NovelToon NovelToon
Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Lili Hernawati

Muhasabah Cinta

Ini adalah kisah 3 sahabat yang berpisah untuk mengejar kebahagiaan masing-masing setengah bertemu di pondok pesantren. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua yang terjadi adalah rencana Allah.

Mulai dari pertemuan pertama mereka, perpisahan mereka untuk mengejar kebahagiaan masing-masing, dan pertemuan kembali mereka di tempat maupun waktu yang tidak disangka-sangka.

Qadarullah, inilah yang terjadi. Terjebak di satu rumah dengan prahara rumah tangga masing-masing, mampukah ketiga sahabat ini melewati ujian di dalam rumah tangga masing-masing?

#Siapa bilang nikah muda itu sulit?

Buktinya, Ai, Mega, dan Asri bisa melewatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Canggung

"Ahahah...ya Allah, istriku." Ustad Vano tertawa terbahak-bahak, membuat Ai kian malu namun disaat yang bersamaan merasa manis.

Setelah sekian lama menggunakan wajah datar dengan minim ekspresi, Ai akhirnya bisa melihat momen menyejukkan ini. Momen dimana Ustad Vano tertawa lepas, tampak bebas dan juga bahagia.

Ustad Vano terlihat begitu berbeda dari citra dingin yang Ai lihat di pondok pesantren.

"Mas Vano orangnya jail, ih." Kata Ai dengan senyum sumringah di bibirnya.

Dia terpesona melihat betapa tampannya Ustad Vano tanpa menggunakan ekspresi wajah dinginnya. Ustad Vano memberikan kesan kepada Ai bila ia adalah orang yang sangat mudah didekati.

"Apa istriku, marah?" Ustad Vano berhenti tertawa.

Ai menggelengkan kepalanya dengan jujur. Bukannya marah justru ia malah senang suaminya bisa tertawa selepas ini.

"Aku tidak, Mas. Aku...malah senang melihat Mas Vano bisa tertawa seperti ini."

Ustad Vano tersentuh. Ia menghela nafas panjang, menyentuh wajah lembut Ai dan menariknya agar lebih dekat dengannya.

Gerakan ini terlalu tiba-tiba dan spontan memejamkan kedua matanya menunggu sentuhan Ustad Vano yang lainnya.

"Istriku, kenapa kamu memejamkan matamu?" Tanya Ustad Vano sambil mengulum senyum.

Terhitung sudah berapa kali ia menjahili istrinya malam ini. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, selain karena ingin melihat wajah malu-malu yang sangat menggemaskan, Ustad Vano juga ingin mencairkan suasana beku diantara mereka berdua. Sebab, setelah sekian lama mereka akhirnya bertemu dan setelah sekian lama menunggu mereka akhirnya halal untuk satu sama lain.

Mereka tidak mungkin saling menjamah setelah halal untuk satu sama lain dan mereka tidak mungkin bisa berbicara selayaknya sepasang kekasih yang sudah lama bersama, mereka sulit melakukan semua itu karena mereka tidak terbiasa.

Rasanya begitu canggung.

Mungkin sebelumnya Ustad Vano telah mengikuti dorongan hatinya sewaktu di pondok pesantren, menyentuh tangan Ai dan bahkan berani berdiri sedekat mungkin hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.

Tapi itu terjadi karena dorongan hati yang sudah pada batasnya dan sekarang situasinya jelas berbeda.

Mereka sudah halal dan canggung untuk satu sama lain.

"Mas Vano..." Ai perlahan membuka kedua mata persik nya yang memiliki binar malu.

Ustad Vano menghela nafas panjang- untuk yang kedua kalinya. Ia lalu menyentuh kening Ai dengan keningnya pula seraya memejamkan kedua matanya.

"Ayo, Ai. Kita harus membersihkan tubuh kita terlebih dulu." Ucap Ustad Vano dengan suara seraknya yang mendebarkan.

Mereka lalu berpisah dengan canggung. Sementara Ai berwajah merah, kedua telinga Ustad Vano telah memerah terang. Dia juga sama seperti Ai, malu dan merasa canggung di waktu yang bersamaan.

"Apakah kamu ingin membersihkan tubuh lebih dulu?" Tanya Ustad Vano berharap Ai mengatakan 'iya'.

Karena ia harus melakukan sesuatu nanti.

"Iya, Mas. Aku akan mandi terlebih dahulu." Kata Ai mengiyakan.

Bunda bilang sebelumnya agar perempuan saja yang lebih dulu mandi agar nanti saat suami mandi, istri bisa menyiapkan diri untuk menyenangkan hati suami.

"Baiklah, aku akan mengantarmu." Ustad Vano berdiri sambil membantu istrinya bangun.

Dengan langkah ringan Ustad Vano membimbingnya istrinya masuk ke dalam kamar mandi.

"Terimakasih, Mas." Ai lalu menutup pintu kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Ai dengan malu membuka pintu kamar mandi lagi dan bertemu pandang dengan Ustad Vano yang masih berdiri di tempat.

Membeku, sebuah senyuman malu-malu kembali menghiasi wajah masing-masing.

"Mas.." Panggil Ai malu-malu.

"Apa ada yang salah?" Ai masih menggunakan pakaian yang sama.

Ai menunjuk kain jilbab panjangnya.

"Ai kesulitan membukanya." Kata Ai malu.

Ai sudah mencoba membukanya tapi hanya bisa mengambil beberapa jarum. Sisanya masih banyak bertebaran di sekitar kepalanya.

"Astagfirullah! Aku melupakan sesuatu yang penting." Katanya seraya mendekati Ai.

"Biar ku bantu." Ustad Vano lalu membantu Ai menyingkirkan jarum-jarum itu dari atas kepalanya.

Membuat kain jilbab panjang yang sebelumnya melindungi kepala Ai jatuh merosot ke lantai tanpa pertahanan, menyingkap rambut hitam lembut nan panjang yang memiliki wangi bunga mawar. Meskipun tidak sepanjang milik Almaira, namun bagi Ai sendiri rambut ini sudah sangat panjang.

Sejenak, Ustad Vano terpesona melihatnya dan tanpa sadar telah menyentuh rambut hitam itu. Ia menyentuhnya, merasakan betapa lembut helaian rambut istrinya.

"Ini sangat indah..." Bisik Ustad Vano terpesona.

Ai malu, ia menundukkan kepalanya dengan tangan yang memegang erat gagang pintu masuk kamar mandi.

"Aku... akan mandi dulu, Mas!" Ai buru-buru masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan sang suami yang kini sedang menatap kosong tangan kanannya.

Mengulum senyum, Ustad Vano tidak membuang-buang waktu lagi. Dia buru-buru mengambil sajadah dan menggelarnya ke arah kiblat.

Tidak lupa juga ia menyalakan lilin aromaterapi bunga mawar sehingga kamar pengantin mereka semakin semerbak wanginya. Menambahkan suasana romantis yang akan mereka lalui malam ini.

Cklack

Ai keluar dari kamar mandi dengan mukena putih bersih dan wajah yang lebih segar. Dia menundukkan kepalanya, malu melihat reaksi sang suami yang kini tengah berdiri memperhatikannya.

"Mas, aku sudah selesai." Kata Ai menarik Ustad Vano langsung dari lamunannya.

Ustad Vano tersadar. Dia tersenyum malu dengan tangan terkepal menahan diri.

"Kalau begitu aku akan membersihkan diri selanjutnya." Ustad Vano masuk ke dalam kamarnya mandi sementara Ai keluar.

Saat melihat pintu kamar mandi telah tertutup, Ai buru-buru mengambil parfum mawar yang sudah ada di atas meja rias. Ia menyemprotkan parfum ke segala arah sebelum menggunakan pelembab bibir rasa strawberry, terakhir, ia menggunakan bedak tipis sebagai sentuhan terakhir.

"Ini baik-baik saja!" Gumam Ai gugup melihat penampilannya sekarang di depan cermin.

Ia kemudian mendudukkan dirinya di atas sajadah sambil melantunkan zikir-zikir untuk menenangkan hatinya. Tidak berselang lama, Ustad Vano telah menyelesaikan acara mandinya dan keluar.

Mereka kembali terjebak dalam kecanggungan, tidak mengatakan apa-apa untuk berkomunikasi tapi senyuman di wajah masing-masing sudah cukup menunjukkan suasana hati mereka.

"Aku akan memimpin shalat sunah kita." Ujar Ustad Vano kepada Ai.

Ia berdiri lurus di atas sajadah, di belakang sudah ada Ai yang siap mengikuti sang imam, suaminya.

"Allahuakbar." Takbir pertama telah bergema menandakan shalat telah dimulai.

Ai segera mengikuti sang suami, melantunkan takbir akan kebesaran Allah SWT.

Kemudian, mereka berdua larut dalam rasa syukur mereka terhadap semua rahmat yang telah Allah limpahkan. Lantunan ayat-ayat suci yang Ustad Vano bacakan dengan suara merdu nan indah menarik Ai dalam rasa haru yang dalam. Perlahan-lahan, cairan hangat yang sarat akan kerendahan diri dan rasa syukur mengalir keluar dari sudut mata persik.

Ya Allah, sungguh manis buah dari kesabaran ini. Ai dan Ustad Vano secara kompak membisikkan kata-kata ini di dalam hati. Kesabaran yang telah mereka pupuk sejak 12 tahun yang lalu, kesabaran yang berawal dari sebuah janji kekanak-kanakan, dan kesabaran untuk sebuah janji yang pasti. Sungguh, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang berserah diri kepada-Nya. Sungguh, Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang bersabar terhadap ujian dari Nya. Dan sungguh, janji Allah itu pasti.

"Assalamualaikum warahmatullahi..." Ustad Vano mengakhiri shalat dengan salam.

"Astagfirullah..." Ia beristighfar selama beberapa kali sebelum mulai membaca zikir dengan serius dan haru.

Lalu, beberapa menit kemudian Ustad Vano mengangkat kedua tangannya untuk melantunkan sebuah doa indah yang di Aamin kan dengan tulus oleh sang istri dari belakang.

"اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ"

Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.

Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”

"رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "

Robbanaa Aatinaa Fid Dun-Yaa Hasanah, Wa Fil Aakhiroti Hasanah, Wa Qinaa 'Adzaaban Naar.

(Artinya: “Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”)

"آمِيْن اللّهُمَّ آمِيْن"

1
Piyut Cutez Yanzir
saya suka sekali dengan cerita author
Piyut Cutez Yanzir
maaf author sebelum nya, agak melenceng dari novel ini.... Oooo
saya mau tanya ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER knp gak di up up smpe skrng ya tor???
saya bolak balik nunggu in Lo tiap hari 🙏🙏... saya komen di sini... soalnya di apk sy di sebelah gak bisa chat 🙏🙏
Piyut Cutez Yanzir: atau apa ada judul lain gitu tor,,, mohon di sepil tor🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rayhan
iklan lewat ../Facepalm//Facepalm/
Alyaa Qurattu
thor kapan lanjutnya aysi sama wahit
Piyut Cutez Yanzir
author maaf komen di sini,, di lapak sebelah tidak ada tempat untuk komentar.... di apk hp ku... ngomong ngomong ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER kapan up LG... sy suka cerita Mona sama pak AL🙏🙏🙏🙏
Piyut Cutez Yanzir: terimakasih 🙏🙏🙏
total 2 replies
Alyaa Qurattu
thor kapan alsi dan walid dilanjutin ayolah thor sudah lama menantu kelanjutannya jgn ngantung cerutanya
Liana Khaerunnisa
good
Alyaa Qurattu
coba lanjut disinilah thor
angel lina
lanjutin dsini aja kak alsi walid
Alyaa Qurattu
/Drool/ alsi sama walid nya dilanjut disini aja thor plis udah penasaran sma kelanjutannya jagan digantung thor
Alyaa Qurattu
thor di novel sebelah kagak ada cerita tentang alsi
Alyaa Qurattu: kenapa alsi dan walit ngak ada thor penasaran sma kelanjutannya kasih pencerahan thor
total 1 replies
Yanti Mim01
kok cerita asri aja yg aku tunggu2 ya ,
Pratnasari Vindiatika Putri
🥹🥹🥹 kok nyesekk ... beres di aplikasi sebeleh lanjut kesini ❤️❤️❤️
Suila Cantik
kapan dilanjut? kok lama ninggunya
Aiko Daniswara
thor yang cerita dira judulnya apa ya kk author???
Aiko Daniswara: makasih kakak...disini apa disebelah kakak author
total 2 replies
Hennyy Heny
bagus
SUPRI YATMI
kayaknya walid jg menyimpan perasaan sm kayak alsi,...owalahh dunia sdh kebalik, di besarkan sama2 seperti adek dan kakak ternyata saling cinta,... parahhh...
Biva Nurhuda
bibit pelakor selalu ada
Biva Nurhuda
menyimak
El Dzaky
thor kangen/Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!