Lanjutan dari ZARA, Aku Mencintaimu. Kisah anak dari Juna dan Zara.
Menceritakan masa remaja Queen Nara yang biasa di panggil Nara. Dengan gayanya yang tomboy jago karate juga karena sahabat-sahabatnya semua laki-laki.
Di pertemukan dengan Raja Prasaja Putra kakak kelasnya di bangku SMA yang juga jago karate tapi begitu dingin cuek dan keras kepala seperti es batu. Tapi ternyata Raja adalah teman masa kecil Nara yang dulu pergi tanpa pamit pada Nara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bisakah si es batu mencair?
Apakah Nara akan tahu kalau Raja adalah Suga teman masa kecilnya?
Happy reading 🥰🥰
Hanya kisah fiktif jauh dari kenyataan ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mematahkan tangan Antonio???
"Apa yang terjadi?" Tanya Raja pada Ar.
Karena mereka sudah bertemu beberapa kali di ekskul karate makanya mereka sudah saling kenal dan beberapa kali mengobrol bersama sensei Fajar juga tentunya.
"Haah itu Nara bertengkar dengan kak Grace." Ucap Ar lesu.
"Memangnya dia seperti itu?" Tanya Raja.
"Tidak, sebenarnya dia sangat baik dan juga menyenangkan. Tapikan kalau di ganggu terus juga gak enak." Jelas Ar.
"Iya kau benar, bagus sudah memisahkannya." Ucap Raja.
"Iya kak. Aku permisi dulu." Pamit Ar.
Lagian kenapa gak kak Raja aja sih yang pisahin dari tadi cuman berdiri aja disana.
Hati Ar.
"Hemmm dasar cewek aneh." Gumam Raja. Raja menuju ke kelasnya.
"Ada apa Raja?" Tanya Salma. "Aku mendengar ribut-ribut".
"Itu anak kelas X bertengkar dengan Grace." Ucap Raja.
"Wah bagus tuh, selama ini si Grace kan emang nyebelin dan sok cantik juga." Bisik Salma.
"Kau sudah mulai jadi tukang gosip?" Tatap Raja.
"Hehee .... tidak tidak hanya bicara kenyataan saja." Salma kembali duduk di kursinya.
Berani juga ternyata Nara, dan karatenya juga bagus cepat bisa dan anaknya lucu juga.
Hati Raja.
Waktu pulang sekolah sudah tiba. Mereka bersiap untuk pulang. Nara seperti biasa keluar dari kelas dengan ceria bersama sahabatnya Fika, Nara menuju parkiran. karena Ar dan yang lainnya belum keluar kelas mereka memutuskan untuk menunggu di taman dekat parkiran.
Antonio menghampiri Nara dan Fika di taman di temani Ziel.
"Haiii Nara ...." Goda Antonio.
Nara memasang wajah kesal melihat Antonio di hadapannya. "Ada apa lagi sih kak? Gak puas buat aku dalam masalah?" Ucap Nara.
Raja memperhatikannya dari jauh.
"Santai dong, jangan di hiraukan si Grace cuman mantanku aja dan dia masih berharap padaku." Ucap Antonio enteng.
"Santai? Kamu pikir di pantai menyuruhku santai." Ujar Nara semakin meninggikan suaranya.
"Sabar Nara sabar ...." Ucap Fika.
"Iya sabar Nara jangan emosi gitu. Kamu makin lucu kalau marah begitu." Goda Antonio memegang dagu Nara.
Nara berdiri dan meraih tangan Antonio kemudian melipat tangannya kebelakang punggung Antonio.
"Heh berani-beraninya ya kau seperti itu padaku." Ucap Nara.
"Lepaskan Nara, tanganku bisa patah." Mohon Antonio.
Nara melepaskan tangannya. "Berani-beraninya kau begitu lagi padaku mencoba menyentuhku, bukan hanya tanganmu tapi lehermu pun akan aku patahkan." Nara melotot pada Antonio.
Antonio memegangi tangannya yang kesakitan entah patah atau terkilir.
"Sudah lah Ton ayo kita pergi, aku tidak ingin tanganku patah juga." Ajak Ziel.
Mereka berdua pergi meninggalkan Nara dan Fika. Fika begitu syok melihat Nara, Fika sudah tercengang pada Nara dari pertama bertemu saat menendang Antonio karena membela Fika tapi semakin lama Fika semakin syok pada tingkah sahabatnya itu.
"Nara kau sangat menyeramkan, bagaimana kalau tangannya patah dan kemudian menuntutmu?" Fika merasa panik.
"Sudahlah tidak akan terjadi apa-apa, lagian dia sendiri yang kurang ajar padaku. Aku hanya melindungi diriku sendiri." Ucap Nara.
"Baiklah oke .... Kamu tenang ya." Ucap Fika.
Raja ingin menghampiri Nara tetapi Ar dan yang lainnya keburu datang.
"Kalian sudah menunggu lama?" Tanya Alki.
"Iya sudah daritadi." Jawab Nara.
"Kenapa kau cemberut Nara?" Tanya Er.
"Tidak apa-apa. Ayo pulang." Ajak Nara.
"Apasih yang terjadi Fik?" Tanya Er pada Fika.
Al dan Nara sudah masuk ke mobil.
"Tadi Nara hampir mematahkan tangan kak Antonio. Tapi patah atau tidaknya aku tidak tahu." Bisik Fika pada Er.
"Hah kau serius Fik?" Er kaget dan semua orang di dalam mobil juga kaget mendengar Er.
"Apa yang serius?" Tanya Ar.
"Ti-tidak ada apa-apa." Senyum Er.
Er hanya menatap Fika dan merasa panik bagaimana kalau Antonio tangannya benar patah. Fika hanya menggelengkan kepalanya pertanda kalau semuanya itu tidak perlu di ceritakan kepada yang lainnya.
Aku berharap tangan Antonio tidak patah.
Hati Fika.
Aku harap tidak terjadi apa-apa pada Antonio. Agar Nara tidak dapat masalah.
Hati Er.
Motor Raja ada di belakang mobil Ar, Nara melihatnya tetapi pas di persimpangan Raja berbelok ke arah kanan.
Emmmh ke daerah sana rumahnya ternyata.
Hati Nara.
Ar sudah menurunkan Fika, Alki dan Nara dan lanjut untuk pulang ke rumahnya.
"Emmmh Ar, aku tidak ingin menyimpan ini sendirian. Tadi Nara--"
"Mau bicara apa si Er? Kalau bicara itu yang jelas." Ucap Ar.
"Emmmh tadi kata Fika, Nara membuat tangan kak Antonio cedera entah patah atau tidak." Ucap Er hati-hati.
"Apa?" Ar menghentikan mobilnya mendadak.
Duuk.
Kepala Er terbentur ke mobil.
"Bisa tidak kalau ngerem itu jangan mendadak." Er mengelus keningnya.
"Aku kaget Er, kenapa kau tidak beritahu aku daritadi sih." Ucap Ar.
"Aku takut kamu pasti akan marah, kasian Nara." Ucap Er.
"Hah kau ini, semoga saja kak Antonio tidak apa-apa dan Nara tidak akan dalam masalah." Ujar Ar. Melajukan mobil kembali untuk pulang.
Setiap hari Rabu dan Sabtu mereka ke tempat latihan karate setiap pukul 4 sore. Hari ini adalah hari Rabu dan seperti biasa Ar menjemput Nara dan Alki.
Mereka sudah sampai di tempat latihan karate mereka dan Ar masih diam belum membahas kejadian tadi siang.
Setelah selesai mereka memutuskan untuk jalan-jalan dulu ke mall dan makan.
Sesampainya di mall mereka makan barulah Ar membahas kejadian tadi.
"Nara apa yang tadi kamu lakukan pada kak Antonio?" Tanya Ar.
"Emmmh tidak ada." Elak Nara.
"Nara jangan sembunyikan apapun dariku. Aku sudah tahu semuanya" Ucap Ar.
Er dan Alki tidak nyaman kalau sudah obrolan serius dan mereka mumutuskan untuk pergi ke supermarket membeli cemilan.
"Aku sama Al beli cemilan dulu ya ke supermarket." Er menarik tangan Alki.
Ar melanjutkan bicaranya. "Jawablah?"
"Dia sendiri yang kurang ajar padaku dia mencoba memegang daguku seperti waktu di kantin itu. Makanya aku sangat marah." Jelas Nara.
"Iya memang kak Antonio itu tidak sopan, ya gak apa-apalah itu bagus." Ucap Ar santai.
"Beneran gak marah?" Raut wajah Nara berubah dan memeluk Ar.
"Gemesss banget sih kulkasku ini." Nara mencubit pipi Ar.
Nara menganggap Ar kulkas karena bersikap dingin dan tidak pernah senyum.
"Sakit Nara." Ucap Ar. "Jangan senang dulu berdoa saja kalau Antonio tidak apa-apa dan tidak mengadu juga." Pinta Ar.
"Oke ...." Nara mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
*
"Jangan cepat-cepat Al pilih cemilannya santai saja. Aku rasa Ar dan Nara belum selesai bicara." Pinta Er.
"Emang ada apaan sih?" Tanya Al yang kebingungan tidak tahu apa-apa.
"Nara sedang di ceramahi Ar karena Dia mematahkan tangan Antonio, makanya aku mengajakmu pergi biar tidak di ceramahi juga." Jelas Er.
"Bagus kau mengajakku." Angguk Al.
Mereka asyik dan santai memilih cemilan tiba-tiba Raja menghampiri mereka.
"Ar?" Sapa Raja.
⬇️⬇️
hadir ni thoor
semangat berkarya yaaa😚😚