Dor!
Dor!
Dor!
Para kawanan intel mulai bergerak menuju tempat persembunyian mereka. Siap menerkam mangsa yang menjadi incaran mereka. Mereka memang agen tanpa identitas. Datang saat dipanggil. Dan lenyap bagai asap saat usai.
Kematian salah satu pacar dari agen tersebut membawa mereka pada misi yang panjang. Ericko Juanda beserta kawanannya diberikan misi untuk mengungkap kasus penjualan organ dan menjadi titik terang bagi kematian pacarnya. Membuatnya bertemu dengan Fennita Malik yang masih memiliki hubungan darah dengan pembunuh Kalena, pacar Ericko.
Kata orang, obat untuk hati adalah hati. Cinta datang tanpa dipaksa. Cinta datang pada pemilik hatinya. Sanggupkah mereka menolaknya jika sudah takdirnya?
Apakah Ericko sengaja mendekati gadis itu untuk mengungkapkan kasus kematian mantan pacarnya? Atau memang tulus cinta tumbuh di hatinya?
Mari kita simak kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love at First Sight (2)
...☕Cerita ini adalah fiksi belaka. Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian. Dimohon bijak dalam membaca, diresapi kata demi kata, agar tujuannya sampai pada hati pembaca☕...
Mereka berjalan berdampingan di bawah lampu jalanan yang temaram. Saling diam tak tahu apa yang harus mereka ungkapkan. Tak tahu bagaimana cara memecah kebisuan.
Fennita melambatkan jalannya. Membiarkan Ericko berjalan di depannya. Dia melihat bayangan Ericko di bawah lampu jalanan kota. Sungguh, itu membuat hati Fennita senang bukan main. Bayangan tangan Ericko terlihat jelas oleh mata Fennita.
Fennita mencoba meraih bayangan tangan itu. Seakan bayangan itu menggambarkan mereka sedang berpegangan tangan. Sungguh romantis! Ericko menoleh ke belakang. Menatap heran pada Fennita.
"Jalannya cepat sedikit!" perintah Ericko.
"Iya! Sabar dong. Langkahmu terlalu cepat untuk ku ikuti." terang Fennita.
Hotel yang mereka tuju telah nampak di depan mata. Ericko berhenti. Mempersilahkan Fennita untuk masuk ke dalam hotel itu.
"Terima kasih, Mas Freezer!" seru Fennita sambil masuk ke dalam hotel. Ericko tersenyum tipis mendengar panggilan baru untuknya.
"Dasar gadis yang aneh! Fennita. Bagus juga namanya." gumam Ericko lirih hingga semut pun tak mendengar gumaman itu.
Ericko meninggalkan hotel itu. Berjalan menuju arah tujuannya. Basecamp yang ditempati olehnya dan Dilan.
Tinggal di gedung tua dan kosong. Tak terpakai lagi oleh pemiliknya. Mereka menjadikan gedung itu sebagai kamuflase. Dari luar tampak tak terpakai. Masuk ke dalam akan seperti rumah. Dan jika turun ke bawah, akan disajikan pemandangan yang lain dari bagian atas.
Banyak peralatan canggih yang terhubung dengan kabel-kabel itu. Beberapa layar monitor menyala untuk mengetahui titik keberadaan target mereka. Ruangan yang tersembunyi menyimpan banyak misteri.
Ericko merebahkan dirinya di sofa panjang itu. Lengan kanannya ia gunakan untuk menutupi matanya. Dilan yang baru saja bangun dari tidur terkejut melihat kawannya sudah menyelonjorkan dirinya pada sofa itu.
"Astaga naga ular dragon biawak buaya kudanil!" sumpah serapah Dilan yang terkejut akan keberadaan Ericko.
Dilan duduk di samping Ericko. "Kapan datang?"
"Baru saja."
"Bagaimana keadaan orang tua Kalena?"
"Do'akan saja mereka selalu kuat."
Dilan mengangguk. Tiba-tiba saja memegang tangan Ericko. Membuat Ericko membuka mata dan heran melihat tingkah sahabatnya itu.
"Aku mengerti kesedihanmu, kawan. Rasa sedihmu telah sampai di relung jiwaku." kata Dilan dengan menunjukkan wajah sedihnya. Membuat Ericko bergidik ngeri dan jijik melihatnya.
"Ha-ha-ha. Tenang aja kali, Rick! Gue masih normal! Eh, Lo tahu gak?"
"Nggak." jawab Ericko cepat. Malas mendengarkan cerita sahabatnya.
"Ih, dengerin dulu dong! Gue mau cerita niiih ...," Dilan mengubah posisi duduknya.
Dilan mulai menceritakan pertemuan yang tak sengaja antara dirinya dengan seorang perempuan. Perempuan tersebut bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta. Awal pertemuan mereka karena perempuan itu membantu Dilan untuk mengurus ATM nya yang terblokir.
Ericko menanggapi singkat, "Jadi dia kerja jadi customer service di Bank X?" tanya Ericko. Dilan menganggung semangat.
"Itu kan memang tugas dia, Lan. Bukan karena dia suka sama kamu terus bantuin kamu ngurus ATM mu yang terblokir. Hadeh ..., tolong dibedakan ya, antara tugas dan memang ada rasa suka," cemooh Ericko karena tak habis pikir dengan cara kerja otak Dilan.
"Ih, Lo emang suka sirik sama Gue. Dia tuh jatuh cinta kali sama Gue. Love at first sight kalau kata orang. Secara ya kan, Gue ganteng meskipun kalau dibandingkan dengan Lo, ya Gue masih kalah sih," bantah Dilan yang tak terima dengan pendapat temannya itu.
Ericko memutar bola matanya malas. Dilan masih ngotot bahwa itu adalah love at first sight. "Terserah Lo deh, Lan. Gue capek, mau tidur. Rio dimana?"
"Ya indehoy sama istrinya lah! Memang kita? Jomblo yang hanya bisa gigit jari? Eh, Rick, gimana kalau besok Gue tembak itu perempuan?"
"Mati dong gebetan Lo!" ejek Ericko dengan tertawa dan berjalan menuju kamarnya.
"Ya Allah ..., jangan terlalu polos, Sayangku. Maksudku, Aku ajak dia kencan lalu Ku jadikan pacar," jawab Dilan.
Dilan tak mendapatkan jawaban lagi dari Ericko. Dia mendengus kesal, lalu membayangkan melakukan rencananya tadi.
*****
Sedangkan di Hotel X, Fennita baru saja masuk ke kamarnya. Melemparkan tas ranselnya ke sofa hotel, dan merebahkan dirinya di ranjang empuk dengan sprei warna putih itu.
Fennita mencari ponselnya yang berdering. Melihat nama yang muncul pada layar pipih itu. Lalu menggeser tombol hijau ke arah atas.
"Halo," jawab Fennita malas.
Terdengar tawa dari seberang. Seorang perempuan, dia adalah Intan. Sahabat Fennita mulai dari SMP hingga SMA, saat kuliah mereka berpisah karena Fennita mengambil jurusan kedokteran, sedangkan Intan mengambil jurusan perbankan.
Meskipun berbeda jurusan, tapi kekompakan mereka tak perlu diragukan lagi. Intan adalah sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Siapa yang membantu Fennita bersembunyi jika bukan Intan? Dia adalah ratu drama jika di depan keluarga Fennita.
"Iya deh Gue ke Hotel X. Lo itu mau sampai kapan kabur-kaburan dari Om Zam begini? Capek Gue mutar otak. Untung saja sih Om Zam percaya sama Gue. Ha-ha-ha." Intan tertawa mengingat kelakuannya di depan orang tua Fennita.
"Hi-hi-hi. Buruan kesini. Gue mau cerita sesuatu. Penting. Lebih penting dari urusan negara," perintah Fennita.
"Oke, wait me!" Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Fennita meletakkan ponselnya di samping bantalnya, menyalakan televisi yang disediakan hotel.
Terpampang wajah seseorang yang dikenalnya, seorang pria yang usianya sudah mencapai lima puluh tahun lebih. Dialah orang tua Fennita, Zamroni Malik. Pembawa berita itu menerangkan tentang pencalonan Ayahnya pada PilPres tahun ini.
Fennita memilih mematikan layar televisi itu. Bosan dengan pencitraan yang dilakukan oleh Zamroni. Dia juga tidak peduli dengan apa yang dilakukan Zamroni, masa bodoh dengan ambisi Zamroni.
"Mas Freez ..., siapa sih nama kamu sebenarnya? Bikin penasaran aja deh," gumam Fennita.
Tak lama Intan sudah datang memenuhi permintaan Fennita. Mereka bercerita dalam satu selimut yang sama.
"Kamu bodoh banget sih, Fen? Harusnya kamu ambil dompet lelaki itu, terus cari tahu identitasnya," kesal Intan dengan sikap Fennita yang kurang tangkas dalam urusan percintaan.
"Gila, Lo! Bisa dikira psycho Gue, Tan. Ah, baru kali ini Gue sebahagia ini ketemu sama cowok! Kira-kira dia sedang apa ya, Tan?" tanya Fennita, membuat Intan geram dan menjambak rambutnya.
"Gue disini sama Lo, Fenni. Mana Gue tahu, Mas Freezer Lo ngapain? Dah lah, tidur! Besok Gue mau CFD." Intan mulai menutup matanya. Tak menghiraukan Fennita yang masih ingin bercerita.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
tengkyu mak nyak, hebat banget sih bikin ceritanya..
suami Abdi negara kah???
kok sepertinya tokoh utama mesti berprofesi nakes dan abdi negara..
top banget dah pokoknya ceritanya..
tegang banget pas adegan misi..
dilengkapi dg persahabatannya dan kekeluargaan yg sangat kental..
pokoknya seneng bacanya, nano-nano rasanya..
tegang, sedih, senang, konyol, romantis, semuanya ada..
sehat2 terus ya Mak..
tetap semangat berkarya.. 😘🥰😍🤩
cuss lanjut novel berikutnya..
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻