuat Vika malas untuk segera bangun, padahal sehabis sholat subuh tadi ia sudah bangun namun udara yang dingin membuatnya kembali menarik selimut dan memejamkan matanya.
Matahari mulai merangkak naik, karena tak kunjung juga keluar dari kamar akhirnya Mama Iren mengetuk pintu kamar yang kini ditempati Vika.
tok.... tok... tok
"Vika bangun sayang udah siang ini" teriak Mama Iren dari balik pintu.
Satu kali tak ada jawaban dari dalam.
Mama Iren kembali mengetuk pintu namun kali ini sedikit lebih kencang.
Masih juga belum ada jawaban dari dalam.
"Vikkk...."
"Vika bangun udah siang ..." teriak Mama Iren mulai sedikit kesal karena Vika tak kunjung juga bangun.
"Iya Mah,ini Vika udah bangun kok" sahut Vika dari dalam kamar dengan suara serak karena baru saja bangun.
Dengan malas Vikapun turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Emang udah jam berapa sih Mah,Vika masih ngantuk nih" ucap Vika saat membuka pintu.
"Itu jam sebesar itu kami gak liat" tunjuk Mama Iren pada jam yang menempel di dinding.
"Oh...Vika kira itu ngaco jamnya" ucap Vika ngasal.
"Kamu itu yang ngaco Vik" ucap Mama Iren sambil meninggalkan Vika yang tersenyum mendengar ucapan mama Iren.
Vika pun langsung membersihkan diri dan setelah rapi ia langsung duduk.dimeja makan.
"Lah mau ngapain duduk disitu?" tanya Papa Bagas yang melihat Vika duduk manis.
"Sarapannya mana Pah?" tanya Vika tanpa malu.
"Lah anak perempuan bangun tidur nanyain makan,bantuin masak dulu sana" titah Papa Bagas.
Dengan sedikit malas Vika pun berjalan menuju dapur dan melihat mama Iren dan Nene Rodiah sedang sibuk membuat sarapan.
"Masih lama ya Mah matengnya?" tanya Vika
Dengan kompak Mama Iren dan Nenek Rodiah melihat kearah Vika.
"Sini dulu bantuin masak baru nanyain sarapan" ucap Mama Iren lagi.
Vika pun langsung mendekat namun hanya melihat saja tidak membantu apa pun.
Hallo semua, Author dah up lagi ni jangan lupa ya minta Like,Komennya.
Salam Maniss
Amellajj/author