"Ais, menikahlah denganku." pinta Arthur, berjongkok di depan wanita cantik yang dua bulan lalu telah dia renggut kesuciannya.
Ais Atsila, wanita berumur dua puluh tahun itu harus merelakan mahkotanya diambil oleh pria yang tidak dikenalnya waktu di kota tempat ia akan mendaftar kerja.
Arthur Wiliam Leonardo, pria berusia hampir berkepala tiga. CEO di perusahaan Alison Group milik ayahnya. Memilih rela meninggalkan segala kemewahan dunia, demi wanita bernama Ais, yang sekarang sedang mengandung anaknya hasil dari malam kelam dua bulan yang lalu.
Seakan dunia terbalik, Arthur yang biasanya berada di ruangan ber-Ac, setelah menikah dengan Ais, Arthur bekerja dibawah teriknya matahari. Belajar hidup sederhana di desa terpencil. Mulai dari makan sederhana, bekerja, dan masih banyak lagi.
"Ais, cara nyangkulnya gimana?" Arthur berteriak pada wanita yang duduk di gubuk sawah. Dirinya benar-benar tidak tahu cara mencangkul yang benar.
Yukkk baca. Jangan sampai terlambat lhoo. Yuk lihat keseruan Arthur dan Ais.
Hanya UP di Hari Tertentu. Karena harus bagi waktu. Makasih...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
"Ais, kamu mau kemana?" Arthur mencekal tangan putih milik Ais yang tertutup kain gamis.
Pak Anto dan Ais menoleh, saling bertatapan sejenak. Mereka terkejut dengan kedatangan Arthur yang tiba-tiba.
Ah, mereka lupa. Ini jalanan umum yang menghubungkan jalan raya kota dan villa desa. Tanpa mereka beritahu pun, Arthur akan dengan cepat menemukan mereka. Apalagi dia orang kaya. Bisa melakukan segalanya. Menemukan orang seperti mereka itu adalah hal gampang.
"Lepasin, mas." Ais menarik tangannya. Risih ketika ada yang menyentuhnya. Belum lagi rasa malu yang melanda akibat kejadian waktu itu.
Ais merasa tidak ada muka lagi sekarang. Dia benar-benar malu. Kehilangan mahkota, baginya seperti kehilangan masa depan. Tak ada yang istimewa. Dirinya kotor. Tapi, dia tidak bis menyalahkan sipapun. Termasuk janin yang hidup dirahimnya.
Ini adalah alur kehidupannya. Dia harus menjalaninya. Melewati segala rintangan dengan ketabahan dan kesabaran.
"Aku tanya sama kamu. Kamu mau kemana? Kenapa ngga bilang kalau mau pergi?" tanya Arthur. Masih tak mengijinkan Ais menarik kembali tangannya.
"Mas, lepasin!" Ais dengan sekuat tenaga melepas tangan pria yang sudah membuatnya merasa tidak ada harga diri lagi.
"Kami mau pergi ke rumah paman." jawab Ais dengan menunduk. Tak ingin bertatapan dengan Arthur.
Mr. Xan menghampiri dengan jaket menutup kepalanya. "Seharusnya kamu bilang kalau mau pergi." ucapnya datar.
"Cukup Mr. Xan. Biarlah Ais yang menjawab semuanya." ucap Arthur, menghela napas untuk mengontrol napasnya agar kembali teratur.
"Apakah villa itu tidak membuatmu nyaman sehingga kamu memilih pergi?"
"Villa itu memang nyaman, mas. Tapi, aku tidak nyaman dengan kenyataan dari pemiliknya. Lebih baik aku pergi dari sana dan tidak mengetahui rahasia pemiliknya. Itu akan lebih baik." jawaban yang diberikan Ais membuat Arthur diam.
Dia teringat dengan kejadian tadi. Ini semua diluar kendalinya. Niat ingin melamar, justru malah bertengkar.
"Ais, aku minta maaf soal tadi. Ku mohon, kembalillah ke villa. Tiga hari lagi aku akan menemuimu dan ayahmu untuk mengurus pernikahan kita. Tolong, jangan ingat kejadian itu lagi." Arthur dengan lembut mengatakannya. Berusaha membuat wanita yang lebih muda darinya mengerti.
Ais menatap wajah bapaknya. Meminta bantuan jawaban. Pak Anto yang melihat tatapan Ais, langsung paham. "Nak Arthur, kami tidak bisa kembali ke villa itu. Tolong mengertilah keputusan kami. Dan untuk pernikahan, sebaiknya kamu selesaikan dulu urusanmu. Barulah temui kami. Terima kasih atas tempat berteduh dan kedatangannya. Ini alamat desa yang akan kami tinggali."
Kertas kecil berisi alamat yang tadi sempat ditulis oleh Ais, mendarat ditangan Arthur. Pria itu menggenggamnya dengan erat. Lalu, mengangguk pasrah. Dia tidak bisa memaksa kehendak. Ini sudah menjadi pilihan.
"Baiklah kalau ini keputusan kalian. Jika kalian butuh tempat untuk berteduh, kembalilah ke villa. Aku berjanji, akan kembali dalam tiga hari. Terima kasih untuk alamatnya." suara tegas Arthur berubah menjadi lebih lirih.
"Biarkan Mr. Xan mengantar kalian."
Mendengar hal tersebut, pak Anto mengangguk. Tidak salah bukan menerima bantuan dari calon menantunya. Lagian dia juga tidak punya uang yang cukup pergi ke desa yang dituju. Mengingat perjalanan yang tidak sebentar, pasti akan mengeluarkan biaya yang besar. Mereka hanya punya uang pas.
Mr. Xan meraih dua tas hitam, membawanya ke bagasi mobil miliknya. Tanpa perlu disuruh pun dia sudah tahu tugasnya harus apa.
"Terima kasih, nak. Semoga kita bisa bertemu dilain hari lagi." sebelum naik ke mobil yang tadi malam dia tumpangi, pak Anto menyempatkan untuk berpamitan dengan pria tampan yang tengah memandang ke arahnya dan Ais.
Arthur mengangguk, lalu tersenyum. "Sama-sama, pak. Doakan saja. Sampai jumpa. Hati-hati dijalan." tangan itu melambai tatkala pintu mobil tertutup sempurna.
Mobil milik Mr. Xan melaju dijalanan. Meninggalkan Arthur yang diam ditempat. Masih dengan memandang mobil yang kini mulai menjauh.
Arthur berjalan ke arah mobilnya yang terparkir ditepi jalan. Menengok sebentar ke arah kebun teh yang terlihat menyejukkan mata. Setelahnya dia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Berulang kali Arthur menghembuskan napas berat. Bersiap menguatkan diri tatkala pulang ke rumah.
***
"Apakah mama mengajarkan sebuah kebohongan padamu?!!" bentak sang mama saat Arthur baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Dia hanya diam. Ikhlas menerima apapun yang terjadi. Ini sudah waktunya dia harus menghadapi kenyataan.
"Jawab Arthur!" ucapnya sembari memegang dada. Sesak.
Setelah mendengar kata yang ditunggu, Arthur menatap sang mama. "Mama tidak pernah mengajarkan aku kebohongan. Tapi sekarang, aku berbohong karena ingin menunjukkan sebuah kejujuran." ucapnya lembut. Tak berani balik membentak wanita tua yang dulu dengan susah payah melahirkan dan merawatnya hingga menjadi dirinya yang sekarang.
Sang mama terduduk. Dadanya terasa sesak. Lebih sesak jika mengingat ucapan calon menantunya siang tadi. Itu lebih menyesakkan.
"Kenapa kamu melakukan itu pada calon menantu mama, Arthur?" tanya sang mama dengan suara lebih rendah. Wajahnya tertunduk sedih.
Arthur menekuk lututnya. Memegang lutut sang mama sembari menggulung bibirnya ke dalam. Merangkai kata yang pas untuk menjawab pertanyaan dari sang mama.
"Apakah mama tahu apa yang calon menantu mama lakukan pada anak mama?" tanyanya balik.
Wajah yang tadi tertunduk, kini mendongak. Menatap wajah tampan anaknya. "Jawab pertanyaan, mama. Jangan balik bertanya."
Lantas Arthur tersenyum. "Jika mama tahu semuanya, pasti mama akan mengerti dengan apa yang terjadi."
Bibi menghampiri dengan membawa segelas air putih. Menyuguhkannya didepan majikannya. "Silakan diminum, bu." setelahnya bibi pergi ke dapur.
"Mama sudah tahu semuanya. Kamu lebih memilih wanita miskin itu daripada calon menantu mama. Itu menjijikkan."
"Ma, dia bukan wanita miskin. Dia hanya korban."
"Korban? Kamu yang menjadi korban. Orang miskin memang punya segala macam cara untuk mendapatkan kekayaan. Dan itulah yang dipakai oleh wanita miskin itu. Menyerahkan harga dirinya demi uang." sang mama tetap dalam pendiriannya. Lebih percaya dengan calon menantunya daripada anaknya.
"Ma, cukup. Jangan pernah lagi berkata tentang dia. Karena apa pun yang mama katakan, faktanya adalah sebaliknya." Arthur bangkit. Merasa tidak tahan jika harus mendengar kata yang tidak-tidak tentang wanita yang sebentar lagi akan dia nikahi.
Sang mama ikut bangkit. "Apa yang membuat kamu lebih memilih dia daripada calon menantu mama, Arthur?!"
Arthur yang hendak melangkah menaiki tangga, seketika menghentikan langkahnya. Berbalik menatap sang mama yang juga sedang menatapnya.
"Karena dia adalah ibu dari anakkku."
*
*
*
Bersambung...
Yuk mana suaranya pendukung mas Arthur. Jangan lupa terus tinggal kenangan yaa. Biar Author terus semangat nulisnya. Maaciw semuanya...
are you kidding?