Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 4 kemunculan the Luna #1
Shiva dan Dika pun duduk, Johan pun segera mengambil hp dan segera menunjukkan lalu memutarkan sebuah rekaman suara yang menjadi barang bukti
"kalian tau rekaman ini?" (ujar Johan)
"huh... memang kami peduli?" (ujar dika)
*pasti itu hanya menakut-nakuti kami doang kan*
Johan tanpa banyak bicara segera merogoh sakunya lalu mengambil hp untuk menunjukkan sebuah rekeman cerita tersebut
"Oke... kalau gitu aku putar untuk kalian berdua" (ujar Johan)
Johan pun memutarkan putaran suara itu
Rekaman suara pun mulai di putar Dika mendengarkan namun itu membuatnya cukup terkejut karena rekaman itu sesuai
Dalam rekaman suara.
"hemmm.... Kamu tau warga strate begitu polos, mereka tidak tau bahwa sebenarnya kami hanya ingin menginginkan hasil hutannya saja"
"Hahaha..... benar sekali emang enak kalo bekerja sama bareng orang-orang polos, mereka yang menggap ini untung padahal ini adalah bentuk pembodohan massal"
"iya... yaa..... Kita yang akan untung"
*****
setalah rekaman suara itu selesai Johan segara mematikan rekaman suara
"bagaimana? aku tanya, pasti ini rekaman suara ini berasal dari salah satu hp kalian bukan? aku ingin hp itu!"(tanya Johan)
Dika dan Shiva merasa gemetaran setelah Johan meminta hp
"kenapa? kenapa kalian begitu ketakutan, aku bisa melihat dari raut wajah kalian berdua, tenang kami bertiga berada di pihak kalian"
"bukan begitu, kami memiliki rasa trauma kepada siapapun itu" (ujar Shiva)
Johan segera mengenalkan dirinya agar Shiva dan Dika dapat mempercayainya
"kalian tidak perlu takut, baiklah untuk lebih meyakinkan kalian kami akan memperkenalkan diri, namaku Johan ransyah"
Johan menabrakan kedua sikunya ke arah Eva dan nathan
"aku Eva velisia"
"aku Nathan tryko"
"kami berasal dari organisasi revor yang menolak keras penyimpangan serta ketidak adilan di paradise" (ujar Nathan)
setelah perkenalan itu Dika masih tetap mempercayai mereka bertiga
"huh.... semua orang bisa membuat identitas palsu agar orang lain mempercayainya"
"benar sekali, kami tau bahwa para petinggi bisa memalsukan identitas kalian, kalian tau siapa yang memiliki jabatan maka akan berkuasa"
Ujar Dika yang tak mempercayainya
Dika berdiri dari duduknya dan segera meninggalkan pembicaraan karena merasa tidak nyaman
"ahh... sudahlah tidak ada gunanya mempercayai kepada orang-orang yang besar di mulutnya saja tapi semuanya nol" (ujar Dika dengan kesal)
Shiva pun menyusul dika
"kak... tunggu"
Johan segera berkata jujur untuk memberitahu Dika bahwa dia sebelumnya sudah memberikan uang kepada adiknya.
"boleh jujur tidak.. adikmu Shiva baru saja menerima uang dariku sebesar tiga ratus ribu"
"terus?... apa hubungannya" ( Dika kebingungan)
" kembalikan uangku Shiva... sesuai kesepakatan dimana jika orang sudah membayar maka mau tidak mau orang yang menerima uang itu harus segera melayaninya jika kalian berani mengembalikan uangnya sama aja pecundang berani menerima tapi tidak bisa melayani dengan baik, cih dasar pecundang" (ujar Johan)
Shiva yang merasa keberatan untuk mengembalikan uang milik johan, segera mengsentak johan dengan keras
"TIDAK!!!"
"aku tidak akan mengembalikan uang itu.... iya kami adalah dua orang yang berhasil kabur dari daerah strate karena petinggi yang mengatur segalanya, namun aturan itu benar-benar menyimpang bahkan dari garis keturunan ras strate sendiri mulai di campur dengan ras Athena mereka benar-benar tidak menghargai aturan budaya kami bahkan hutan kami mulai di babat sedikit demi sedikit banyak hasil hutan kami di jarah oleh mereka, saat warga strate mulai mengsuarakan mereka malah para pihak berwajib menculik dan melakukan hal yang tidak mengenakkan kepada korban yang di culik" (rasa ketakutan namun di penuhi harapan dari shiva)
" jika kalian benar-benar dari organisasi revor yang seperti kalian katakan tadi..."
tiba-tiba Shiva berlutut kepada mereka bertiga untuk berakting agar memancing rasa empati.
Dika terkejut melihat adik nya tiba-tiba berlutut
"SHIVA!!!!" (ujar Dika)
"kumohon..... tolong bantu kami dari kemunafikan ini, aku dan kakak adalah...."
dengan memasang wajah ekspresi melas
Dengan rasa iba Shiva pun meneteskan air agar memancing rasa empati
"ko-korban keserakahan..... para petinggi di paradise, kami tau bahwa kami hanya warga biasa yang tidak memiliki kuasa bahkan kami saat akan di jemput oleh ajal.... kami hanya bisa berpasrah aja"
setelah melihat Shiva berlutut dan memasang ekspresi untuk mencari empati johan yang merasa iba pun berdiri lalu menghampiri Shiva yang berlutut lalu Johan pun ikut berlutut, ia mengusap air mata Shiva dengan jarinya kemudian mencoba menenangkan Shiva dengan berkata
"hapus air matamu itu Shiva"
nada lemah lembut
"aku tidak ingin berjanji kepadamu namun akan mengusahakan membebaskan Maslaah di daerah strate dari kebohongan pembebasan luas walau itu akan mengancam nyawa kita, demi mendapatkan hak-hak kami semua sebagai warga paradise"
(ujar Johan mencoba menenangkan Shiva)
Johan kemudian melihat ke Dika dengan tatapan santai namun cukup mengintimidasi Dika
Johan segara memberitahu kepada Dika kalo dia mersa kasihan kepada adiknya segara menyerahkan rekaman itu
"Dika, jika kamu ikut merasakan apa yang sama di rasakan adikmu ini segera berikan seluruh rekaman suara yang lengkap itu, untuk kami tindak lanjuti"
Shiva dengan berekpresi melas mengsetujui dan meminta dika untuk memberikan rekamannya denga
"iya kak, kumohon cepat berikan rekaman suara itu"
Dika yang merasa tidak tega kepada adik ia segera masuk kedalam untuk mengambil hp
"Oke.. baiklah aku ambilkan sebentar"
Dika masuk kedalam berjalan menuju kamarnya untuk mengambil hp yang di taruh laci di kamarnya, saat dika membalikkan badannya untuk kembali tiba-tiba entah datang dari mana the Luna menghadang Dika tepat di pintu keluar, Dika yang kebingungan menayangkan siapa dia
"permisi, kamu bocil ya? apa kamu dari orang-orang di luar sana?"
the Luna hanya diam saja tak menjawabnya, Dika yang kebingungan mencoba menanyakannya lagi
"Kamu bocil kalo di ajak omong sama orang tua di jawab dong, kamu dari orang-orang di luar sana bukan?"
the Luna pun akhirnya menjawab namun ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk kata tidak. kemudian the Luna mengangkat tangannya dan menunjuk hp yang di pegang Dika untuk di berikan kepadanya, Dika yang menyadari itu segera menolak untuk memberikan hp kepada the Luna.
"tidak.. aku tidak akan memberikan hp ini ke bocil yang menggunakan topeng kucing tidak jelas ini" (ujar Dika)
Dika pun berjalan dengan mencoba melewati samping the Luna dan menghiraukannya.
JLEPP!!
tiba-tiba sesuatu menusuk perut Dika hingga ia tersungkur jatuh tak berdaya tapi ia tetap memegang erat hp itu, ternyata yang menusuk perut Dika adalah tangan kanan the Luna yang jari-jarinya ia rapatkan serta kukunya berupah menjadi panjang layaknya kuku dinosaurus, Dika terkejut melihat tangan the Luna berubah serta berlumuran darah, the Luna menatap Dika dengan satu mata merah menyala di sebelah kanan Dika yang ketakutan ia langsung segara berdiri dan lari sambil berteriak minta tolong
"TOLONG!!!!"
Terikan Dika terdengar hingga orang-orang yang ada di ruang tamu terkejut hingga mendengar Dika berteriak minta tolong, Nathan dengan perasaan was-was serta ketakutan merasa kehadiran the Luna sudah sampai disini
"apa yang terjadi dengan Dika?" (tanya Eva dengan khawatir)
Nathan tiba-tiba keringat bercucuran keluar serta dengan raut wajah pucat sangking takutnya
"tidak..... tidak..... tidak mungkin"
Johan melihat ekspresi Nathan yang tampak ketakutan sekali segara menanyakannya
"NATHAN ADA APA KENAPA... WAJAH MU TERLIHAT PUCAT?!!" (ujar Johan)
"Johan, aku dapat merasakan kehadiran the Luna dari aroma ini" (ucap Nathan)
(anomali mampu mencium aroma keberadaan mahluk hidup di sekitarnya)
Johan tanpa pikir panjang segera masuk kedalam menuju kamar Dika. sesampainya Johan di kamar Dika Johan terkejut melihat kamarnya berantakan di penuhi bercak darah serta Dika yang sudah tidak bernyawa dengan cara histeris.
perut Dika memiliki satu luka yang berlubang besar yang mengnga-nga bahkan mulutnya tertancap sebuah gagang sapu hingga menembus lehernya lalu di samping mayat ada the Luna yang jubahnya dipenuhi bercak darah serta sambil memegang sebuah hp yang terdapat sebuah rekaman suara yang lengkap. Johan berjalan mendekati the Luna secara perlahan dan berkata
"the Luna aku tau. itu kamu seorang anomali psikopat bisu berdarah diri yang selalu di tugaskan untuk membunuh siapa saja yang menentang dan melanggar bagi orang-orang tertentu"
Shiva, Eva dan Nathan pun bergegas menuju kamar Dika. saat tiba mereka semua terkejut melihat Dika mati dengan cara yang histeris Shiva yang tidak tega melihat kakanya seperti itu ia segera ingin melangkah masuk kedalam sambil menangis ingin berusaha melawan the Luna tapi Eva mencoba menahannya
"UGHHHH!!!.... LEPASIN AKU!" (ujar Shiva sambil meronta-ronta untuk melepaskan diri)
"Shiva jangan... kendalikan emosimu" (ujar Eva sambil menahan Shiva)
Johan segera bertanya kepada the Luna
"aku tau kehadiran mu kesini memiliki tujuan yang sama persis seperti kita bukan?" (ujar Johan)
the Luna hanya melihat Johan dengan tenang dan tak berbicara apapun. Tiba-tiba Shiva kemudian mengigit lengan Eva hingga melepaskan Shiva pun berlari menuju the Luna dengan rasa amarah serta emosi yang menggebu-gebu mengangkat satu tangannya mencoba memukulinya. Johan yang terkejut tiba-tiba Shiva menyelonong melewatinya
"SHIVA!!!" (ujar Johan)
saat Shiva akan memukulinya, The luna berjalan mundur dua langkah yang membuat pukulan Shiva meleset. Namun, Shiva tak menyerah. Ia kembali mencoba menyerang The Luna dengan pukulannya.
Tiba-tiba, dari belakang tubuh The Luna muncul ekor raksasa yang dipenuhi sisik-sisik tajam. Dalam sekejap, beberapa sisik itu melesat seperti proyektil dan menghantam wajah serta dada Shiva.
Tubuh Shiva terpental dan tersungkur ke lantai.
Ia berusaha bangkit, tetapi tubuhnya sudah kehilangan banyak tenaga. Langkahnya goyah sebelum akhirnya ia kembali jatuh dan tak mampu berdiri.
"a-a-apakah di-dia berasal da-dari kalian?" (ujar Shiva sekarat)
.Johan segera mengatakan bahwa the Luna bukan dari mereka
"tidak, dia the Luna adalah mimpi buruk terbesar kami" (ujar Johan)
Johan kemudian mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya dan segera menodongkannya ke arah The Luna.
"Johan, percuma saja menembakinya. Setiap peluru yang mengenai tubuh The Luna akan langsung dikeluarkan, lalu tubuhnya akan beregenerasi dengan sangat cepat" (ujar Nathan)
Setelah mengatakan itu, tubuh Nathan mulai berubah. Kedua matanya berubah menjadi merah menyala. Mulutnya melebar, memperlihatkan taring-taring besar dan tajam, sementara lidahnya yang menyerupai lidah ular menjulur dari sela-sela giginya.
Nathan kemudian menggigit pergelangan tangannya hingga mengeluarkan darah. Namun, darah yang menetes itu tiba-tiba berubah menjadi beberapa bilah pisau kecil yang melayang di sekeliling tangannya.
Nathan mengambil posisi bersiap untuk menyerang.
Eva ikut bersiap. Ia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan menggenggamnya erat Di sisi lain, The Luna tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau Bukannya menyerang, ia justru menyerahkan pisau itu kepada Shiva, Shiva menatapnya dengan bingung.
The Luna kemudian mengarahkan ujung pisau tersebut ke lehernya sendiri, seolah sengaja memberikan kesempatan kepada Shiva.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Shiva segera menusukkan pisau itu ke arah leher The Luna Namun, sebelum serangannya berhasil mengenai sasaran, tubuh Shiva tiba-tiba tersentak Darah keluar dari mulutnya Ternyata, tanpa disadari Shiva, ekor raksasa The Luna telah menusuk tubuhnya dari belakang Shiva kehilangan tenaganya dan akhirnya terjatuh. Luka yang dideritanya membuatnya tak mampu bertahan.
"Shiva!"
Johan yang melihat kejadian itu langsung panik. Ia mengangkat pistolnya dan menembaki The Luna secara membabi buta namun, The Luna bergerak cepat. Ekor raksasanya ditarik ke depan dan digunakan untuk melindungi tubuhnya dari rentetan tembakan. Bahkan, ia kemudian menggunakan tubuh Shiva sebagai tameng Setelah tembakan berhenti, The Luna melemparkan tubuh Shiva ke arah Johan.
"Ugh!"
Johan terjatuh ketika tubuh Shiva menghantamnya.
Dalam sekejap, The Luna memanfaatkan kelengahan Johan. Ia menerjang dan merebut pistol dari tangannya Johan bahkan belum sempat bangkit ketika The Luna mengarahkan pistol tersebut ke arahnya.
DOR!!!
Johan terdiam dan tubuhnya ambruk Kini, tiga orang telah menjadi korban dalam satu kamar.
Nathan dan Eva segera bergerak menyerang The Luna melemparkan pistol yang masih berada di tangannya ke arah Eva. Senjata itu menghantam kepala Eva dengan keras hingga membuatnya terpental dan kehilangan kesadaran Sementara itu, Nathan langsung melemparkan seluruh pisau kecil yang terbentuk dari darahnya.
Satu demi satu pisau melesat ke arah The Luna.
Namun, The Luna mengibaskan ekor raksasanya dan berhasil menangkis seluruh serangan tersebut Saat semua pisau telah habis, Nathan kembali menggigit pergelangan tangannya. Kali ini, darah yang mengalir jauh lebih banyak nathan segera membentuknya menjadi sebuah tombak Dengan sekuat tenaga, ia menerjang dan mencoba menusukkan tombak tersebut ke arah The Luna.
Namun, The Luna berhasil menangkap tombak itu menggunakan ekornya Dalam sekejap, Nathan kehilangan keseimbangan Tubuhnya dibanting berkali-kali ke lantai dan dinding sebelum akhirnya dilempar keluar melalui jendela. Kaca jendela pecah berhamburan ketika tubuh Nathan menerobosnya
Nathan terjatuh di luar bangunan The Luna pun ikut keluar melalui jendela untuk mengejarnya Nathan terbaring lemah, nyaris tak mampu bergerak. Dengan napas tersengal, ia masih berusaha mengangkat kepalanya.
"Ugh... ugh... ka-kamu benar-benar menyebalkan... da-dasar hewan peliharaan para petinggi..."
The Luna tidak menjawab Ia hanya mengambil tombak milik Nathan dan mengarahkannya ke lehernya
Setelah itu, The Luna pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa berkata apa pun, sambil membawa sebuah ponsel Keesokan paginya, Eva akhirnya tersadar Tangannya segera memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aduh... sakit sekali..."
Perlahan, Eva membuka matanya Namun, wajahnya langsung berubah pucat ketika melihat keadaan kamar Teman-temannya tergeletak tak bernyawa.
Eva terdiam beberapa saat sebelum pandangannya tertuju pada jendela yang telah pecah Ia segera berjalan mendekatinya dan melihat ke luar Di bawah sana, Nathan terbaring tak bergerak.
Eva membeku.
"Nathan...?"
Tanpa berpikir panjang, Eva segera melompati jendela dan menghampiri Nathan Ia berlutut di sampingnya, lalu mencoba memastikan apakah Nathan masih hidup dengan menepuk pipinya beberapa kali.
"Nathan... bangun..."
Tidak ada jawaban.
Eva kembali mencoba memanggilnya, tetapi Nathan tetap diam Air mata mulai mengalir di pipi Eva Ia tidak pernah menyangka akan kehilangan Nathan seperti itu Tangannya mengepal erat. Kesedihan yang memenuhi dadanya perlahan berubah menjadi amarah Semenjak hari itu, kebenciannya terhadap The Luna semakin dalam.
"Berani-beraninya kamu membunuh Nathanku..."
suara Eva bergetar menahan tangis.
"Lihat saja, The Luna. Aku akan membuat mimpi buruk untukmu."