NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Adakah Yang Tersisa

 

 Langkah kakiku terasa mantap namun tetap terasa berat membelah jalanan sore yang mulai dilanda senja. Setiap langkah yang kuambil seolah membawa serta sisa rasa perih yang baru saja tercipta di ruangan mewah itu, perih karena harus mendengar sendiri betapa rendah posisiku di mata keluarga ayahku sendiri, perih karena sadar bahwa keluarga sendiri kini telah berubah menjadi orang asing yang siap menghakimi tanpa mau mendengar sedikit pun isi hatiku. 

 Begitu sampai di pinggir jalan utama di depan gerbang rumah tinggi itu, aku berdiri sejenak sambil mengusap sudut mata yang terasa basah, lalu mengangkat tangan untuk memanggil pengemudi ojek yang sedang berhenti tidak jauh dari sana sambil menunggu penumpang.

 

 Dengan sigap aku naik ke atas sepeda motor itu, ingin aku menyandarkan tubuh yang terasa lelah bukan hanya karena perjalanan, tapi juga karena menahan beban emosi yang begitu berat sepanjang pembicaraan tadi.

 Aku membisikkan alamat rumah kami yang sederhana di pinggiran desa, lalu sepeda motor itu pun melaju membelah jalanan kota yang mulai ramai kendaraan yang pulang bekerja. Sepanjang perjalanan, angin sore menerpa wajahku kencang, mencoba mengusir sisa rasa panas yang menjalar di pipi, namun tak sepenuhnya mampu menghapus rasa kecewa yang mengendap kuat di dasar hati. Di seberang jalan, gedung-gedung tinggi berdiri tegak memantulkan sisa cahaya matahari yang mulai turun, terlihat megah namun terasa semakin asing bagiku—persis seperti rumah yang baru saja kutinggalkan, tempat di mana kemewahan tak pernah berjalan beriringan dengan ketulusan hati.

 

 Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalanan aspal yang mulus perlahan berubah menjadi jalan setapak yang dikelilingi hamparan sawah yang mulai menguning. Hingga akhirnya sepeda motor itu berhenti tepat di depan rumah kayu kecil kami yang berdiri sederhana namun selalu tampak hangat dipandang mata. 

 Aku turun perlahan, membayar ongkosnya, lalu berdiri sejenak menarik napas panjang seolah ingin membuang sisa-sisa kepahitan yang masih tersisa di dada. Langkahku melangkah masuk ke halaman yang dipenuhi tanaman bunga kesukaan Mama, dan begitu pintu terbuka, sosok Mama yang sedang duduk di kursi rotan sambil merajut kain di ruang tengah langsung menoleh ke arahku.

 

 Wajahnya yang biasanya teduh dan penuh senyum seketika berubah pucat dan penuh kekhawatiran saat melihat raut wajahku yang tak mampu menyembunyikan betapa hancurnya perasaanku saat itu. Ia segera bangkit berdiri, meletakkan rajutannya di meja kecil, lalu berjalan tergesa menghampiriku. Kedua tangannya yang kasar namun begitu hangat segera meraih tanganku, menatapku lekat-lekat seolah ingin memastikan apakah aku terluka secara fisik maupun batin.

 

“Nak… wajahmu pucat sekali dan matamu sembab. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada hal buruk yang menimpamu di sana?” tanyanya dengan suara lembut namun penuh kecemasan yang tak bisa disembunyikan oleh dirinya.

 

 Aku tak mampu lagi menahan rasa itu. Segera aku memeluknya erat sekali, seolah tak ingin melepaskannya lagi, dan di sana aku pun tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi kutahan sekuat tenaga agar tak terlihat lemah di hadapan mereka. Di sela-sela isak tangis yang perlahan mereda, aku menceritakan segalanya secara terperinci mulai dari awal: bagaimana Ayah memintaku datang, tawaran kehidupan yang lebih baik dan pendidikan yang terjamin, namun dibarengi dengan syarat-syarat yang begitu berat dan merendahkan martabat—harus menjauh dari Mama, tak boleh menganggap diri setara dengan anak-anak lain, bahkan tak boleh menuntut hak apa pun sebagai anak kandung Ayah. 

 Aku juga menceritakan sikap Ayah yang diam seribu bahasa seolah menyetujui semuanya, serta kata-kata tajam dan penuh penghinaan yang baru saja dilontarkan Kak Rina—saudara kandungku sendiri—yang kini sepenuhnya berpihak pada Ibu tiri kami dan memandang rendah segala hal yang berkaitan dengan aku dan Mama.

 

 Mama hanya diam mendengarkan dengan sabar sepanjang aku bercerita, tangannya tak henti mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang dan ketenangan yang menular. Tak ada sedikit pun amarah yang meledak-ledak di wajahnya, hanya tatapan sedih yang dalam namun tetap tegar, seolah ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Saat aku selesai menumpahkan semuanya, ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipiku dengan ibu jari yang lembut.

 

“Terima kasih sudah berani mengambil keputusan yang benar, Nak...mamah bangga, Kamu sama sekali tidak bersalah jadi berhentilah menangis” ucapnya dengan suara yang tenang namun tegas. 

“Harga diri, kejujuran, dan kasih sayang yang tulus itu jauh lebih berharga daripada emas, permata, maupun kemewahan duniawi sekalipun. Tak ada kebaikan yang harus dibayar dengan memutus tali kasih sesama keluarga apalagi dengan merendahkan diri sendiri. Di rumah sederhana ini, hati kita tetap bebas, damai, dan tak ada yang berani menuntut kita dengan syarat yang mematikan. Kita akan baik-baik saja, percayalah pada kekuatan doa dan kerja keras kita sendiri" ucap mamah.

 

 Mendengar kata-kata itu, hatiku perlahan terasa jauh lebih ringan, meski rasa perihnya belum sepenuhnya hilang. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Mama, bersyukur setinggi-tingginya masih memiliki sosok yang begitu mengerti dan menerima aku apa adanya tanpa syarat apa pun.

 

💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔 

 

 Sementara itu di kediaman besar keluarga Wijaya, suasana masih terasa canggung, dingin, dan penuh ketegangan yang tak terucap setelah kepergian rania. Laras duduk kembali di kursi utamanya dengan senyum tipis penuh kemenangan yang tersungging di bibirnya, seolah kepergian rania dalah hal terbaik yang terjadi hari itu. Sementara rustam masih duduk tertunduk diam di tempatnya, wajahnya tampak bingung, bersalah, dan tak berdaya seolah kehilangan arah untuk membela salah satu pihak. Rina pun kembali duduk di samping ibu tirinya, menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang susah di artikan.

 

 Tak lama berselang, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah yang luas itu, disusul suara deru mesin yang perlahan meredam hingga akhirnya mati sepenuhnya. Tak lama kemudian pintu depan terbuka dan tampaklah seorang pria tanpan dan gagah, ia adalah rian kaka sulung rania. Ia yang baru saja pulang dari rumah mertuanya setelah menjemput istrinya Naumi serta putri kecil mereka Amira yang baru berusia empat tahun. 

 Rian tersenyum ramah menyapa seluruh penghuni rumah itu, namun senyum itu perlahan meredup saat ia menyadari suasana yang terasa tak biasa—sunyi, tegang, dan ada sesuatu yang mengganjal di raut wajah orang-orang yang ada di hadapannya.

 

“ Ayah, Ibu. Maaf kami baru sampai, tadi jalanan cukup padat di tengah kota” sapa Rian sopan sambil membantu Naumi melangkah masuk, lalu menggendong Amira yang masih tampak ceria dan ingin segera berlari bermain. 

“Ini ada apa yah?..kalian terlihat tegang dan aneh sekali” tanya rian.

 

“Nak...mari duduk dan istirahatlah dulu, kalian pasti lelah sekali karena perjalanan jauh" ucap Laras dengan nada yang sengaja dibuat lembut dan ramah di hadapan anak dan menantunya.

 

 Baru saja Rian hendak meletakkan Amira di atas karpet empuk ruang tengah dan duduk bersandar sejenak, Rina segera bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah Rian dengan langkah terburu namun tertahan, lalu dengan halus namun pasti menarik lengan kakaknya perlahan agar tidak terlihat oleh yang lain.

 

“Kak, ayo ikut aku sebentar ke halaman depan. Ada hal penting yang ingin aku ceritakan, tak enak rasanya jika dibicarakan di sini” bisik Rina dengan nada rendah seolah ada rahasia besar yang harus disampaikan. Ia tampak berbeda dengan rina yang sebelumnya seolah ada dua kepribadian.

 

 Rian tampak sedikit bingung dan menatap heran ke arah adilnya Rina, namun ia pun mengangguk pelan. Ia berpamitan sejenak pada istrinya untuk menunggu sebentar, lalu berjalan mengikuti langkah Rina keluar menuju teras rumah hingga akhirnya mereka berdiri di halaman depan yang cukup sepi. Angin sore berhembus lebih kencang di sana, mengibaskan ujung pakaian mereka berdua.

 

“Apa yang sebenarnya terjadi, Rin? Dan ada apa sebenarnya terjadi?Kenapa harus bicara di luar ?” tanya Rian bertubi- tubi sambil melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lekat wajah adiknya yang tampak menahan sesuatu.

 

 Rina menarik napas panjang seolah hendak menceritakan hal yang menjengkelkan, lalu mulai berbicara dengan nada yang penuh rasa kecewa yang teramat dan terlihat muak.

 “Tadi Rania datang ke sini. Dia dipanggil Ayah dan Ibu untuk diajak bicara soal masa depannya. Ibu dan ayah sudah berusaha sebaik mungkin menawarkan kehidupan yang jauh lebih layak, pendidikan yang terjamin hingga tamat perguruan tinggi, tempat tinggal yang nyaman, dan segala kebutuhan yang terpenuhi. Namun apa yang dia lakukan? Dia menolak tawaran itu mentah-mentah tanpa mau berpikir panjang. Alasannya terdengar sangat konyol dan kekanak-kanakan—katanya dia tak mau jauh dari mamah dan tak mau menerima syarat yang buat demi kebaikan bersama. Dia bersikap keras kepala, tidak tahu diri, dan seolah-olah kami ini orang jahat yang ingin mencelakainya” ucap rina bercerita.

" Itu bagus bukan...sangat sesuai dengan keinginan dan rencanaku "ujar rina menambahkan, ia terlihat bukan kecewa atau bahagia karena rania tidak mau menerima tawaran it. Tapi di wajahnya tersirat rasa bangga .

 

 Rina melirik sekilas ke arah jalan raya di depan gerbang, lalu melanjutkan ceritanya dengan nada yang semakin pelan seolah tak ingin ada yang mendengar.

Tapi tiba-tiba ia berubah sratus derajat ketika melihat dan menyadari ibu tirinya berdiri di dekat gorden kaca rumah mereka.

“Aku sudah menegurnya agar dia sadar diri dan tahu di mana tempat yang seharusnya, tapi dia malah menjawab dengan ketus. Akhirnya dia pergi begitu saja dengan wajah kesal, bahkan dia memanggil ojek untuk pulang secepat mungkin. Sepertinya memang itulah pilihannya—lebih nyaman tinggal di tempat yang sederhana dan kumuh bersama ibunya itu daripada menerima kebaikan keluarga kita yang terhormat ini” ujar rina yang bersikap kembali seperti sebelumnya ketika tadi rania ada,

 

 Rian melihat perubahan sikap sang adik mulai menyadari sesuatu. Perlahan raut wajahnya juga berubah yang tadinya tenang berubah menjadi serius dan penuh kekecewaan dan amarah. Ia menatap lurus ke kejauhan layaknya seseorang yang seolah sedang mencoba memahami seluruh kejadian itu, namun hatinya terasa semakin tidak tenang. Mendengar penuturan yang hanya datang dari satu sisi saja, terlebih lagi melihat betapa tajam dan penuh prasangka Rina terhadap adik kandungnya sendiri, membuatnya merasa ada sesuatu yang janggal dan tak terungkap sepenuhnya di sana.

 

“Jadi begitu kejadiannya…” gumam Rian, nada bicaranya di buat sedikit keras.

 Iak langsung menyetujui maupun menolak perkataan adikya. “Tapi benarkah Ayah dan Ibu memberikan syarat yang begitu berat sampai Rania merasa tidak nyaman dan memilih menolak tawaran sebesar itu? Rasanya mustahil jika dia menolak tanpa alasan yang cukup kuat”ucap rian setengah bertanya.

 

“Itu semua dilakukan demi kebaikan bersama, Kak. Supaya tidak timbul masalah dan kecemburuan di kemudian harinya” jawab Rina cepat seolah tak ingin pembicaraan itu berlarut-larut dan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. 

"Sudah cukup kami berusaha, jika dia menolak itu berarti dia memang tidak mau hidup enak dan tidak pantas berada di tengah kita lagi” ucap rina enteng.

 

 Rian hanya mengangguk pelan sebagai tanda mengerti apa yang dikatakan oleh adiknya, namun keraguan itu seolah masih membekas kuat di hatinya, terlihat dari ekspresi wajahnya yang ia tunjukkan.

  Ia kembali menatap jalanan sepi di depan rumah, membayangkan betapa kecewanya adiknya itu harus pergi sendirian pulang naik ojek dengan membawa perasaan yang mungkin sangat terluka itu. Meski ia tak terlalu dekat dengan Rania maupun ibunya, rasa persaudaraan dan nuraninya tak bisa sepenuhnya membenarkan sikap yang begitu dingin terhadap seorang anggota keluarga sendiri.

 

“Baiklah, aku mengerti ceritamu. Mari kita masuk kembali, pasti Naumi dan Amira sudah menunggu” ucap Rian akhirnya, berusaha menutup pembicaraan itu meski pikirannya masih terus melayang memikirkan bagaimana keadaan adiknya.

 

 Mereka pun berjalan kembali masuk ke dalam rumah, namun hati Rian kini terasa sekegelisahan. Ia tahu betul bahwa cerita yang didengarnya hanyalah satu sisi dari kenyataan yang mungkin jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada yang baru saja disampaikan adikya.

 

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!