Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rezeki Nomplok
Mata Chandra terbuka perlahan saat merasakan sesak di dadanya.
"Sayang, bangun!"
Terlihat Yueji sedang menindih tubuh Chandra dengan wajah cemberut.
"Kamu ini... kenapa membangunkan aku seperti itu?" erang Chandra seraya mengucek matanya.
"Kamu... kamu membawa wanita lain ke rumah ini, kan?!" bentak Yueji sambil menunjuk ke arah luar.
"Mana ada! Aku kan tidur di sampingmu dari tadi!"
"Lalu itu di luar siapa yang membereskan ruangan dan menyediakan sarapan?!"
"Hah?! Apa?!"
Chandra yang terkejut langsung bangkit mendadak, membuat tubuh Yueji yang menindihnya hilang keseimbangan dan jatuh terguling.
BRUKK!
"Aduh! Sakit, Sayang!" ringis Yueji.
"Hehe... maaf, Refleks, Istriku!"
Mereka berdua pun berjalan keluar kamar. Yueji terus merangkul erat lengan Chandra seolah tak mau suaminya dilirik wanita lain.
"Selamat pagi, Tuan," panggil seorang gadis bergaun biru muda seraya membungkukkan tubuhnya santun.
"Siapa wanita cantik ini? Apa orang baru yang dikirim Paman Lubis? Aneh sekali tampilannya, tapi gaun biru muda itu terasa sangat familiar..." gumam Chandra dalam hati.
"Nama kamu siapa?" tanya Chandra ragu.
"Saya Sisi, Tuan."
Chandra mengernyitkan dahi. "Sisi? Namanya seperti tidak asing..." bisiknya mencoba mengingat nama tersebut.
Tiba-tiba pintu depan galeri terbuka. Seorang pria berkemeja mewah melangkah masuk. "Wow, galeri tua ini kini dihuni pengelola baru dan para wanita cantik rupanya."
Chandra menoleh ke sumber suara. "Pelanggan pertama!" gumamnya gembira.
"Sayang, segera siapkan teh!" perintah Chandra pada Yueji.
"Baik, Suamiku~"
"Bocah, sini!" panggil Yueji seraya memberi isyarat pada Sisi.
"Siap, Nyonya!"
Chandra segera menghampiri pelanggan pertamanya itu dengan sunggingan ramah. "Silakan duduk dulu, Tuan."
Pria itu menatap meja dengan tatapan jijik. "Hem... tempat ini penuh debu. Hanya mengotori jasku saja."
"Sombong sekali dia!" umpat Chandra dalam hati. "Hahaha, sebentar, Tuan."
Chandra cepat-cepat mengambil kemoceng dan membersihkan kursi serta meja—padahal meja itu sudah mengilap dibersihkan Sisi. "Maklum, pekerja di sini masih baru, jadi kurang bersih," dalih Chandra. "Boleh tahu nama Tuan siapa?"
Pria itu duduk dengan gaya angkuh seraya mengibaskan jasnya.
Prok! Prok! Dia menepuk tangannya dua kali.
Seorang pria berjas hitam berbadan tegap melangkah maju. "Ini Tuan saya, namanya Tuan Marsel. Beliau adalah kolektor seni ternama yang ingin mencari lukisan berkualitas tinggi di sini," jelas sang Asisten.
"Kolektor?!"
Tring! Seketika mata Chandra berbinar membentuk simbol dolar. "Cuan besar aku kali ini kalau kolektor kaya ini beli lukisanku! Hihi!"
"Pastikan kualitas lukisan di galeri ini bagus. Kalau cocok, aku akan membayarnya dengan harga mahal!" tegas Marsel penuh kesombongan.
"Hehe, kebetulan sekali, Tuan. Saya punya beberapa koleksi terbaru yang belum terjual," ucap Chandra seraya mengambil tiga gulungan kanvas di sudut meja.
"Benarkah? Apa lukisan ini punya sesuatu yang menakjubkan?" tanya Marsel skeptis.
Chandra menggelar gulungan tersebut.
Marsel mengamati serat kAINnya. "Dilihat dari kertasnya, ini sepertinya kanvas baru."
"Memang, Tuan. Saya sendiri yang melukisnya."
"Hahaha! Kalau kamu yang melukis, aku cuma mau bayar murah! Aku ke sini mencari lukisan kuno berkelas!"
"Terserah Tuan saja. Karena Tuan pembeli pertama, tentu banyak diskon."
"Pintar sekali kamu merayu, ya. Baiklah, aku lihat dulu. Kalau jelek, akan kubak—"
GROAAAR!!! (Gema raungan harimau dahsyat memekakkan telinga.)
"HUAAAA!"
PRAK!
Marsel tersentak hebat hingga tersungkur jatuh dari kursinya!
"Apa itu?!" jerit Marsel ketakutan dengan wajah pucat pasi.
"Maksud Tuan apa?" tanya Chandra keheranan melihat reaksi berlebihan pembelinya.
Dibantu asistennya, Marsel bangkit dengan tubuh gemetar. Perlahan, jemarinya membuka gulungan lukisan itu lebih lebar.
"B-Bai Hu?!" Mata Marsel terbelalak menatap lukisan Harimau Putih Suci yang dilukis begitu hidup.
Tiba-tiba, kedua mata Harimau Bai Hu pada lukisan itu memancarkan pendar cahaya emas yang memancarkan aura pencerahan ghaib!
"Bocah, jiwamu terikat denganku. Sifat sombongmu sama persis sepertiku!" gema suara berat terdengar langsung di dalam kepala Marsel.
PRAK! Marsel refleks menjatuhkan lukisan itu lagi ke lantai.
Marsel celingukan panik, lalu menatap asistennya. "K-Kamu bicara sesuatu?!"
"T-Tidak, Tuan..." jawab asistennya bingung.
Marsel memberanikan diri mengambil dan membuka kembali lukisan itu. "Apa lukisan ini... bisa berbicara?" batin Marsel merinding.
"Benar, ini aku, Bai Hu!"
Mata Marsel melotot tak percaya. Dia mencoba berkomunikasi lewat pikirannya. "A-Apa benar ini Harimau Suci Kuno?"
"Benar, Bocah! Sekali lagi kau melemparkan gambarku ke lantai, kubuat jiwamu menderita sampai ke neraka!"
"Hah?! Maafkan hamba, Tuan Bai Hu! Hamba tidak akan mengulanginya lagi!" ratap Marsel dalam hati.
Marsel kemudian mendongak, menatap Chandra yang berdiri di depannya dengan senyuman ramah tanpa dosa.
"Mana mungkin pemuda biasa ini punya lukisan dari Sang Harimau Suci?" gumam Marsel tak percaya.
"Bocah! Beli lukisan ini dari Tuanku! Kalau bisa, bayar aku lebih mahal dari lukisan kakakku, Qing Long!" perintah Bai Hu.
"Apa?! Dia juga punya lukisan Naga Suci?!" Marsel hampir pingsan membayangkannya.
"Jika kau membeliku, kupastikan diriku akan menjaga keselamatanmu dan keturunanmu!"
"Sungguh berkah luar biasa bila Tuan Bai Hu berkenan melindungi keluarga hamba!" Marsel tersenyum lebar seraya membungkuk penuh hormat ke arah lukisan di tangannya.
Sementara itu, Chandra berbisik pada asisten Marsel seraya menunjuk kepalanya sendiri. "Hey... bosmu itu tidak gila, kan?"
"Kamu ini! Jaga bicaramu!" bentak asisten Marsel melotot.
"Ekhem!" Marsel berdeham, lalu berdiri tegap. "Baiklah, aku beli lukisan ini! Berapa harganya?"
"Satu juta rupiah saja, Tuan," jawab Chandra polos.
Marsel kembali melotot tajam. "Bisa mati berdarah aku dihajar Harimau Suci kalau cuma bayar satu juta!"
"Begini saja, Bocah!" seru Marsel seraya mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya. "Pegang kartu ini, di dalamnya ada saldo 1 Miliar Rupiah! Anggap saja aku membeli keanggotaan VIP di galerimu!"
"B-Benarkah, Tuan?!" Mata Chandra berbinar-binar gembira.
"Tentu! Aku kolektor terkaya di kota ini!" tegas Marsel penuh gengsi.
"Dengan senang hati!" Chandra mengambil kartu itu dengan senyuman lebar yang tak luntur.
Di area dapur galeri, Yueji dan Sisi sedang bersama menyiapkan baki teh.
"Heh, Dayang! Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Yueji curiga.
"Maaf, Nyonya. Semalam saya baru saja diciptakan oleh Tuan," jawab Sisi santun.
"Diciptakan?! Yang benar saja!"
"Saya tidak berbohong, Nyonya. Sebenarnya saya adalah Xian Shi, pelayan dewa dari kayangan. Tapi semalam ada kekuatan ilahi yang sangat besar menarik roh saya hingga masuk ke dalam kanvas yang dilukis oleh Tuan."
"Apa?! Mungkinkah suamiku adalah Dewa Agung yang jatuh ke bumi?" batin Yueji terkejut.
Yueji lalu menatap Sisi tajam. "Dayang, rahasiakan identitas aslimu dari suamiku! Dia belum menyadari kalau dirinya adalah seorang Dewa. Kalau dia bertanya, mengaku saja sebagai karyawan baru!"
"Baik, Nyonya. Sisi patuh."
"Ayo bawa teh dan kuenya keluar!"
Mereka berdua pun kembali ke ruang depan galeri.
"Teh dan kuenya sudah siap," ucap Yueji lembut.
"Terima kasih, Sayang," sambut Chandra berseri-seri.
"Silakan dicicipi, Tuan," tambah Sisi seraya menyajikan cangkir ke meja.
Marsel tersenyum nakal melihat kecantikan Sisi, lalu dengan lancang mencengkeram pergelangan tangan pelayan itu. "Bocah, pelayanmu boleh juga. Baru kali ini aku melihat wanita secantik bidadari begini."
Sisi tidak panik. Dia justru tersenyum manis lalu menoleh ke arah Chandra. "Tuan, bolehkah saya memenggal kepala lelaki ini?"
"Aiiih!!" Chandra kaget setengah mati, buru-buru menarik tangan Sisi menjauh. "Kamu ini! Tidak boleh begitu sama pelanggan VIP kita!"
"Maaf, Tuan," Sisi menunduk santun.
"Wow, aku suka wanita cantik yang pemarah!" Marsel bangkit dari duduknya. Dengan senyum nakal, dia mencoba merangkul bahu Chandra.
Seketika, aura di dalam galeri merosot tajam hingga membeku! Yueji dan Sisi langsung beraksi membela penguasa mereka.
"Jangan kurang ajar pada Tuanku!" bentak Sisi.
"Ada manusia yang rupanya sudah bosan hidup!" timpal Yueji dingin.
Asisten Marsel mendadak bergetar hebat. Dia berbisik ketakutan, "T-Tuan... aku merasakan hawa membunuh yang sangat mengerikan dari kedua wanita itu..."
"Kamu ini lebay sekali! Masa seorang master martial art sepertimu takut sama—"
BRUK!
Asisten Marsel langsung berlutut tersungkur ke lantai. "T-Tuan... lihat belakangnya!"
Marsel menoleh ke arah belakang Chandra.
"HUAAAAA?!"
Marsel dan asistennya menjerit histeris hingga jatuh telentang di lantai!
Di belakang tubuh Chandra, tampak penjelmaan wujud asli yang mengerikan: Yueji memancarkan wujud bayangan Rubah Ekor Sembilan raksasa, sedangkan Sisi berubah menjadi wujud Dewi Perang berwajah dingin dengan enam tangan yang memegang senjata ghaib dan lidah menjulur!
"Loh? Kenapa kalian malah duduk di lantai begitu?" tanya Chandra polos seraya hendak membantu Marsel berdiri.
"T-Tuan Bai Hu! Tolong kami!" jerit Marsel panik dalam batinnya.
"Hey Bocah! Bukannya aku tidak mau menolongmu, tapi si Ekor Sembilan itu Istri Tuanku, dan si Dayang itu Pelayan Tuanku! Bisa mati dicincang aku kalau mencampuri urusan mereka! Cepat minum tehmu lalu pergi!" balas suara Bai Hu santai dari balik lukisan.
"Apa?! D-Dia benar-benar Dewa?!" Marsel syok berat.
"Cepat pergi sebelum lukisan suci yang lain bangkit! Aku tidak bisa menolongmu!" ancam Bai Hu lagi.
Tanpa berpikir panjang, Marsel langsung bersujud di kaki Chandra. "S-Senang bertemu dengan Anda, Tuan Chandra yang Agung!"
Marsel buru-buru menarik baju asistennya dan berlari terbirit-birit keluar dari galeri seperti dikejar setan.
"Hey! Teh sama kuenya belum dicicipi! Nanti datang lagi, ya!" teriak Chandra heran dari ambang pintu. "Aneh sekali... kenapa mereka seperti ketakutan begitu, ya?"
Begitu pelanggan itu hilang, Yueji dan Sisi seketika kembali ke mode anggun dan polos.
"Sayang, kita kaya!" Chandra membalikkan badan lalu memeluk Yueji erat-erat.
"Syukurlah, Suamiku~" balas Yueji mengelus punggung Chandra.
"Kamu mau belanja apa hari ini? Nanti pas istirahat makan siang kita pergi belanja!"
"Benarkah?!" Mata Yueji berbinar-binar gembira.
"Tentu! Uangku kan milik Istriku juga!"
Di sudut ruangan, Sisi melihat kemesraan itu dengan bibir cemberut. "Kapan, ya... aku punya suami sekeren Tuan?"
GRRRR!
Aura Rubah Ekor Sembilan Yueji mendadak bangkit kembali. Dia menatap Sisi dengan tatapan membunuh. "Kamu mau merebut suamiku?!"
"H-Hehehe... Tidak, Nyonya! Aku cuma berangan-angan saja! Bercanda, Nyonya!" Sisi gelagapan ketakutan setengah mati.
Chandra tertawa melihat keakraban mereka (yang dipikirnya cuma candaan). "Tenang Sisi, sebagai bosmu, aku pasti berikan gaji terbaik. Nanti kamu ikut juga beli pakaian baru. Kamu ini hidup di zaman modern, tapi pakaiannya masih seperti gaya dinasti kuno."
"Terima kasih banyak, Tuan!" ucap Sisi membungkuk gembira.
Tiba-tiba dari pintu belakang...
"Chandra... Chandra!"
"Paman Lubis!"